DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Mencari Kepastian.



Pagi-pagi sekali Elivia sudah mematut dirinya di depan cermin kamar mandi. Ia sudah membasuh wajahnya berkali-kali untuk menyingkirkan lingkaran panda yang ada di kelopak matanya. Namun lingkaran hitam itu tetap tidak mau menghilang dari sana. Semalaman ia tidak bisa tidur karna terus teringat dengan pelukan Zaydan yang hangat.


Walaupun Elivia sudah berusaha membuang perasaan itu, tapi ia tetap teringat dan itu sangat menyebalkan. Karna membuat rasa rindunya kembali membuncah.


Sebelum pergi meninggalkan rumah, Elivia mengunci pintunya dan memasukkan kunci itu kedalam tasnya. Untuk sesaat ia terpaku di tangga kecil di depan pintu sambil menatapi mobilnya yang sudah tertutup debu.


Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan mobil itu. Di jual, atau ia harus berlajar mengemudi?


Ahh,, Elivia masih belum punya keberanian untuk mengemudikan mobil.


Elivia pergi ke hotel dengan menggunakan bis yang seperti biasanya. Sesampainya di sana, ia segera di sambut oleh Vanye yang langsung tersenyum kepadanya.


“Selamat pagi, bu Vanye.” Sapa Elivia lebih dulu. Menghentikan Vanye yang hampir saja membuka mulut untuk menyambutnya


Elivia memberikan kode kepada Vanye lewat senyumannya. Dan untungnya Vanye segera menangkap maksud Elivia itu. Ia tidak ingin karyawan yang lainnya tau tentang statusnya di hotel itu. Nanti setelah ia sudah cukup pengalaman dan mahir menjalankan hotel, baru ia akan memberitahu mereka semua.


Saat sedang istirahat siang bersama dengan rekan-rekannya yang lain, ponsel Elivia berbunyi. Ia segera mengangkat telfon dari Kafa itu. Sebelumnya ia telah permisi kepada rekan-rekannya dan menyingkir untuk menerima telfon.


“Ya Kafa?” Sapa Elivia.


“Kau dimana?”


“Aku? Aku sedang ada di hotel. Kenapa?”


“Apa kau lupa? Saat itu kau memintaku untuk mengajarimu cara mengemudikan mobil. Aku sudah di depan rumahmu dan kau malah pergi bekerja.” Nada suara Kafa terdengar kecewa.


“Kau di rumahku? Astaga. Bagaimana ini?”


“Mobilmu sudah di penuhi oleh debu, El. Apa iniaamsih bisa menyala? Hahahaha” ejek Kafa mencairkan suasana.


“Apa kau sedang mengejekku?”


“Tentu saja tidak. Jadi bagaimana? Apa kau bisa meminta ijin sebentar kepada atasanmu? Karna aku hanya punya waktu hari ini.” Jelas Kafa kemudian.


“Ijin? Oh, baiklah, aku akan coba meminta ijin dulu. Nanti ku hubungi lagi.”


“Oke.”


Lantas Elivia pun menutup panggilan itu kemudian pergi ke ruangan Vanye. Tentu saja untuk meminta ijin beberapa jam saja.


Vanye bahkan sampai tertawa melihat tingkah konyol Elivia. Padahal dia pemilik hotel ini, kenapa dia harus meminta ijin segala?


Setelah mendapatkan ijin dari Vanye, Elivia langsung mengirimkan pesan singkat kepada Kafa dan meminta Kafa datang ke hotel.


Setelah munggu lebih dari lima belas menitan, akhirnya Kafa sudah sampai di hotel. Elivia yang sedang menunggu Kafa di depan lobi langsung tersenyum menyambut kedatangan Kafa.


“Kau sudah datang?” Sapa Elivia.


“Masuklah, aku akan mengajarimu di sirkuit.”


“Sirkuit? Kenapa harus di sirkuit?”


“Karna aku tidak ingin kau menabrak orang dengan mobilku ini.” Seloroh Kafa.


“Heheehe..” Elivia baru tau maksud Kafa dan kemudian ia masuk kedalam mobil dan Kafa segera melesatkan mobilnya menuju ke sirkuit.


Hari ini, Kafa akan menjadi guru mengemudi yang hebat untuk Elivia.


Zaydan sedang serius dengan berkas-berkasnya di meja kantornya. Hari ini, ia sudah mulai bekerja di kantor seperti biasanya karna masa berkabung sudah selesai. Saat pintu ruangannya terbuka, ia segera melihat siapa yang masuk.


Sadila berjalan mendekat dengan senyuman lebar yang menghiasai wajahnya. Ia segera bergelayut di pangkuan Zaydan tanpa permisi terlebih dahulu. Tangannya bahkan sudah merangkul di leher pria itu.


“Dila, aku masih bekerja.” Usir Zaydan secara halus. Namun Sadila tidak menggubrisnya.


Baru setelah Zaydan menatap Sadila dengan tatapan tegas dan tajam, Sadila bangkit dari pangkuan Zaydan dan pergi kemudian duduk di sofa.


Hufh. Sambil menghela nafas, Zaydan terpaksa meninggalkan pekerjaannya dan pergi menghampiri Sadila.


“Ada apa?” Tanya Zaydan kemudian.


“Aku sudah buat janji dengan pihak hotel JE kalau kita akan berkunjung sore ini.” Lirih Sadila setengah takut memberitahu Zaydan tentang rencananya. “Kita masih akan melangsungkan acara pertunangan kita kan, sayang?”


“Dila, aku baru saja berduka atas kepergian nenek. Tidak bisakah kita menundanya sebentar lagi?”


“Tapi sayang....”


“Ku mohon.” Tatapan mata Zaydan bukan tatapan memohon. Tapi lebih kepada tatapan memaksa agar Sadila menuruti kemauannya.


Sadila menyadari hal itu. Dan itu membuat ia menjadi sedikit takut kalau ia akan gagal lagi kali ini.


“Tapi, bukankah semakin cepat akan semakin baik?”


“Apa kau tidak mendengarku? Pergilah. Pekerjaanku masih banyak.”


Dan Sadila tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa keluar dari ruangan Zaydan walaupun dengan keadaan marah dan kecewa.


Setelah kepergian Sadila, Zaydan menjadi tidak semangat lagi untuk mengerjakan pekerjaannya. Membahas hotel JE membuatnya kembali teringat dengan Elivia.


Zaydan tau kalau Elivia juga pasti merindukan dirinya. Ia bisa merasakan itu dari tatapan mata gadis itu saat ia memeluknya kemarin. Tapi masih ada sedikit keraguan di dalam dirinya. Ia takut salah mengartikan tatapan itu.


Dengan menghentakkan kakinya, Zaydan bangkit dari kursinya dan menyambar jasnya yang ada di gantungan belakangnya. Kemudian ia langsung pergi keluar dari ruangannya.


“Yang Mulia, anda mau kenana?” Tanya Lucas yang selalu standby di depan ruangan Zaydan.


“Berikan kunci mobil.” Pinta Zaydan.


“Saya kan mengantarkan anda.”


“Tidak usah. Aku harus pergi sendiri.” Tegas Zaydan.


Lucas tidak bisa membantah. Ia merogoh kunci mobil yang berupa kartu itu dari dalam saku jasnya kemudian menyerahkannya pada Zaydan.


Setelah menerima kunci itu, Zaydan segera melesat pergi meninggalkan Lucas yang nampak khawatir. Ia takut tuannya itu akan melakukan hal yang membahayakan. Karna lcuas sangat tau bagaimana kesedihan Zaydan setelah berpisah dengan Elivia dan sekarang ia ditinggal pergi oleh sang nenek.


Zaydan berlari kecil menuju ke basement gedung dimana mobilnya terparkir. Sesampainya disana, ia segera membuka pintu mobil dan langsung masuk ke dalamnya. Setelah menghidupkan mobil, Zaydan segera melesat keluar dari basement dan membaur bersama kendaraan lain di jalan raya.


Hanya satu tujuannya, yaitu hotel JE. Ia ingin memastikan perasaan Elivia padanya. Ia ingin bertanya, kenapa kemarin Elivia marah saat ia memeluknya padahal gadis itu jelas mengatakan kalau dia juga merindukannya. Ada sesuatu yang harus di perjelas tentang hubungan mereka.


Zaydan sudah tidak tahan terombang ambing dalam ketidak jelasan hubungan antara dirinya dan Elivia. Kerinduannya yang membuncah, membuatnya tidak sabar ingin segera sampai di hotel JE. Entah kenapa ia merasa kalau Elivia akan berada di sana. Padahal bisa saja Elivia berada di rumahnya.


“El...” Lirih Zaydan seraya memacu mobilnya dengan lebih cepat lagi.