DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Waktu Terindah



Zaydan memberhentikan max di puncak bukit. Ia menautkan talinya di sebuah pohon yang ada disana kemudian membantu Elivia turun.


Elivia yang jantungnya masih berpacu nampak sedang mengatur nafasnya. Padahal max tidak berlari dan hanya berjalan santai. Hanya saja Elivia terlalu takut terjatuh.


Saat kakinya sudah menginjak tanah, Elivia baru bisa bernafas dengan lega.


“Kenapa?” Tanya Zaydan.


“Aku takut.”


“Padahal aku tidak akan membiarkanmu jatuh.” Ujar Zaydan sambil memainkan alisnya.


“Dasar perayu.” Dengus Elivia sambil tersenyum.


Mereka berdua sedang duduk di atas rumput sambil menikmati pemandangan laut lepas yang terbentang di hadapan mereka. Mereka bahkan bisa melihat kota kecil dan pelabuhan yang nampak di bawah mereka.


Elivia terkejut saat tiba-tiba Zaydan merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di paha Elivia. Ia menatap pria yang sedang pura-pura tertidur itu.


“Ahhhh,, nyamannya..” Ujar Zaydan memejamkan mata.


“Sedang apa, kau?”


“Menikmati waktu terindah yang pernah ku rasakan sejauh ini. Bersama dengan wanita yang ternyata sangat ku cintai.”


Ucapan Zaydan membuat wajah Elivia merona. Ia membuang pandangannya ke lautan lepas sambil mengu lum senyum


“Apaan...” Elivia sudah sepenuhnya tersipu.


Zaydan membuka matanya dan melihat wajah merona milik Elivia. Ia meraih wajah itu untuk memandangnya.


“Aku sangat mencintaimu, Elivia.”


Elivia hanya bisa menatap lekat pria itu. Ia sedang menikmati desiran hatinya yang sudah semakin menjadi. Jantungnya berdetak di luar kendali.


“Kenapa diam? Kenapa tidak menjawabku?”


“Aku tidak akan menjawabmu saat ini. Tapi kurasa kau sudah tau bagaimana perasaanku. Aku merasa sangat beruntung jika kau mencintaiku sedemikian rupa, Dan. Aku sangat berterima kasih. Terimakasih karna kau sudah mau mencintai gadis sepertiku. Padahal aku menikahimu karna merasa berhutang budi pada nenek.”


“Kau luar biasa. Apa kau tau, ternyata bukan kau yang berhutang budi. Tapi justru akulah yang berhutang budi padamu.”


“Apa maksudmu?”


Zaydan merasa belum siap untuk menceritakan tentang kedua orang tua Elivia. Ia takut jika gadis itu tau kebenarannya, Elivia akan meninggalkannya. Dan dia tidak mau itu terjadi. Ia ingin berada di sisi Elivia untuk waktu yang sangat lama.


“Hanya, aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu.”


“Hmmmm,,, ngomong-ngomong bagaimana dengan masalah peternakan? Apa kau berhasil merayu pemiliknya?”


Zaydan menggeleng. Ia menampakkan raut wajah sedih karna tidak berhasil membuat pemilik peternakan percaya padanya.


“Sebenarnya kenapa? Kalau dia ingin menjual peternakan, bukankah harga yang menjadi patokannya?”


“Entahlah, aku juga tidak tau. Dia tidak memberikan alasan pastinya. Tapi kita akan coba lagi nanti. Aku sedang memikirkan cara untuk membujuknya.”


“Andaikan aku bisa membantumu. Tapi aku benar-benar tidak tau harus bagaimana.”


Zaydan dan Elivia sibuk menikmati momen itu. Tanpa mereka sadari, awan sedang berkumpul di atas langit. Menunjukkan ia akan segera membawa hujan turun ke permukaan bumi. Membasahi seluruh tempat sesuka hati.


Satu dua rintik hujan sudah mulai jatuh. Zaydan bangun dan mendongak ke langit. Perlahan gerimispun datang. Disertai dengan angin kencang yang membuat gerimis seperti gelombang. Ia segera menarik Elivia dan membantunya naik ke punggung max. Setelah itu ia melepaskan tali pengikat max dan segera ikut naik di belakang Elivia.


“Kalian basah.” Ujar Suna yang masih membantu beberapa pekerja membersihkan kandang.


“Tidak terlalu. Dimana ayahmu?” Tanya Zaydan.


“Ayah sudah pergi ke kota dan akan pulang nanti malam. Apa kau berhasil membujuknya?” Tanya Suna.


Zaydan menggeleng. “Aku akan mencobanya lagi besok. Apa kau tau alasan kenapa ayahmu tidak tertarik dengan harga tinggi?”


“Entahlah. Aku tidak terlalu peduli dengan hal itu.”


Padahal Zaydan sangat berharap kalau Suna akan memberitahunya sedikit informasi yang bisa dia jadikan sebagai acuan untuk membujuk pemilik peternakan. Tapi ternyata gadis remaja itu juga tidak tau apa-apa.


“Jadi bagaimana?” Tanya Elivia kepada Zaydan.


“Kita kembali dulu ke hotel. Besok pagi aku akan kembali lagi kesini. Kau tunggu saja di hotel. Aku tidak ingin kau mabuk lagi.”


Zaydan tau kalau Elivia sedang membayangkan perjalanan naik mkapal. Jadi dia sudah memikirkan caranya.


“Sepertinya kalian tidak bisa melakukan itu. Saat badai seperti ini, pelabuhan tutup karna tidak akan ada kapal yang sandar. Kemungkinan besok kalian baru bisa meninggalkan pulau ini. Atau bahkan lusa.” Penjelasan Suna cukup membuat Elivia dan Zaydan terbelalak.


“Kau bilang lusa? Yang benar saja.” Dengus Zaydan tidak percaya.


“Bagaimana ini?” Elivia menjadi panik. Bukan apa. Dia sedang kedinginan karna pakaiannya basah. Terlebih ia tidak membawa pakaiannya karna semua pakaiannya di tinggal di hotel.


“Di kota ada penginapan. Kalian bisa menginap disana dan membeli pakaian.” Suna mengusulkan.


“Oke. Baiklah. Terimakasih, Suna.” Ujar Elivia kemudian.


Zaydan dan Elivia bergegas pergi menuju ke mobil. Setelah itu Zaydan mengemudikan mobil menuju ke kota.


Hujan semakin deras turun. Bahkan di iringi dengan angin kencang. Zaydan mencari penginapan yang sempat ia lihat tadi. Kalau tidak salah, penginapan itu berada tak jauh sebelum restoran tempat mereka menyantap kepiting.


Setelah mencari beberapa saat, akhirnya Zaydan berhasil menemukannya. Mereka segera masuk kedalam dan mencari pemilik penginapan.


Pemilik penginapan adalah sepasang pria dan wanita paruh baya. Mereka langsung menyambut kedatangan Zaydan dan Elivia.


“Astaga. Kalian basah kuyup begitu. Apa kalian tidak membawa pakaian ganti?” Tanya si istri.


“Tidak, Bu. Kami meninggalkan pakaian ganti di hotel seberang.” Jawab Zaydan.


Ibu pemilik penginapan memberikan kunci kamar yang dipesan oleh Zaydan. Ia mengantarkan mereka untuk menunjukkan kamarnya sambil memberikan handuk kepada Zaydan dan Elivia


“Maaf, Bu. Apa di dekat sini ada toko yang menjual pakaian?” Tanya Zaydan.


Ibu penginapan nampak berfikir sejenak. “Tidak ada toko di dekat sini. Kalian harus pergi ke pusat kota. Tapi aku tidak yakin kalau mereka masih membuka tokonya. Biasanya kalau badai begini, orang-orang akan menutup toko agar barang-barang mereka tidak basah. Keringkan dulu badan kalian. Aku akan mencarikan pakaian yang cocok untuk kalian pakai sementara.” Ibu pemilik penginapan sangat ramah kepada mereka.


Tidak lama kemudian, ibu pemilik penginapan kembali dengan membawa dua stel pakaian miliknya dan milik suaminya.


“Pakailah ini. Aku tidak tau apakah ini akan nyaman di gunakan. Tapi daripada memakai pakaian basah, mending kalian pakai ini saja. Kalau badai sudah mereda, besok pagi kalian bisa membeli pakaian baru di kota.”


“Terimakasih, Bu.” Ujar Elivia sambil menerima pakaian itu.


Sekilas ibu penginapan melirik kepada Zaydan yang sudah melepas bajunya di dalam kamar. “Waaah, beruntung sekali kau mempunyai suami yang sangat tampan. Suamiku juga dulu hampir setampan itu. Tapi semuanya menghilang digantikan oleh keriput. Hahahaha.” Seloroh ibu pemilik penginapan.


Elivia ikut tertawa mendengarnya, padahal ia tidak tau apa yang sedang di bicarakan ibu itu. Setelah itu ia menutup pintu setelah ibu pemilik penginapan pergi meninggalkan kamar mereka.