DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Harus Ada Yang Di Korbankan.



Tok. Tok. Tok.


Suara pintu di ketuk membuat Elivia melirik kearah pintu sebentar. Tapi kemudian ia mengabaikannya dan kembali menenggelamkan wajahnya di bantal.


“Room Service!” Terdengar suara seorang pria dari depan pintu.


Dengan malas Elivia beranjak untuk membuka pintu.


Disana, berdiri seorang pria dengan mendorong troli makanan sambil tersenyum lebar. Tapi senyuman itu nampak pias bagi Elivia.


“Ayo makan. Aku akan menemanimu makan malam.” Zaydan langsung nyelonong masuk begitu saja sambil mendorong troli.


Hati Elivia sampai ingin meledak karna saking senangnya. Ia tidak menyangka jika Zaydan benar-benar datang ke kamarnya. Dengan tersenyum simpul ia mengikuti pria itu ke arah meja.


“Kenapa kau kesini? Bagaimana dengan Sadila?” Elivia tidak  bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


“Dia entah pergi kemana.” Jawab Zaydan sambil memindahkan piring ke atas meja. “Ayo, makan.”


Elivia menurut. Ia ikut duduk di hadapan Zaydan dengan pandangan yang tidak pernah lepas dari pria itu. “Apa tidak masalah jika kau datang kesini?”


“Sudahlah. Jangan bahas Sadila. Cepat makan.”


Zaydan memang nampak enggan sekali membahas perihal Sadila. Ia bosan mendengar Elivia terus saja menanyakan wanita itu.


Selama makan, tidak ada yang bersuara. Hanya ada dentingan sendok dan piring. Suasana menjadi canggung untuk mereka berdua.


Saat sudah selesai makan, Zaydan bangkit dan berjalan mendekati Elivia. Ia tiba-tiba memeluk gadis itu dari belakang dengan sangat erat. Ia sangat merindukan Elivia rupanya.


“Aku merindukanmu.” Lirih Zaydan. Ia menggelayutkan dagunya di pundak Elivia.


Hati Elivia berdesir luar biasa. Ia memegang tangan Zaydan yang melingkari dadanya.


“Maafkan aku, aku sama sekali tidak tau kalau akan jadi seperti ini. Padahal aku sudah berjanji padamu untuk menikmati waktu berdua saja. Maafkan aku, El.”


“Aku tau. Siapa yang menyangka kalau dia datang? Aku tidak menyalahkanmu. Tapi jujur, hatiku sakit melihatmu bersamanya.”


“Aku senang jika hatimu sakit.”


“Ha? Kok begitu?” Elivia hampir saja meluapkan emosinya karna Zaydan berkata seperti itu.


“Karna itu berarti kalau kau benar-benar punya perasaan untukku. Aku akan sedih jika kau mengabaikannya dan tidak mempedulikannya.”


“Jadi kau senang aku cemburu?”


“Tentu saja.”


Cup.


Kali ini Zaydan melayangkan kecupan di pipi Elivia. Gadis itu hanya tertawa bahagia mendapat kecupan manis itu.


Zaydan dan Elivia benar-benar larut dalam kemesraan mereka. Keduanya sedang tiduran di ranjang dengan Elivia yang berada di dada Zaydan. Pria itu terus mengelus kepala Elivia dengan lembut. Mengalirkan kehangatan kedalam hati gadis itu sambil sesekali melayangkan kecupan manis di kepala Elivia.


“Besok kita kan pulang. Padahal aku berencana untuk mengajakmu jalan-jalan. Tapi harus batal karna ada Sadila.”


“Oke. Janji. Setelah semuanya beres, aku akan mengajakmu kemanapun kau mau. Bahkan keliling dunia sekalipun.”


“Hahahahaha. Tidak perlu sampai seperti itu. Cukup ajak aku ke tempat yang pernah kau datangi sendiri.”


“Aku janji.”


Elivia mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Zaydan. Ia mendapatkan hadiah sebuah elusan di kepala dan kecupan manis dari pria itu.


Perasaan yang semakin berkembang, membuat mereka tidak ingin berpisah. Larut dalam keharmonisan dan debaran hati yang terus menjadi. Rasa ingin memiliki merasuk dengan sempurna kedalam jiwa mereka. Memenuhi ruang hati dan tidak memberi celah bagi sapapun untuk mengusiknya.


Sampai ponsel Zaydan berdering dan ia terpaksa harus mengangkatnya. Walau ia tau kalau Elivia sedang menahan diri untuk tidak cemberut. Tapi guratan kekecewaan itu bisa Zaydan lihat di wajah gadis itu.


“Iya. Aku akan segera kesana.” Jawab Zaydan dengan nada


malas.


Elivia tau kalau itu adalah telfon dari Sadila. Tapi ia enggan untuk melepaskan pelukannya dari pria itu.


“El, aku harus kembali ke kamarku.” Lirih Zaydan.


“Tidak.” Elivia semakin mengeratkan pelukannya.


Sungguh Zaydan sangat bingung dengan situasi itu. Berurusan dengan dua wanita sangatlah tidak enak. Membuat posisinya sulit dalam menentukan sikap. Ia menghela nafas pelan untuk meringankan beban di hatinya.


“Kali ini, bolehkah aku egois dan mementingkan diriku sendiri? Aku ingin, malam ini kau tidur disini, bersamaku. Tolong jangan pergi.” Lirih Elivia. Kini ia sudah menelusupkan wajahnya di dada Zaydan.


Ya, Elivia ingin membela perasaannya sebisa mungkin. Ia ceroboh jika berfikir mampu melihat Zaydan bersama dengan Sadila dalam waktu yang lama. Dan dia bodoh jika berharap mampu menahan rasa sakit itu.


“Jangan pergi.” Lirihnya kembali.


“Baiklah. Sebentar saja, hanya sebentar. Nanti aku akan kembali kesini lagi. Aku janji malam ini aku akan tidur bersamamu.” Janji yang di buat oleh Zaydan terdengar sangat meyakinkan.


Perlahan Elivia mengangkat wajahnya dan menatap Zaydan penuh harap. Sekali lagi Zaydan menganggukkan kepala untuk meyakinkan gadis itu.


Baru setelah yakin dengan janji Zaydan, Elivia perlahan melepaskan pelukannya.


“Aku akan kembali.” Ujar Zaydan kemudian sambil melayangkan kecupan di kening Elivia.


Kecupan itu semakin membuat Elivia enggan untuk membiarkan Zaydan pergi. Tapi terlambat. Kini pria itu sudah berjalan ke arah pintu dan bersiap membukanya.


Zaydan menghela nafas kasar. Ia bersandar di pintu kamar Elivia yang baru saja ia tutup. Ia sedang memantapkan hatinya. Ia tidak bisa berada di antara Sadila dan Elivia lagi. Ia harus segera membuat keputusan atau mereka semua akan sakit pada akhirnya.


Zaydan sedang menimbang sebuah keputusan berat yang akan dia ambil. Menelisik setiap resiko yang akan dia hadapi. Ia menyadari sepenuhnya kalau ia tidak bisa menyelamatkan semua orang. Ia tidak bisa berada di sisi dua wanita yang mencintainya. Dia harus menyakiti salah satunya untuk sebuah keputusan yang ia harap bisa membawa kebahagiaan untuk dirinya dan wanita yang sangat dia cintai.


Harus ada yang di korbankan. Daripada mereka semua merasa sakit, lebih baik Zaydan berterus terang saja kepada Sadila. Ia juga tidak tega jika harus terus menerus sembunyi-sembunyi di belakang wanita itu seolah ia sedang berselingkuh.


Hal yang benar jika Zaydan harus mempertahankan Elivia karna memang Elivia adalah istri sahnya. Konsekuensinya adalah, ia harus menghadapi kemarahan ibunya. Ia sangat tahu jjika ibunya sangat tidak menyukai Elivia. Dengan keputusan yang akan dia ambil, itu akan membuat ibunya semakin membenci Elivia. Entah, apakah dia bisa melindungi gadis itu atau tidak.


Zaydan menghela nafas sekali lagi sebelum melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya. Ia sempat menoleh ke arah pintu kamar Elivia sebelum ia membuka pintu kamarnya.


Didalam kamarnya, Sadila tersenyum menyambut kedatangan Zaydan. Wanita itu merentangkan kedua tangannya demi agar mendapat pelukan dari pria itu. Tapi Zaydan hanya melewatinya begitu saja tanpa ekspresi apapun. Pria itu duduk di sofa dengan menopang lengan ke lututnya. Menarik nafas dalam sebelum memulai kalimatnya.