DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku Ingin Berteman Denganmu.



Sejak kejadian semalam, Elivia jadi tidak bisa konsentrasi bekerja. Di terus teringat lembutnya bibir Zaydan saat mengecupnya. Walaupun diselingi dengan perasaan geram setengah mati.


“Hei! Melamun terus! Mikirin apa sih?” Tegur Luna yang dari tadi memperhatikannya.


“Ah? Eh? Tidak. Tidak ada apa-apa.”


“Bagaimana perkembangan hubunganmu dan Kafa?”


“Kenapa tiba-tiba jadi membahas Kafa?”


“Hehe,, penasaran. El, setelah selesai bekerja temani aku belanja ya” pinta Luna.


“Mmm,,, maaf,, aku harus kerumah sakit. Sudah beberapa hari aku tidak kesana.” Tolak Elivia.


“Yaaaahh,,, kita sudah lama lho tidak jalan-jalan.” Rengek Luna.


“Lain kali, aku janji.” Elivia mengangkat jari


kelingkingnya.


“Baiklah,,” kata Luna kemudian. Walaupun dengan memasang wajah merengut.


Elivia sudah berteman lama dengan Luna. Tapi itu belum cukup untuk menceritakan tentang pernikahannya dengan Zaydan. Dia tahu betul karakter Luna yang mudah keceplosan saat berbicara.


“Elivia, ada yang mencarimu.” Tiba-tiba Bu Fira datang menghampiri Elivia.


“Siapa, Bu?”


“Temui saja sendiri, nanti kamu juga tau. Oh ya,, hari ini kamu boleh pulang lebih awal.” Jelas Bu Fira lagi. Elivia dan Luna saling tatap merasa curiga dengan sikap Bu Fira.


Elivia melepas celemeknya, dan berjalan keluar dari gedung itu. Didepan gedung berdiri seorang wanita dengan anggunnya, disebelah mobil mewahnya.


“Anda siapa?” Tanya Elivia


“Saya Sadila. Kita pernah bertemu di acara amal malam itu.”


Elivia mencoba mengingat-ingat wajah dihadapannya. Seperti familiar.


“Ohh,,, hai,,” kata Elivia. Dia sudah teringat dengan Sadila.


“Bisa kita mengobrol sebentar? Masuklah kemobil.” Kata Sadila lagi. Dia tidak menunggu jawaban dari Elivia dan langsung masuk kedalam mobilnya. Elivia mengikuti gadis itu masuk kedalam mobil.


Sadila mengemudikan mobilnya menuju kesebuah restoran bintang lima yang super mewah. Dia sudah membuat reservasi disana. Saat mereka tiba, mereka langsung disambut hangat oleh manajer restoran itu. Sepertinya manajer pria itu sangat mengenan Sadila.


“Silahkan, Nona.” Kata manajer itu mempersilahkan mereka masuk. Manajer itu membawa mereka ke sebuah ruangan yang biasa di tempati Sadila. Setelah mempersilahkan mereka duduk, manager itu kemudian meninggalkan mereka berdua untuk mengambil makanan pesanan Sadila.


“Disinilah kami selalu bertemu.” Kata Sadila kemudian. “Maksudku aku dan Zaydan. Ini restoran bintang lima, makanan disini harganya super mahal.” Jelas Sadila.


Ahhh,, sepertinya Elivia sudah bisa menebak kemana arah pembicaran ini. Entah kenapa dia harus  mendengar hal tidak penting itu.


“Bagaimana pendapatmu tentang Dan?”


“Pendapat saya, Nona? Kenapa Anda menanyakannya?”


“Aku hanya ingin tau saja.”


“Kalau menurut saya, ,,,,,” Elivia berfikir sejenak. Dia mengingat semua sikap kasar yang diterimanya dari Zaydan. Apalagi kata-katanya, tidak ada yang enak didengar sedikitpun.


“Aah,,,, tidak ada yang bisa disukai darinya Nona.” Jawab Elivia jujur.


“Hahahahahahaha...” Sadila tertawa dengan kerasnya.


“Nona Sadila. Melihat situasinya sepertinya anda sudah tau siapa saya, dan alasan dibalik pernikahan kami. Anda tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi.”


“Benarkah?” Sadila menatap Elivina dengan sinis.


“Apa yang anda khawatirkan, Nona?” Tanya Elivia.


“Segeralah bujuk Ibu Suri agar mengijinkan Dan berpisah denganmu.” Sadila berterus terang. “Selama ini aku masih bisa menahannya, tapi tidak untuk waktu yang lama. Siapa wanita yang bisa melihat kekasihnya menikah dengan wanita lain?”


“Saya mengerti, Nona. Maaf kalau kehadiran saya menjadi peghalang diantara kalian. Nona Sadila tenang saja. Selama ini hanya Nona yang ada dihati Dan. Dan kehadiran saya tidak akan mengubah apapun. Saya bisa memastikan itu.” Janji Elivia.


“Berteman dengan saya?”


“Iya, kenapa? Tidak mau?”


Bagaimana mungkin mereka berteman? Melihat situasinya mereka tidak mungkin bisa berteman.


“Eemmm,,, saya tidak tau apakah saya akan pantas menjadi teman anda.” Kata Elivia merendah.


“Jangan begitu. Sebenarnya aku meminta bertemu denganmu hari ini, aku ingin memastikan tentang perasaanmu kepada Dan.”


“Apa?”


“Sekarang tidak masalah lagi. Aku sudah memastikannya bahwa kalian tidak punya hubungan apapun selain pernikahan bodoh itu.”


“Anda mengkhawatirkan yang tidak perlu, Nona.”


Makanan yang dipesan sudah datang. Si manajer tadi yang mengantarkan makanan itu sendiri. Setelah meletakkan makanan diatas meja, manajer itu meninggalkan ruangan.


“Makanlah,,” Sadila menawari. Ternyata Sadila orang yang ramah. Memang wajahnya terlihat judes, tapi sikapnya sangat hangat. Itu kesan pertama yang Elivia rasakan.


Elivia memandangi sepiring makanan yang ada diatas meja. Porsinya kecil sekali. Cuma penampakannya saja yang cantik. Dia tidak akan kenyang dengan makanan sekecil itu. Elivia menyantap makanan itu dengan lahap. Dia bahkan lebih dulu menghabiskannya daripada Sadila. Hanya dua kali hap, makanan itu langsung habis.


“Mau lagi? Biar kupesankan.” Kata Sadila yang melihat makanan Elivia sudah habis.


“Tidak, Nona. Tidak usah, saya sudah kenyang.” Jawab Elivia, gengsi dong kalau mau nambah. Padahal dia ingin meng-iyakan, karna makanan itu ternyata sangat enak.


“Baiklah.” Sadila pun menyantap makanannya.


Sadila sangat senang bertemu dengan Elivia. Elivia gadis yang cerdas. Dia tidak salah menilai gadis itu. Dia puas setelah memastikan perasaan Elivia yang sebenarnya. Sekarang, dia tinggal melaksanakan rencananya untuk mendapatkan restu dari Ibu Suri.


Cuaca sedang hujan. Sadila hanya mengantar Elivia sampai di halte saja. Dia berdalih sedang ada urusan penting sehingga tidak bisa mengantarkan Elivia. Elivia berteduh dari derasnya hujan di halte bis. Karna hujannya lumayan kencang. Pakaiannya tetap saja basah.


Elivia sedang menunggu hujan mereda. Dia harus kerumah sakit sekarang. Arina pasti sudah menunggunya.


Tring,, tring,, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dari Arina.


“Kak El. Yang Mulia Pangeran Dan sedang ada disini bersamaku sekarang.”


Membaca pesan itu, Elivia sontak membelalakkan matanya. Kenapa Zaydan menemui adiknya? Dia tidak akan menyakiti Arina kan? Perasaan was-was seketika menyerbu hatinya.


Saat bis datang, Elivia segera naik dan turun di halte bis yang ada di dekat rumah sakit. Dia menggunakan tasnya sebagai payung dan segera berlari menuju keruangan Arina.


“Arina!!” Teriak Elivia, membuka pintu dengan keras dan tergesa-gesa.


“Kak El?” Arina heran melihat Elivia yang sudah basah kuyup.


“Kau tidak apa-apa? Apa dia melakukan sesuatu kepadamu?” Tanya Elivia terlihat cemas. Dia membolak balikkan badan Arina yang sedang duduk diranjangnya. Memeriksa apakah ada luka disana.


“Aku tidak apa-apa, Kak. Kenapa kakak panik seperti itu?” Tanya Arina.


“Syukurlah,, kamu tidak apa-apa,,” Elivia menarik nafas lega. “Dimana Pangeran Dan? Kenapa dia menemuimu?” Elivia mencerca dengan


pertanyaan.


“Sudah pergi, baru saja. Kakak tidak bertemu dengannya?”


Elivia menggelengkan kepalanya. “Kenapa dia menemuimu?”


“ya,,, cuma menjenguk saja.”


“Bagaimana dia bisa tau ya kalau kamu disini?”


“Sebenarnya apa yang kak El khawatirkan sih? Pangeran Dan.tidak mungkin melukaiku Kak. Menurutku dia pria yang baik. Juga tampan tentu saja.” Ucap Arina.


Pria yang baik? Bagaimana Arina bisa menganggapnya begitu? Sebenarnya apa saja yang sudah mereka bicakafan? Ah,, Elivia yakin, Zaydan pasti datang dengan tujuan untuk mengancam Arina, agar dia segera membujuk Ibu Suri. Agar pria itu bisa segera berpisah dengannya.


Hufh..!!!