DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Pria Penolong



Sudah seminggu sejak pernikahan itu. Dan Elivia tetap melakukan aktifiasnya seperti biasa. Sejak menikah, Zaydan tidak pernah tidur dirumah. Dia lebih memilih tidur dihotel daripada harus kembali kerumah dan tidur sekamar dengan Elivia. Pria itu hanya sesekali pulang untuk mengganti pakaiannya.


Sebenarnya hal itu nyaman untuk mereka berdua.


Elivia sedang serius meladeni para pelanggan yang datang. Saat seseorang memberitahunya bahwa ada yang ingin bertemu dengannya. Elivia langsung menemui orang itu. Seorang wanita dengan gaya yang mewah dan elegan sedang duduk dipojok restoran sambil menunggu Elivia.


“Yang Mulia,,” sapa Elivia. Dia menundukkan badannya tanda hormat.


“Duduklah, aku ingin bicara.” Kata Sophia sambil terus menyeruput minumannya.


“Ada apa Yang Mulia?”


“Malam ini temani aku keacara amal. Karna kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kerajaan, kamu wajib hadir diacara itu.” Jelas Sophia. Elivia yakin kalau mertuanya itu sedang merencanakan sesuatu.


“Tapi tidak ada yang tau kalau saya sudah menjadi anggota Keluarga Kerajaan, Yang Mulia.” Kata Elivia lagi. Untuk apa dia pergi keacara itu? Sedangkan tidak ada yang tau statusnya sebagai istri Zaydan.


“Jangan membantahku!” Sophia menatap Elivia dengan tajam. Dia seperti mengancam kalau sampai Elivia tidak hadir diacara itu, dia akan membuat Elivia menyesal.


“Aku sudah meletakkan gaun untuk kau pakai dikamar.”


“Baiklah, Yang Mulia.” Akhirnya Elivia mengalah. Dia tidak mau berdebat dengan selir kerajaan itu didepan orang banyak. Itu akan merugikan dirinya sendiri.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Elivia pulang dengan menggunakan angkutan umum. Dia berhenti didepan gerbang istana. Para penjaga yang sudah mengenalnya menunduk hormat dan membukakan gerbang untuknya. Jarak pintu gerbang dan bangunan istana lumayan jauh. Jadi Elivia masih harus berjalan lagi untuk sampai di Istana Kecil.


Didalam istana tidak nampak seorang pun disana. Ibu Suri juga tidak terlihat batang hidungnya. Biasanya dia akan berada diruang tamu dan membaca majalah atau buku.


Elivia langsung naik dan masuk kedalam kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang karna dia merasa sangat lelah. Dia menoleh saat mendengar suara dari kamar mandi. Dan saat pintu kamar mandi terbuka muncullah seorang Zaydan dari dalamnya, dengan hanya menggunakan handuk sampai sepinggang. Zaydan mengusap-usap kepalanya yang basah dengan handuk ditangannya. Mata Elivia langsung tertuju kepada dada bidang dan perut sixpack milik pangeran itu.


“Aaaaa..!!!!!!!!!!!!!!” Teriak Elivia. Dia langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dan memalingkan wajahnya kearah lain.


Zaydan yang terkejut dengan teriakan itu menatap heran dengan kelakuan Elivia yang sedang menutupi wajahnya.


“Ada apa denganmu ini?”


“Kenapa kau keluar seperti itu Yang Mulia? Apa kau tidak malu?”


“Kenapa harus malu? Memangnya kamu tidak pernah melihat pria bertelanjang dada?”


Elivia diam. Tidak menjawab. Membuat Zaydan menatap curiga kepadanya.


“Benarkah? Kau belum pernah melihatnya??!” Zaydan heran. Merasa tidak mungkin.


Wajah Elivia memerah. Dia memilih pergi meninggalkan kamar itu. Tak berapa lama kemudian, Zaydan pun keluar dari kamar itu dan langsung pergi entah kemana. Setelah dirasa aman, Elivia kembali masuk kedalam kamar, kemudian membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya dengan gaun yang sudah dikirimkan oleh Sophia. Gaun itu berwarna putih kombinasi biru langit dengan motif bunga di sebagian besar sisinya.


Beberapa pelayan masuk dan membantu Elivia merias dirinya. Karna dia sama sekali tidak pandai merias diri.


“Trimakasih.” Ucap Elivia kepada para pelayan. Pelayan itu menunduk dan pergi keluar kamar.


Tok,, tok,, tok,, terdengar pintu kamar diketuk dari luar.


“Boleh saya masuk Nona?” Tanya asisten pribadi Sophia. Wanita itu langsung membuka pintu sebelum Elivia sempat menjawabnya.


“Mobil sudah siap mengantarkan anda, Nona.” Katanya lagi.


Elivia segera turun kebawah. Asisten itu membukakan pintu mobil untuk Elivia. Dan segera membawa Elivia kesebuah gedung dimana akan diselenggarakan acara amal.


Ditempat itu sudah ramai sekali orang-orang yang semuanya berpenampilan Elegan. Elivia melihat ada beberapa artis juga. Elivia menarik nafas berat dan menghembuskannya perlahan. Dia menyiapkan diri dengan apa yang sudah disiapkan oleh Sophia didalam sana.


Elivia merasa seperti orang hilang saja. Hanya dia yang datang sendirian. Disana, tidak ada seorangpun yang dia kenal. Acara itu diadakan di sebuah kolam renang. Ada beberapa orang yang sedang berenang walau dimalam hari. Elivia terus berjalan menghampiri meja yang penuh dengan makanan. Dia mengambil beberapa makanan dan meletakkannya dipiring kecil. Kemudian dia pergi mencari kursi yang kosong.


Suara riuh tepuk tangan menyambut kedatangan seseorang. Ya, dia adalah Yang Mulia Pangeran Zaydan. Elivia melihatnya dengan acuh. Zaydan datang bersama dengan seorang wanita cantik yang terus bergelayut dilengannya. Wanita itu nampak sangat akrab dengan Sophia yang langsung menyambutnya.


Dengan lahap Elivia menyantap makanan ringannya. Dia menolak saat seorang pelayan menawarkan minuman kepadanya. Dia hanya memilih air putih saja. Sekilas Zaydan melihatnya, tapi tidak mempedulikannya. Dia terus mengobrol bersama dengan teman-temannya.


Elivia merasa sangat bosan. Tidak menyangka kalau acara amal akan semembosankan ini. Dia memutuskan untuk berjalan-jalan, berkeliling area itu untuk menghilangkan kebosanannya. Saat sedang berjalan dan melihat kesana kesini, Elivia menabrak seseorang, dia terpeleset dan jatuh kedalam kolam renang.


Byurrr...!!!


Semua orang yang hadir langsung melihat kearahnya. Ada yang berbisik dan menertawakannya. Dengan gelagapan Elivia berusaha keluar dari air yang sudah membasahi sekujur tubuhnya. Pakaiannya jadi basah kuyup. Elivia maluuuuu sekali.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Zaydan. Awalnya Elivia berfikir itu ditujukan kepada dirinya. Ternyata kepada Sadila yang ditabrak oleh Elivia. Zaydan langsung mendekap tubuh Sadila dan menjauhkannya dari kolam renang. Dan membawanya pergi dari sana. Sementara Elivia hanya melihatnya tidak percaya.


Si kodok itu benar-benar tidak peduli padaku ya? Batin Elivia. Dia merasa geram sendiri.


Tidak ada yang menolong Elivia. Dia sendirian dan basah kuyup. Semua orang-orang itu malah menertawakannya. Elivia berusaha menutupi pakaiannya yang transparan dan membuat tubuhnya sedikit tembus pandang. Wajahnya memerah menahan malu. Ia menangkupkan kedua tangan di dadanya berharap bisa mengurangi rasa malunya. Ia berusaha merangkak keluar dari kolam renang.


Tiba-tiba seorang pria melepaskan jas putihnya dan menutupi tubuh Elivia dengan jas itu. Pria tampan itu langsung mendekap bahu Elivia dan membawanya keluar dari area itu.


Pria itu mendudukkan Elivia disebuah bangku taman yang tak jauh dari area pesta.


“Kau baik-baik saja, Nona?” Tanya pria itu.


“Saya baik-baik saja, trimakasih Tuan.”


“Kafa.” Kata pria itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


“Elivia.” Menyambut uluran tangan itu.


“Bolehkan aku mengantarmu pulang?”


“Tidak usah Tuan, trimakasih. Saya bisa naik angkot atau taksi.”


“Kau siap kalau mereka menertawakanmu sepanjang perjalanan?” Ucapan Kafa membuat Elivia berfikir ulang. Kondisinya memaksanya untuk menerima tawaran dari Kafa.


“Saya akan sangat berterimakasih jika Tuan mau mengantarkan saya.” Kafa tersenyum mendengarnya.


Akhirnya Elivia diantar Kafa menggunakan mobilnya. Elivia memilih untuk pulang ke kostnya daripada pulang ke istana. Dia sangat tidak ingin bertemu dengan pangeran sialan itu dan ibunya.


“Trimaksaih banyak Tuan Kafa. Saya pasti akan membalas kebaikan Tuan.”


“Hei. Jangan panggil tuan dong, aku jadi merasa sudah tua.” Kelekar Kafa. “Panggil saja Kafa, begitu lebih nyaman.”


“Baiklah Tuan,, eh maksudku, Kafa. Sekali lagi terimakasih sudah menolong dan mengantarku pulang.”


“Sama-sama. Kalau begitu masuklah, segera ganti pakaianmu dengan yang hangat. Nanti kamu masuk angin. Aku pergi dulu, sampai jumpa lagi El.” Kafa memanggilnya seperti sudah akrab saja. Kemudian pria itupun menghilang dari pandangan Elivia bersama dengan mobilnya.