
Perlahan Zaydan membuka matanya. Sinar matahari yang menembus dari balik gorden jendela membuatnya memicingkan mata karna silau. Dia hendak mengusap matanya tapi tangannya terhalang sesuatu. Dia terkejut saat melihat tangannya yang sedang menggenggam tangan Elivia. Gadis itu masih tertidur dengan posisi duduk dan kepalanya bersandar di pinggir ranjang. Ada handuk kecil ditangan yang satunya.
“Apa yang terjadi denganku? Kenapa dia tidur disini?” Tanya Zaydan heran. Perlahan dia melepaskan genggaman tangannya.
“Hei,, bangunlah,, kenapa kau tidur disini?” Panggil Zaydan setengah hati, karna suara itu hanya dia yang mendengarnya.
Zaydan turun dari ranjang secara perlahan, agar tidak membangunkan Elivia. Karna sepertinya dia sedang terlelap. Zaydan mendekati Elivia dan memandangi wajahnya dari dekat. Dia menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Elivia, membuat gadis itu terbangun.
“Apa yang anda lakukan Yang Mulia?” Tanya Elivia sesaat setelah dia membuka matanya dan mendapati Zaydan yang sedang berjongkok dihadapannya.
Dengan sigap Zaydan langsung berdiri. Dia nampak salah tingkah.
“Hei.! Ke,, ke,, kenapa kamu tidur disitu? Apa kamu ingin tidur diranjang bersamaku?”
“Apa?!”
“Kalau tidak kenapa kamu tidur disitu?”
“Waahhh,, benar- benar tidak tau berterimakasih.” Kata Elivia
kesal. Dia kemudian berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.
Didalam kamar mandi Elivia sengaja mengeraskan keran air. Dia mengumpati Zaydan sesuka hatinya.
“Dasar! Bukannya bilang trimaksih malah berfikiran yang macam-macam.! Seharusnya aku tidak usah membantu si kodok itu semalam.! Mengganggu tidurku saja.!” Dengus Elivia kesal.
Diluar, Zaydan segera mengambil tabletnya dan mengakses rekaman cctv di kamarnya. Betapa dia terkejut dengan tingkahnya sendiri. Dia melihat Elivia yang dengan sabarnya merawat dirinya. Mengelap keringat diwajahnya sampai akhirnya tertidur disamping ranjangnya.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Zaydan segera menutup rekaman itu dan melemparkan tabletnya keatas ranjang. Elivia melihat Zaydan sekilas dengan tatapan sebalnya. Kemudian dia masuk keruang ganti.
“Mau kemana kamu?” Tanya Zaydan setelah Elivia keluar dari ruang pakaian.
“Mau ke restoran.” Jawab Elivia acuh.
“Apa kamu lupa dengan acara hari ini? Kita harus pergi ke Istana Besar.” Jelas Zaydan.
“iya, tapi saya harus ijin dulu kerestoran karna hari ini libur.” Jelas Elivia. Dia meraih tas selempangnya dan hendak melangkah keluar kamar.
“Tunggu sebentar. Aku akan mengantarmu.” Kata Zaydan tiba-tiba. Membuat Elivia mengerutkan keningnya.
“Tidak perlu Yang Mulia. Saya bisa pergi sendiri.”
“Apa kamu tidak dengar apa kata nenek semalam? Kita harus datang berssama-sama.”
“Iya, tapi kan kita belum mau kesana. Aku masih harus kerestoran dulu.”
“Sudah, jangan membantah. Tunggu aku mandi sebentar.” Kata Zaydan kemudian dia masuk kekamar mandi.
Tentu saja Elivia tidak menggubris perintah Zaydan untuk menunggunya. Dia malas kalau harus diantar Zaydan ke restoran. Dia tidak ingin menimbulkan rumor yang tidak perlu. Bisa ribet urusannya kalau sampai orang-orang tau.
Saat Zaydan sudah selesai mandi dan berpakaian, dia sudah tidak menemukan Elivia dikamar itu.
“Dasar. Tidak pernah mau mendengarkanku!” Dengus Zaydan kesal. Dia segera meraih kunci mobilnya dan berlari keluar kamar.
Elivia berjalan kaki, dia sudah hampir sampai di gerbang depan saat Zaydan menghentikan mobilnya tepat disamping Elivia.
Tin,, tin,,!!
Elivia menoleh sebentar tapi tetap melanjutkan jalannya.
“Hei! Masuklah!” Teriak Zaydan dari balik kemudi. Tapi Elivia tidak menghiraukannya.
“Hei! Kubilang masuk!”
Elivia terus saja berjalan. Para pengawal yang ada di pintu gerbang utama segera menunduk hormat kepada Zaydan dan Elivia.
“Hei! Kalian! Bawa dia masuk kedalam mobilku.!” Perintah Zaydan kepada pengawal itu.
“Cepat!” Dua orang pengawal langsung bergerak dan memaksa Elivia untuk masuk kedalam mobil.
“Pertengkaran suami istri...” Bisik para pengawal itu. Tentu saja setelah mobil yang ditumpangi Zaydan dan Elivia sudah pergi dari hadapan mereka. Mereka cekikikan memertawakan tingkah pangeran dan istrinya itu.
Elivia mendengus melihat Zaydan yang sedang bersiul-siul dibalik kemudi. Pria itu nampak sangat senang.
“Kenapa Anda melakukan ini Yang Mulia? Bagaimana kalau ada
orang yang melihat?” Tanya Elivia. Zaydan nampak tidak peduli. Dia hanya menunjukkan sebuah masker yang diambil dari saku bajunya, dan kemudian melanjutkan siulannya.
“Aku bisa pergi sendiri dan kita bisa bertemu didepan Istana Besar nanti.”
“Sudah, jangan bawel. Setelah ini kita masih harus ke butik dulu untuk fitting pakaian.”
“Apa? Kebutik lagi?!” Tanya Elivia heran.
“Iya lah. Kamu harus berpenampilan elegan didepan semua keluarga besarku. Kamu itu sudah jadi anggota keluarga kerajaan. Apa kamu lupa itu?”
Hufh...! Elivia kembali mendengus. Menjadi anggota keluarga
kerajaan sama sekali bukan hal yang mudah ternyata.
Mobil sudah sampai didepan restoran cepat saji tempat Elivia bekerja. Dia segera turun dari mobil dan segera masuk kedalam restoran.
“Hai El..!” Sapa Luna.
“Hai,, Bu Fira ada?” Tanya
“Ada, diatas. Kenapa?”
“Nanti kuberitahu, aku mau keatas dulu ya,,” Luna hanya menganggukkan kepalanya dan meneruskan pekerjaannya.
“Selamat pagi Bu,,” sapa Elivia setelah masuk kedalam ruangan Bu Fira.
“Oh,, El,, ada apa?”
“Saya mau ijin libur hari ini Bu. Ada urusan yang tidak bisa saya tinggalkan.” Jelas Elivia.
“Kenapa? Apa adikmu kambuh?” Taya Bu Fira. Memang selama ini Bu Fira tau keadaan Arina.
“Tidak Bu, bukan masalah Arina.”
“Baiklah.” Kata Bu Fira kemudian.
“Trimakasih Bu,, kalau begitu saya permisi.” Ucap Elivia lagi. Kemudian dia pergi dari ruangan itu.
“Na,, hari ini aku libur. Tolong kau gantikan pekerjaanku ya..” Pinta Elivia pada Luna.
“libur? Kenapa El?”
“Ada acara mendadak.” Jawab Elivia. “Ya sudah aku pergi dulu. Semangat.” Katanya lagi memberi semangat kepada temannya itu.
Elivia keluar dari restoran. Dia menangkap sesosok pria yang sedang berdiri bersandar di sebuah mobil dengan satu kaki. Kedua tangannya masuk kedalam kantong celananya. Pria itu menggunakan masker dan topi. Nampak sangat keren dimata Elivia.
Zaydan melambaikan tangannya saat melihat Elivia yang sedang mematung melihat dirinya didepan gedung. Gadis itu mendekatinya.
“Sudah selesai?” Tanyanya kemudian. Elivia hanya mengangguk, kemudian masuk kedalam mobil.
Zaydan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Kelvin
“Siapkan sarapan untukku dan istriku.” Perintah Zaydan. Elivia yang mendengar itu dari dalam mobil hanya melongo tidak percaya. Ada getaran dihatinya saat Zaydan menyebutnya sebagai istrinya.
Zaydan mengemudikan mobilnya menuju ke butik. Disana sudah ada Kelvin yang sudah menunggu mereka. Begitu turun dari mobil, Kelvin segera membimbing mereka kedalam sebuah ruangan yang sudah tersaji hidangan diatas meja.
“Ayo kita sarapan dulu. Aku lapar.” Ajak Zaydan. Kemudian duduk dikursinya.
Elivia hanya mengikutinya. Dia juga lapar, baru ingat kalau belum sarapan tadi. Keduanya segera melahap sarapan mereka sebelum fitting baju.