DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku? Cemburu?



Entah sudah pukul berapa. Yang jelas Elivia sudah terbangun. Ia memicingkan matanya, berusaha memanggil kesadarannya kembali. Tapi kenapa dia merasa enggan untuk bangun?


Sesuatu yang melingkar di pinggangnya terasa sangat nyaman. Walaupun sedikit berat, tapi ia menyukainya. Rasanya hangat dan nyaman.


Perlahan dia meraba bagian perutnya. Ada rasa aneh dengan bentuk sesuatu itu. Sebuah  tangan. Elivia membuka matanya untuk memastikan.


Ya! Ternyata yang melingkar di pinggangnya adalah tangan Zaydan. Seketika rasa malu menelusup kedalam dadanya.


Perlahan Elivia mencoba untuk mengalihkan tangan Zaydan. Namun ternyata pelukannya lumayan kuat.


“Diam. Aku masih mengantuk.” Lirih Zaydan dengan suara berat. Ternyata ia tau kalau Elivia sedang berusaha untuk memindahkan tangannya.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Elivia dengan suara yang bergetar.


“Tentu saja aku sedang memeluk istriku.” Zaydan menjawabnya dengan santai. Ia bahkan mengeratkan pelukannya itu sehingga membuat Elivia semakin tidak bisa melepaskan diri.


“Hei. Lepaskan.” Elivia berkata dengan suara yang tercekat. Padahal rasanya ingin sekali ia memarahi Zaydan. Tapi entah kenapa keberaniannya seolah sedang menciut di dalam dekapan pria itu.


“Sudah. Diam saja.” Zaydan malah menenggelamkan wajahnya di.punggung Elivia. Membuat gadis itu merinding di sekujur tubuhnya.


Elivia mencoba untuk mengendalikan dirinya. Ia tidak boleh terlalu larut dalam perasaan itu. Ia tau kalau tidak seharusnya begitu. Ia menghela nafas kemudian menampis tangan Zaydan yang melingkar di pinggangnya.


Setelah berhasil melepaskan diri, Elivia segera bangkit dan berdiri di samping ranjang. Ia menatap tajam kepada Zaydan.


“Tolong jangan begini.” Ujar Elivia.


Zaydan yang menatap heran kepada Elivia mengerutkan keningnya. “Kenapa memangnya?”


“Kau membuat hatiku berdebar.” Elivia memang tidak berniat untuk menutup-nutupi apa yang sedang dia rasakan.


Setelah mengucapkan hal itu, Elivia berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Meninggalkan Zaydan dengan sejuta.senyuman yang merekah di kedua ujung bibirnya.


Hari ini mereka kembali bersama berangkat ke kantor. Elivia sudah tidak peduli lagi jika ia selalu datang bersama dengan Zaydan. Toh kemarin orang-orang sudah tau jika ia adalah asisten Zaydan.


Sejak berangkat dari istana sampai ke ruangan Zaydan, Elivia memilih untuk tidak banyak berbicara. Ia sedang malas menanggapi pria itu. Karna debaran di hatinya tak kunjung mereda juga. Membuatnya sebal kepadandirinya sendiri.


Sementara Zaydan, tidak berniat untuk mengganggu. Ia hanya sesekali melirik kepada Elivia yang sedang duduk di mejanya sambil tersenyum karna ucapan Elivia masih terngiang jelas di telinganya.


Saat tengah hari, Zaydan kelaur dari ruangannya karna harus menghadiri sebuah rapat. Meninggalkan Elivia sendirian di sana.


Elivia mencoba untuk melakukan sesuatu karna gadis itu merasa bosan setengah mati. Ia membunuh rasa bosan dengan mengelap dan membersihkan debu-debu yang hampir tidak ada di semua benda  yang ada didalam ruangan itu.


Ia berjalan ke arah meja kerja Zaydan. Memperhatikan sebentar kemudian merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja.


Eliva langsung melihat ke arah pintu saat ia mendengar suara pintu yang terbuka. Baru saja ia hendak tersenyum kepada Zaydan, namun tidak jadi karna Sadila muncul di belakang pria itu.


Ia mencoba untuk tidak mempedulikan pasangan itu dan kembali mengelap meja kerja Zaydan. Melihat Sadila yang terus saja bergelayut di lengan Zaydan membuatnya mencibir. Tanpa ia sadari hawa panas mulai menyerang tubuhnya.


Zaydan duduk di kursinya sementara Sadila berdiri di sampingnya. Zaydan menolak saat gadis itu hendak duduk di pangkuannya dengan melirik Elivia yang sedang membersihkan guci yang ada di belakang Zaydan.


Tapi nampaknya Sadila tidak peduli. Ia terus saja memaksa duduk di pangkuan kekasihnya itu. Ia tidak peduli jika ada Elivia yang sedang berdiri memunggungi mereka.


Tapi Elivia juga sama tidak pedulinya seperti Sadila. Ia terus melakukan tugasnya bersih-bersih dengan sesekali melirik kearah pasangan itu.


Zaydan yang tidak suka dengan tindakan Sadila menyuruh Sadila  untuk pergi dari pangkuannya. Sadila memang menurutinya, namun gadis itu justru beralih ke sisi meja di hadapan Zaydan dan menumpu tubuhnya di atas meja. Pose Sadila yang sangat menggoda itu mampu membuat Zaydan tersenyum.


“Apa maumu?” Tanya Zaydan pada akhirnya.


“Aku merindukanmu, sayang.” Sadila mulai meraba wajah dan dengan tangannya.


Mereka tidak tau jika ada hati yang sedang terbakar di sekitar mereka.


Elivia seolah tidak bisa lagi menahan diri. Dengan beranindia berjalan mendekati meja dan kemudian membersihkan meja kerja Zaydan lagi.nPadahal ia sudah membersihkan meja itu sebelumnya. Memaksa Sadila untuk menyingkirndari hadapan pria itu.


“Apa-apaan kamu?” Tanya Sadila yang sudah terusir darinhadapan Zaydan dan sedang memandangi Elivia dengan raut wajah kesal.


“Maaf, nona. Tapi saya harus membersihkan meja ini. Hanya tinggal disini saja yang belum di  bersihkan. Kalau kalian mau bermesraan, silahkan pindah ke sofa yang tentunya lebih nyaman.” Seloroh Elivia.


Zaydan hanya tersenyum saja mendengarnya. Ia bisa merasakan jika Elivia sedang cemburu kepada Sadila. Dan hal itu membuatnya senang bukan main.


“Kau pergilah, nanti aku akan menelfonmu.” Ujar Zaydan kepada Sadila dengan memberikan berkas yang sudah di tanda tangani kepada Sadila.


“Baiklah.” Jawab Sadila. Ia berjalan keluar dari ruangan itu sambil melirik tajam kepada Elivia.


Setelah kepergian Sadila, Elivia kembali ke mejanya dengan membanting kain lap ke atas meja. Melirik Zaydan dengan kesal kemudian duduk dan menumpu lengannya di atas meja untuk menenggelamkan wajahnya. Menyesali perbuatannya yang kekanak-kanakan tadi.


Entah kenapa dia harus bersikap seperti itu. Kenapa dia harus marah melihat Sadila yang terus menempel kepada Zaydan?


“Kau cemburu?” Suara Zaydan membuat Elivia mendongakkan.kepalanya. Ia mendapati Zaydan yang sudah berdiri dengan menyandarkan bokongnya di meja Elivia sambil melihat kearahnya.


“Apa?”


“Aku tanya, apa kau sedang cemburu?” Zaydan mengulanginpertanyaannya.


“Aku? Cemburu?” Elivia menunjuk dirinya sendiri.


Zaydan mengangguk menanggapi.


“Kenapa aku harus cemburu? Bukan ranahku jika aku harus cemburu dengan kemesraan kalian!” Dengus elvia. Tanpa sadar hal itu memperjelas kalau memang dia sedang cemburu.


“Ternyata benar.” Gumam Zaydan.


“Sudah ku bilang aku tidak cemburu!” Pekik Elivia menegaskan kalimatnya.


“iya, iya. Aku tau.” Zaydan mengalah. Ia membungkuk untuk mendekatkan wajahnya kepada Elivia.


Sedangkan Elivia masih merasa sebal kepada pria itu yang terus mengoceh  tentang kecemburuan.


“Itulah, kenapa tadi pagi kau harus kabur dariku? Kalau kau membiarkanku memelukmu sampai aku merasa puas, aku tidak akan melakukan hal ini.” Ujar Zaydan di luar dugaan.


“Terserah kau saja.” Hardik Elivia. Ia merasakan wajahnya.yang sudah terasa panas. yang kemudian memilih untuk pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Zaydan begitu saja.