DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Rencana Bekerja Di Perusahaan.



Matahari bersinar menembus jendela kamar. Elivia mengerutkan matanya lebih rapat. Dia masih merasa ngantuk. Karna silau, dia berusaha membuka matanya. Dia tidak mendapati Zaydan. Mungkin Zaydan sudah bangun, fikirnya. Ternyata nyaman juga tidur diranjang mewah ini. Itu karna dia tertidur pulas tanpa terbangun sedikitpun.


“Sudah bangun?” Tanya Zaydan yang baru keluar dari ruang ganti. Melihat penampakan Zaydan yang gagah dan tampan dengan mata yang masih sedikit mengantuk, membuat Elivia tersenyum tanpa sadar.


Zaydan mendekati Elivia dan melambai-lambaikan tangannya di


depan wajah Elivia. Membuat gadis itu tersadar.


“Oo,, sudah mau berangkat bekerja?”


“Hm,, cepat mandi, aku akan mengantarmu ke restoran” Zaydan menawari.


“Tidak perlu. Hari ini, aku akan dirumah saja.”


“Kenapa?”


“Sebenarnya, aku sudah resign dari sana. Sekarang aku pengangguran.” Kata Elivia merencanakan sesuatu.


“Hah? Sejak kapan?”


“Sejak hari ini. Dan untuk beberapa hari kedepan, aku akan menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat dan full menemani Arina dirumah sakit.”


“Apa kau sedang merencanakan sesuatu?” Selidik Zaydan.


“Merencanakan apa? Aku hanya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan gajinya lumayan besar. Dengan begitu, mungkin aku akan segera melunasi hutangku kepada Nenek. Bukankah itu bagus?”


Ya, Zaydan faham betul kemana arah permbicaraan itu akan berlanjut. Tentu saja tentang perpisahan mereka.


“Kerja dimana?” Zaydan masih ingin tahu.


“Di tempat pengisian bahan bakar. Paruh waktu. Jadi dihitung per jam kerja. Dan kalau lembur, aku bisa mendapatkan bonus yang lumayan besar.” Jelas Elivia kemudian.


Zaydan sedikit terkejut mendengarnya. “Bukankah itu melelahkan?”


“Memang. Tapi aku bisa menghasilkan lebih banyak uang.”


Zaydan mengernyitkan keningnya dan menghentikan aktifitasnya untuk membetulkan dasinya. Ia menatap tajam kepada Elivia.


“Kenapa kau tidak bekerja di kantorku saja? Kalau kau mau aku bisa mencarikan posisi yang kau inginkan.” Tawan Zaydan.


“Memang aku sedang membutuhkan banyak uang saat ini. Dan tawaranmu terdengar sangat menggiurkan.”


“Aku bisa menggajimu berapapun kau mau.”


“Kenapa begitu?”


“Bukankah kau ingin segera mendapatkan bayak uang?”


“tapi, apa Nenek akan setuju dengan idemu Yang Mulia?”


“Kau bisa memanggilku Dan, tidak perlu panggil yang mulia, yang mulia. Nenek sudah pasti akan setuju dengan ide ini. Apa kau tidak ingat dulu nenek pernah menawarimu bekerja di perusahaan? Nenek bahkan bukan hanya setuju, tapi Nenek akan senang sekali.”


“Bolehkah aku memikirkannya dulu, ehm,,,, Dan?”


“Untuk apa difikirkan lagi. Ini kesempatan besar. Tinggal terima saja, kenapa harus difikirkan.”


Elivia mengangguk pelan menyetujui ide Zaydan. Memang tidak ada ruginya dengan tawaran Zaydan. Itu sangat menggiurkan. Tapi, berada didekat pria itu untuk waktu yang lebih lama, membuat hati Elivia merasa ragu.


Bukan karna dia meragukan Zaydan. Tapi dia meragukan dirinya sendiri.


“Tapi ibumu pasti tidak akan suka.” Sebuah keraguan yang memang menakutkan jika menyangkut dengan Sophia. Elivia sungguh tidak ingin membuat keributan ditengah-tengah mereka. Ia sangat tahu bagaimana Sophia sangat tidak menyukainya. Walaupun dia tidak tau alasan kenapa selir itu begitu membencinya.


“Aku yang akan menjelaskannya pada ibuku.”


“Oke. Tapi tolong beri aku waktu satu minggu untuk istirahat dan menemani adikku.”


Zaydan mengangguk. “Terserah kau saja.”


Lantas Zaydanpun keluar dari kamar. Meninggalkan Elivia yang mengikutinya dengan ekor matanya.


Ia merasa kalau perlakuan Zaydan belakangan ini jauh lebih lunak padanya. Dan tiba-tiba dia bergidik membayangkan tentang kemungkinan kalau Zaydan mungkin saja menyukainya.


Elivia bergidik untuk mengusir fikiran anehnya itu. Kemudian ia juga keluar dari kamar dan turun ke bawah.


“Selamat pagi, Nek.” Sapa Elivia kemudian mengambil duduk di hadapan Zaydan.


“Oh, pagi juga Elivia sayang. Bagaimana tidurmu?”


“Nyenyak Nek. Bagaimana tidur Nenek?”


“Ah, semalam Nenek kurang nyenyak tidurnya.”


“Kenapa, nek?” Tanya Zaydan yang langsung khawatir mendengar penuturan Neneknya.


“Tidak apa-apa. Nenek hanya lelah saja. Sudah lama tidak jalan-jalan keluar rumah.”


“Apa Nenek mau kutemani jalan-jalan?” Tawar Elivia kemudian.


“Bukankah kau harus pergi bekerja?” Tanya Ibu Suri.


“Aku sudah tidak bekerja, Nek. Aku sudah keluar dari restoran.”


“Oh, benarkah?” Ibu Suri tidak bisa menyembunyikan raut wajah penuh kelegaan.


“Hari ini aku akan menemani Nenek jalan-jalan.” Ujar Elivia lagi.


“Tentu saja. Ahh,, Nenek senang sekali. Lantas, apa kau tidak akan bekerja lagi? Kau akan dirumah saja dan menemaniku?”


“Elivia akan bekerja di kantor, Nek. Bersamaku.” Ujar Zaydan di luar dugaan.


“Benarkah?” Ibu Suri semakin sumringah saja. Matanya menjadi berbinar. Ia tersenyum senang.


“Nenek tidak keberatan jika aku bekerja di kantor Dan?”


“Tentu saja tidak, sayang. Nenek senang jika kau mau bekerja di perusahaan dan membantu Dan.”


“Baiklah, karna kau sudah mendapatkan izin dari Nenek, kau bisa memulainya minggu depan.” Ujar Zaydan lagi. Ia tetap menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Terimakasih, Nek.” Elivia merasa senang sekali. Sudah lama ia menginginkan bagaimana rasanya bekerja di kantor. Seperti orang-orang.


Tapi karna pendidikannya yang terbatas, ia tidak punya kesempatan itu. Ada untungnya juga ia menerima perjodohannya dengan Zaydan. Dia tidak akan gengsi untuk menerima tawaran pekerjaan itu.


“Hari ini temani Nenek berbelanja ya, El?”


“Iya, Nek. Aku akan menemani Nenek kemanapun. Karna mulai besok aku akan fokus untuk mengurusi Arina sebelum mulai bekerja.”


“Baiklah. Ternyata kau sudah menyusun rencanamu sendiri.”


Elivia tersenyum kemudian menyuapkan makanan ke mulutnya.


Sementara Zaydan sesekali melirik kearah Elivia. Ia nampak tersenyum samar melihat kepala Elivia yang bergoyang kekanan dan kekiri demi menikmati sarapan yang lezat itu.


Setelah selesai sarapan, Zaydan pamit lebih dulu untuk pergi ke kantor bersama dengan Lucas. Meninggalkan Elivia dan Ibu Suri yang masih mengobrol di meja makan.


“Apa dia pernah berlaku kasar padamu?” Tanya Ibu Suri saat topik pembicaraan mreka sampai kepada Zaydan.


“Ehm, tidak Nek. Hanya saja kadang kata-katanya terdengar mengejek. Dan itu sangat menyebalkan.”


“Nenek harap kamu sabar menghadapi Dan. Salah kami yang terlalu memanjakannya. Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. Dasar anak keras  kepala.” Dengus Ibu Suri,


Walaupun sedang mengumpat. Tapi ucapan Ibu Suri menunjukkan bahwa dia sangat menyayangi cucunya itu.


“Benar, Nek. Dia sangat keras kepala.”


“Tapi juga kadang seperti anak-anak yang manja.”


Elivia belum menemukan sisi Zaydan yang manja. Kalau penakut sudah. Saat di bioskop.


“Manja dan penakut. Sangat jauh dengan penampilan luarnya yang walaupun tampan tapi dingin.”


“Hahahahaha. Benar sekali. Dia itu orangnya penakut sekali. Juga gampang marah.”


Dua wanita berbeda generasi itu terus saja membahas soal Zaydan. Dari makanan kesukaan, hobi, dan apa saja yang paling tidak disukainya. Ibu Suri nampak bersemangat sekali menceritakan semua itu kepada Elivia.