DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Mabuk Laut.



Zaydan sedang menopang kepalanya dengan satu tangan sambil menghadap kepada Elivia yang masih terlelap. Ia sedang memandangi wajah gadis yang tidur disampingnya itu dengan seksama. Berkali-kali ponselnya berdering namun ia masih enggan untuk mengangkatnya. Ia tau kalau itu adalah telfon dari Sadila.


Tapi setelah berkali-kali berbunyi, Zaydan merasa terganggu juga. Akhirnya ia bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengangkat ponsel.


“Ya, Dil?” Sapanya.


“Sayang? Kenapa baru mengangkat telfonku? Kau baik-baik saja? Tidak ada yang terjadi padamu, kan?” Sadila langsung memberondongnya dengan pertanyaan.


“Maaf. Aku terlalu sibuk sampai tidak melihat ponsel. Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir.” Ujar Zaydan.


“Kenapa kau tidak mengajakku sih sayang? Siapa tau aku bisa membantumu disana.”


“Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Kau sudah terlalu sibuk mengurusi perusahaan.”


“Tapi kan aku ingin pergi bersamamu. Tapi kau malah mengajak Elivia.”


“Aku terpaksa mengajaknya karna Nenek yang menyuruhku. Kau tau aku tidak punya pilihan lain.” Zaydan terdengar seperti pembohong


profesional.


“Baiklah. Aku akan menunggumu pulang. Love you.”


“Ya.”


Zaydan menutup sambungan telfon kemudian keluar dari kamar mandi. Ia melihat Elivia yang ternyata masih belum bangun. Lantas iapun


mendekat dan berjongkok di samping gadis itu.


Memandangi wajah Elivia, seolah sudah menjadi candu baginya. Enggan sekali rasanya untuk mengalihkan pandangan dari sana.


“el, bangun. Kita harus pergi ke peternakan.” Lirih Zaydan. Padahal dengan suara selembut itu tidak akan mungkin bisa membangunkan Elivia.


Tapi Zaydan tau satu hal yang bisa membangunkan gadis itu. Sebuah senyuman aneh muncul di sudut bibirnya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mendaratkan kecupan di bibir Elivia.


Dan benar saja. Gadis itu langsung  terbangun karna merasa terkejut saat ada yang menyeruput bibirnya. Ia terkejut dan membelalakkan mata.


Dihadapannya, Zaydan sedang tersenyum manis kepada Elivia. Entah, kenapa Elivia merasa kalau senyum itu adalah senyuman paling manis yang pernah ia lihat dari seorang Zaydan? Ia menatap dalam kedua netra Zaydan kemudiannmelingkarkan tangannya ke leher pria itu.


Dengan seketika Elivia menarik tubuh Zaydan dan membalas kecupan pagi yang sempat di terimanya. Sampai membuat Zaydan gelagapan dibuatnya. Tapi itu hanya sementara, karna selanjutnya, Zaydanlah yang mendominasi permainan.


Setelah lama saling berpagutan, Zaydan mengangkat wajahnya, membelai kening hingga pipi Elivia dan berakhir di leher. Menatap setiap inci dan setiap lekukan yang terpatri indah di wajah Elivia.


“Padahal kita harus segera pergi.” Lirih Zaydan.


Elivia tersenyum. Ia juga sedang menikmati wajah tampan yang sedang menatapnya itu. “Baiklah, ayo kita pergi sekarang.”


Setelah mandi dan sarapan, Zaydan dan Elivia bergegas pergi keluar dari hotel. Zaydan sudah menyewa sebuah mobil untuk digunakan selama mereka ada disana.


Zaydan mengemudikan mobilnya menuju ke sebuah pelabuhan yang akan membawa mereka menyeberang untuk sampai di peternakan.


Setelah mobil terparkir dengan aman di atas kapal, Zaydan mengajak Elivia untuk turun dan naik ke bagian dek kapal.


Elivia nampak sangat antusias. Baru kali ini ia naik kapal laut. Sepertinya akan menyenangkan. Setidaknya begitulah yang ia fikirkan sebelum kapal mulai melaju di atas air.


Sangat berbeda dengan yang di bayangkan oleh Elivia, saat kapal mulai bergoyang karna terkena ombak, tubuhnya pun mulai terhuyung dan membuat perutnya terasa mual.


Padahal Elivia sudah menahan guncangan dengan terus bersandar di bahu Zaydan sambil menekan perutnya kuat. Tapi rasa mual itu


semakin menjadi-jadi.


Mereka sedang duduk di salah satu bangku yang menghadap ke lautan lepas. Zaydan sedang asyik menggenggam tangan Elivia dan mengelusnya pelan. Tapi tiba-tiba Elivia melepaskan tangannya dna berlari menuju ke tepian kapal. Disana Elivia mengeluarkan semua sarapan yang sudah ia makan tadi.


“Kau tidak apa-apa?” Tanya Zaydan.


Elivia sudah selesai dengan acara mabuk lautnya. Wajahnya jadi nampak pucat. Ia menatap Zaydan pias karna saking lemasnya.


Zaydan membantu Elivia untuk kembali duduk di kursi mereka yang tadi. Ia memijat-mijat tangan dan tengkuk Elivia.


“Sudah lebih baik?” Tanya Zaydan.


Elivia mengangguk lemah kemudian kembali menyandarkan kepalanya di dada Zaydan. Ternyata perjalanan laut tidak seindah yang dia fikirkan.


“Apa masih lama?” Lirih Elivia. Tubuhnya sudah lemas.


“Sebentar lagi. Itu pulaunya sudah terlihat.” Hibur Zaydan.


Antara lucu dan sedih, itulah yang Zaydan rasakan saatbmelihat wajah Elivia yang bahkan hampir tidak sanggup membuka kelopak matanya.


“Ayo kita ke mobil saja. Kau bisa istirahat disana.”


Elivia menurut. Ia merasakan tubuhnya yang sudah sangat


lemas. Dengan sigap Zaydan membopong tubuh Elivia dan membawanya ke mobil. Ia bahkan tidak peduli dengan beberapa orang yang melihat mereka dengan aneh.


“Masih mual?” Tanya Zaydan saat mereka sudah berada didalam


mobil.


Elivia mengangguk. Zaydan segera mencari barangkali ada obat yang bisa dia gunakan untuk meringankan mabuk Elivia. Tapi setelah ia mengobrak-abrik dashboard, ia tetap tidak menemukan apapun.


“Kau tidak bawa obat? Minyak angin atau apa?” Tanya Zaydan.


Elivia menggeleng. Ia tidak pernah membawa barang-barang semacam itu.


Zaydan tidak bisa tinggal diam. Ia kemudian menyalakan pemanas di dalam mobilnya berharap dapat mengurangi rasa mual Elivia.


Setengah jam kemudian, kapal sudah berhasil sandar di pelabuhan kecil yang ada di sebuah pulau. Zaydan menunggu guliran untuk mengeluarkan mobilnya. Dan setelah berhasil keluar dari pelabuhan, hal pertama yang ia lakukan adalah mencari apotek untuk membelikan obat untuk Elivia.


Zaydan bertanya kepada beberapa orang yang ada di pulau kecil itu, barulah ia bisa menemukan satu-satunya apotek yang ada disana. Ia segera membelikan obat untuk Elivia karna Elivia sudah lemas dan tidak bisa di


ajak turun dari mobil.


Setelah mendapatkan obat, Zaydan segera meminumkannya kepada Elivia. Kemudain ia mencari tempat yang nyaman untuk menepikan mobilnya dan menunggu kondisi Elivia pulih.


Setelah meminum obat yang di berikan oleh Zaydan, Elivia tertidur  hampir satu jam lamanya. Saat ia terbangun, ia merasa tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya.


“Kau sudah bangun?” Tanya Zaydan yang merasa senang karna wajah elviia sudah tidak pucat lagi.


Elivia mengangguk. “Aku lapar.”


Sebuah kalimat yang langsung membuat Zaydan tertawa terbahak-bahak. “Astaga. Ternyata percuma aku mengkhawatirkanmu. Baiklah, ayo kita cari restoran.”


Zaydan kembali mengemudikan mobilnya perlahan untuk mencari restoran. Elivia mengedarkan pandangannya di setiap restoran yang mereka lewati. Ia sedang mencari restoran mana kira-kira  yang menyajikan masakan paling enak.


Tiba-tiba Elivia menyuruh Zaydan menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran masakan laut. Sebuah gambar kepiting dengan saus pedas merah menyala menarik perhatiannya.


“Ayo kita makan itu.” Tunjuknya dengan antusias.


Zaydan langsung menyetujui keinginan gadis itu. Ia memarkirkan mobil di depan restoran itu kemudian mengikuti Elivia yang sudah turun lebih dulu.