
Elivia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu. Widya sedang serius menonton drama kesukannya di tv sambil mengunyah camilan.
“Kenapa cepat sekali kencannya?” Seloroh Widya.
“Siapa yang kencan?”
“Bukankah kau habis berkencan dengan Kafa?” Widya masih senang menggoda Elivia.
“Hei. Berhenti menggodaku.” Lirih Elivia. Ia sudah tidak punya tenaga untuk meladeni candaan Widya.
Widya nampak tidak peduli. Ia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari benda kotak itu.
“Wid?”
“Hmm?”
“Apa aku terlihat seperti tidak mampu melupakan Zaydan?” Tanya Elivia. Ia ingin meminta pendapat dari Widya.
“He em.” Jawab Widya enteng sekali sambil terus mengunyah keripik kentang.
“Apa??”
“Semua itu nampak sangat jelas bahkan bagiku yang bisa di bilang awam soal cinta. Walaupun kau menyangkal semuanya, tapi aku bisa melihat dari matamu El, kalau kau masih belum bisa melupakan pangeran Zaydan dan masih berharap untuk kembali padanya.”
“Huuufffffhhhh.” Lagi, Elivia tidak bisa menyangkal itu.
“Kenapa kau tidak mengesampingkan ego dan keras kepalamu itu dan menerima perminta maafan pangeran Zaydan saja? Jadi tidak perlu saling tarik ulur begini. Tali yang di tarik ulur begini, pada akhirnya bisa benar-benar putus dan akan sulit menyambungnya kembali.”
Rasa benci Elivia perlahan menghilang dengan digantikan oleh rindu yang membuncah. Apalagi saat ia bertemu dengan Zaydan tadi siang. Melihat penampilan Zaydan yang berantakan, membuat Elivia merasa sedikit trenyuh juga.
“Tapi dia sudah akan bertunangan dengan Sadila.”
“Itu salahmu sendiri. Kenapa kau harus memelihara keras kepalamu itu? Rasa bersalah? Benarkah itu semua karna rasa bersalahmu pada kedua orang tuamu? Bukan karna gengsi karna Zaydan tidak membelamu saat ibunya menamparmu? Aku tau itu rasanya sakit sekali, tapi bukankah itu semua masih bisa di bicarakan?”
Elivia semakin terpojok dengan ucapan Widya. Ia merasa tersinggung dengan semua ucapan itu. Ia seperti sudah tidak tahan memndengarnya dan langsung bangkit dari duduknya kemudian masuk kedalam kamar mandi.
****
Setelah selesai makan malam, Kafa langsung mengantarkan Elivia pulang ke rumah Widya. Setelah itu, ia melajukan mobilnya menuju ke sebuah club malam langganannya. Dia ingin bertemu dengan seseorang dan ia yakin kalau orang itu ada disana malam ini.
Kafa memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus VIP dimana biasa ia memarkirkan mobil. Setelah itu ia berjalan masuk ke dalam. Dua pria berbadan tegap langsung menyambutnya dan memeprsilahkannya untuk masuk. Mereka sudah mengenal siapa Kafa.
Di dalam, Kafa juga di sambut oleh pemilik club itu.
“Apa Dan ada disini?” Tanya Kafa kemudian.
Pemilik club itu langsung mengangguk dan mengantar Kafa ke salah satu ruang VIP dimana Zaydan berada.
Kafa membuka pintu itu dan terkejut dengan tingkah Zaydan yang ternyata sedang tertidur sambil menutup mata dengan lengannya. Hanya ada dia sendiri di sana. Beberapa botol minuman sudah nampak kosong dan sepertinya Zaydan yang telah menenggak semua isinya.
Zaydan tau kalau ada yang datang. Ia hanya melirik sekilas dan tidak mempedulikan Kafa yang berjalan mendekatinya.
“Kau ini sedang apa? Kenapa sendirian?” Tanya Kafa heran.
“Berisik. Pergi kau.” Hardik Zaydan kemudian.
Tapi tentu saja Kafa tidak mempedulikannya. Ia justru duduk di sofa di seberang Zaydan.
“Kau baik-baik saja?” Tanya Kafa lagi.
“Apa aku terlihat baik-baik saja bagimu? Kau pasti senang melihatku begini.” Zaydan masih belum mengangkat lengan dari wajahnya.
“Siapa bilang aku senang? Aku malah pusing melihat kalian seperti ini.”
“Sebenarnya kau ini kenapa, Dan? Seperti bukan kau saja? Bukankah kau mencintai Elivia? Kenapa malah ingin bertunangan dengan Sadila?”
“Kafa. Aku ingin meninju wajahmu.”
“Kenapa begitu?”
“Karna Elivia terlihat senang saat bersamamu.”
“Hahahahahahahahahaaha” Kafa tidak bisa menahan tawanya. Ia menuangkan minuman ke dalam gelas lalu meneguknya sampai habis.
“Kau tertawa? Kau bernai tertawa di depanku?” Hardik Zaydan.
“Apa kau melihatnya seperti itu? Apa Elivia nampak bahagia di matamu?”
Zaydan mengernyitkan keningnya mendapat pertanyaan itu. Ia melengos dan membanting punggungnya di sandaran sofa.
“Bukankah kalian sedang menjalin sebuah hubungan?” Tanya Zaydan lirih. Itu adalah pertanyaan yang sudah lama ia simpan dan ingin di tanyakan kepada Kafa maupun Elivia.
“Apa?”
“Bukankah ini kesempatanmu untuk mendapatkan Elivia?”
“Fikiranmu sedang tidak waras rupanya. Kau fikir Elivia itu barang yang bisa di buang dan di dapatkan? Kami tidak ada hubungan apapun. Kami hanya berteman.” Jelas Kafa pada akhirnya.
Zaydan kembali mengernyit. Ia menatap Kafa dengan tatapan curiga. Tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan Kafa.
“Aku masih belum habis fikir. Sebenarnya apa masalah kalian sampai berakhir seperti ini? Aku masih belum jelas.”
“Dia fikir pertemuannya denganku adalah sebuah kesalahan. Dia terus merasa bersalah karna merasa seolah dia merebutku dari Sadila. Ditambah dengan masalah kedua orang tuanya.”
Kafa mengangguk. Ia sudah tau perihal itu karna Elivia pernah menceritakannya.
“Lantas, kau mau menyerah begitu saja? Dulu kau bahkan langsung menghajar orang yang merebut minumanmu. Tapi ini apa? Ternyata kau lembek sekali.”
“Kau ini benar-benar minta di hajar apa bagaimana?” Hardik Zaydan yang sudah tidak tahan dengan sindiran Kafa.
“Dan, apa kau pernah berfikir kalau Elivia merasakan sakit yang sama sepertimu?”
“Kenapa dia harus merasakan sakit? Dia yang ingin mengakhiri hubungan kami. Aku fikir dia pasti sudah lega karna sudah berpisah dariku.”
“Lantas, apa kau sudah benar-benar sudah menceraikannya?”
Zaydan terdiam, ia menggelengkan kepalanya dengan perlahan. “Kurasa belum. Aku bahkan tidak pernah berfikir kesana.”
“Dasar breng**k. Kau belum resmi menceraikan Elivia dan kau malah mau bertunangan dengan Sadila? Sikap konyol macam apa itu? Bersikaplah seperti pria, Dan. Kalau kau memang berniat menikahi Sadila, akhiri hubunganmu dengan Elivia secara tuntas. Agar semuanya menjadi jelas.”
“Jadi maksudmu, Elivia itu masih istriku, begitu?”
“Bod*h.” Maki Kafa.
Zaydan kembali mengacak rambutnya dengan kasar. Entah kenapa hatinya seolah punya harapan kembali kepada Elivia.
Ah, tapi ia sudah terlanjur kembali bersama dengan Sadila. Tiba-tiba ia merasa menjadi pria paling brengsek di dunia.
Tiba-tiba ponsel Zaydan yang ada di atas meja bergetar dan ia segera mengangkatnya. Itu adalah ibunya yang mengabarkan kalau ibu suri tiba-tiba jatuh pingsan. Tapi sudah dirawat oleh dokter di istana.
“Kenapa bisa begitu, ma? Baiklah, aku akan segera pulang.” Ujar Zaydan dengan nada panik.
Zaydan segera bangkit dan langsung menyambar jasnya dari sandaran sofa di sebelahnya, kemudian melesat pergi keluar begitu saja tanpa menjelaskan apapun kepada Kafa.
Kafa hanya bisa ternganga saja tanpa bisa bertanya kenapa Zaydan tiba-tiba berubah menjadi panik seperti itu.