
Sikap dingin Zaydan sudah berlangsung selama seminggu. Pria itu kini lebih sering marah-marah tidak jelas dan berubah menjadi pria kasar. Patah hati ternyata mampu mengubah seorang Zaydan kembali ke sifatnya semula.
Siang ini, ia sedang bersama dengan Sadila membahas tentang produk baru yang minggu lalu sempat gagal. Kali ini ia benar-benar fokus pada pekerjaannya. Saking fokusnya, Zaydan sampai tidak lagi mempedulikan penampilannya. Ia masa bodoh dengan penampilannya yang kacau. Kumis-kumis halus bahkan sudah mulai muncul di permukaan kulitnya.
“Kau ada acara malam ini?” Tanya Zaydan kepada Sadila saat mereka sudah selesai membahas pekerjaan.
Sadila menggeleng. “Tidak ada. Kenapa?”
“Mau makan malam di istana?” Tawar Zaydan kemudian.
Tentu saja Sadila sumringah mendapat tawaran itu. “Benarkah?” Sadila tidak yakin dengan tawaran dari Zaydan.
“Mau tidak?”
“Mau. Lagipula aku sudah lama tidak bertemu dengan nenek dan tante Sophia.” Jawab Sadila dengan cepat.
“Baiklah kalau begitu. Tunggu aku nanti. Kita akan pulang bersama.”
Entah kenapa hati Sadila jadi berbunga-bunga. Ia seperti melihat sebuah harapan tentang hubungan mereka. Bahkan saat dia keluar dari ruangan Zaydan, senyumnya terus mengembang di bibirnya.
Dengan setia Sadila menunggu Zaydan selesai dengan pekerjaannya di loby kantor. Saat ia melihat pria itu muncul dari lift, ia tersenyum senang dan langsung berdiri untuk menyambut Zaydan.
“Ayo.” Ajak Zaydan kemudian.
Sadila segera masuk ke dalam mobil Zaydan yang di supiri oleh Lucas tersebut.
Setelah sampai di istana, Zaydan mengajak Sadila untuk masuk dan langsung menuju ke ruang makan. Disana sudah ada Sophia dan juga Ibu Suri yang bersiap hendak makan malam.
“Oh, Dan. Kau sudah pulang?” Tanya Sophia. Ia lumayan terkejut saat melihat Sadila datang bersama dengan putranya.
“Halo tante, apa kabar?” Tanya Sadila dengan senyum ramahnya.
“Oh, Sadila. Sudah lama tidak jumpa, ya. Kabarku baik. Sini-sini, duduk.” Ajak Sophia ramah.
“Apa kabar nek?” Tanya Sadila kepada Ibu Suri.
Ibu Suri mengangguk dan berusaha memaksakan senyumnya. “Baik. Apa kabarmu?”
“Aku baik, nek. Nenek terlihat pucat?” Tanya Sadila teliti.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit kurang enak badan saja.” Ibu Suri beralasan. Memang sudah beberapa hari ini ia kurang sehat. Badannya lemas dan nafsu makannya berkurang.
“Kenapa kalian bisa pulang bersama?” Tanya Sophia menyelidik. Karna ia heran tiba-tiba Zaydan membawa Sadila pulang ke istana.
“Aku ingin memberitahu sesuatu kepada kalian.” Ujar Zaydan dengan menatap pias kepada Ibu Suri dan Sophia.
Ibu Suri dan Sophia langsung beralih menatap Zaydan dengan tatapa penuh pertanyaan.
“Aku akan menikahi Sadila.”
Sebuah kalimat yang tidak terduga keluar dari mulut Zaydan. Hal itu tentu saja membuat Sophia dan Ibu Suri terkejut bukan main. Apalagi Sadila, ia juga terkejut dengan ucapan Zaydan itu. Tapi ia juga senang bukan kepalang.
“Ayo kita menikah.” Ujar Zaydan kemudian dengan ekspresi yang datar.
“Apa kau sedang melamarku?”
Zaydan mengangguk.
Ibu Suri dan Sophia hanya bisa terdiam. Entah mengapa mereka merasa tidak senang dengan keputusan Zaydan. Ibu Suri masih berharap kalau cucunya itu akan kembali dengan Elivia. Begitu juga dengan Sophia. Rasa bersalahnya sudah mengubah seluruh hatinya tentang Elivia. Sekarang ia ingin Elivia yang menjadi menantunya kembali.
“Lakukan apapun yang kau inginkan.” Ujar Ibu Suri dengan nada sedih. “Aku tidak lapar, kalian silahkan lanjutkan makan malamnya.” Ujar Ibu Suri yang kemudian bangkit dari kursi dan pergi menuju ke kamarnya.
Zaydan dan Sophia faham betul kenapa Ibu Suri bersikap seperti itu. Ibu Suri pasti merasa sangat kecewa dengan keputusan sepihak Zaydan yang ingin menikahi Sadila.
Makan malam itu tetap berlanjut hanya dengan Zaydan, Sophia dan Sadila. Setelah selesai makan malam, Zaydan meminta Sadila untuk pulang.
“Lucas yang akan mengantarkanmu. Aku masih ada pekerjaan.” Ujar Zaydan.
Sadila mengangguk setuju. Dia sama sekali tidak keberatan jika Zaydan tidak bisa mengantarkannya pulang. Karna kini ia sedang berada di atas awan. Siapa yang menyangka kalau semua berjalan dengan sangat mudah? Tepat seperti keinginannya. Sepertinya keadaan sedang berpihak padanya.
Sepulangnya Sadila, Zaydan tetap duduk di kursinya, begitu juga dengan Sophia. Ibu dan anak itu terus menundukkan kepala sibuk dengan fikrian masing-masing. Sesekali Sophia menatap pias kepada putranya itu. Ia ingin tau alasan Zaydan mengambil keputusan untuk menikahi Sadila.
“Kenapa kau ingin menikahi Sadila?” Tanya Sophia memecah keheningan.
“Kenapa? Bukankah mama selalu ingin Sadila menjadi menantu mama?” Jawab Zaydan acuh.
“Dan...”
“Aku hanya ingin jadi anak berbakti dengan melakukan semua yang mama inginkan.” Ucapan itu penuh dengan sindiran kepada Sophia. Terdengar sangat menyakitkan.
Sejak kejadian itu, memang sikap Zaydan berubah dingin kepada ibunya. Ia seperti ingin menyalahkan semua kesalahan kepada ibunya. Membebankan penyesalan kepada wanita itu. Walaupun itu berarti dengan menghancurkan dirinya sendiri dengan menikahi Sadila. Mungkin itu semacam hukuman, begitu. Ia sedang menghukum dirinya sendiri.
“Lalu bagaimana dengan Elivia?”
“Sudah kubilang jangan menyebutkan namanya di depanku!!!!!” Teriak Zaydan dengan penuh emosi. Membuat Sophia terkejut bukan main. Wanita itu ternganga tidak menyangka jika Zaydan berteriak kepadanya.
Nafas Zaydan jadi tersengal karna saking emosinya. Hatinya sungguh sakit saat mendengar nama Elivia di sebut. Ia sedang berkutat dengan kesalah fahaman tentang Elivia yang nampak bahagia bersama dengan Kafa. Dan itu membuat suasana hatinya semakin memburuk dari hari ke hari.
“Jangan sebutkan namanya lagi. Dan jangan pernah mengganggu apapun keputusanku.” Lirih Zaydan kemudian ia pergi ke kamarnya.
Meninggalkan Sophia yang masih ternganga tidak percaya. Ia bisa melihat kehancuran putranya hanya dengan melihatnya. Membuatnya semakin menyesali perbuatannya. Sophia mere mas jemarinya di bawah meja dengan memejamkan matanya.
Sementara itu, Zaydan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia menutup matanya dengan lengan. Sesaat kemudian, ia meraih ponselnya dan mencari foto Elivia dan Kafa yang sempat ia simpan beberapa hari yang lalu.
Matanya berembun saat memperbesar bagian wajah Elivia yang tersenyum dengan sangat manis itu. Ia merindukan gadis itu. Tapi ia tidak yakin jika ia layak untuk menyimpan perasaan itu untuknya.
Namun tetap ada perasaan marah dan tidak suka yang secara bersamaan muncul di hatinya. Di tambah dengan kemunculan beberapa kabar tentang pernikahan elviia dan Kafa. Kenapa harus Kafa?
Rindu itu semakin menggebu dan menyiksa. Ingin rasanya ia berlari menemui Elivia dan memeluknya dengan sangat erat. Namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tidak akan lagi mengganggu kehidupan gadis itu. Elivia berhak bahagia. Walaupun harga dirinya sakit dan terluka saat berusaha merelakan Elivia. Separuh hatinya masih ingin memperjuangkan Elivia, namun separuh lagi sudah menyerah karna tidak punya keberanian itu.