DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Menjemput Elivia Pulang.



Lagi-lagi, selama satu minggu Elivia menghilang dan tidak pernah pulang ke istana. Bahkan dia selalu menghindar saat bertemu seseorang yang diutus Ibu Suri untuk menjemputnya. Dia selalu punya cara untuk melarikan diri dari mereka.


Bahkan Zaydan sudah berkali-kali menunggui Elivia diluar restoran tempatnya bekerja. Tapi dia tidak pernah bertemu dengan Elivia.


“Apa yang kamu fikirkan sayang?” Tanya Sadila yang sedang makan siang bersama dengan Zaydan direstoran langganan mereka.


“Tidak, tidak ada apa-apa.” Jawab Zaydan dengan memaksakan senyumannya. Kemudian melanjutkan makanya.


“Ahhh,,, aku senang sekali, akhirnya gadis itu pergi dan tidak mengganggumu lagi sayang. Selamat ya,, kamu sudah terbebas darinya.” Kata Sadila dengan penuh semangat.


Tidak, bukan. Kini justru Zaydan yang semakin terjerat oleh perasaan bersalahnya terhadap Elivia. Kini, dia berharap dapat menemui Elivia kembali. Kini dia ingin terus berada disamping gadis itu dan membayar hutangnya kepada kedua orang tua Elivia.


“Sayang, terimakasih ya, karna sudah mengijinkanku bekerja dikantormu. Aku sangat senang,,,”


“Hmm,,,” jawab Zaydan singkat. Sebenarnya ibunyalah yang memaksa Zaydan untuk mempekerjakan Sadila di kantor. Dengan posisi sebagai majer pemasaran produk. Tentu saja itu dilakukan untuk mendekatkan Sadila dan putranya.


“Sayang, setelah ini, kamu kembalilah kekantor. Lucas akan mengantarmu.”


“Kenapa? Kamu mau kemana?”


“Aku ada urusan sedikit. Nanti aku akan menghubungimu.” Jelas Zaydan. Dia langsung pergi begitu saja. Dia bahkan tidak menghabiskan makanannya.


Setelah memberi perintah kepada Lucas, Zaydan langsung memakai masker dan memberhentikan sebuah taksi. Kemudian menyuruh sopir taksi untuk pergi kerumah sakit kerajaan.


Sesampainya dirumah sakit, Zaydan segera membayar dan turun dari taksi. Dia berlari menuju lantai dimana Arina dirawat. Arina sangat terkejut dengan kedatangan kakak iparnya itu. Apalagi dengan raut wajah Zaydan yang nampak sangat khawatir.


“Kak Dan,,” kata Arina.


“Hai, Arina,, apa kabarmu?” Tanya Zaydan mencoba mengatur nafasnya.


“Baik,, kak Dan kenapa kesini?” Tanya Arina.


“Ehhmm,, apa lagi, tentu saja untuk menemuimu.”


“Hehehe, aku tau bukan itu. Kak Dan sedang mencari kak El kan?” Arina selalu menebak dengan benar. Zaydan tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya. Dia mengusap tengkuk kepalanya.


“Tunggu saja sebentar. Kak El sedang mengambil pakaian di laundry. Sebentar lagi dia pasti sudah kembali.” Jelas Arina.


Benar kata Arina, saat Zaydan hendak duduk disofa, Elivia muncul dengan menenteng kantung yang berisi pakaian-pakaian Arina. Dia terkejut melihat sosok Zaydan yang sedang terpaku melihatnya. Elivia segera meletakkan pakaian-pakaian itu ke lemari kecil yang ada di pojok ruangan. Dia sama sekali tidak menganggap kehadiran Zaydan. Setidaknya seperti itulah yang nampak dari luar. Padahal didalam hatinya, Elivia sedang berusaha mengendalikan kerinduannya.


“Kak El..” Kata Arina memberikan kode dengan lirikan matanya yang mengarah kepada Zaydan.  Tapi Elivia


sama sekali tidak mempedulikan pria itu.


“El....” Kata Zaydan lirih. Itu adalah kali pertama dia menyebut nama itu. Elivia masih tidak peduli. Dia terus menata pakaian yang sudah rapi di lemari.


Tidak tahan dengan sikap acuh yang ditunjukkan oleh Elivia,


“Hei,,” katanya lagi, “Maafkan aku.” Zaydan benar-benar mengesampingkan harga dirinya. Dia tidak peduli dengan penonton yang sedang memperhatikan mereka. Arina sedang melihat mereka dengan serius. Seperti sedang menonton film horor saja.


Kali ini berhasil. Elivia langsung membalikkan badannya.


“Tolong ikuti saya” kata Elivia akhirnya. Membuat Zaydan tersenyum sumringah.


Elivia membawa Zaydan keatap rumah sakit. Disana terdapat sebuah taman mini yang kebetulan tidak ada satupun orang. Sementara Zaydan mengikuti Elivia dari belakang degan perasaan was was.


“Apa yang anda lakukan Yang Mulia?” Tanya Elivia dengan wajah serius.


“El,, aku,,, aku minta maaf atas perlakuan Mama. Aku tau, seharusnya Mama yang datang langsung menemuimu, tapi beliau sudah pergi ke luar negeri beberapa hari yang lalu.” Baru kali ini Zaydan salah tingkah dihadapan Elevia.


Wahh,,, jadi nyonya itu sudah melarikan diri? Batin Elivia


“Saya rasa bukan karna itu anda datang kemari.” Kata Elivia. Dia merasa aneh, bahkan kemarin-kemarin Zaydan tidak memperdulikannya.


“Aku memintamu untuk pulang ke istana. Kami semua sangat menantikan kepulanganmu, apalagi nenek. Hampir setiap jam beliau memintaku untuk menjemputmu.”


Sekilas, Elivia teringat wajah renta Ibu Suri yang masih terlihat cantik. Dengan senyum anggunnya. Dia merasa bersalah telah pergi dari istana tanpa memberitahu nenek.


“Pulanglah bersamaku...” Pinta Zaydan kemudian. Elivia menatap Zaydan. Ada kesungguhan dimata pria itu. Tatapan Zaydan kali ini sangat berbeda dengan yang pernah dilihatnya.


Elivia mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sakit hatinya jika mengingat perlakuan Sophia padanya. Tapi juga tidak tega jika mengingat ibu suri. Dia berfikir sejenak. Dan akhirnya menyetujui untuk pulang bersama dengan Zaydan.


“Baiklah, saya akan ikut pulang.”


Zaydan tersenyum sumringah mendengar jawaban dari Elivia. Dan dengan segera dia menelfon Lucas untuk menjemput mereka dirumah sakit. Sedangkan Elivia masih merasa ragu. Tidak bisa dipungkiri, saat Zaydan mengatakan untuk pulang bersamanya, hatinya tersentuh. Didalam hatinya dia mengakui, bahwa dia merindukan pria itu. Dan didalam hatinya, Elivia sudah punya rencana baru. Dia harus melepaskan Zaydan. Sebelum perasaanya kepada pria itu bertambah besar.


Arina tersenyum melihat kakak dan kakak iparnya itu berjalan masuk kedalam ruangannya. Dari raut wajah Ellivia, sepertinya rayuan Zaydan berjalan dengan lancar.


“Arina, kakak akan pulang ke istana.” Kata Elivia.


“Iya kak, pulanglah. Aku sudah lebih baik dari sebelumnya.” Arina menunjukkan kakinya yang sudah bisa berjalan walaupun baru beberapa langkah. Elivia tersenyum kepada adiknya itu.


“Kalau begitu kami pamit dulu ya Arin. Nanti kami akan sering-sering datang kemari.” Kata Zaydan. Bahkan sekarang dia berani menyebutkan kata ‘kami’. Itu artinya, dia akan menemani Elivia saat hendak menjenguk Arina.


Saat mereka keluar dari ruangan, ternyata Lucas sudah berdiri didepan pintu. Dia baru saja naik. Sebenarnya tadi saat Zaydan menelfonnya dia sudah dalam perjalanan kerumah sakit. Dia tau kalau Zaydan akan pergi kerumah sakit, maka dari itu setelah mengantarkan Sadila kekantor, dia langsung pergi ke rumah sakit.


Sesampainya ditempat parkir, Zaydan membukakan pintu mobil untuk Elivia. Lucas hanya melongo saja melihat tingkah majikannya itu diluar kebiasaan. Dia bahkan tidak pernah membukakan pintu mobil untuk Sadila.


Sedangkan Elivia merasa bingung dengan sikap Zaydan yang tiba-tiba perhatian. Apa benar ibu suri selalu memarahinya sampai-sampai dia berubah seperti itu? Tapi rasanya itu tidak mungkin. Zaydan adalah pria yang keras kepala, dia tidak akan mungkin berubah hanya karna ibu suri memarahinya. Pasti telah terjadi sesuatu di istana yang membuat Zaydan bersikap seperti itu. Elivia harus mencari tau apa itu.


Yang lebih aneh, sepanjang perjalanan Zaydan terus menatapnya dengan tersenyum. Menyeramkan sekali.