
Pagi ini Elivia berencana untuk pergi ke rumah sakit. Seharusnya kemarin ia pergi. Namun karna kakinya masih sakit untuk berjalan.
Akhirnya Elivia menundanya.
Ia sedang sarapan di meja makan. Hanya berdua saja bersama dengan Zaydan.
“Dimana Nenek?” Tanya Elivia kepada Widya.
“Beliau sudah pergi ke Istana Besar pagi-pagi sekali, Nona.” Jawab Widya.
Sarapan berdua saja bersama Zaydan membuat Elivia merasa canggung. Padahal pria itu bahkan seperti tidak mempedulikannya.
“Kakimu sudah sembuh?” Tanya Zaydan yang sudah menyelesaikan sarapannya.
“Hmm....” Jawab Elivia seadanya.
“Apa kau sedang mengabaikanku? Aku sedang berbicara denganmu.” Zaydan merasa tersinggung dengan cara Elivia menjawabnya.
Elivia meletakkan sendoknya ke atas piring. Ia mengelap mulutnya dengan serbet kemudian menatap Zaydan.
“Kenapa kau jadi marah bgitu? Bukankah kau ingin aku mengabaikanmu? Dengan begitu hubungan ini akan berjalan dengan semestinya.”
“Hei! Apa kau sudah gila? Bagaimana jika ada yang mendengarkanmu?” Zaydan membentak dengan berbisik.
Seketika Elivia membungkam mulutnya sendiri. Ia sampai lupa diri dan hampir saja membuka rahasia mereka.
“Apa kau jadi ke rumah sakit?”
“Iya.”
“Biar ku antar kau kesana.”
“Tidak perlu. Aku harus mampir ke kost dulu untuk mengambil barang-barang.” Tolak Elivia.
“Kalau begitu aku akan mengantarkanmu sampai di kos.”
Elivia menatap Zaydan. Ia tahu kalau pangeran itu sedang memaksanya.
“Baiklah.” Ujar Elivia kemudian. Ia merasa bisa menghemat ongkos taksi.
Zaydan jadi mengantarkan Elivia ke kosnya untuk mengambil barang-barangnya. Dengan Lucas yang mengemudikan mobil.
“Apa kau akan menginap disana dan tidak akan pulang?”Zaydan membuka percakapan.
“Kenapa? Apa kau merasa akan merindukanku?”
“Kau pasti sudah gila! Kenapa juga aku harus merindukanmu?” Hardik Zaydan yang langsung membantah ucapan Elivia.
“Ya sudah kalau begitu. Kenapa harus membentakku?!” Elivia tak mau kalah. “Cih. Padahal kau diam-diam menciumku sesuka hati.” Lirih Elivia lagi.
“Kapan aku diam-diam menciummu?!”
“Astaga! Kau mengejutkanku saja. Kau dengar rupanya.” Elivia hanya memaksakan senyumnya. Tidak menyangka kalau Zaydan akan mendengarnya bergumam.
“Bukankah kau juga sadar?”
“Tapi kau melakukannya tanpa seijin dariku.”
“Tapi kau menyukainya kan?”
“Kau gila? Aku tidak akan mungkin menyukainya!” Hardik Elivia yang wajahnya sudah memerah. Ia membuang pandangannya ke luar jendela. Merasa malu sendiri jika mengingat betapa dia menyukai ciuman dari Zaydan.
Entah kenapa mereka berdua jadi membahas masalah ciuman. Bahkan tidak memperhatikan jika Lucas diam-diam melirik mereka dari kaca spion.
Baik Zaydan dan Elivia sama-sama membuang pandangannya keluar jendela. Mendengus kesal kepada diri sendiri. Sampai suara ponsel Elivia bergetar.
Elivia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia tersenyum sumringah dengan nama Kafa yang muncul di layar ponselnya.
“Halo?” Sapa Elivia setelah mengangkatnya.
‘Hai El. Apa kabarmu? Dimana kau?’
“Waahhh,, aku sedang di.... Ehm.. Kau sudah pulang?” Tanya Elivia mengalihkan pembicaraan.
‘Sudah. Aku sedang dalam perjalanan ke kosmu.’
“Hah? Benarkah? Baiklah, aku akan menunggumu.” Jawab Elivia antusias.
Zaydan hanya melirik saja kepada gadis yang sedang merasa senang itu. Penasaran dengan siapa yang menelfon Elivia sampai dia sesenang itu.
m mengucapkan terimakasih kepada Zaydan yang telah mengantarkannya. Membuat Zaydan mendengus tidak percaya.
Elivia baru saja hendak masuk kedalam kosnya. Saat kemudian mobil Kafa berhenti dan pria itu turun dari sana. Dia tersenyum kepada Elivia sambil berjalan mendekat. Ia membawa dua paper bag dan langsung menyerahkannya kepada Elivia.
“Apa ini?”
“Oleh-oleh dari luar negeri. Satu untukmu, dan satu lagi untuk Arina.” Jawab Kafa santai.
“Waahhh,, kufikir kau sudah melupakanku. Selama pergi kau sama sekali tidak pernah menghubungiku.” Elivia berpura-pura memasang wajah cemberut.
“Maaf. Aku benar-benar sangat sibuk sampai lupa untuk menghubungiku.”
“Tapi tidak apa-apa. Karna kau sudah membelikanku hadiah, aku tidak jadi marah.” Seloroh Elivia.
“Hahahaha..” Kafa tidak bisa menahan tawanya. “Kakimu kenapa? Kok di perban?”
“Ah, ini? Aku terjatuh saat berlatih ice skating.”
“Astaga, El. Kenapa kau tidak hati-hati. Kalau kau ingin berlatih, kau bisa memintaku mengajarimu. Aku mahir melakukannya.”
“Benarkah? Baiklah, lain kali kau harus mengajariku.”
Kafa mengangguk meyakinkan. “Kau mau pergi bekerja?”
“Tidak. Aku sudah tidak bekerja di restoran lagi. Aku mau pergi kerumah sakit untuk mengantarkan pakaian Arina.” Jelas Elivia.
“Kenapa?”
“Karna aku sudah menemukan pekerjaan yang gajinya jauh lebih besar.”
“Dimana?”
“Royalfood.”
“Royalfood? Maksudmu perusahaan milik keluarga kerajaan.” Kafa memastikan.
“Hm,, aku mulai bekerja disana minggu depan.” Elivia mengangguk.
“Jadi itu artinya kalau kita tidak akan sering bertemu lagi seperti dulu?”
“Hei, kita masih bisa bertemu kapanpun. Kernapa kau seperti mau menangis begitu?” Seloroh Elivia lagi.
Tapi Kafa sama sekali tidak menanggapi gurauan itu. Ia hanya merasa sedikit sedih karna ia sudah tidak bisa lagi menemui Elivia di restoran saat jam makan siang. Padahal itu satu-satunya kesenangannya ditengah hiruk pikuk pekerjaannya.
“Kau mau ke rumah sakit? Aku akan mengantarmu.”
“Dengan senang hati. Tapi tunggu sebentar ya, aku ambil pakaian Arina dulu.”
Kafa duduk termenung di sebuah bangku sambil menunggu Elivia mengambil pakaian Arina. Ia mengambil sesuatu dari kantung celananya. Sebuah cincin berlian yang mengkilat, bertengger dengan indahnya di selipan kain beludru.
Tapi ia segera memasukkannya lagi ke dalam kantung saat Elivia keluar dari kamarnya. Ia belum siap menunjukkannya kepada gadis itu. Ia sedang menunggu waktu yang tepat.
“Sudah siap?” Tanya Kafa. Ia bangkit dari duduknya.
“Sudah. Ayo.”
Kafa mengantarkan Elivia ke rumah sakit. Ia juga ikut menyapa Arina sebentar sebelum ia pergi kembali kekantor.
“Kaki kakak kenapa?” Tanya Arina yang pandangannya langsung tertuju kepada cara jalan Elivia yang sedikit pincang.
“Jatuh saat belajar ice skating kemarin.”
“Astaga! Kenapa kakak tidak hati-hati? Sudah di obati?” Tanya Arina yang nampak panik.
“Sudah. Ada perawat yang sangat terampil di istana yang merawat lukaku.” Jawab Elivia sambil tersenyum simpul. Teringat dengan Zaydan.
“Waaahhh,, ternyata di istana banyak sekali hal yang tidak aku tau. Hal pertama yang ingin ku lakukan setelah sembuh adalah, aku ingin ke istana dimana kakak tinggal.” Ujar Arina yang mulai menerawang masa depannya.
“Makanya, cepat sembuh. Aku akan membawamu berkeliling nanti.” Janji Elivia.
“Tentu saja. Apa kakak tidak tau berapa besar usahaku dalam mengikuti terapi setiap harinya? Aku yakin tidak lama lagi aku akan sembuh. Dokter saja sampai heran dengan perkembanganku.”
“Baguslah. Teruskan seperti itu, ya.”
Arina mengangguk senang. Ia merasa sudah tidak sabar ingin berkeliling istana kecil dan melihat seperti apa kehidupan kakaknya disana. Apa kakaknya itu diperlakukan dengan baik disana? Atau malah sebaliknya?