DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Ini Bukan Beban.



Sudah dua hari sejak kepulangan Zaydan dan Elivia ke tanah air. Hal menyenangkan telah terjadi di perjalanan mereka selama satu minggu yang lalu. Salah satunya adalah, Kafa dan Vanye yang memutuskan untuk menjalin hubungan. Tentu saja hal itu adalah kabar bahagia bagi Elivia dan Zaydan.


Zaydan sedang sibuk di kantor, ia sedang rapat bersama dengan para karyawannya. Dengan tidak malunya, Sadila tetap masuk dan bekerja seperti biasanya. Dia berusaha untuk menebalkan telinga walaupun seisi kantor menggunjingnya. Dia sudah bertekad akan bertahan demi hutang ibunya.


Di satu sisi, Sadila masih berharap akan mendapatkan perhatian dari Zaydan. Ia membuat dirinya seolah sangat terluka dan sedih. Namun tentu saja Zaydan bahkan tidak pernah menganggap ataupun sekedar menyapanya.


Saat kembali dari ruang rapat, Zaydan di kejutkan oleh putra mahkota yang ternyata sudah menunggunya di ruangannya.


“Kak, kapan kakak datang?” Tanya Zaydan yang langsung duduk di hadapan putra mahkota.


“Baru saja. Belum lama.” Jawab putra mahkota.


“Tumben datang kesini, ada apa?” Tanya Zaydan berterus terang.


“Cuma, ingin melihat kantormu saja. Sejak kau bekerja di kantor ini, aku bahkan tidak pernah punya kesempatan untuk datang kemari.”


“Tidak apa-apa. Aku tau kakak sibuk membantu Yang Mulia Raja.”


“Kudengar kau bahkan pergi liburan bersama dengan istrimu.”


Zaydan menganggukkan kepala. “Ya, kami banyak bersenang-senang.”


“Senangnya melihat kalian bisa liburan semacam itu.” Lirih putra mahkota dengan wajah murung.


Zaydan mengernyitkan keningnya. Ia merasa, pasti sedang ada yang di fikirkan oleh kakaknya itu.


“Kak, apa terjadi sesuatu?” Tanya Zaydan. Ia menatap serius kepada putra mahkota yang sedang menundukkan wajahnya.


“Aku, berniat untuk mengundurkan diri dari posisiku. Aku berencana untuk turun tahta.”


Tentu saja ucapan itu membuat Zaydan terkejut sampai membelalakkan matanya. “Apa maksud kakak turun tahta? Kenapa kakak berfikir begitu?”


“Aku ingin hidup bebas sepertimu, Dan. Pergi kemanapun aku mau besama dengan istriku, melakukan apapun yang aku suka tanpa memikirkan tentang aturan-aturan kerajaan yang harus ku taati. Aku tau ucapanku ini sangat tidak masuk akal dan egois, tapi, maukah kau menggantikan posisiku?” Tanya putra mahkota kemudian.


Zaydan terdiam sebelum melanjutkan kalimatnya. “Apa kakak melihatku seperti itu? Apa menurut kakak hidupku bebas dan bisa melakukan apapun sesuka hatiku? Kalau kakak melihatku seperti itu, berarti kakak telah salah melihat. Hidup kita sama, kak. Terkekang dengan aturan kerajaan. Kita tidak bisa berbuat sesuatu tentang hal itu. Ini semua sudah ditentukan oleh takdir yang tidak bisa di rubah.” Lirih Zaydan.


“Aku tau, tapi terkadang aku merasa tidak sanggup menanggung beban ini.”


“Beban? Tolong jangan menganggap ini semua adalah beban, kak. Tanggung jawab ini bukan sebuah beban.”


“Memang, kau lebih bijak dariku, seperti biasanya. Hehehehe.”


Zaydan tau kalau putra mahkota hanya berusaha untuk tertawa. Ia sangat menyadari kesulitan yang mungkin di rasakan oleh putra mahkota. Namun ia sendiri juga merasakan hal yang sama. Jika keadan ini sulit bagi dirinya, apalagi bagi putra mahkota yang tentu saja punya banyak tuntutan dan tekanan. Itu sama-sama sulit bagi mereka berdua.


“Apa kakak sudah memberitahu yang mulia raja?”


Putra mahkota menggelengkan kepalanya. “Tidak, belum. Aku ingin bertanya dulu padamu.”


“Lebih baik kakak bertanya dulu pada Yang Mulia Raja. Aku tidak berani memberikan nasehat apapun untukmu, kak. Tapi kalau aku boleh bilang, aku sama sekali tidak berniat untuk menggantikan posisi putra mahkota. Sejak awal posisi itu memang sudah milikmu. Lagipula, aku sangat tidak cocok berurusan dengan politik dan pemerintahan. Tapi kalau itu adalah perintah kerajaan, aku tidak punya pilihan lain, kan?”


Putra mahkota sangat tahu satu-satunya orang yang bisa menggantikannya adalah Zaydan. Namun ia juga tidak tega jika harus memaksa adiknya itu. Ia faham betul kalau Zaydan sangat tidak menyukai politik. Tapi ia juga merasa sudah tidak tahan menghadapi berbagai tekanan yang terus datang.


“Kak, kau tahu aku akan selalu mendukungmu dari belakang kan?”


“Waaaahhhh, ternyata kau lebih hebat dariku. Jadi, bagaimana? Apa istrimu sudah mulai ada tanda-tanda hamil.” Putra mahkota mengalihkan pembicaraan. Ia ingin mencairkan suasana canggung yang sempat muncul disana.


“Apa? Hamil? Hahahahahaha. Entahlah. Aku tidak yakin. Dia bahkan baik-baik saja saat terjun dari pesawat.” Jelas Zaydan kemudian.


“Astaga. Kau ini. Besar mulut. Hahahahaaha.”


“Jangan mengejekku begitu.” Protes Zaydan.


“Lain kali ajaklah istrimu main ke Istana Besar. Sudah lama kalian tidak mampir.” Imbuh putra mahkota.


“Iya, kak. Nanti kami pasti mampir.” Janji Zaydan.


“Ya sudah kalau begitu, aku sudah terlalu banyak menyita waktumu. Aku sudah harus pergi sekarang.” Pamit putra mahkota sambil beranjak dari duduknya.


“Kakak sudah mau pergi? Tinggallah sedikit lebih lama lagi.”


“Tidak, jangan. Aku tau kau pasti punya banyak pekerjaan. Aku juga harus menghadiri sebuah acara.” Ujar putra mahkota sambil melihat arlojinya.


Zaydan mengantarkan putra mahkota sampai di luar ruangannya. Karna putra mahkota melarang saat ia hendak mengantarkan kakaknya itu sampai di lobi.


Setelah melihat kakaknya pergi, Zaydan kembali masuk ke dalam ruangannya dan kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia sempat kefikiran tentang ucapan putra mahkota tadi. Betapa beratnya beban kakaknya itu sehingga membuatnya berfikir untuk melepas tahtanya. Yang mulia raja pasti akan sangat terkejut mendengarnya


Untuk mengalihkan fikirannya, Zaydan memutuskan untuk menelfon Elivia. Tiba-tiba ia merindukan istrinya itu.


“Sayang? Kau dimana?” Tanya Zaydan saat telfon sudah tersambung.


“Aku dirumah. Kenapa?”


“Sedang apa?”


“Sedang mengobrol bersama dengan Widya. Kenapa tiba-tiba menelfon?” Tanya Elivia heran.


“Sayang, apa belakangan ini kau merasakan pusing? Atau mual tiba-tiba?” Pertanyaan Zaydan menjurus kepada penyelidikan. Tidak di pungkiri dia juga jadi kefikiran dengan pertanyaan putra mahkota tadi.


“Ehmm, tidak. Kenapa bertanya begitu?” Elivia sama sekali tidak bisa menebak maksud Zaydan.


“Kalau begitu, apa kau ingin makan mangga? Mangga muda?” Zaydan masih berusaha untuk mengorek informasi.


“Sayang, aku paling tidak suka makanan asam. Apalagi mangga muda. Sebenarnya kau ini kenapa?” Elivia semakin heran dengan sikap aneh suaminya itu.


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tau saja. Ya sudah. Aku tutup dulu ya.” Zaydan buru-buru menutup sambungan telfon.


Zaydan terus menatap layar ponselnya bahkan saat sambungan telfonnya dengan Elivia sudah terputus. Tiba-tiba ia tersenyum membayangkan jika Elivia benar-benar hamil. Mungkin hidupnya akan lebih menyenangkan dan terasa sempurna.


Ah, Zaydan jadi tidak sabar untuk pulang dan membuatkan cucu untuk raja.


*****


hai,, hai,, hai,,,


nih buat mengobati rasa rindu kalian sama bang Dan. jadilah satu episode dulu. soalnya mak belum sehat betul. ini aja maksa karna mak tuh sayang sama kalian.. hihihi, modus.


sabar ya gesss...


lope,, lope,, lope,, sekebon kopi.


btw, selamat hari perempuan buat kalian para wanita-wanita hebat di luar sana. kalian hebat sudah mampu bertahan sampai sejauh ini. menerjang semua rasa tidak nyaman akan orang-orang sekitar. bertahan di tengah-tengah rasa sakit dan lelah. tetap memacu semangat di antara kesibukan mengurus rumah dan keluarga. kalian hebat sudah mampu mengeraskan hati untuk tetap kuat walau di terpa berbagai masalah.


tetap seperti itu, ya, wanita-wanita hebat yang luar biasa.💪💪💪😇😇