
Bis yang membawa Elivia sudah berhenti di halte. Mengetahui ia sudah sampai di tempat tujuan, Elivia segera turun dan berjalan lunglai menuju ke kosnya. Hari ini ia benar-benar sangat lelah dan ingin segera beristirahat.
Elivia membuka pintu gerbang dengan perlahan. Nampak sekali kalau ia sudah tidak punya banyak sisa tenaga di tubuhnya. Setelah menutup kembali pintu gerbang, ia segera berjalan ke arah kamarnya.
Elivia menghentikan langkah kakinya saat ia melihat ada seseorang yang sedang duduk di kursi di depan kamarnya. Karna keadaan begitu gelap, ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa orang itu. Kemudian ia terus berjalan sampai ia bisa melihat jelas kalau itu adalah Zaydan.
Elivia nampak terkejut dengan keberadaan pria itu. Ia ternganga dan mematung di depan kamarnya. Sementara Zaydan langsung berdiri begitu melihat kedatangan Elivia.
Pria itu hanya bisa menatap Elivia pias tanpa bisa mengeluarkan suaranya. Padahal ia sudah membuka mulut dan bersiap untuk bertanya ataupun menyapa gadis itu. Namun suaranya malah tercekat di tenggorokan. Melihat tatapan acuh dari netra Elivia membuat keberanian Zaydan menciut seketika.
Elivia tidak menanyakan hal apapun kepada Zaydan. Ia hanya berusaha untuk menganggap kosong keberadaan pria itu. Sambil menghela nafas dalam, Elivia langsung masuk kedalam kamarnya tanpa mempedulikan Zaydan. Tapi ia tetap membiarkan pintu kamarnya terbuka.
Entah apa maksudnya, fikirannya menyuruhnya untuk langsung menutup pintu agar Zaydan tidak bisa masuk. Namun hatinya mengatakan untuk membiarkan pintu itu terbuka agar pria itu masuk kedalam. Sungguh sulit di mengerti kenapa hati dan fikirannya bisa bertolak belakang seperti itu.
Elivia meletakkan tasnya di sebuah gantungan yang ada di belakang pintu. Kemudian ia berusaha menyibukkan diri dengan pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.
Saat kembali dari kamar mandi, ternyata sudah ada Zaydan yang sedang duduk di karpet. Ternyata pria itu sudah masuk ke dalam saat Elivia pergi ke kamar mandi tadi. Elivia berusaha untuk tidak memandang pria itu. Ia hanya terus berjalan sambil menjajakan handuknya di gantungan baju. Saat ia berbalik, ternyata Zaydan sudah berdiri di belakangnya dan menatapnya dalam.
“Kumohon jangan abaikan aku.” Lirih Zaydan. Namun Elivia tidak mau menjawabnya. Ia hanya memandang pria itu jengah kemudian beralih ke samping.
Tapi lagi-lagi Zaydan menghentikan Elivia dengan memegang lengannya.
“Apa yang anda inginkan, Yang Mulia?” Akhirnya Elivia tidak sabar untuk bertanya.
“Maafkan aku. Aku benar-benar bodoh karna langsung marah tanpa tau keadaan yang sebenarnya.”
“Tidak, anda benar karna sudah membela Ibu anda.” Sindir Elivia. Kemudian ia menampiskan tangan Zaydan dan duduk di tepian ranjang.
“Aku tidak tau bagaimana harus menjelaskan perasaan sesalku padamu, El. Aku benar-benar menyesal. Maukah kau memaafkanku?”
“Bagi seorang wanita, kata-kata bentakan itu lebih menyakitkan dari sebuah tamparan. Anda langsung mengusir saya begitu saja tanpa bertanya terlebih dahulu. Saya menghargai rasa hormat anda kepada Ibu anda, tapi rasa hormat itu sudah membunuh kebijaksanaan anda, Yang Mulia.”
“Iya, aku tau. Aku mengakui kalau aku salah.”
“Lantas, apa setelah anda mengakui kesalahan, keadaan akan kembali seperti semula? Saya rasa tidak.”
Zaydan terdiam. Ia tidak tau harus berkata apa untuk menyangkal semua itu. Melihat sikap acuh Elivia membuatnya merasakan sakit di hatinya.
Sama halnya dengan Elivia. Di luar memang ia berusaha bersikap acuh seolah ia sangat membenci pria itu. Namun di dalam hatinya, ada rindu yang masih terjaga dengan rapi. Ada perasaan yang masih utuh walaupun berdampingan dengan rasa sakit.
“Kembalilah, Yang Mulia.” Pinta Elivia kembali.
“Kalau begitu, ayo kembali bersamaku. Aku datang untuk menjemputmu pulang.”
“El, tolong jangan seperti ini. Ayo kita pulang ke istana.” Bujuk Zaydan lagi. Kali ini ia ikut duduk di samping Elivia.
“Di istana, itu bukan tempatku. Tapi tempatmu. Sejak awal aku tidak seharusnya berada disana.”
Zaydan kembali terdiam. Ia hanya bisa mere mas jemarinya untuk menyalurkan perasaan gundah dan rasa bersalahnya. Ia ingin menyampaikannya kepada Elivia, namun ia takut jika gadis itu akan salah faham padanya.
“Kembalilah, Dan. Kita sudah berakhir.” Ada rasa sakit luar biasa yang timbul seiring keluarnya kalimat itu. Hampir saja Elivia tidak bsia menahan air matanya.
“Jadi apa kau tetap tidak mau memaafkanku?”
“Entahlah, hatiku masih terasa sangat sakit, tapi aku tidak bisa berada di sisimu. Kembalilah ke tempatmu, Dan. Karna aku juga sudah kembali ke tempatku.”
“Aku tanpamu, rasanya gelap. Aku kehilangan arah. Tidak tau harus kemana. Kau adalah penunjuk jalanku, El. Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Ku mohon, tetaplah disisiku.” Pinta Zaydan kemudian dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Kau masih punya cahaya yang lain, Dan. Sejak awal, ini memang bukan tempatku. Seharusnya aku tidak teribat terlalu dalam denganmu. Kau pernah bertanya, mencintaimu, atau membencimu? Dan aku akan memilih untuk membencimu dan kembali ke tempat asalku berada.” Lirih Elivia. Ia terus menundukkan wajahnya tak kuat jika harus menatap Zaydan.
“Tidak, tempatmu adalah di sisiku. Aku akan memastikan hal itu. Hanya kamu yang berhak untuk memiliki hati ini, Elivia. Aku sudah berkata kalau aku benar-benar minta maaf padamu. Kenapa kau tidak bisa melihat ketulusanku?”
“Karna aku punya janji. Dengan sadila. Dan aku akan menepati setiap janji yang aku buat. Karna aku tidak suka mengingkarinya.” Elivia mengeluarkan alasan yang sebenarnya tidak masuk akal bagi Zaydan.
“Kalau begitu, berjanjilah kalau kau akan tetap mencintaiku, El.”
“Permintaanmu terlalu egois. Dan itu sangat tidak baik untuk perasaanku. Aku sudah memutuskan untuk membencimu. Dan kau tidak akan bisa mengubah keputusan itu.” Tegas Elivia. Kali ini ia berusaha untuk menguatkan diri menatap Zaydan. Ia menegaskan lewat tatapannya kepada pria itu kalau ia bersungguh-sungguh mengucapkan itu.
“Kalau begitu, apakah benar-benar sudah tidak ada lagi nkesempatan untukku?”
“Sejak awal kita memang tidak punya kesempatan. Kita hanya terlalu memaksakan diri walaupun kita tau berada di tempat yang salah. Dan inilah hasilnya. Kau dan aku, sama-sama merasakan sakit yang luar biasa.”
Zaydan semakin tidak bisa berkata-kata lagi. Ia bisa menangkap ketegasan itu dari Elivia. Dan entah kenapa, rasa bersalah dan penyesalannya membuatnya tak bisa berkutik. Ia tahu kesempatannya sudah berakhir. Tapi ia masih ingin mempertahankan hubungan mereka. Ia tidak bisa mengakhiri semuanya seperti ini.
“apa kau sudah tidak mencintaiku? Aku masih sangat mencintaimu, El.”
“Apa itu penting sekarang? Cinta itu sudah tidak punya tujuan. Tujuannya sudah terputus.”
Sepertinya Zaydan memang sudah tidak punya kesempatan lagi untuk memperbaiki keadaan.
“Sudah malam, sebaiknya kau pulang.” Ujar Elivia.
“Tidak, aku akan tidur di sini malam ini.” Tegas Zaydan.
“Kalau begitu, terserah padamu.” Balas Elivia kemudian ia berbaring dan membelakangi Zaydan.