DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Hal Kecil Yang Berlebihan.



Hawa panas semakin merasuk ke dalam kamar yang di tempati Elivia. Namun ia masih enggan untuk bangun. Rasa kantuknya masih bergelayut di kelopak matanya dan membuatnya sulit untuk membukanya.


Namun tiba-tiba ia mencium sesuatu yang menyengat dihidungnya. Aroma itu membuat kesadarannya langsung  kembali seketika. Ia bangun dan melihat ke arah jam dinding, ternyata sudah lewat dari jam satu siang. Saat ia menoleh ke sampingnya, ternyata Zaydan sudah tidak ada disana.


Elivia segera bangun dan membuka pintu kamarnya.


“Uhuk! Uhuk! Uhuk!” Mata Elivia langsung terasa perih saat ia membuka pintu kamar. Ia mengibas-ngibaskan area depan wajahnya untuk mengusir kepulan asap tipis yang sudah memenuhi ruang tamunya.


Di dapur, ia bisa melihat Zaydan yang tengah sibuk dengan sesuatu dengan asap tebal yang mengepul dari penggorengan. Entah apa yang sedang dilakukan pria itu disana.


“Kau sedang apa?” Tanya Elivia masih dengan memicingkan matanya karna asap. Kemudian ia langsung membuka jendela agar asap itu bisa keluar.


“Oh, kau sudah bangun? Duduklah, aku sedang membuatkanmu sarapan yang sangat lezat.” Ujar Zaydan dengan senyum manisnya. Terdengar ia sangat percaya diri sekali dengan hidangan yang baru saja dibuatnya.


Tapi entah kenapa Elivia seperti tidak yakin saat melihat kondisi dapur yang mengepul itu. “Sarapan apa? Ini sudah siang.”


“Anggap saja seperti itu.”


Elivia menuruti permintaan Zaydan dan duduk manis di sofa. Kemudian Zaydan datang dengan nampan yang berisi beberapa piring makanan dan langsung menyajikannya di hadapan Elivia. Ia bahkan memberikan sendok langsung ke tangan Elivia.


Sungguh Elivia sampai terbelalak dengan pemandangan yang ada di atas meja. Ia mengedip-ngedipkan matanya berharap ia salah lihat penampakan estetik itu.


“Makanlah.” Ujar Zaydan lagi.


Elivia tidak langsung makan. Ia malah menatap Zaydan dengan alis yang berkerut dengan sendok dan garpu di kedua tangannya.


“Kau mau aku memakan ini?” Tanya Elivia tidak yakin. Ia kembali menatap telur mata sapi yang berwarna hitam legam itu. Hanya bagian kuningnya saja yang masih terlihat sedikit berwarna kuning. Bahkan irisan kentang yang tidak beraturan yang berada di samping telir itu juga nampak menghitam di beberapa sisi.


“Hanya sedikit gosong. Masih bisa dimakan kok.” Jawab Zaydan tanpa merasa bersalah.


“Dan, ini bukan hanya sedikit. Ini sudah gosong seluruhnya. Sudah tidak bisa lagi di makan.” Ujar Elivia memberitahu.


Zaydan nampak kecewa dengan hal itu. Padahal ia sudah bersusah payah membuatkan makanan untuk Elivia.


“Astaga. Lalu bagaimana ini? Aku sudah menggunakan semua telur yang ada di lemari pendingin.”


“Apa? Kau menggunakan semuanya? Tapi kenapa hanya ada satu?” Tanya Elivia melihat ke arah piringnya.


“Itu,,,” Zaydan melirik ke arah tempat sampah di dapur.


Elivia langsung terbelalak saat melihat ada banyak telur mpecah yang sudah di buang ke tempat sampah. Ia tidak percaya Zaydan menggunakan sekitar sepuluh telur hanya untuk bahan percobaannya yang sia-sia.


Merasa bersalah dan kecewa, Zaydan hanya bisa menundukkan wajahnya saja, ia takut di marahi oleh Elivia. Wajahnya sudah seperti anak kecil yang takut kena marah ibunya.


Elivia yang sudah kembali duduk di samping Zaydan hanya menatap tajam pria itu sambil menghela nafas berkali-kali. Sebal sekali rasanya persediaan telurnya habis sia-sia.


“Hahahahahahahahahahaha.” Elivia tertawa terbahak-bahak membayangkan kelucuan Zaydan saat sibuk di dapur untuk membuatkan makanan.


“Kau tidak jadi marah?”


“Bagaimana aku bisa marah saat melihat wajahmu sepert itu?”


“Kau benar-benar tidak marah? Astaga. Kau mengejutkanku.” Zaydan langsung memeluk Elivia dengan perasaan lega.


“Lalu bagaimana sekarang? Kita sudah tidak bisa makan lagi.”


“Tenang saja. Kita bisa memesannya.” Ujar Zaydan yang langsung mengambil ponselnya dari atas meja.


Zaydan mengernyit saat melihat ada lebih dari 20 panggilan mtidak terjawab dan ada banyak pesan dari Sadila. Tapi kemudian ia mengabaikan pesan itu dan langsung membuka sebuah aplikasi untuk memesan makanan.


Sambil menunggu makanan pesanan mereka datang, keduanya memilih untuk bercengkerama sambil menonton tv.


“Sudah jauh lebih baik. Dia sudah bisa berjalan walaupun kakinya masih terasa agak lemas.” Jelas Elivia.


“Nanti bawa aku menemuinya, ya. Waaahh,, tiba-tiba aku takut bertemu dengannya. Dia tidak akan membunuhku, kan? Soalnya dia pernah mengancam akan membunuhku kalau aku mendekatimu. Tapi sekarang aku malah menidurimu. Bagaimana ini?” Seloroh Zaydan kemduian.


“Hei! Berhenti membahas itu atau aku yang akan membunuhmu.” Ancam Elivia.


“Hahahahahahahaha. Jadi apa hari ini kita sudah bisa pulang ke istana?” Tanya Zaydan yang sedang tiduran di paha Elivia.


“Aku masih belum yakin. Aku belum siap untuk bertemu dengan ibumu. Maaf.”


“Tidak apa-apa. Aku tau itu sangat sulit untuk di terima. Aku tidak akan memaksamu. Perlahan saja.”


“Dan,, selesaikanlah dulu urusanmu dengan Sadila. Setelah aku mendapatkan kejelasan itu, baru aku akan pulang ke istana bersamamu.” Janji Elivia.


Ya, memang seharusnya seperti itu. Zaydan tidak bisa lagi berlama-lama mengulur kejelasan mereka.


“Aku mengerti. Tolong beri aku waktu sedikit lagi untuk menyelesaikan semuanya. Kau mau menungguku, kan?”


“Iya, aku akan menunggumu.”


“terimakasih, sayang. Aku mencintaimu.”


Cup.


Sebuah kecupan mendarat di bu*h da*a Elivia. Membuat Elivia langsung memukul pelan lengan Zaydan karna terkejut.


“Hei!”


“Hahahahahahahaa” tapi Zaydan malah tertawa senang.


“Tapi, bagaimana kau akan menjelaskan semuanya kepada Sadila? Bahkan semua orang sudah tau tentang kabar pertunangan kalian. Aku tidak ingin di cibir karna di anggap merebutmu darinya.”


Zaydan tau kekhawatiran yang sedang di rasakan oleh Elivia. Maka dari itu ia berusaha sebisa mungkin untuk mencari jalan tengah agar ia tidak menyakiti Sadila apalagi Elivia.


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga. Zaydan yang mengambil makanan itu kemudian langsung membawanya dan meletakkannya di meja.


Lagi-lagi, Elivia di buat tercengang dengan banyaknya makanan  yang di pesan oleh Zaydan padahal mereka hanya ada berdua saja.


“Kau memesan semua ini?”


Zaydan mengangguk santai sambil membuka satu persatu makanan yang ada di atas meja.


“Astaga, Dan. Bagaimana kita akan menghabiskan semua ini?” Tanya Elivia kemudian.


Dan disitulah Zaydan baru menyadari kesalahannya. “Apa aku salah lagi?” Tanyanya dengan ekspresi kecewa. Ia hanya ingin menyenangkan Elivia dengan membeli semua makanan yang nampak lezat itu agar Elivia segera ‘sembuh’.


“Bukan begitu. Tapi semua makanan ini terlalu banyak untuk kita yang hanya berdua saja. Ini tidak akan habis dimakan.” Jelas Elivia perlahan.


“Ah, itu masalah gampang. Kau berikan saja kepada tetanggamu nanti.” Usul Zaydan.


Elivia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja walaupun sambil tersenyum. Ia maklum dan memahami niat Zaydan sebenarnya. Namun itu semua berlebihan baginya.


“Apa kau sesuka itu padaku?” Pancing Elivia.


“Tidak. Tapi lebih dari itu.”


Zaydan beralih ke samping Elivia dan langsnung melu**t bibir ranum Elivia tanpa ampun.