
“Sudah kubilang kalau aku akan menebus semuanya. Mulai sekarang aku akan membahagiakanmu. Sudah ku bilang jangan pedulikan apapun lagi.”
“Bagaimana bisa aku tidak peduli? Apa kau fikir semudah itu melupakan semuanya? Kau tidak akan pernah bisa mengerti, Dan.”
Setelah berbicara begitu, Elivia memilih untuk keluar dari ruangan itu dan pergi ke taman atap gedung untuk mendinginkan fikirannya. Meninggalkan Zaydan yang masih terpaku karna tidak bisa membela diri atas rasa bersalahnya.
Zaydan juga merasa bersalah, karna itu ia ingin sebisa mungkin menebus kesalahannya dan mengganti waktu waktu Elivia yang berkubang dengan kesedihan dan kerja keras dengan semua kebahagiaan yang ia miliki. Tapi ia tidak tau kenapa Elivia seperti tidak bisa melihat niat baiknya itu.
Di taman, dengan tidak sengaja Elivia melihat Sadila yang sedang berbincang dengan rekan-rekannya. Padahal ia ingin sebisa mungkin menghindar dari wanita itu. Tapi mereka malah bertemu di sini.
Baru saja Elivia hendak berbalik menghindari Sadila, namun wanita itu sudah lebih dulu menghampirinya dan membuat Elivia menghentikan langkahnya.
“Sepertinya kau sudah bertanya kepada Ibu Suri.” Ujar Sadila dengan senyuman sinis kepada Elivia. “Jadi, apa sekarang kau sudah sadar kalau kau itu sama sekali tidak pantas ada di samping DAN?”
Elivia nampak malas sekali menanggapi ocehan Sadila. Ia tau kalau gadis itu sengaja memancing emosinya. Elviia tidak ingin terjebak dengan permainan Sadila.
“Tapi, bagaimana kau bisa tau semua itu?” Selidik Elivia.
Sadila malah semakin tersenyum mendengar pertanyaan itu. “Hemph. Kau fikir aku tidak punya mata dan telinga di istana? Kau itu bukan tandinganku, Elivia. Aku sedang memberikan waktu untukmu. Aku tidak ingin terlihat jahat dan memaksamu meninggalkan Dan. Aku sedang menunggu kau untuk menepati janjimu. Aku bisa saja memaksamu melakukannya, tapi kalau aku melakukan itu, permainan ini jadi Tidak menarik, kan?”
“Jadi begitu. Ya, tidak heran jika mengingat kalau nyonya Sophia mendukungmu.”
“Tapi aku sama sekali tidak habis fikir kalau kau masih sempat-sempatnya pergi bekerja bersama dengan Dan. Apa kau tidak merasa malu? Apa kau tidak punya perasaan sebagai sesama wanita? Apa cintamu itu sudah membutakan hatimu Elivia? Seharusnya hatimu punya sedikit saja rasa bersalah padaku. Seharusnya kamu bisa merasa tidak enak dengan semua ini. Tapi kau bisa bersikap baik-baik saja dan mengesampingkan rasa bersalahmu? Kau benar-benar wanita yang luar biasa dan tidak tau malu. Kalau aku punya anak sepertimu, aku pasti sudah mati bunuh diri karna tidak sanggup menahan malu. Ah, aku sangat kasihan kepada orang tuamu.”
Ucapan Sadila itu mampu memantik kembali emosi Elivia. Padahal ia tidak ingin menanggapi ocehan Sadila. Tapi wanita itu sudah menyinggung-nyinggung perihal orang tuanya. Itu yang membuat harga diri Elivia terasa tercabik-cabik.
Rasa bersalahnya kini bercampur dengan rasa malu. Ucapan Sadila ternyata mampu menggoyahkan hatinya. Padahal awalnya ia ingin mengesampingkan dan mengabaikan semuanya. Tapi ternyata tidak semudah itu.
“Kalau jadi wanita itu, punya rasa malu sedikit. Sudah merebut kekasih orang, dan bahkan setelah tau apa yang sudah di lakukan oleh Dan, kau masih berfikir ingin mempertahankannya? Yang benar saja. Aku benar-benar kasihan kepada mendiang orang tuamu.”
Kali ini Elivia tidak bisa membantah semua ucapan Sadila. Entah kenapa fikirannya malah membenarkan semua yang dikatakan oleh wanita itu.
Ya, sekarang dia merasa menjadi anak yang durhaka. Dengan berani mencintai Zaydan yang sudah jelas-jelas penyebab kehancuran hidupnya. Harga dirinya benar-benar terluka. Cinta dan benci kini sedang bertarung di dalam hatinya. Entah siapa yang akan memenangkan pertarungan ini nantinya.
“Apa kau sesuka itu kepada Dan?”
“Tentu saja. Dia milikku sejak awal dan aku akan mempertahankannya sekuat tenaga. Kau itu hanya perusak, jadi jangan berfikir macam-macam. Itu bisa merugikan dirimu sendiri. Aku memperingatkanmu, kau bisa saja kehilangan satu-satunya orang paling penting yang kau miliki. Apa kau yakin bisa mengatasinya?” Kali ini Sadila jelas-jelas mengancamnya dengan tegas.
Wanita itu langsung pegi meninggalkannya setelah mengutarakan ancamannya kepada Elivia. Sementara Elivia langsung terduduk lemas di bangku yang ada di sebelahnya dengan fikiran yang terus tertuju kepada adiknya.
Astaga. Kenapa keadaan semakin rumit saja? Apa semua ini adalah hukuman bagi Elivia karna sudah berani mendambakan tempat yang seharusnya bukan jadi miliknya?
Setelah berhasil menenangkan diri, Elivia berjalan kembali ke dalam ruangannya dan tidak mendapati Zaydan di sana. Ia penasaran kemana kiranya pria itu pergi.
Tapi lagi-lagi, ia berusaha untuk tidak mempedulikan rasa penasarannya itu. Ia fokus membereskan meja kerja Zaydan yang berantakan. Memungut dan mengumpulkan beberapa berkas yang nampak berserakan di lantai kemudian menyusunnya kembali.
Jam kerja sudah hampir berakhir, namun Zaydan masih belum menampakkan batang hidungnya. Ia bertanya kepada sekretaris Zaydan yang mengatakan kalau Zaydan sedang rapat dengan beberapa klien penting. Sekretaris itu juga memberitahunya kalau Zaydan menyuruhnya pulang lebih dulu dan tidak perlu menunggunya kembali.
Dengan senang hati Elivia menuruti pesan Zaydan itu. Ia segera merapikan meja dan mengemas barang-barangnya kemudian pulang dengan menggunakan angkutan umum.
Di perjalanan Elivia sudah berfikir keras tentang apa yang akan dia lakukan. Tentang langkah terbaik yang harus ia ambil untuk menyikapi masalah ini. Ia mere mas jari jemarinya untuk mengumpulkan kekuatan dan keberaniannya.
Setelah sampai di halte depan istana kecil, Elivia segera turun dari bis namun tidak langsung masuk kedalam istana. Ia malah duduk di halte itu dan terus berfikir. Lama sekali dia berada di sana. Bahkan sampai matahari sudah tenggelam di peraduannya, ia masih duduk termenung di halte bis itu.
“Nona?” Sebuah panggilan dari suara Widya yang membuatnya langsung tersadar dan menatap kepada Widya. Gadis itu sedang berdiri di dekatnya dengan tatapan penuh pertanyaan.
“Widya?”
“Apa yang anda lakukan disini?” Tanya Widya bingung.
“Oh? Em, tidak, tidak ada. Kau kenapa disini? Mau pergi?”
Widya mengangguk. “Aku akan keluar membeli sesuatu.” Jawab Widya.
“Oo.”
“Berat ya nona, tinggal di istana?” Tanya Widya setelah mendengar Elivia menghela nafas.
Elivia menoleh kepada Widya yang kini sudah duduk di sampingnya. Ia tersenyum pias sebagai jawabannya.
“Begitulah, nona. Istana yang terlihat nyaman dari luar, tapi tidak terasa nyaman sama sekali bagi orang yang tinggal di dalamnya. Penuh intrik dan kegelisahan.” Lirih Widya.
Lagi-lagi Elivia menganguk mendengar ucapan Widya. Ya, dia memang belum pernah merasa nyaman selama tinggal di tempat itu.
“Tapi anda harus semangat, nona. Anda tau kalau saya akan selalu mendukung anda, kan? Hehehe.”
“Terimakasih, Wid. Aku bersyukur ada kamu.” Ujar Elivia.
Widya juga tersenyum kepada Elivia. Tidak lama kemudian, rute bis yang tunggu Widya telah sampai. Dan gadis itu langsung pamit meninggalkan Elivia yang masih ingin berfikir sedikit lagi.