DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku Kuat!



Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi, namun Elivia masih terlelap di balik selimut dan enggan sekali untuk bangun. Semua itu gara-gara Zaydan yang semalam melahapnya tanpa ampun. Bukan sepenuhnya salah Zaydan sih, tapi karna memang dia yang menawarinya terlebih dulu. Dan akibatnya, saat hampir pagi baru ia bisa memejamkan mata.


“Sayang, ayo bangun...” Zaydan berusaha membangunkan Elivia dengan menggoyang-goyangkan bahu Elivia.


“Sebentar lagi saja. Aku masih sangat mengantuk.” Lirih Elivia dengan suara yang hampir tidak terdengar.


“Kau mau seharian tidur di sini atau melanjutkan liburan kita?”


Akhirnya Elivia berusaha untuk membuka matanya walaupun mmasih terasa sangat berat. Kelopak matanya tidak mau diajak kerjasama. Padahal ia sangat ingin bangun dan pergi ke tempat lain.


“Sayang, Kafa dan Vanye sudah menunggu kita di bawah. Ayo, bangun.” Akhirnya Zaydan memaksa Elivia untuk duduk walaupun Elivia masih dalam keadaan terpejam.


Setelah usaha yang sangat keras, akhirnya Elivia berhasil mengalahkan rasa kantuknya. Setelah mandi, ia dan Zaydan langsung turun ke lobi dimana Kafa dan Vanye sudah menunggu mereka.


“Akhirnya kalian datang juga. Ayo cepat. Kita hampir kehabisan waktu.” Protes Kafa.


Elivia hanya bisa nyengir saja. Ia sedikit merasa bersalah juga pada Kafa dan Vanye.


“Kemana rencana kita hari ini?” Tanya Elivia penasaran.


“Kami akan melakukan olahraga terjun payung.” Jawab Kafa santai sambil membuka pintu mobil.


“Kami?”


“Aku dan Dan.”


Sontak Elivia dan Vanye langsung menoleh kepada Zaydan dan Kafa.


“Aku juga ingin ikut.” Ucap Elivia tiba-tiba.


“Nona...” Timpal Vanye. Ia tidak menduga kalau Elivia bahkan berfikir untuk ikut melakukan olahraga itu. Padahal itu adalah olahraga yang membutuhkan nyali yang sangat besar.


“Kau yakin?” Tanya Zaydan tidak percaya.


“Tentu saja.” Jawab Elivia yakin.


Mobil yang di kemudian oleh Kafa sudah melaju di jalan raya. Sedangkan Lucas dan Widya nekat mengikuti mereka dengan mobil lain di belakang.


Hampir satu jam perjalanan yang ditempuh oleh mereka, dan pada akhirnya mereka tiba di sebuah lapangan terbang yang lebih kecil dari bandara. Disana, mereka sudah ditunggu oleh beberapa orang yang sudah siap dengan perlengkapan terjun payung mereka.


Kafa dan Zaydan nampak sangat antusias. Keduanya langsung mengenakan perlengkapan mereka juga. Sebelum terbang, salah seorang pemandu memberitahu apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh di lakukan saat mereka melakukan olahraga ini. Kafa, Zaydan, dan Elivia yang memang akan ikut terjun mendengarkan dengan seksama. Walaupun Elivia tidak mengerti apa yang mereka ucapkan, tapi untungnya ada Vanye yang menjelaskannya untuknya.


“Kak Vanye, apa kakak benar-benar tidak ingin ikut? Ini akan sangat menyenangkan.” Ujar Elivia tidak kalah antusias dengan Kafa dan Zaydan.


“Tidak, nona. Rasanya saya tidak berani.” Jawab Vanye sejujurnya.


“Sayang, apa kau yakin benar ingin ikut? Ini sangat membutuhkan nyali yang besar sayang. Hanya pria yang sanggup melakukannya.” Zaydan tidak ingin melihat Elivia pingsan karna terjun dari ketinggian tertentu, jadi ia berusaha untuk menggagalkan keinginan Elivia.


“Aku tidak apa-apa, sayang. Aku tidak setakut itu.” Kekeuh Elivia.


Saat di pesawat, mereka semua kembali meneliti dan memastikan keamanan para angota terjun payung. Memang ada yang mendampingi mereka dalam penerjunan, namun keselamatan harus tetap di prioritaskan.


Lucunya, saat Elivia sedang di kaitkan pengamannya oleh salah satu pemandu yang memang masih muda dan berparas tampan, Zaydan memaksa untuk berganti pemandu. Ia tidak rela jika Elivia harus terjun bersama dengan pria tampan itu. Jadi ia bersikeras untuk bertukar pemandu.


Kafa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja melihat kekonyolan Zaydan itu.


“Hei, bukan waktunya untuk cemburu dengan istrimu. Fikirkan saja bagaimana caranya agar kau tidak pingsan nanti.” Ejek Kafa pada akhirnya untuk menghilangkan kegugupan mereka.


“Enak saja. Aku jamin kau yang akan pingsan. Bukan aku. Apa kau tidak tau sekuat apa aku?” Timpal Zaydan yang tidak terima di katai lemah oleh Kafa.


Elivia yang mendengar perdebatan kecil itu hanya bisa tersenyum simpul. Ia sama sekali tidak merasa takut apalagi gugup. Ia sendiri juga heran dengan dirinya itu.


“Sayang, kau tidak apa-apa? Masih sempat kalau kau ingin membatalkannya” tanya Zaydan memastikan. Ia sungguh kahawatir kepada istrinya itu.


“Aku baik-baik saja. Aku malah sudah tidak sabar untuk terjun.” Jawab Elivia dengan santai.


“El, kami tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Bukankah lebih baik kalau kau membatalkannya saja?” Kafa ikut merayu.


“Kalian tenang saja, aku tidak akan pingsan atau apapun itu. Jadi berhentilah mengkhawatirkanku.” Lama-lama Elivia sebal juga dengan mereka berdua.


Baik Elivia, Zaydan dan Kafa, masing-masing memasang kamera yang akan mengabadikan momen keseruan itu. Itu adalah olahraga yang luar biasa dan Elivia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk merekamnya.


Salah seorang pemandu memberitahu kalau penerjunan akan di lakukan lima menit lagi. Dan pemandu itu mengingatkan sekali lagi untuk memeriksa dan memastikan pengait dan pengamannya telah terpasang dengan benar. Kompak mereka semua kembali memeriksa pengamannya.


“Astaga. Aku tidak sabar.” Pekik Elivia dengan girang.


“Sayang, aku benar-benar mengkhawatirkanmu.” Jujur Zaydan karna memang dia benar-benar sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada Elivia.


Zaydan terus menggenggam tangan istrinya untuk memberikan kekuatan. Namun ia bisa melihat kalau di netra Elivia memang sama sekali tidak terlihat raut ketakutan disana. Apa memang kekhawatirannya berlebihan?


Elivia tersenyum untuk menegaskan kepada suaminya kalau ia benar-benar tidak takut dan akan baik-baik saja. Sedangkan Kafa dan Zaydan terus saja mengatur nafas untuk menghilangkan kegugupannya.


Sebelum terjun, masing-masing pemandu menghitungsampai hitungan ke tiga. Penerjun pertama adalah Kafa, penerjun kedua adalah Zaydan, dan penerjun ketiga bersama dengan Elivia. Dan Elivia langsung berteriak dengan sangat kerasnya sambil tertawa kegirangangan. Mentalnya benar-benar kuat. Ia bahkan tidak takut sama sekali saat tubuhnya melayang-layang di udara.


“Wwoooooohhhooooo!!!!!!” Pekik Elivia.


Begitu juga dengan Zaydan dan Kafa. Kedua pria itu nampak menikmati saat pemandu mereka membawa mereka melompat dari pesawat untuk menerjang udara. Pipi mereka bahkan sampai peyot karna terpaan angin yang sangat kencang.


Beberapa detik setelah melompat, kompak para pemandu menarik tuas dan parasutpun terbuka dengan sempurna.


Disinilah Zaydan mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Tiba-tiba pandangannya menjadi berkunang-kunang dan perutnya mual luar biasa. Daratan yang ada di bawahnya bahkan sampai buram tak terlihat.


Ternyata sama halnya dengan Kafa. Pria itu juga mulai merasakan perutnya berputar luar biasa dan pandangannya mulai kabur. Namun mereka masih berusaha untuk menikmati momen itu seperti Elivia yang selalu berteriak dan tertawa karna merasa ini sangat menyenangkan. Saat ia berteriak dengan sangat keras, seolah ia sedang mengeluarkan beban hidupnya yang membuat dadanya sesak. Lega sekali.


Saat mendarat, sebuah hal yang tidak terduga terjadi, Zaydan dan Kafa yang sedang berjalan setelah melepaskan pengaman mereka nampak ambruk secara bersamaan. Membuat semua orang yang ada disana panik setengah mati.


“Sayang!!” Pekik Elivia yang langsung berlari menghampiri Zaydan.