
Zaydan meraba sampingnya dengan mata yang masih terlelap. Ia langsung bangun saat tidak menemukan Elivia di sampingnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tapi tetap tidak melihat Elivia di sana.
Kemudian Ia bergegas membuka kamar mandi, berharap kalau Elivia akan berada disana. Tapi ia kembali kecewa karna tidak ada siapapun di kamar mandi. Tiba-tiba rasa khawatir menyergap hatinya. Ia takut jika Elivia pergi meninggalkannya.
Zaydan kembali bergegas berlari keluar dan turun ke bawah. Ia bertanya kepada setiap pelayan yang ia temui tentang keberadaan Elivia. Namun tidak ada yang melihat gadis itu.
Kemudian ia kembali berlari menuju ke ruang control dan meminta rekaman cctv. Disana ia bisa melihat kalau Elivia keluar diam-diam. Bahkan saat ada penjaga yang bertemu dengannya, penjaga itu mengangguk dan langsung membiarkannya pergi. Entah apa yang dia katakan kepada penjaga itu.
“Lucas! Cepat cari keberada Elivia. Sekarang.” Perintah Zaydan dengan tegas.
Lucas mengangguk dan langsung pergi untuk menjalankan perintah tuannya.
Tidak butuh waktu lama bagi lucas untuk menemukan keberadaan Elivia. Setelah itu ia segera memberitahu Zaydan kalau Elivia berada di rumah sakit.
Zaydan segera memacu mobilnya menuju ke rumah sakit. Saking kalapnya, ia bahkan sampai lupa dan tidak peduli kalau ia sedang tidak mengenakan masker.
Orang-orang di rumah sakit nampak terkejut dengan kedatangannya. Ia langsung pergi ke bangsal vvip tempat Arina di rawat. Dan benar saja, ia mendapati Elivia sedang terlelap di sofa.
“Kak Dan?” Arina yang tidak kalah terkejut dengan kedatangan Zaydan nampak terbelalak tidak percaya.
Tapi lagi-lagi Zaydan tidak mempedulikan Arina, tatapannya lurus menatap gadis yang sedang meringkuk di sofa itu.
Zaydan mengatur nafasnya yang terengah-engah sambil berjalan mendekati Elivia. Ia berjongkok di hadapan gadis itu dan membelai kepalanya pelan.
Hufh,,, akhirnya Zaydan bisa bernafas lega sekarang. Ia menatap wajah Elivia pias dengan sebuah senyuman yang muncul di bibirnya. Kemudian ia bangkit dan berjalan mendekati Arina di ranjangnya.
“Aku sudah mendengar semuanya dari kak el. Tapi, aku sama sekali tidak menaruh dendam ataupun benci padamu, kak. Aku juga tidak menyalahkanmu atas semua yang sudah terjadi.”
“Andaikan kakakmu berfikir hal yang sama denganmu.”
“Dia sudah menyerahkan seluruh perasaannya padamu. Dan sekarang giliranmu untuk menyerahkan seluruh perasaanmu padanya. Berusahalah untuk membujuk kak El, kak.”
“Apa aku masih pantas?” Zaydan merasa rendah diri dan tidak yakin kalau ia masih bisa membuat Elivia menerimanya.
“Jangan khawatir, aku akan membantu.”
“Terimakasih, Arin.”
“Sama-sama, kak. Aku akan pergi terapi, kak Dan tolong jaga kak El sebentar, ya.” Pamit Arina. Zaydan mengangguk dan tersenyum.
Seorang perawat masuk dan mengantarkan Arina untuk pergi ke ruang terapi. Sedangkan Zaydan kembali menghampiri Elivia yang masih belum bangun juga.
Zaydan menyangga wajahnya dengan tangan dan memandangi Elivia lekat. Ia teringat apa yang dikatakan oleh Arina kalau dia harus menyerahkan seluruh hatinya untuk gadis itu. Dan memang dia sudah siap untuk memberikan seluruh yang dia miliki untuk Elivia.
Elivia sudah terbangun, ia menyipitkan matanya dan mendapati Zaydan yang sedang tersenyum menatapnya. Antara sadar dan tidak, Elivia membalas senyuman pria itu. Entahlah, ia merasa seperti masih berada di dalam mimpi.
“Kau sudah bangun?” Tanya Zaydan.
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Elivia.
Zaydan hanya terus memandangi gadis itu. Kemudian ia beranjak dan langsung mendekap tubuh Elivia dengan sangat erat.
“Apa kau tau betapa khawatirnya aku saat aku bangun dan ternyata kau tidak ada si sampingku?”
Rasa penyesalan dan marah yang sebelumnya masih bercokol di hati Elivia, perlahan luntur oleh dekapan hangat itu. Hatinya yang terus berdesir mampu mengusir kemarahannya.
“Tolong jangan tinggalkan aku, El. Aku akan membayar semua kesedihanmu.” Ujar Zaydan. Ia semakin mempererat pelukannya.
Tapi Elivia tidak merespon. Ia hanya diam dan membiarkan Zaydan memeluknya sesuka hati.
“Ayo kita pulang.”
Walaupun Elivia masih diam dan nampak acuh dengan keberadaan Zaydan, tapi gadis itu tetap menuruti Zaydan. Mereka langsung pulang setelah berpamitan dengan Arina di ruang terapi.
Sepanjang perjalanan, Elivia terus saja terdiam. Fikrian dan hatinya sedang berkecamuk. Perasaan bersalah kepada kedua orang tuanya itu telah kembali menggerogoti hatinya. Dan kini, perasaan itu perlahan mampu menyingkirkan rasa cintanya.
Zaydan juga sedang tidak ingin mengganggu Elivia. Ia tau kalau gadis itu mungkin saja masih membencinya. Ia memberikan Elivia waktu untuk menenangkan diri.
Sesampainya di istana, Elivia melihat ibu suri yang sedang membaca majalah di ruang santai. Tapi ia hanya melengos saja. Kini ia juga jadi membenci ibu suri. Dengan teganya ibu suri berpura-pura tidak mengenalnya dan menjebaknya untuk menikahi cucunya.
Berada di istana membuat fikiran Elivia menjadi sempit. Emosinya kembali memuncak dan membuat perasaan benci itu semakin tumbuh.
“Kau mau ikut ke kantor, apa tinggal di sini saja?” Tawar Zaydan dengan sangat hati-hati. Ia bisa merasakan aura Elivia yang sudah berbeda dari sebelumnya.
“Aku akan ikut pergi bekerja.” Lirih Elivia yang langsung masuk kedalam ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Zaydan hanya bisa menghela nafas saja. Ia prustasi melihat sikap Elivia yang seperti itu.
Bahkan setelah sampai di kantor pun, Elivia masih dengan sikap yang sama.
Zaydan berusaha untuk tidak telalu ambil pusing. Banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan karna ia sudah libur berhari-hari demi mengurusi peternakan. Tapi percuma, ia tetap tidak bisa fokus sepenuhnya dengan pekerjaannya.
Berkali-kali ia melirik ke pada Elivia yang nampak sibuk dengan komputernya. Entah apa yang sedang di kerjakannya.
Zaydan berjalan ke meja kerja elviia. Tapi gadis itu sengaja mengacuhkannya dan tidak mempedulikan kedatangannya.
Sudah kepalang emosi, Zaydan meraih tangan Elivia dengan paksa hingga ia mendapatkan perhatian gadis itu.
“Tolong jangan seperti ini, El. Kau bisa memukulku sebanyak yang kau mau. Kau bisa memakiku atau apapun sesuka hatimu. Tapi tolong jangan diamkan aku begini. Kau membuatku prustasi. Kepalaku hampir meledak karna sikapmu.” Ujar Zaydan pada akhirnya mengeluarkan semua unek-uneknya.
“Jangan ganggu aku. Aku sedang berfikir tentang apa yang harus aku lakukan. Dengan melihatmu dan berbicara denganmu, fikrianku juga semakin buntu, Dan. Aku ingin membencimu, tapi aku tidak bisa. Apa kau tau betapa putus asanya aku? Aku merasa bersalah kepada kedua orang tuaku. Walau aku tau kalau kecelakaan itu bukan salahmu, tapi sekuat apapun aku berfikir untuk menghormati keputusan mereka, hatiku tetap tidak terima. Mereka meninggalkanku dan Arina begitu saja demi menyelamatkanmu. Apa kau tau kehidupan macam apa yang sudah ku jalani setelah mereka pergi? Kau tidak akan bisa bahkan untuk membayangkannya.” Hardik Elivia.
Kali ini ia mengeluarkan seluruh emosinya kepada pria itu. Perasaan yang sudah ia pendam sejak semalam itu kini tumpah sudah. Membuat genangan air di kedua sudut matanya.