DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Mengeraskan Hati? Bisakah?



Waktu yang di tunggu telah tiba. Pemandangan yang tersaji di depan mata sungguh menakjubkan. Di kejauhan, nampak matahari yang malu-malu mulai bergerak kembali ke peraduannya. Menghilang di balik gunung untuk menjemput malam.


Elivia bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari pemandangan yang ada dihadapannya. Ia takjub dengan ciptaan Tuhan yang terbentang itu. Sungguh mengalahkan pesona pemandangan apapun yang pernah ia lihat sebelumnya.


Memang selama ini, Elivia belum pernah menikmati waktu-waktu seperti ini. Bukan ia tidak mau, tapi ia tidak punya waktu karna harus bekerja. Bahkan sebelum Arina mengalami kecelakaan, ia sudah harus membanting tulang untuk menghidupi dirinya sendiri dan Arina, juga untuk keperluan sekolah mereka.


Setelah Arina mengalami kecelakaan, beban pekerjaannya menjadi semakin bertambah. Ia semakin tidak punya waktu. Bahkan untuk menyenangkan dirinya sendiri.


Tapi tidak apa. Sekarang dia bisa menikmati pemandangan indah itu berkat Kafa.


“Wahhh,, aku tidak tau kalau disini ada pemandangan seindah ini.” Celetuk Elivia. Matanya tidak berkedip memandangi semburat jingga yang ada di ufuk.


“Benarkah? Kau tidak pernah datang kesini sebelumnya?” Tanya Kafa. Entah kenapa dia merasa bangga karna itu berarti ia adalah pria pertama yang mengajak Elivia ke tempat ini. Itu menandakan kalau tempat itu punya sejarah bagi ia dan Elivia.


“Terimakasih, Kafa. Karna sudah membawaku ke sini.” Ujar Elivia dengan tulus.


“Sama-sama. Lain kali beritahu saja aku kemanapun kau ingin pergi.”


“Dengan senang hati.” Jawab Elivia dengan tersenyum.


Untuk sesaat, perhatian mereka teralihkan oleh pasangan yang sedang sibuk berfoto. Di kedua jari pasangan itu tersemat cincin pernikahan. Elivia bisa tau itu karna wanita itu sedang hamil besar.


Cincin. Seketika ingatannya berlari menuju seorang Zaydan.


Ia bahkan tidak pernah menerima cincin dari pria itu. Tapi bukannya dia tidak punya. Dulu, ibu suri pernah memberinya seperangkat perhiasan sebagai hadiah pernikahan. Hanya saja ia tidak pernah memakainya. Ia menyimpannya di lemari bajunya di istana.


“Mereka nampak sangat bahagia.” Celetuk Kafa.


Elivia setuju dengan ucapan itu. Pasangan itu benar-benar terlihat sangat bahagia. “Setuju.”


“El, bagaimana menurutmu tentang pernikahan?”


Sebuah pertanyaan yang membuat otak Elivia dipaksa untuk berputar.


“Pernikahan?”


Kafa mengangguk. “Apa kau pernah memikirkan tentang menikah dengan seseorang, misalnya?”


Entah bagaimana Elivia harus menjawabnya. “Kenapa kau menanyakannya?”


“Cuma ingin bertanya saja.”


“Entahlah. Aku tidak yakin. Karna aku tidak pernah memikirkannya sebelumnya.”


“Bukankah setiap gadis pasti punya pernikahan impiannya sendiri? Pria macam apa yang ingin mereka nikahi, pesta macam apa, dan lainnya?”


Iya. Dulu Elivia memang punya rencananya sendiri. Tapi itu hanyalah hal yang samar baginya. Ia tidak berani muluk-muluk merencanakan masa depannya. Tapi siapa yang menyangka kalau ternyata ia malah menjadi istri dari seorang pangeran? Bahkan ia sendiri tidak pernah menyangka.


“Pria seperti apa yang ingin kau nikahi?” Pertanyaan Kafa kali ini berhasil membuat Elivia menoleh kepada pria itu.


“Aku tidak punya spesifikasi tentang hal itu. Secara umum, menikah dengan pria yang bisa menghargai dan memperlakukanku dengan baik, itu pasti. Tapi nampaknya sekarang akan sulit menemukan pria macam itu.”


“Ada, disini.” Seloroh Kafa dengan menunjuk dirinya sendiri. Ditambah dengan senyum lebarnya plus wajah  yang lucu.


“Hahahaha. Iya benar. Ada kamu. Kenapa kau bisa lupa?” Elivia tertawa lepas.


Dan seperti janji Kafa tadi bahwa pria itu akan membuatnya tertawa ternyata berhasil.


“Kalau kau? Wanita seperti apa yang ingin kau nikahi?”


“Wanita sepertimu?” Raut wajah Kafa berubah serius saatnmengatakan itu.


Elivia mengerutkan keningnya. Tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak. “Buahahaha. Jangan. Kau tidak bisa menikahi orang sepertiku. Kau harus menikah dengan wanita yang jauh lebih baik. Berpendidikan baik, juga dengan kehidupan yang baik pula. Itu baru setara. Kenapa seleramu rendah sekali? Kau harus mencari wanita yang hebat.”


“Kafa, maaf. Aku harus mengangkat telfon ini.” Ujar Elivia.


“Silahkan.”


Elivia meninggalkan Kafa dengan membawa ponselnya. Menjauh dari pria itu agar ia leluasa untuk berbicara.


Setelah dirasa aman, barulah Elivia mengangkat ponselnya.


“Ada apa?”


“Kau dimana? Aku di kosmu dan kau tidak ada disini.” Suara Zaydan bertanya dari seberang.


“Aku sedang di luar.”


“Beritahu alamatnya. Aku akan menjemputmu kesana. Setelah itu kita pulang ke istana.”


“Kau memintaku pulang ke istana setelah perlakuan yang kuterima? Tidak. Malam ini aku tidak akan pulang ke istana.”


“Kumohon, El. Biarkan aku menjemputmu, ya?”


“Tidak. Tidak perlu. Aku sedang bersama Kafa.”


“Kafa? Kenapa kau bersamanya?” Selidik Zaydan. Terdengar kalau pria itu sepertinya terkejut mendengar pemberitahuan itu.


“Tidak ada alasan kenapa aku tidak boleh bertemu dengan Kafa, kan? Jadi pulanglah.”


“Tidak. Aku akan menunggumu disini sampai kau pulang.” Zaydan bersikeras.


Samar Elivia bisa mendengar Zaydan sedang memerintahkan kepada Lucas untuk mencari penjaga kos untuk meminta membuka pintu kamar Elivia.


“Apa yang sedang kau lakukan?”


“Bukankah aku sudah bilang tadi, kalau aku akan masuk ke dalam kamarmu dan menunggumu sampai kau pulang.”


Sikap keras kepala Zaydan membuat Elivia menghela nafas kesal. “Hufh. Terserah kau saja. Aku sudah memberitahumu kalau jangan menungguku.”


Kemudian Elivia menutup telfon secara sepihak. Ia yakin kalau di sana Zaydan sedang menggerutu padanya. Tapi ia tidak peduli. Ia sedang berusaha untuk mengeraskan hatinya. Ia merasa belum terlambat untuk kembali ke


jalan yang seharusnya.


“Maaf, aku lama ya?” Ujar Elivia sambil duduk di tempat duduknya semula.


Kafa menggeleng. “Tidak. Sudah selesai?”


“He, em. Kafa, bisakah kita pulang sekarang? Aku sudah kedinginan. Tolong antarkan aku kerumah sakit, ya.”


“Kau akan menginap di rumah sakit?”


“Sepertinya begitu.”


“Baiklah, kita pergi sekarang.”


Kafa tidak jadi memberikan hadiahnya kepada Elivia. Karena ia merasa waktunya sudah tidak cocok lagi. Ada perubahan suasana di mata gadis itu. Sepertinya ia masih harus menundanya lagi. Dalam hati Kafa berjanji, ia akan langsung memberikannya saat mereka bertemu lagi.


Dalam perjalanan pulang, Elivia kembali terdiam. Ia sedang memikirkan perihal Zaydan. Mengeraskan hati ternyata bukan perkara mudah. Apalagi itu menyangkut dengan perasaan.


Sekuat apapun Elivia menekan perasaan yang tumbuh di hatinya, ia tetap tidak bisa mengendalikannya sepenuhnya. Bahkan saat ini ia sedang merindukan Zaydan.


Mengingat pria itu membuat hatinya terus berdesir. Kalau begini terus, bagaimana dia akan mengeraskan hatinya? Jika mengingatnya saja membuat perasaannya luluh lantah. Elivia merasa dirinya lemah karna tidak bisa menghentikan perasaannya sendiri. Tapi siapa yang bisa menghentikan sebuah perasaan cinta? Tidak ada satupun manusia yang bisa menghentikannya bukan? Termasuk Elivia.