
Elivia pulang ke kosnya di antar oleh Kafa. Tapi pria itu tidak turun dari mobil dan langsung pergi lagi setelah menurunkan Elivia. Katanya ia masih punya banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dan Eliviapun memakluminya.
Sisa hari ini akan di gunakan oleh Elivia untuk mengemas barang-barangnya dan pindah ke rumah Widya. Ia sudah menyewa sebuah mobil pick up untuk membantunya pindahan.
Setelah selesai membereskan barang-barangnya di bantu oleh si bapak sopir, Elivia berangkat ke rumah Widya.
Sesampainya di rumah Widya, ternyata gadis itu sudah menunggu kedatangannya. Widya menyambut Elivia dengan sumringah dan langsung membantu mengangkat barang yang bisa ia bantu bawa.
Eliva menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamu setelah ia selesai membereskan barang-barangnya. Rumah itu terasa sangat nyaman walau tidak terlalu besar. Di sana hanya ada satu kamar tidur dan mereka akan tidur di kamar yang sama.
Widya datang sambil menyodorkan gelas berisi teh hangat kepada Elivia. Kemudian ia ikut duduk di samping Elivia.
“Terimakasih,,,” ujar Elivia.
“Bagaimana? Bukankah disini terasa lebih nyaman?” Tanya Widya.
Elivia mengangguk sambil menyeruput minumannya. “Jauh lebih nyaman karna aku tidak tinggal sendiri. Terimakasih banyak Widya atas semua bantuanmu.”
“Tidak perlu di fikirkan. Aku tidak keberatan. Justru aku yang berterimakasih padamu karna sekarang aku sudah punya teman. Jadi kita saling menguntungkan. Hehehehe.”
“Hahahaha... Hufhhh..”
“Aku tidak menyangka kalau tinggal di luar istana rasanya akan senyaman ini. Padahal dulu aku sangat iri melihat orang-orang yang bekerja di istana dan menjadi dekat dengan keluarga kerajaan. Bagiku itu sangat keren.
Tapi setelah aku masuk ke istana, ternyata tidak sesuai ekspektasiku. Kehidupan disana sangat jauh berbeda dari apa yang terlihat dari luar, dan itu membuatku jengah. Tapi setelah kau datang ke istana, entah kenapa suasana menjadi berubah menyenangkan. Apa kau tau kalau kami sering membicarakanmu di belakang? Apalagi saat kau dan pangeran Zaydan bersikap mesra dan malu-malu. Itu sangat menghibur kami. Hahahahaha.”
Widya bercerita panjang lebar dengan antusias. Ia ingin menceritakan pengalamannya bekerja di istana kepada Elivia. Tapi saat ia menyadari kalau ia sudah menyinggung nama Zaydan, Widya menjadi merasa bersalah karna melihat ekspresi Elivia yang berubah murung.
“Oh, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menyinggungnya.” Ujar Widya merasa bersalah.
“tidak apa-apa. Aku harus terbiasa untuk mengebalkan hatiku, kan? Hahahhhaa” Elivia berusaha bersikap biasa saja. Padahal hatinya sedang merasa perih. Apalagi saat nama Zaydan di sebut. “jadi, kalian sering membicarakanku di belakangku ya? Hhmmmm...” Elivia berpura-pura kesal. Ia ingin membuktikan kepada Widya kalau ia baik-baik saja bahkan saat mreka membahas perihal istana dan isinya yang tentu saja mempunyai kenangan bagi Elivia maupun Widya.
“Kami tidak menjelek-jelekkanmu. Kami hanya merasa senang karna sikap pangeran Zaydan bisa lunak padamu. Karna kami tidak menyangka akan jadi seperti itu.”
“Sayangnya, semua itu kini tinggal kenangan saja untuk di ingat.” Lirih Elivia.
Widya menganggukkan kepalanya ia meraih ponselnya dari atas meja saat ponsel itu berbunyi. Ia membaca sebuah pesan terusan di ponselnya dan langsung terbelalak melihat berita yang sedang beredar.
Sebuah berita yang mengabarkan tentang putra perdana menteri yang datang ke pesta pernikahan bersama dengan seorang gadis. Disana juga di sebutkan bahwa gadis itu merupakan calon istri dari Kafa. Mereka langsung mengambil kesimpulan itu hanya dari sebuah foto saja. Dan boom! Langsung menjadi viral.
“Jelaskan ini.” Pinta Widya dengan mata melotot dan mengarahkan ponselnya kepada Elivia.
“Apa?” Jawab Elivia sambil memperhatikan layar ponsel Widya.
“Kau, ada hubungan apa dengan tuan Kafa? Apa kalian menajlin hubungan spesial?” Desak Widya kemudian.
“Apa itu? Kenapa kau santai sekali? Apa kalian benar-benar menjalin hubungan?”
“Tidak. Bukan begitu. Aku hanya tidak sengaja bertemu di acara itu dan kami berfoto bersama. Mereka saja yang membesar-besarkan.”
“Bagaimana tidak di besar-besarkan? Ini pertama kalinya tuan Kafa mengunggah foto bersama dengan seorang wanita!” Pekik Widya tidak percaya. Ia memperbesar foto yang ada di ponselnya agar terlihat lebih jelas.
“Hei! Memangnya di sana hanya ada kami berdua saja? Kenapa heboh sekali?”
“Wajar saja. Apa kau tau tuan Kafa itu adalah pria kedua setelah pangeran Zaydan yang di incar para gadis di negeri ini? Kau sudah membuat iri setengah populasi gadis di negeri ini.”
“Sudahlah. Tidak usah di besar-besarkan. Nanti kalau kabar itu tidak terbukti benar juga akan mereda dengan sendirinya.”
“Tapi jujur, kalian terlihat sangat serasi jika bersama. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu dan tuan Kafa. Aku akan mendukung kalian.” Ujar Widya yang jadi berapi-api sambil mengepalkan kedua tangannya dengan semangat membara kepada Elivia.
“Hei. Jangan mengada-ada begitu.” Elivia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat tingkah Widya.
“Itu benar. Kalian terlihat sangat pas. Bisa jadi kalian itu adalah jodoh.”
“Wid. Apa kau lupa kalau aku ini seorang janda? Bukan sembarang janda, aku ini adalah jandanya pangeran Zaydan.”
“Tapi kan tidak ada yang tau itu kecuali orang-orang dekatmu.”
“Tapi itu tidak menutup kenyataan kan?”
Widya hanya terdiam saja. Sepertinya kalau di lanjutkan pembicaraan itu akan berubah menjadi serius.
“Baiklah! mari kita serahkan jodoh di tangan takdir. padahal aku sendiri juga belum punya jodoh. hahahahahaha”
Elivia memang tidak peduli dengan kabar apapun itu. Ia hanya lucu saja memikirkan seandainya Zaydan tau, pria itu pastilah marah dan mengomel terus menerus. Betapa lucunya membayangkan wajah cemburu Zaydan.
Ah... Kenapa Elivia harus membayangkan itu?
“Wid, maukah kau mengajariku tentang perhotelan? Aku tidak ingin membuat kesalahan nanti.” Akhirnya Elivia mengalihkan pembicaraan.
“Entahlah. Kau dan aku, sama-sama punya pengalaman melayani orang lain. Membantu mereka apapun yang di butuhkan. Ku fikir tidak akan jauh-jauh dari sana. Kau melayani pelanggan di cafe, dan aku melayani keluarga kerajaan. Tidak akan jauh dari hal itu. Jadi jangan khawatir, kita akan belajar bersama nanti.” Ujar Widya menenangkan.
“Begitukah? Baiklah.”
Saat malam sudah hampir larut, Widya mengajak Elivia untuk tidur di kamar. Elivia menurut karna memang dirinya sudah mengantuk. Apalagi hari ini ia banyak beraktifitas sehingga membuatnya lelah.
Elivia berusaha untuk menjemput kantuknya, namun bukannya rasa kantuk yang datang, melainkan wajah penuh kecemburuan milik Zaydan yang justru mampir di ingatannya. Sungguh menyebalkan saat ia harus teringat dengan senyuman pria itu. Dan kenangan itu terus merambat kemana-mana.
Demi mengusir semua kenangan itu, Elivia sampai membenamkan wajahnya di bantal berharap ia bisa berhenti memikirkan Zaydan.