
Pesawat sudah lepas landas, setelah berpindah tempat duduk dengan Kafa, Elivia langsung duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Zaydan.
“Apa yang sedang kau rencanakan?” Bisik Zaydan kepada Elivia.
“Aku ingin menjodohkan mereka.” Jawab Elivia juga dengan berbisik.
“Apa? Menjodohkan mereka?”
“Apa kau tau kalau Vanye itu adalah mantan kekasih dari Kafa? Aku ingin membuat kesempatan kepada mereka untuk kembali dekat. Vanye wanita yang baik, begitu juga dengan Kafa. Aku rasa mereka akan cocok satu sama lain.”
“Ya ampun, kenapa kau memikirkan mereka dan bukannya fokus pada perjalanan kita?” Protes Zaydan.
“Kenapa? Bukankah ini bagus?”
Zaydan melirik kepada Kafa yang duduk di depan Vanye sambil menatap keluar jendela. Kemudian berganti melihat kepada Vanye yang sedang menundukkan wajahnya.
“Apa rencanamu?” Tanya Zaydan lagi.
“Kan aku sudah bilang kalau aku akan memberikan mereka ruang untuk lebih dekat.”
“Apa itu akan berhasil?”
“Entahlah. Aku harap akan berhasil.”
Zaydan mengacak-acak rambut istrinya karna saking gemasnya. Ia tidak habis fikir kenapa Elivia sampai memikirkan rencana seperti itu untuk Kafa.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya pesawat sampai di negara tujuan. Dan setelah pesawat terparkir sempurna, seluruh penumpangpun turun.
Elivia berjalan bersama dengan Zaydan dengan terus bergelayut di lengan pria itu. Bahkan Kafa hanya menggeleng-gelengkan kepala saja melihat mereka.
“Astaga. Apa aku ikut kemari cuma untuk melihat mereka bermesraan seperti itu?” Protes Kafa dengan suara lirih. Namun Vanye yang berjalan di sebelahnya masih bisa mendengarnya.
“Kenapa? Bukankah, mereka itu lucu? Aku senang melihanya.” Jawab Vanye.
Jawaban itu berhasil membuat Kafa menghentikan langkahnya dan menatap kepada Vanye.
“Kau tidak banyak berubah, Vanye.” Ujar Kafa kemudian.
“Memangnya kenapa kalau aku tidak berubah? Apa itu membuat kemungkinan kalau kau akan jatuh cinta lagi padaku?” Seloroh Vanye sambil terkekeh dan terus berjalan meninggalkan Kafa.
“Hei!” Pekik Kafa yang pada akhirnya berlari untuk menyusul Vanye. Ada seutas senyuman yang singah di bibirnya.
Lucas benar-benar sudah mempersiapkan segalanya. Bahkan sudah ada mobil yang menjemput mereka saat mereka keluar dari bandara.
Mereka langsung saja masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke sebuah hotel bintang 5 yang terkenal di kota. Zaydan bersama dengan Elivia dan Lucas. Sementara Kafa bersama dengan Vanye dan Widya.
Sesampainya di hotel, Zaydan dan Elivia segera pergi ke kamar mereka dengan di antar oleh Lucas dan Widya yang membantu membawa koper. Setelah itu mereka langsung kembali ke kamar mereka sendiri. Sementara Kafa dan Vanye juga masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.
Elivia merentangkan tubuhnya di atas ranjang super nyaman itu. Lelah juga perjalanan mereka. Ia memejamkan mata sebentar untuk mengusir rasa lelahnya. Namun bukannya hilang, yang ada justru ia bertambah lelah karna Zaydan langsung memposisikan dirinya di atas Elivia.
“Yang Mulia, tolong jangan begitu.” Seloroh Elivia sambil kembali memejamkan matanya. Ia berharap Zaydan akan mendengarkannya dan menyingkir darinya.
Tapi bukannya menyingkir, Zaydan malah langsung melu**t bibir istrinya tanpa ampun. Tidak punya pilihan lain karna sudah terangsang, Eliviapun akhirnya membalasnya dan merekapun bergulat sebelum malam menjelang.
Zaydan dan Elivia baru saja selesai mandi setelah berperangmelawan keringat. Kini keduanya tengah sibuk mengganti pakaian saat pintu kamar mereka di ketuk oleh Widya.
“Yang Mulia, sudah saatnya makan malam.” Widya memberitahu.
“Ya, baiklah.” Jawab Zaydan.
Lantas keduanyapun keluar dari kamar. Widya dan Lucas yang sedang menunggu mereka di depan kamar langsung mengikuti Zaydan Elivia di belakang mereka.
“Dimana Kafa dan Vanye?” Tanya Elivia.
“Tuan Kafa dan nona Vanye sudah menunggu di restoran, nona.” Jawab Widya.
Di meja mereka, sudah tersaji berbagai hidangan yang menggugah selera. Namun Elivia lebih tertarik dengan Vanye dan Kafa yang saling berbisik kemudian tertawa lirih.
“Aku merasa sudah terjadi sesuatu di antara kalian.” Seloroh Elivia.
Dan hal itu membuat senyuman Vanye langsung menghilang.
“El, nikmati saja makananmu.” Protes Kafa.
“Hei, kenapa kau melarang istriku?” Gantian Zaydan yang melakukan protes untuk membela istrinya.
Namun pada akhirnya mereka semua hanya tertawa saja sambil mengobrol ringan.
“Aku ingin tau, dulu berapa lama kalian bersama?” Tanya Elivia.
”Hei, kenapa kau menyinggung masa lalu?” Kafa kembali melakukan protes. Bisa terlihat kalau wajahnya sedikit memerah mendapat pertanyaan itu.
“Memangnya kenapa? Aku hanya ingin tahu.”
“Aku yang akan memberitahumu.” Timpal Zaydan. Karna memang Zaydan tahu sedikit banyak tentang hubungan Kafa dan Vanye dulu.
“Hei! Hentikan.” Ancam Kafa.
Tapi Zaydan tidak peduli. Ia malah tersenyum untuk menggoda Kafa.
“Hanya dua bulan saja.” Tiba-tiba Vanye yang menjawabnya. Membuat Zaydan dan Kafa saling tatap.
“Sesingkat itu? Ya ampun Kafa. Apa kau ini tipe pria yang tidak setia? Kenapa hubungan kalian singkat sekali?” Tanya Elivia.
“Karna waktu itu, Kafa harus melanjutkan sekolah di luar negeri mengikuti ibunya yang seorang diplomat.” Tetap Vanye yang menjelaskan.
“Oh, begitu.” Elivia jadi tau kalau sebelum menjabat sebagai perdana menteri, ternyata ibu Kafa adalah seorang diplomat yang bekerja di kedutaan luar negeri.
“Bukan karna salah satu dari kalian berselingkuh?” Ejek Zaydan kemudian.
“Kau fikir aku ini siapa? Mana ada di kamusku itu istilah perselingkuhan.” Bela Kafa untuk dirinya sendiri.
“Lantas, apa bu Vanye hanya membiarkan saja Kafa pergi?”
“Saya tidak punya pilihan lain saat itu, nona. Tapi ngomong-ngomong, bisakah anda jangan memanggilku bu Vanye? Aku merasa sangat tua. Hehehehe.”
“Begitukah? Kalau begitu, bagaimana dengan kakak? Karna sepertinya aku lebih muda.” Pinta Elivia hati-hati.
“Kalau anda mau, saya dengan senang hati menerimanya, nona.”
“Wah, syukurlah.”
“Vanye, apa kau masih bekerja di hotel JE?” Tanya Kafa.
“Tentu saja. Aku sudah mendapatkan ijin resmi dari pemilik hotel untuk mengelolanya, hehehehe.”
“Aku juga merasa berterimakasih karna hal itu. Aku akan belajar dengan giat.” Janji Elivia.
“Ya, nona. Sebaiknya begitu.”
“Hei, kita ini sedang liburan. Kenapa malah membahas masalah pekerjaan?” Protes Zaydan. “Kalau menurutku, kau tidak perlu lagi mengurusi hotel, sayang. Biarkan Vanye saja yang mengurusnya. Kau hanya perlu fokus untuk megurusiku.” Zaydan berkata sambil mengerlingkan matanya.
“Aaaahhh,, Dan. Kau ini menjijikkan sekali. Berhentilah bermesraan di hadapan kami!” Hardik Kafa.
“Kenapa? Kau iri? Kau iri?” Goda Zaydan yang malah merangkul pundak istrinya dan menciumi pipinya, berniat untuk memanas-manasi Kafa. Tentu saja itu semua hanya bercanda saja. Karna pada akhirnya mereka semua malah tertawa senang.
Suasana di antara mereka nampak hangat dan akrab. Elivia merasa sangat senang mengingat hubungan Kafa dan Zaydan sempat merenggang karna dirinya. Dan sekarang mereka sudah kembali baik seperti dulu. Itu melegakan.