
Matahari sudah hampir berada di puncaknya, namun Elivia dan Zaydan masih enggan untuk beranjak dari tempat itu. Mereka masih ingin menikmati waktu itu . Waktu yang entah bisa terulang kembali atau tidak.
Walaupun mereka lebih banyak diam, namun mereka sama-sama menyadari ada rindu di antara mereka. Hanya saja keduanya masih berusaha menahan diri.
Setelah lama terdiam dan tidak tau lagi harus membicarakan apa, akhirnya Elivia berdiri dan menepis bagian belakangnya untuk menyingkirkan rumput yang menempel. Ia tau kalau Zaydan terkejut dengan sikapnya yang
tiba-tiba itu.
“Sudah siang. Aku harus pulang.” Pamit Elivia kemudian.
“Pulang? Sekarang?” Tanya Zaydan. Ia masih ingin Elivia berada di sana lebih lama lagi.
Elivia mengangguk dan langsung meninggalkan Zaydan begitu saja sambil menoleh ke arah makam ibu suri.
“Tunggu. Aku akan mengantarmu pulang.” Tawar Zaydan sambi menyusul Elivia.
Entah kenapa Elivia tidak bisa menolak tawaran itu. Ia membiarkan saja Zaydan berjalan di sampingnya menuju ke luar area pemakaman.
“Tunggu di sini. Aku akan mengambil mobilku dulu. Pokoknya tunggu disini.” Ujar Zaydan mewanti-wanti. Seolah takut kalau Elivia akan kabur dan pergi meninggalkannya.
Sesungging senyuman mampir di kedua sudut bibir Elivia saat melihat punggung Zaydan yang berlari kecil menjauh darinya. Ia teringat dengan ucapan Zaydan tadi, bahwa mungkin saja ini semua bukan sebuah kesalahan, melainkan cara takdir mempertemukan mereka.
Zaydan tersenyum senang saat melihat Elivia yang masih berdiri di tempatnya semula. Entah kenapa hatinya jadi berbunga-bunga. Ia segera menghentikan mobilnya dan membukakan pintu untuk gadis itu.
Elivia masuk kedalam mobil dengan perasaan sungkan. Ia merasa jahat karna tidak mampu menolak tawaran dari Zaydan. Bukan apa, ia takut jika ada orang yang melihat mereka sedangkan kabar pertunangan Zaydan dan Sadila sudah santer terdengar.
Zaydan menuruti perintah Elivia saat gadis itu menunjukkan jalan ke rumah barunya.
Sesampainya di depan rumah yang di tunjuk Elivia, Zaydan segera menepikan mobilnya. Elivia memberitahu kalau itu adalah rumahnya. Zaydan senang mengetahui kalau Elivia sudah punya sebuah rumah walaupun itu adalah rumah sederhana.
Zaydan ikut turun bersamaan dengan Elivia. Ia berniat untuk membukakan pintu untuk Elivia namun gadis itu sudah lebih dulu turun dari mobil.
“Ehm... Bukankah kau belum makan siang?” Tanya Zaydan tiba-tiba saat Elivia mengucapkan terimakasih dan hendak masuk ke dalam rumahnya.
“Hah? Belum sih.”
“Ayo makan siang bersamaku.” Ajak Zaydan lagi.
Elivia nampak berfikir. Namun setelah itu dia menggeleng. Ia bisa melihat kalau Zaydan kecewa mendapat penolakan itu.
“Tapi, aku punya banyak nasi dan lauk. Kau bisa makan disini, itupun kalau kau mau.” Ujarnya kemudian.
Zaydan yang tadinya sudah mau masuk kembali ke dalam mobil menoleh dan tersenyum hingga menampakkan deretan gigi-giginya. Ia kembali menutup pintu mobil yang sebelumnya sudah sempat ia buka sedikit itu dan langsung berlari kecil menghampiri Elivia yang sudah berdiri di depan pintu.
“Masuklah.” Tawar Elivia kemudian setelah pintu terbuka.
Masih dengan senyuman samar yang menghiasi sudut bibirnya, Zaydan mengikuti Elivia masuk kedalam rumah itu. Sekilas ia memperhatikan isi rumah itu dengan seksama.
“Duduklah, aku akan menyiapkan makanannya.” Jelas Elivia kemudian. Ia mempersilahkan Zaydan untuk duduk di satu-satunya sofa panjang yang ada di ruang tamu.
Zaydan menuruti Elivia dengan masih memperhatikan seisi rumah itu. Sementara Elivia pergi meningalkan Zaydan untuk menyiapkan makanannya. Pandangan Zaydan terpaku pada sebuah figura indah yang terpajang di dinding dekat jendela. Itu adalah figura ke dua orang tua Elivia. Hati Zaydan kembali berdesir karna teringat dengan kejadian itu.
Tidak lama kemudian, Elivia sudah datang dengan membawa nampan berisi makanan dan langsung di sajikan di meja yang ada di hadapan Zaydan.
Elivia memilih duduk bersila di hadapan Zaydan kemudian mengambilkan makanan untuk Zaydan.
“Kenapa kau duduk disitu?” Tanya Zaydan heran.
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Maaf kalau makanan ini terlalu sederhana untuk lidah seorang pangeran.” Seloroh Elivia sambil tersenyum.
Suasana di antara mereka sudah sedikit mencair. Walaupun masih ada sedikit kecanggungan namun keduanya berusaha untuk bersikap normal.
“Benarkah kau yang memasak ini semua?” Tanya Zaydan sambil mulai memasukkan makanan kedalam mulut.
“Tentu saja.”
“Bukan pesan online?”
“Hei. Berhenti menggodaku. Cepat makan.”
“Hehehehehe.” Zaydan terkekeh melihat sikap Elivia yang sangat dia rindukan itu.
Elivia menggeleng-gelengkan kepalanya saja sambil mengunyah makanannya.
Entah kenapa Elivia merasa rindunya sedikit terobati dengan adanya Zaydan di hadapannya. Sambil menikmati makanannya, ia berkali-kali melirik kepada Zaydan tanpa diketahui oleh Zaydan. Karna saat pria itu mengangkat wajahnya, Elivia cepat-cepat menunduk lagi agar tidak ketahuan.
“Kalau di fikir-fikir, baru kali ini aku memakan masakanmu. Ternyata tidak buruk.” Ujar Zaydan kemudian.
“Enak, kan?” Tanya Elivia merasa bangga.
“Hmm.. Ini benar-benar enak. Tidak kalah dari masakan koki istana.”
“Kenapa perbandingannya tinggi sekali? Aku tentu belum apa-apa jika di bandingkan oleh koki kerajaan. Kau ini sedang memujiku atau mengejekku sih?” Ujar Elivia.
“Hahahahahahhaa.”
Baru kali ini Zaydan bisa tertawa selepas itu sejak meninggalnya ibu suri. Ada sesuatu yang berdesir di hati Zaydan. Ini sudah entah ke berapa kalinya ia merasakan itu hari ini. Ia sangat menikmati perasaann itu.
“El, kira-kira apa yang bisa ku lakukan untuk memperbaiki semuanya?” Tiba-tiba Zaydan bertanya.
Elivia yang mendengar pertanyaan itu langsung menghentikan suapannya dan menatap lurus ke netra Zaydan.
“Entah. Aku tidak tau.” Jawab Elivia tegas. Ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya dan mencoba untuk tidak peduli dengan pertanyaan Zaydan.
“Aku ingin sekali memperbaiki semuanya.” Lirih Zaydan lagi.
“Dan, tolong jangan lupa kalau kau sudah punya seseorang yang kau janjikan untuk kau nikahi.” Elivia memperingatkan.
Zaydan ternganga mendengar penghakiman itu. Saking inginnya kembali bersama engan Elivia, untuk sesaat ia lupa tentang hal itu.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambil air minum.” Ujar Elivia yang langsung bangkit dan pergi ke dapur untuk melarikan diri dari tatapan Zaydan.
Saat Elivia sedang menuangkan air ke dalam gelas, tiba-tiba ia di kejutkan oleh sebuah pelukan dari belakangnya. Perbuatan Zaydan itu membuat teko air yang di pegang Elivia hampir saja terjatuh.
“Dan?” Lirih Elivia. Ia meletakkan teko air kembali ke atas meja dan berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan Zaydan. “tolong jangan seperti ini.” Pinta Elivia kemudian. Namun tampaknya Zaydan tidak menggubrisnya.
Akhirnya Elivia memaksa untuk melepaskan tangan Zaydan yang melingkar di perutnya dengan sekuat tenaga. Dan usahanya itu berhasil. Ia berbalik dan menatap Zaydan dengan pias.
“Kenapa kau memelukku? Apa kau tau seberapa kuatnya aku mencoba untuk tidak menghambur ke pelukanmu? Kalau kau sudah selesai makan, pergilah.” Tegas Elivia.
“El, aku.”
“Kubilang, pergilah.” Pinta Elivia dengan sungguh-sungguh.
Melihat genangan airmata di ujung mata Elivia, Zaydan menjadi tidak tega. Jadi ia memutuskan untuk menuruti Elivia dan pergi dari rumah itu.
“Terimakasih makan siangnya.” Ujar Zaydan sebelum keluar dari sana.