
Menceritakan semuanya yang terjadi antara dirinya dan Zaydan, membuat genangan di kedua sudut mata Elivia. Kafa yang melihat itu menoleh ke kanan dan ke kiri. Takut jika ada orang yang mengira kalau ialah yang membuat Elivia menangis.
“Mau bicara di luar?” Tawar Kafa penuh pengertian.
Saat itulah Elivia tau kalau ia sudah membuat suasana menjadi tidak enak untuk Kafa.
“Oh, maaf.”
“Ayo kita mengobrol di luar.” Ajak Kafa kemudian.
Elivia menurut. Ia mengangguk dan berjalan keluar ruangan pesta bersama dengan Kafa. Sebelumnya ia pamit kepada Luna dan keluarganya terlebih dahulu.
Kafa mengajak Elivia ke sebuah cafe yang ada di samping gedung itu. Ia memilihkan tempat di pojokan yang sepi agar Elivia bisa leluasa untuk bercerita. Sungguh dia sangat penasaran kenapa Elivia dan Zaydan bisa berpisah.
“Kau mau pesan apa?” Tanya Kafa. Saat seorang pelayan menghampiri mereka dan menanyakan pesanan.
“Bisakah aku memesan sesuatu yang pedas?” Pinta Elivia.
Pelayan itu merekomendasikan sajian mi pedas yang memang menjadi menu favorit di sana.
Setelah pesanan mereka sampai, Elivia segera menyantapnya tak bersisa. Membuat wajahnya merona dan matanya berair. Kafa hanya memperhatikan saja tanpa berani melarangnya.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Kafa pada akhirnya.
“Ssspp.. Ah. Maaf. Mienya terlalu pedas. Sampai membuat mataku berair.” Elivia beralasan. Padahal bukan karna itu dia menangis. Rasa pedas itu hanyalah sebuah alasan untuk pelarian rasa sedihnya. Ia mengambil tisu untuk menyeka air matanya.
“Kau boleh menangis. Disini tidak akan ada yang memperhatikanmu.” Ujar Kafa kemudian.
Elivia mengangkat wajahnya dan menatap Kafa pias. Dan benar saja, air matanya mengalir deras tanpa permisi. Kafa kemudian mengambil tisu lagi dan memberikannya kepada Elivia.
Lama sekali Kafa membiarkan Elivia menuntaskan tangisnya. Sampai gadis itu menghentikan tangisanya, Kafa tetap diam di tempatnya.
“Sudah lebih baik?” Tanya Kafa saat melihat Elivia sudah berhenti menangis.
Elivia mengangguk. “Terimakasih.”
“Tidak masalah. Sekarang, kau bisa menceritakan apapun padaku. Aku akan mendengarkannya.”
Elivia benar-benar menceritakan semuanya kepada Kafa. Ia bahkan tidak melewatkan satu titik pun. Dimulai dari awal pernikahannya. Alasan kenapa dia sampai bisa menikah dengan Zaydan, dan perlakuan yang ia terima dari Sadila dan sophia. Semua itu ia ceritakan kepada Kafa.
“Kau pasti berfikir aku ini sangat bodoh karna masih menangisi pria yang sudah menyakitiku.” Lirih Elivia sadar diri.
“Tidak. Semua orang tau kalau kita tidak bisa mengendalikan perasaan seperti itu. Aku bisa memaklumimu, El. Dimana-mana, berpisah dengan seseorang yang kita sayangi, pasti akan terasa sangat menyakitkan. Walaupun itu di dasari atas perasaan marah dan sakit hati. Tetap akan sedih. Tidak apa-apa. Waktu yang akan menyembuhkan lukamu.” Ujar Kafa berusaha untuk menghibur Elivia.
Elivia terdiam sejenak untuk memikirkan ucapan Kafa. Ia membuang nafas beratnya seolah beban kesedihan itu sudah sedikit terangkat dari pundaknya.
“Ya, kau benar. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan kesedihanku. Aku harus fokus untuk biaya pengobatan Arina.” Kata Elivia kemudian.
“Aku bisa membantumu.” Tawar Kafa. “Aku akan membayar biaya pengobatan Arina sampai dia sembuh total.”
“Pekerjaan?”
“Hem, aku di terima bekerja di hotel JE.” Jelas Elivia kemudian.
“Benarkah? Aku ikut senang mendengarnya.” Tulus Kafa.
“Terimakasih, Kafa.”
“Mulai sekarang, jangan bersedih lagi, ya. Fokus saja pada tujuanmu, biarkan waktu yang mengambil alih semuanya. Aku hanya bisa membantu dengan menghiburmu saja.”
“Bersyukurnya aku punya teman sepertimu.”
*****
Zaydan sedang serius mendengarkan uraian demi uraian yang di sampaikan oleh tim pengembangan produk baru yang di ketuai oleh Sadila. Aura yang dipancarkan pria itu nampak berbeda dengan sebelumnya, kali ini lebih sangar. Apalagi kalau memandang matanya, sayu dan dingin. Seolah akan menusuk siapapun yang berani menatapnya.
Bahkan Sadila bisa merasakan perubahan yang terjadi pada diri mantan kekasihnya itu.
“Stop!” Teriaknya jika tidak setuju dengan ide produk baru yang di sampaikan bawahannya. Ia akan melirik tajam kepada orang itu sampai membuat bawahannya mati kutu dan membeku.
Sadila hanya bisa mengernyitkan kening saja. Jujur, ia juga menjadi takut melihat keadaan Zaydan yang sekarang. Tapi ia juga merasa sedikit senang karna kini ia kembali punya peluang bersama pria itu. Ia sudah mendengar kabar perpisahan Zaydan dan Elivia dari orang suruhannya yang ada di istana. Tapi ia sengaja berpura-pura tidak mengetahuinya untuk melihat apa yang bisa dia lakukan kedepannya.
“Apa cuma ini yang bisa kalian fikirkan?!!!!” Bentak Zaydan kemudian sambil membanting berkas di hadapannya. “Apa kalian ingin memakan gaji buta?! Hah?!! Kalian itu di bayar dengan sangat mahal untuk bekerja disini. Kalau dalam waktu 24 jam dan tidak ada rencana produk baru yang menjanjikan, serahkan surat pengunduran diri kalian! Faham?!!” Zaydan meluapkan emosinya pada karyawannya yang tidak tau apa-apa.
Tidak biasanya Zaydan marah-marah bahkan berteriak seperti itu. Dulu walaupun ia tidak setuju dengan ide produk baru, ia hanya akan menasehati dan meminta mereka untuk membuatnya lagi. Dia tidak pernah marah-marah tidak jelas begini.
Setelah menatap semua orang yang ada di ruangan itu dengan tatapan membunuh, Zaydan keluar dari ruangan itu dan pergi kembali ke ruangannya.
Sesampainya di ruangannya, Zaydan kembali berteriak untuk meluapkan amarahnya. Nampaknya ia benar-benar sedang emosi. Bahkan Lucas yang berada di luar ruangan Zaydan sampai ngeri mendengarnya.
Kemarahan Zaydan tidak lebih karna dia secara tidak sengaja telah melihat foto yang diunggah oleh Kafa bersama dengan Elivia di media sosial. Ia marah karna Elivia nampak baik-baik saja tanpa dirinya. Gadis itu
bahkan bisa tersenyum dengan manisnya saat berfoto bersama dengan sepasang pengantin dan juga Kafa.
Yang lebih membuat Zaydan emosi adalah, kata yang di nsertakan oleh Kafa di bawah unggahan fotonya.
‘Bersamamu...’
Satu kata itu sudah cukup membuat Zaydan salah faham dan menaikkan emosinya. Ia fikir Elivia kembali menjalin hubungan dengan Kafa setelah mereka berpisah. Ia fikir Elivia setega itu pada dirinya.
Padahal di sini, ia mati-matian mempertahankan rasa sakit dan penyesalannya untuk membayar semua yang sudah dia lakukan kepada gadis itu. Tapi ternyata Elivia bahkan sudah menemukan penggantinya secepat itu.
Memang, ia juga tau kalau Kafa sudah menaruh perasaan kepada Elivia. Tapi ia tidak menyangka kalau mereka akan kembali bersama seperti ini. Kenyataan ini benar-benar menyakitkan baginya. Hatinya sakit seperti di tusuk pisau. Perih namun tidak berdarah.
Seketika ia jadi sangat membenci Elivia dengan perasaan bersalah yang terus bersemayam di hatinya.