DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Menjadi Penguntit.



Saat baru sampai di hotel JE, Zaydan segera menghentikan mobilnya tatkala ia melihat Elivia yang masuk kedalam mobil Kafa dan mobil itu segera pergi meninggalkan area hotel.


Zaydan seegra mengikuti kemana mobil Kafa membawa Elivia. Dia sempat mengernyitkan keningnya saat melihat Kafa dan Elivia masuk kedalam area sirkuit yang biasa di gunakan untuk balapan.


Mobil Kafa berhenti di sisi lain sirkuit yang biasa di gunakan untuk tempat parkir. Sementara Zaydan berhenti di tempat yang tidak terlihat oleh Kafa dan Elivia dan segera keluar dari mobilnya kemudian mengintip dari balik pohon akasia yang tumbuh di sekitar sirkuit.


Kafa dan Elivia bertukar posisi mengemudi. Hal itu membuat Zaydan mengernyitkan keningnya kembali. Ia sungguh penasaran apa kira-kira yang akan mereka lakukan. Ia ingin melangkah mendekati Elivia, namun kakinya masih tertahan.


Setelah bertukar posisi dengan Elivia, Kafa segera menjelaskan apa-apa saja yang harus di lakukan oleh Elivia.


Dengan perasaan yakin, Elivia mulai menghidupkan mobil sesuai dengan petunjuk dari Kafa dan mulai menginjak pedal gas secara perlahan. Sementara Kafa, tangannya sudah bersiap memegang rem tangan. Mengantisipasi jika tiba-tiba Elivia menekan gas secara berlebihan dan membahayakan mereka.


“Hufh... Kakiku gemetar.” Ujar Elivia yang langsung memantik tawa dari Kafa.


Sementara dari balik pohon, Zaydan tidak melepaskan pandangannya dari mobil yang nampak aneh itu. Dari penglihatannya itu ia tau kalau Elivia pastilah sedang meminta Kafa untuk mengajarinya mengemudi. Ada sedikit perasaan lega di hati Zaydan.


Sesi pelajaran itu berlangsung hingga dua jam lamanya. Karna Elivia tipe gadis yang mudah mengerti, jadi saat di ajarai oleh Kafa, Elivia langsung menerapkannya dan itu membuatnya dengan cepat mengusai mobil itu.


Saat keluar dari mobil, Kafa sempat melirik kaca spion mobilnya yang sekilas menangkap bayangan Zaydan. Ia mengernyitkan keningnya merasa tidak yakin kalau itu adalah Zaydan. Jadi Kafa membalikkan lagi kaca spionnya dan barulah jelas menampakkan seorang Zaydan yang sedang mengintip dari balik pohon.


Kafa langsung tersenyum geli dan geleng-geleng kepala saja. Bahkan ia tidak menyadari kapan Zaydan ada disana.


“Kau mau minum sesuatu?” Tawar Kafa kepada Elivia.


“Boleh.” Jawab Elivia.


“Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan membelikan minum untukmu.”  Ujar Kafa kemudian. Sebelum


pergi meninggalkan Elivia, ia sempat melirik kepada bayangan Zaydan di balik pohon.


Sambil menunggu Kafa kembali, Elivia memilih untuk duduk di salah satu bangku yang berada tepat di bawah pohon tempat Zaydan bersembunyi.


Menyadari kalau Elivia sedang berjalan mendekat ke arahnya, membuat Zaydan gugup dan hendak melarikan diri. Ia takut ketahuan jika Elivia sampai melihatnya.


Namun untungnya Elivia tidk melihat Zaydan karna ia langsung duduk dan membelakangi pohon.


Melihat Elivia yang duduk di pohon tempat persembunyian Zaydan, membuat Kafa menahan tawa setengah mati. Namun ia tetap berusaha untuk menahan senyumannya dan menyodorkan botol minuman dingin keapda Elivia.


“Terimakasih.” Ujar Elivia.


Kafa ikut mengambil duduk di samping Elivia dengan masih tersenyum simpul. Ia membayangkan jika Zaydan pastilah sedang terbakar hatinya melihat mereka duduk bersama seperti ini.


“Bagaimana? Tidak sulit, kan?” Tanya Kafa kemudian.


“Hemm,, berkat guru yang hebat.” Puji Elivia.


Zaydan hanya mencibir saja mendengar Elivia memuji Kafa.


“Hufh.”


“Kenapa menghela nafas begitu? Apa terjadi sesuatu?”


“Kemarin aku pergi ke makam nenek dan bertemu dengan Dan.” Lirih Elivia.


Kafa hanya setengah ternganga sambil tersenyum. Awalnya ia ingin memancing Elivia untuk berbicara tentang Zaydan, namun sepertinya itu tidak perlu karna Elivia sendiri yang mulai membicarakannya.


“Kenapa dengan Dan?”


Wajahnya tirus dan berantakan. Aku tidak bisa membayangkan betapa besar kesedihannya saat di tinggal oleh nenek pergi untuk selamanya.”


Elivia terdiam. Ia menundukkan wajahnya dan menatap pias kepada botol minuman yang ia pegang. “Aku mengkhawatirkannya. Aku harap dia baik-baik saja.” Lirihnya kemudian.


“Kau, sangat merindukan Dan, bukan?” Pancing Kafa lagi. Ia ingin membuat Zaydan mendengar pengakuan dari Elivia.


“Tentu saja. Aku sangat merindukannya. Bahkan aku sampai berusaha diri mati-matian agar tidak menghambur kedalam pelukannya.”


 “Bukankah itu sakit?” Tanya Kafa kemudian.


“Apa maksudmu?”


“Menahan rindu seperti itu, bukankah hal itu menyakitimu?”


Lagi-lagi Elivia mengangguk. “Rasanya sangat menyakitkan. Aku mencintainya dan aku sangat merindukannya. Tapi aku tidak punya keberanian untuk mengungkapkan semua itu padanya. Aku tidak ingin merebutnya dari Sadila untuk ke dua kalinya.”


“Ah, aku berharap kalau Zaydan akan menyadari hal itu dan menarik dirimu. Sehingga kau tidak perlu merasa seperti itu pada Sadila.”


“Tapi kurasa itu tidak akan terjadi. Mereka bahkan sudah akan menggelar pesta pertunangan.” Elivia menjadi tidak yakin.


“Kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depan, El. Mau kubantu?” Tawar Kafa kemudian.


“Bagaimana caramu membantuku?” Tantang Elivia.


“Kau dengar itu Dan?!!!!!!” Tiba-tiba Kafa berbicara dengan berteriak sampai membuat Elivia terkejut.


“Apa yang kau lakukan? Kau fikir jika kau berteriak disini, Dan akan mendengarmu?” Protes Elivia. Ia tidak tau saja kalau Zaydan mendengar semua percakapan mereka.


“Entahlah, mungkin angin akan menyampaikannya. Hehehehehe. Entah kenapa aku sangat yakin kalau Zaydan akan memperjuangkanmu.” Ujar Kafa kemudian.


“Dari mana asal keyakinamu itu?” Tanya Elivia.


“Eemmmm, firasat?”


“Itu terdengar sangat meyakinkan. Hahahahaha.” Ejek Elivia.


“Apa yang akan kau lakukan kalau Dan ternyata masih menunggumu dan memintamu untuk kembali padanya?”


Elivia langsung menoleh kapada Kafa setelah mendapat pertanyaan itu. Ia mengernyitkan keningnya. Sementara Zaydan sedang harap-harap cemas menunggu jawaban dari Elivia.


“Entahlah. Aku tidak berani membayangkan. Aku ingin menerimanya, namun aku juga takut kalau itu akan membuatnya dalam masalah.”


“El, aku sungguh berharap kalau kalian akan bisa kembali bersama. Aku yakin kalau Dan juga sangat menginginkan hal itu. Aku yakin dia akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali. Iya kan Dan?!!!!!” Kafa kembali berteriak.


“Hei. Kau tidak perlu berteriak seperti itu.” Elivia kembali melakukan protesnya kepada Kafa.


“El, percayalah, Dan mendengar semua yang sedang kita bicarakan.” Bongkar Kafa.


Dan itu berhasil membuat jantung Zaydan kembang kempis karna takut ketahuan. Ia mengira-ngira apakah memang Kafa sudah mengetahui tentang keberadaannya.


“Bagaimana bisa? Apa kau sedang merekam permbicaraan ini?” Tanya Elivia dengan polosnya.


“Merekam? Hahahahahahahaha. Tidak mungkin aku melakukan hal itu. Anggap saja kalau Dan mendengar semua ucapanmu tadi.”


“Astaga. Kau menakutiku saja.”


Zaydan fokus menatap punggung Elivia dengan pias. Punggung yang sempat ia peluk kemarin itu masih saja ia rindukan. Ia masih ingin memeluk punggung itu lagi. Ada secuil senyuman yang muncul di sudut bibir Zaydan saat


ia mendengar semua kejujuran dari Elivia. Kini hatinya telah kuat untuk memperjuangkan gadis itu apapun resikonya nanti.