DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Perkenalkan, Ini Istri Zaydan.



Elivia sedang memandangi deretan gaun yang berbaris rapi di dalam lemari. Ia sedang memilih gaun mana yanga akan ia kenakan di pesta penyambutan kelahiran putri pertama dari putra dan putri mahkota.


Setelah ia memutuskan untuk memakai gaun bermotif  bunga, ia memanggil Widya untuk membantunya berdandan. Elivia memang tidak pandai berdandan. Sedangkan Zaydan sudah menunggu di bawah dan sudah siap berangkat.


Elivia turun setelah selesai dengan penampilannya dan langsung menemui Zaydan. Kemudian merekapun langsung bernagkat ke istana besar.


Sesampainya di istana besar, ternyata sudah banyak kerabat kerajaan yang hadir. Ibu suri yang melihat kedatangan Elivia dan Zaydan, langsung sumringah dan menyambut mereka dengan hangat.


“Kami sudah datang, Nek.” Sapa Zaydan.


“Oh, selamat datang. Padahal kalian pasti lelah setelah perjalanan jauh tapi harus langsung datang kemari.” Ujar ibu suri.


“Tidak apa-apa, Nek.”


Zaydan dan Elivia menghampiri raja dan ratu yang sedang berbincang dengan beberapa kerabat untuk menyapa mereka. Kemudian mereka menghampiri putra mahkota yang sedang bersama dengan istrinya dan juga putri mungil mereka.


Semakin lama, suasana semakin ramai. Bahkan di luar istana, para awak media sudah berkumpul untuk menyiarkan penampilan perdana dari putri Shanu ke hadapan publik.


Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan. Sedangkan Elivia sedang mengakrabkan diri dengan kerabat kerajaan bersama dengan ibu suri.


Sementara Zaydan entah pergi kemana. Elivia bahkan tidak melihat batang hidung pria itu. Akhirnya Elivia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar demi membunuh rasa bosannya. Pesta seperti ini benar-benar bukan seleranya.


Di tengan banyaknya orang yang hadir ke pesta itu, Elivia merasa sendiri. Ia merasa seperti orang asing. Tidak punya teman mengobrol selain dengan ibu suri dan putri mahkota. Ia ingin bergabung dengan para kerabat yang lain, tapi ia tidak bisa mengimbangi obrolan mereka.


Di antara banyaknya tamu yang hadir, perdana menteri beserta putranya, Kafa, cukup menyita perhatian para tamu. Silvi yanmg merupakan orang  ke dua yang mempunyai pengaruh besar di pemerintahan tentu saja mendapat banyak sambutan hangat dari orang-orang yang datang, termasuk oleh kelaurga inti kerajaan.


Kafa sedang meladeni sapaan dari seorang pejabat pemerintahan yang menghampirinya. Seorang pria paruh baya yang terus saja membicarakan putri bungsunya kepada Kafa. Padahal pria itu sama sekali tidak tertarik.


Sosok gadis berbalut gaun putih dengan motif bunga yang sedang mondar mandir di depan pancuran buatan, lebih menyita perhatian Kafa.


Awalnya Kafa tidak yakin kalau itu adalah Elivia karna penampilan gadis itu nampak berbeda dengan biasanya. Tapi setelah ia memperhatikannya dengan seksama, barulah ia yakin kalau gadis itu benar adalah Elivia. Untung saja ia membawa cincin yang seharusnya sudah ia berikan kepada gadis itu setiap waktu.


Kafa meletakkan gelas wine yang sedang ia pegang ke atas meja dan langsung berjalan meningalkan pria paruh baya yang sedang mempromosikan putrinya itu begitu saja. Pria itu bahkan hanya bisa ternganga melihat Kafa yang mengacuhkan dirinya.


Sambil berjalan mengikuti Elivia, Kafa merogoh saku celananya dan memastikan benda itu ada disana. Dia lega saat ia bisa meraih benda itu. Ia terus mengikuti Elivia yang berjalan menyusuri lorong di luar area pesta.


Elivia sedang kebingungan karna sepertinya ia tersesat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sesuatu. Ia terus berjalan tanpa tau ia berada di mana saat ini. Sampai sebuah tangan meraih lengannya dan membuatnya berbalik.


“Sedang apa kau di sini? Aku mencarimu kemana-mana.”


“Oh, Dan? Aku sedang mencari kamar mandi.” Jawab Elivia.


“Ikuti aku.”


Kafa tidak jadi melanjutkan langkahnya. Kakinya membeku demi mendapati pemandangan yang tersaji di hadapannya. Pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di kepalanya. Ia memasukkan ekmbali kotak cincin yang sudah sempat ia keluarkan dari saku.


Bagaimana Elivia bisa mengenal Zaydan?


Sedekat apa hubungan mereka sampai Elivia berani memanggil Zaydan dengan namanya?


Apa yang sudah dia lewatkan?


Kafa memutuskan untuk tetap mengikuti keduanya diam-diam tanpa di ketahui oleh Zaydan dan Elivia. Dia bahkan terus memperhatikan Zaydan yang dengan setia menunggui Elivia di depan kamar mandi.


“Karna aku tidak ingin kau tersesat lagi.” Jawab Zaydan dengan membetulkan helaian rambut yang tergerai di wajah Elivia.


“Itu karna aku belum pernah ke area ini. Jadi aku bingung dan tersesat.”


“Kau kan bisa memintaku menemanimu.” Ujar Zaydan sambil berjalan.


“Aku sudah mencarimu tapi kau menghilang entah kemana.”


Zaydan jadi salah tingkah sendiri. Ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


“Maaf. Aku tadi pergi sebentar bersama dengan putra mahkota untuk mengurus sesuatu.” Jelas Zaydan. Elivia hanya mencibir saja mendengarnya.


Sesampainya di depan ruangan pesta, Zaydan meraih tangan Elivia untuk dia genggam. Ia tidak peduli kalau Elivia menolaknya dengan menarik tangannya.


“Nanti di lihat orang.” Ujar Elivia sambil menarik tangannya.


“Percayalah. Aku sudah tidak peduli dengan hal itu.”


“Tapi, Dan...”


“Sudah. Menurut saja. Ayo.” Zaydan tetap menggenggam tangan Elivia dan masuk kedalam ruangan pesta.


Mereka sama sekali tidak menyadari kehadiran Kafa yang terus mengikuti dan memperhatikan mereka dengan seonggok luka dari kenyataan yang baru ia tau. Yang membuat Kafa penasaran, sejak kapan Zaydan mengenal Elivia?


Zaydan mengajak Elivia menghampiri ibu suri yang sedang berbincang dengan Silvi. Sang perdana menteri nampak terbelalak melihat kedatangan Elivia.


“Elivia?” Sapa Silvi.


“Halo Tante. Apa kabar?” Jawab Elivia dengan perasaan tidak enak.


“Oh? Kau mengenal Elivia?” Tanya ibu suri kepada Silvi.


“Iya, Yang Mulia. Kami pernah bertemu.” Jawab Silvi sambil meletakkan gelas ke atas meja.


“Ooh,, bagus sekali. Padahal aku ingin memperkenalkannya padamu.” Ujar ibu suri lagi.


“Memperkenalkan?” Tanya Silvi bingung. Ia menduga apa hubungan antara gadis yang di cintai putranya itu dengan keluarga kerajaan.


“Iya, perkenalkan, ini cucu menantuku. Elivia ini istrinya Dan.”


Terkejut bukan main. Itulah yang sedang dirasakan oleh Silvi. Tiba-tiba ia teringat dengan putranya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari Kafa. Ia bisa melihat putranya itu sedang berjalan keluar dari ruangan pesta. Entah kenapa hatinya ikut merasakan sakit.


“Oh, benarkah? Tapi saya tidak mendengar kabar apapun.”


“Memang hanya keluarga dan kerabat saja yang tahu.” Jawab ibu suri.


“Apa anda datang bersama dengan Kafa?” Tanya Zaydan. Membuat Elivia langsung menoleh. Ia berharap didalam hati kalau Kafa tidak hadir disana.


“Kafa? Oh, iya. Tapi anak itu menghilang dan entah pergi kemana. Mungkin dia ada di luar.” Jelas Silvi.


Perasaan yang di rasakan oleh Elivia saat ini tidak bisa di jelaskan. Tiba-tiba ia takut jika Kafa mengetahui tentang pernikahannya dengan Zaydan. Karna ia belum sempat menjelaskan apapun kepada Kafa. Ia takut Kafa menjadi salah faham dan marah padanya.