DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Pergi Ke Istana Besar



Kelvin datang dengan beberapa asisten yang membantunya membawa beberapa gaun dan tuxedo untuk Elivia dan Zaydan. Setelah mencoba beberapa gaun, akhirnya mereka menemukan gaun yang cocok untuk Elivia. Setelah memakai gaun berwarna putih itu, kelvin segera mengantarkan Elivia ke ruang make up untuk dirias.


Elivia sudah selesai dirias. Dia keluar dan menemui Zaydan yang tengah memainkan ponselnya. Zaydan tertegun melihat Elivia yang terlihat sangat cantik dan elegan. Wajahnya anggun dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah dengan ornamen permata yang terselip disana.


“ayo,,” kata Elivia membuyarkan lamunan Zaydan.


Sambil mengemudi, Zaydan berkali-kali mencuri pandang kepada gadis yang duduk disampingnya. Sedangkan Elivia berusaha membuat dirinya nyaman dengan pakaian yang melekat ditubuhnya.


Sesampainya didepan Istana Besar, seorang penjaga segera menghampiri dan memeriksa mobil yang ditumpangi Zaydan dan Elivia. Pemeriksaan keamanan disini sangat ketat. Semua wajib mematuhi protokol keamanan jika ingin masuk kedalam Istana Besar, tanpa terkecuali.


Setelah selesai memeriksa, penjaga itu segera mempersilahkan Zaydan dan Elivia masuk. Didalam sudah terlihat beberapa mobil yang terparkir ditempat parkir khusus.


Zaydan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Elivia dan mengulurkan tangannya. Gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali tanda heran dengan sikap yang ditunjukkan Zaydan.


“Ayolah, ada yang sedang melihat kita. Jaga sikapmu.” Bisik Zaydan. Elivia terpaksa menuruti kemauan Zaydan. Dia meraih tangan Zaydan dan keluar dari mobil. Zaydan meletakkan tangan Elivia ke lengannya dan berjalan masuk kedalam aula istana.


“Dan.!!” Sambut Putra Mahkota dan istrinya. Mereka mendekati. Zaydan dan Elivia.


Semua mata menatap pasangan baru itu dengan antusias. Keluarga besar itu telah mendengar rumor pernikahan Zaydan sebelumnya. Jadi mereka tidak nampak heran melihat Elivia yang sedang menggandeng Zaydan.


“El,,, kamu terlihat sangat cantik..” Puji Puta Mahkota.


“Yang Mulia,, jangan begitu. Berani-beraninya anda merayu istriku dihadapanku..” Kata Zaydan, dia merangkul pundak Elivia dan menariknya mendekat. Putra Mahkota dan istrinya tertawa terbahak-bahak mendengar kecemburun yang diperlihatkan oleh Zaydan.


“Kamu ini,, ayo,,” ajak Putra Mahkota.


Putri Mahkota segera mendekati Elivia dan berjalan disampingnya. Sedangkan Elivia, fikirannya sedang melayang. Dia memperhatikan punggung Zaydan yang sedang berjalan dihadapannya bersama Putra Mahkota.


Kenapa jantungku berdetak sangat cepat begiti? batin Elivia.


Elivia tau kalau sikap Zaydan merupakan akting. Tapi tetap ada perasaan hangat yang mengalir dihatinya. Dia berusaha menepis semua perasaan yang membuatnya tersipu itu. Dia tidak ingin jatuh kepada Zaydan. Dia harus menyadarkan hatinya bahwa semua sikap manis yang ditunjukkan Zaydan merupakan akting belaka.


“El ku sayang,,,!” Sambut Ibu Suri saat dihampiri oleh Elivia dan Putri Mahkota. Dia langsung memeluk Elivia dengan hangat.


“Kamu cantik sekali sayang..” Puji Ibu Suri. Sophia yang berdiri tak jauh hanya mencibirkan bibirnya saja. Secantik apapun Elivia terlihat, dia tetap tidak menyukainya.


Sedangkan Zaydan tengah sibuk berbincang dengan para lelaki. Beberapa pelayan membawakan minuman untuk para tamu. Zaydan mengambil segelas minuman. Sekilas matanya menatap sosok yang sedang tertawa bahagia bersama neneknya dan ibu Ratu. Dia penasaran, kira-kira apa yang sedang mereka perbincangkan.


“El,, kamu masih bekerja direstoran cepat saji?” Tanya ibu Ratu


“Masih, Yang Mulia.”


“Bagaimana kalau kamu keluar saja dan membantu Dan diperusahaan?” Tanya Ibu Suri tiba-tiba.


“Iya,, itu ide yang sangat bagus.” Timpal Ibu Ratu


“Emmm,,, saya tidak punya kualifikasi untuk bekerja di perusahaan, Yang Mulia.”


“Itu tidak jadi masalah, asal kamu mau, aku yang akan mengurusnya.” Jelas Ibu Suri.


“Lagi pula kalau kamu berada dekat dengan Dan, tidak akan ada celah untuk Sadila itu,,” bisik Ibu Suri.


“Hehehehe,,,” Elivia tidak tau harus menjawab apa. Dia sama sekali tidak berniat untuk merusak hubungan Zaydan dan Sadila.


Zaydan berjalan mendekat menghampiri Elivia.


“Ayo, aku kenalkan dengan keluargaku,,” ajak Zaydan. Akting Zaydan sungguh luar biasa. Dia bisa masuk nominasi Oscar kalau dia terjun ke dunia akting. Tapi sekilas, Elivia melihat ketulusan disana. Dia pasti sedang berhalusinasi.


Zaydan menggandeng mesra tangan Elivia dan mengajaknya berkeliling untuk menyapa sanak saudaranya. Tidak banyak, mungkin hanya sekitar dua puluh orang saja.


Saat sudah selesai menyapa, makan malampun sudah siap dihidangkan. Semua orang segera menuju keruang makan dan duduk dikursinya masing-masing. Dengan santainya Zaydan menarikkan kursi untuk Elivia.


“Ooooo,,, Dan,, jangan memamerkan kemesraan didepan kami. Kami tau kalian itu pengantin baru..” Celetuk salah seorang dari mereka.


Zaydan hanya tersenyum dan segera menyuruh Elivia untuk duduk. Elivia menurutinya dan segera duduk. Dia sempat tersipu malu dan membuat.wajahnya memerah.


Para pelayan segera menghidangkan piring berisi makanan.kepada masing-masing dari mereka yang hadir. Para pelayan nampak sangat profesional. Setelahnya mereka semua makan dengan tenang.


“Elivia, makan yang banyak, sebentar lagi kamu akan mengandung calon keluarga baru kami,,” celetuk seorang wanita paruh baya yang duduk didepan Elivia.


Uhuk,, uhuk,, uhuk,,


Seketika Elivia tersedak makanannya. Dengan sigap Zaydan segera mengambilkan gelas berisi air minum dan membantu meminumkannya kepada Elivia. Kemudian dia mengambil serbet dan mengelap mulut Elivia. Gadis itu segera menarik serbetnya dan mengelap mulutnya sendiri. Dia sudah cukup merasa tersipu.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Zaydan yang dijawab anggukan kepala dari Elivia.


“Kamu ini,, tidak sabaran sekali,,” protes Ibu Suri yang disambut dengan tawa hangat dari seluruh anggota keluarga.


Setelah makan malam selesai, Zaydan mengajak Elivia berkeliling Istana Besar. Bangunan itu sangat besar dan luas. Belum lagi terdapat taman-taman, bahkan landasan helikopterpun ada. Kalau dihitung-hitung mungkin luasnya ratusan hektar, menurut penjelasan Zaydan.


Zaydan mengajak Elivia berkeliling dan memperkenalkan satu persatu ruangan yang ada disana. Mereka berhenti disebuah ruangan khusus anak-anak. Disana ada beberapa anak yang sedang bermain. Dengan fasilitas permainan yang lengkap dengan diawasi oleh beberapa pengasuh.


Ada sebuah tv super besar yang sedang menayangkan sebuah kompetisi ice skating. Mata Elivia jadi berbinar melihatnya. Tarian para peserta nampak sangat indah dimatanya. Tanpa disadari dia tersenyum dengan sendirinya. Ia tidak menyadari kalau Zaydan memperhatikan ekspresinya.


“Kenapa? Kamu suka ice skating?”


“Tidak,,” kata Elivia. “ Aku bahkan tidak pernah mencobanya. Aku bahkan tidak pernah menginjakan kaki di tempat seperti itu.” Jelas Elivia.


“Kenapa tidak mencoba?”


“Aku tidak punya waktu, dan uang. Karna itu pasti olahraga yang sangat mahal. Ayo,, tunjukan lagi tempat yang lainnya.” Ajak Elivia.


Ada perasaan trenyuh dihati Zaydan. Dia melihat air mata Elivia yang sempat menggenang di pelupuk matanya.


“Hei,,! Tunggu aku..! Nanti kamu kesasar.” Teriak Zaydan saat melihat Elivia yang sudah berjalan jauh didepannya.


“Cepatlah.!”