DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Sudah Terlalu Malu.



Daratan sudah semakin dekat, dan Elivia merasa puas luar biasa. Ia senang sekali karna bisa melakukan olahraga super ekstrim ini. Ia merasa seolah ia sudah melampaui kemampuan dirinya sendiri.


Zaydan dan Kafa juga merasa tenang karna sudah berhasil mendarat. Para pemandu membantu melepaskan pengaman dari mereka. Sedangkan wajah Kafa dan Zaydan nampak sangat pucat sekali. Mereka bahkan tidak sempat menikmati momen ‘terbang’ itu.


“Sayang!!” Pekik Elivia saat melihat tubuh Zaydan dan Kafa ambruk secara bersamaan. Dan ternyata kedua pria itu tidak sadarkan diri.


Lucas, Widya, dan juga Vanye yang memang sedang menunggu dibawah nampak sangat terkejut dan mereka langsung berlari mendekati Zaydan dan Kafa.


“Sayang, kau kenapa? Sayang?!” Panggil Elivia. Namun Zaydan tidak merespon.


Begitu juga dengan Kafa. Bahkan Vanye sampai menepuk-nepuk pipinya namun dia juga tidak merespon.


Salah satu pemandu segera memanggil petugas medis yang memang sengaja di siapkan di sana untuk berjaga-jaga jika terjadi kasus macam begini.


Antara Lucu dan sedih, juga khawatir, Elivia terus memegangi tangan suaminya saat ambulance membawa mereka menuju ke rumah sakit. Mengingat betapa percaya dirinya pria itu saat mereka di atas tadi. Percuma Zaydan mengkhawatirkan Elivia kalau ternyata dirinya sendiri yang membuat semua orang khawatir.


Zaydan dan Kafa di rawat di ruangan yang sama. Dokter mengatakan kalau mereka baik-baik saja dan hanya menunggu untuk sadar. Tentu saja itu melegakan semua orang.


Elivia, Vanye, Lucas dan Widya hanya bisa menunggui mereka berdua sadar. Elivia nampak sangat mengkhawatirkan kondisi suaminya. Ia takut terjadi sesuatu dengan Zaydan.


“Apa Dan pernah seperti ini sebelumnya?” Tanya Elivia kepada Lucas.


“Tidak pernah, nona. Karna memang beliau baru mencoba olahraga itu kali ini.” Jawab Lucas. Dia juga heran kenapa tiba-tiba pangerannya itu bisa pingsan padahal sejauh yang ia tau, Zaydan bermental kuat.


“Padahal tadi dia sangat percaya diri sekali. Kenapa malah jadi begini.” Lirih Elivia yang tidak melepaskan genggaman tangannya dari suaminya.


“Aku ingin ketawa.” Seloroh Vanye tiba-tiba. Nampak sekali kalau ia sedang menahan tawanya.


Sementara itu, sebenarnya Zaydan dan juga Kafa sudah terbangun sejak tadi. Hanya saja mereka terlalu malu untuk membuka mata. Malu pada mereka semua karna sudah berkata dengan lantang kalau mereka sangat berani. Tapi nyatanya, keduanya justru malah pingsan beberapa saat setelah mendarat.


“Aku juga. Aku khawatir, tapi juga merasa Lucu. Ada apa dengan mereka ini. Ya ampun.” Seloroh Elivia.


Semakin lama, Zaydan tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. Kelopak matanya yang sudah bergerak-gerak sejak tadi, akhirnya ketahuan juga oleh Elivia.


“Sayang, kau sudah bangun? Buka matamu.” Desak Elivia.


Sudah, Zaydan tidak bisa lagi berpura-pura belum tersadar. Dengan perlahan ia mulai membuka matanya.


“Sayang, kau baik-baik saja?” Tanya Elivia sambil mendekatkan wajahnya. Ia memperhatikan wajah suaminya itu dengan seksama.


Zaydan yang sudah kalah malu hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Kafa, kau sudah bangun?” Terdengar suara Vanye.


Nampak Kafa yang langsung bangun terduduk sambil menoleh kepada Zaydan. Sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama, yaitu malu.


“Hahahahahahahahahahahahahhahaaaa.” Elivia langsung tertawa, begitu juga dengan Vanye. Mereka langsung tertawa setelah saling pandang.


“Apa ini? Ternyata kalian sama lemahnya. Lebih lemah dariku.” Seloroh Elivia yang masih saja terkekeh geli jika membayangkan betapa percaya dirinya dua pria itu tadi.


“Hentikan.” Lirih Zaydan. Dia lebih malu dari sebelumnya.


“Kemana suamiku yang gagah berani itu pergi? Padahal dia sudah sangat percaya diri sekali.” Elivia masih saja enggan untuk menghentikan ejekannya.


“Sayang, hentikan.” Pinta Zaydan lagi


“sudahlah, El. Berhenti membuat kami malu.” Imbuh Kafa.


“Kenapa? Bukankah kalian kuat?”


Kafa hanya melirik saja kepada Elivia, kemudian ia menatap tajam kepada Zaydan.


“Kenapa kau malah melihatku seperti itu?” Protes Zaydan tidak terima.


“Kenapa jadi aku? Kau sendiri yang mengusulkan untuk terjun.” Bela Zaydan.


“Sudah, kalian sudah sama-sama malu, kenapa malah bertengkar begitu?” Elivia menghentikan pertengkaran kecil itu walaupun sambil mengu lum senyum.


Vanye hanya memperhatikan saja Kafa yang bahkan tidak mempedulikan keberadaannya. Tapi saat pria itu beralih melihat ke arah Vanye, ia terkejut bukan main saat melihat butiran airmata yang menetes di pipi wanita itu.


“Hei, kau menangis? Kenapa kau menangis?” Tanya Kafa kebingungan.


Sontak Elivia dan Zaydan juga ikut melihat ke arah Vanye. Wanita itu menatap Kafa terus menerus.


“Kau tau betapa khawatirnya aku?!!” Pekik Vanye penuh emosi. Membuat Kafa terbelalak heran.


“Hei, kenapa kau berteriak begitu?” Lirih Kafa yang terkejut.


“Kufikir kau akan mati! Huhuhuhuhuhu.” Vanye malah semakin tergugu.


Ingin tertawa, itulah yang sedang di rasakan oleh Elivia dan Zaydan. Pasangan itu hanya bisa saling pandang dalam arti.


Tidak punya pilihan lain, akhirnya Kafa merengkuh tubuh Vanye yang sedang meraung itu kedalam pelukannya. Ia bahkan sampai mengusap kepala Vanye untuk menenangkan wanita itu.


“Sudah, sudah, aku tidak apa-apa. Aku tidak akan mati semudah itu.” Kafa masih mencoba untuk menenangkan Vanye.


Vanye yang masih berusaha untuk menghentikan tangisannya hanya bisa pasrah dan menenggelamkan wajahnya di dada Kafa. Entah kenapa ia seperti menemukan ketenangan di pelukan pria itu.


“Kafa, sepertinya kalian butuh ruangan khusus.” Sindir Elivia sambil mengu lum senyum.


“Mau ku bantu?” Imbuh Zaydan.


Kafa hanya melirik tajam kepada Elivia dan Zaydan. Ia tau kalau kedua sahabatnya itu pastilah sedang mentertawainya setengah mati. Ia mencibir kepada mereka untuk memprotes keduanya.


Namun Elivia dan Zayan masih ingin melanjutkan aksinya itu. Mereka terus saja tersenyum walaupun Kafa sudah menatap tidak suka pada mereka.


“Kak Vanye, bukankah kakak bilang tadi kalau kakak ingin tertawa? Kenapa malah menangis?” Tanya Elivia.


“Aku merasa takut, tapi juga Lucu.” Jawab Vanye dengan suara terbata. Ia sudah melepaskan diri dari pelukan Kafa dan sedang mengusap airmatanya.


“Astaga. Kau seperti anak-anak.” Ejek Kafa lirih.


“Salah siapa ini?” Hardik Vanye kepada Kafa.


“Lah? Kenapa jadi menyalahkan aku?”


“Sudah, sudah. Kalian ini berisik sekali.” Protes Zaydan tidak terima.


Berhubung Zaydan dan Kafa sudah sadar, Lucas membantu menyelesaikan segala administrasi untuk keduanya. Dan setelah itu mereka berdua sudah boleh pulang.


Semua orang kembali ke hotel dan langsung masuk kedalam kamarnya masing-masing. Begitu juga dengan Zaydan dan Elivia.


Elivia membantu suaminya untuk mengganti pakaian. Ia masih saja merasa Lucu jika mengingat kejadian barusan. Saranya ingin teratwa terbahak-bahak dengan sangat keras. Tapi ia tidak ingin membuat Zaydan merasa tersinggung dengan sikapnya itu.


“Maafkan aku, sayang. Aku pasti membuatmu khawatir.” Ujar Zaydan sambil duduk di sofa.


Elivia terdiam. Ia hanya tersenyum simpul sambil terus menatap suaminya. Kemudian ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi pria itu.


“Lain kali jangan begitu ya. Jantungku hampir saja copot.”


*****


gesss,,, maaf banget beberapa hari ini gak bisa rutin apdet, daku lagi kurang sehat. minta doanya ya semoga mak bisa lekas sehat seperti semula dan bisa rutin apdet lagi.


lope,, lope,, lope,, sekebon kopi buat kalian.