DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Tidak Apa-Apa.



Terlelap di dekapan dada bidang milik Zaydan, membuat Elivia enggan untuk mengakhiri tidurnya. Wangi tubuh Zaydan seolah menjadi candu baginya. Membuatnya semakin meneggelamkan wajahnya disana.


Sampai sebuah ketukan di pintu memaksanya untuk bangun.


“Biarkan saja.” Ucap Zaydan dengan menahan lengan Elivia agar tidak beranjak dari sisinya.


“Yang Mulia, saya membawa kabar bahagia.” Terdengar suara Widya di balik pintu. “Putri Mahkota telah melahirkan seorang putri yang cantik.”


Kini Zaydan dan Elivia sama-sama terbangun. Mereka saling tatap kemudian tertawa bahagia.


Keduanya lantas turun dari ranjang kemudian mengenakan pakaian yang semalam sudah terlempar entah kemana.


“Baiklah. Kami akan segera keluar.” Ujar Zaydan kemudian.


Selesai membersihkan diri, Zaydan dan Elivia turun ke lantai bawah untuk menemui Ibu Suri. Tapi ternyata Ibu Suri sudah pergi ke Istana Besar sejak tadi.


Zaydan dan Elivia memutuskan untuk sarapan dulu sebelum berangkat ke Istana Besar. Keduanya nampak antusias dan bahagia. Bahkan seluruh media memberitakan hal yang sama. Itu adalah sebuah kelahiran yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang.


Selesai sarapan, mereka bergegas pergi menuju ke Istana Besar dengan disupiri oleh Lucas.


Nampak di depan gerbang istana banyak sekali wartawan yang sedang menunggu. Mengetahui hal itu, Zaydan langsung merengkuh tubuh Elivia dan menyembunyikan gadis itu di pangkuannya. Ia tidak ingin Elivia menjadi bahan pemberitaan oleh mereka.


Elivia sadar akan hal itu. Jadi dia menurut saja dengannmenyembunyikan wajahnya dinpangkuan Zaydan.


Baru setelah masuk ke area istana, Elivia bisa mengangkat wajahnya. Tapi Zaydan langsung menahannya.


“Masih ada wartawan.” Ujar Zaydan sambil mengu lum senyum.


“Benarkah?” Tanya Elivia dengan polosnya.


Sampai akhirnya mobil berhenti dindepan istana dan Elivia berhasil mengangkat. wajahnya. Ia memukul lengan Zaydan saat mengetahui kalau Zaydan telah membohonginya.


Sementara pria itu hanya terkekeh saja melihat wajah Elivia yang manyun.


Zaydan menggandeng mesra Elivia saat masuk kedalam istana. Tidak banyak orang di sana. Hanya keluarga inti saja. Ibu Suri dan Ratu langsung menghampiri Elivia saat tau kedatangan mereka.


“Kalian sudah datang? Dan, kenapa dengan wajahmu?” Tanya Ratu. Ia terkejut saat melihat wajah Zaydan yang terdapat beberapa luka memar. Begitu juga dengan Ibu Suri.


Sementara Zaydan dan Elivia kompak menunduk memberi hormat kepada Ibu Suri dan Ratu.


Zaydan hanya tersenyum saja. Dan semua orang tau kalau pria itu sedang tidak ingin membicarakannya.


“Apa kabar anda, Yang Mulia?” Tanya Elivia kepada Ratu.


“Baik. Tapi aku merindukan kalian. Sudah lama kalian tidak kemari.”


“Maafkan kami, Yang Mulia. Nanti kami akan lebih sering mampir kemari.” Timpal Zaydan.


“Bagaimana keadaan Putri Mahkota, Yang Mulia?”  Tanya Elivia lagi.


“Sangat baik. Ayo, kita pergi kekamarnya.” Ajak Ratu.


Zaydan dan Elivia mengikuti Ibu Suri dan Ratu pergi untuk melihat Putri Mahkota.


Didalam ruangan itu, nampak Putra Mahkota yang sedang serius memandangi wajah putri kecilnya yang sedang tertidur. Ia bahkan tidak menyadari saat Zaydan sudah berdiri dibelakangnya.


“Selamat, Yang Mulia.” Lirih Zaydan kepada Putra Mahkota.


Putra Mahkota langsung menoleh kepada Zaydan dan langsung memeluknya. Tapi sesaat kemudain ia melepaskan pelukannya dan menatap heran ke wajah Zaydan.


“Apa ini? Kau berkelahi? Kau tidak apa-apa?” Tanya Putra Mahkota.


“Aku baik-baik saja, Yang Mulia. Anda tidak perlu khawatir.” Jawab Zaydan meyakinkan.


“Astaga. Kau ini sudah beristri, tapi kau masih hobi berkelahi? Kasihan istrimu pasti sangat mengkhawatirkanmu.” Ujar Putra Mahkota sambil melirik kepada Elivia.


Elivia hanya tersenyum saja. “Selamat, Yang Mulia.” Ujar Elivia kepada Putri Mahkota.


“Terimakasih, El.”


“Bolehkah, aku menggendongnya?” Pinta Elivia.


Elivia beralih duduk di kursi dan memangku putri mungil itu. Semua anggota keluarga heran sekaligus senang melihatnya. Ternyata Elivia sangat mahir dan tidak kaku.


Tidak bisa di pungkiri, pemandangan itu memantik sebuah senyuman di bibir Zaydan. Putra Mahkota bahkan sempat menyenggol lengannya untuk memberikan kode.


“Aku berharap kalian cepatlah menyusul. Agar anakku punya teman bermain.” Seloroh Putri Mahkota.


Mendengar itu Elivia  hanya tersipu saja. Wajahnya jadi merona karna malu.


“Benar. Kalian sudah lama menikah, tapi kenapa masih belum ada kabar baik?” Tanya Ratu kemudian.


“Mudah-mudahan kami segera menyusul, Yang Mulia.” Zaydan yang menjawab. Membuat wajah Elivia semakin merona.


Setelah puas memangku sang putri kecil, Elivia mengembalikannya kepada Putri Mahkota. Setelah itu ia keluar dengan di ikuti oleh Zaydan.


Elivia terus berjalan menuju ke kamar lama Zaydan. Setelah sampai, ia segera masuk dan duduk di tepian ranjang. Menatap Zaydan yang baru selelai menutup pintu dengan tatapan tajam.


“Ada apa denganmu?” Tanya Zaydan yang merasa heran dengan sikap Elivia.


“Sebenarnya kenapa wajahmu seperti itu? Sejak semalam kau bahkan tidak mau membahasnya.”


“Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit pemanasan.”


“Kau benar-benar tidak ingin memberitahuku?”


“Karna ini bukan hal yang penting.” Zaydan tetap bersikeras tidak ingin memberitahu Elivia. Walupun gadis itu sudah mendengus dengan tatapan memaksa, tapi Zaydan bersikukuh.


“Baiklah.” Elivia berpura-pura menyerah. Padahal dia sedang memikirkan cara untuk mencari tahu ceritanya. Ia bisa bertanya kepada Lucas misalnya.


Tapi bahkan setelah dia bertanya, Lucas pun sama tidak tahunya dengan dirinya. Menurut cerita Lucas, saat dia sampai di studio setelah mengantarkan Elivia pulang, Zaydan sudah dalam kondisi babak belur.


Usaha Elivia tidak membuahkan hasil. Jika Lucas saja tidak tahu asal perkaranya, mustahil dia bisa mengetahuinya.


Setelah tidak menemukan jawaban dari Lucas, Elivia memilih untuk duduk di sofa di salah satu ruangan. Memikirkan strategi agar Zaydan mau menjelaskannya. Karna dia penasaran setengah mati.


Sementara Zaydan sedang mengobrol bersama dengan Putra Mahkota di tempat yang tidak jauh darinya.


Elivia terkejut saat tiba-tiba ponselnya bergetar dan nama Luna muncul disana. Ia segera mengangkatnya.


“Halo, Luna?”


“El, dimana kau?” Tanya Luna dari seberang telfon. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang menangis.


“Luna? Kau baik-baik saja?”


“El, aku punya permintaan.”


“Permintaan apa?”


“Cepat datanglah ke kantor polisi sekarang.” Pinta Luna pada akhirnya.


“Kantor polisi? Kenapa? Apa kau terlibat sesuatu?”


“Aku akan menjelaskannya padamu nanti. Sekarang kau cepatlah kesini.”


“Baiklah. Aku akan kesanansekarang.”


Elivia bergegas menutup telfonnya. Ia berjalan mendekati Zaydan dan mengatakan kalau dia harus pergi.


“Aku akan mengantarkanmu.” Tawar Zaydan.


“Tidak. Aku akan pergi sendiri. Aku tidak mau menjelaskan hal apapun kepada Luna.”


Zaydan nampak berfikir sejenak. Tapi kemudian ia mengangguk setuju. “Baiklah. Hati-hati.”


Elivia keluar dari istana besar menuju ke jalan raya. Para wartawan yang ada disana nampak tidak mempedulikannya. Mungkin mereka berfikir kalau Elivia adalah salah satu pelayan


di sana.


Ia terus berjalan kemudian berhenti untuk menghentikan taksi. Sepanjang perjalanan perasaannya was-was. Berfikir bagaimana jika Luna sedang terlibat sesuatu hal yang tidak baik. Tapi ia segera menepis fikirannya itu.