DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Kegagalan Ke Dua.



Mendapati kenyataan di luar dugaan yang sangat menyakitkan, membuat Kafa tidak mau tetap berada di pesta itu. Ia memilih keluar dari istana dan masuk kedalam mobilnya. Tapi ia tidak segera mengemudikan mobil itu. Ia hanya terus berada di balik kemudi sambil mencengkeram erat kemudi mobilnya.


Rasa kecewa, marah, sedih, dan terkejut, menjadi satu. Membuat emosinya memuncak seketika.


Dalam waktu yang bersamaan, Zaydan dan Elivia memilih menyendiri di taman samping istana. Tanpa sengaja Kafa melihat keduanya kemudian memutuskan untuk mengikuti mereka.


“Kenapa kau mengajakku keluar?” Tanya Zaydan. Kini mereka sedang duduk di bangku taman dekat kolam.


“Ah, didalam sana aku tidak punya teman. Aku seperti orang hilang.”


“Kan banyak keluargaku yang sebaya denganmu. Kau bisa mengobrol dengan mereka.”


“Aku tidak bisa masuk ke dalam obrolan mereka. Semua yang mereka bicarakan di luar jangkauanku. Aku bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang mereka bicarakan. Membuatku malu dan merasa rendah diri. Sepertinya aku memang tidak cocok berada disini. Disini bukan tempatku.”


“Sssstt. Jangan bicara begitu. Aku bisa sedih mendengarnya. Aku akan membantumu untuk menyesuaikan diri pelan-pelan. Oke?” Ujar Zaydan sambil membetulkan rambut Elivia yang tergerai di keningnya.


“Tapi aku tidak yakin.”


“Percayalah padaku dan jangan khawatirkan apapun.”


Genggaman  tangan Zaydan mampu membuat perasaan Elivia jauh lebih tenang. Ia menatap pria itu dan


mengembangkan senyumannya. Entahlah, Elivia merasa kalau kehidupannya setelah terlibat dengan Zaydan semakin sulit saja. Banyak sekali hal-hal yang tidak terduga yang membuatnya merasa sakit dan rendah diri. Ia semakin menyadari kalau keberadannya bukanlah di sisi Zaydan. Tapi ia mencintai pria itu dan ingin terus berada di sisinya.


Perhatian Zaydan dan Elivia teralihkan dengan sebuah langkah kaki yang berhenti di hadapan mereka. Kafa sedang menatap keduanya dengan tatapan pias dan penuh pertanyaan.


“Kafa?” Ujar Elivia. Ia bahkan sampai berdiri karna terkejut dengan kedatangan Kafa.


“Maukah kalian menjelaskan padaku? Aku tidak ingin salah faham dengan kalian berdua.” Ujar Kafa. Ada kesedihan sekaligus kemarahan di nada suara pria itu.


Zaydan ikut berdiri dan menatap kepada Kafa. “Kami sudah menikah. Dan Elivia adalah istriku.” Jelas Zaydan langsung tanpa basa-basi. “Maaf karna tidak memberitahumu sejak lama.”


Suasana di sekitar mereka menjadi serius. Membuat Elivia jadi salah tingkah dan merasa tidak enak hati.


“Sejak kapan? Siapa yang lebih dulu bertemu denganmu, El?” Kafa mengalihkan pertanyaan kepada Elivia.


Elivia menoleh kepada Zaydan yang berdiri di sampingnya, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Kafa. Begitu juga dengan Zaydan yang menatap kepada Elivia. Ia ingin membiarkan Elivia yang menjelaskan semuanya kepada Kafa.


“Dan. Sebelum aku bertemu denganmu, aku sudah menikah dengan Dan.”


Penjelasan Elivia itu meruntuhkan semua kesedihan Kafa. Ia semakin terkejut dengan kenyataan yang di ungkapkan Elivia. Semua otot di tubuhnya seolah melemas seketika.


“Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?”


“Berhentilah bertanya. Tidak ada alasan baginya untuk menjelaskan permasalahan pribadi ami padamu.”


Zaydan terbelalak mendengar nada kemarahan dari mulut temannya itu. Ingin sekali ia menonjok wajah Kafa karna ia merasa tersinggung dengan ucapannya. Kakinya bahkan sudah hampir merangsek kalau saja Elivia tidak mencegahnya dengan menahan tangannya.


“Dan, bisakah kau tinggalkan kami sebentar? Biarkan aku bicara dengan Kafa.” Pinta Elivia.


Sebenarnya Zaydan tidak ingin menyetujui permintaan Elivia, namun setelah ia melihat tatapan gadis itu yang nampak sangat berharap, akhirnya iapun menyetujuinya.


“Baiklah. Aku akan berada di sana.” Ujar Zaydan dengan menunjuk sebuah pilar yang berada tidak jauh dari mereka dengan tatapannya.


Elivia mengangguk dan mengantarkan kepergian Zaydan dengan tatapannya. Kemudian ia kembali duduk dan di ikuti oleh Kafa yang duduk di sebelahnya.


Gadis itu mere mas jemari  tangannya. Bingung mau mulai dari mana untuk menjelaskan situasinya kepada Kafa. Dia sungguh merasa tidak enak hati.


“Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal? Kalau kau memberitahuku sejak awal kalau kau ternyata istri Dan, aku tidak akan menaruh perasaan padamu, El. Sekarang aku sudah terlanjur jatuh hati padamu. Apa kau tahu betapa sakitnya hatiku sekarang?”


“Maafkan aku, Kafa. Aku tidak bermaksud membohongimu tentang pernikahanku dengan Dan. Aku hanya tidak punya alasan untuk menceritakan semuanya padamu karna aku sudah nyaman dengan pertemanan kita. Aku tidak ingin kau menjauhiku. Kau adalah teman terbaik yang aku miliki.”


“Teman..........” Lirih Kafa.


“Aku sungguh minta maaf.”


“Berarti saat acara amal malam itu, kau sudah berstatus sebagai istri Dan?”


Elivia mengangguk.


“Jadi gadis yang diceritakan Dan padaku waktu itu adalah kau. IBU SURI yang memintamu menikah dengan Dan.” Gumam Kafa. Tapi Elivia tetap bisa mendengar ucapan Kafa itu.


“Arina. Aku bersedia menerima permintaan nenek karna ia sudah membantu mengobati Arina dan membawanya ke rumah sakit. Hutang budi itu, membawaku pada sebuah pernikahan dan memaksaku terlibat dengan Dan. Awalnya aku sangat membencinya. Karna itu aku tidak mau menceritakan keadaanku padamu. Kami sepakat untuk berpisah setelah beberapa bulan menikah. Dan yang tidak ku duga adalah, kalau perlahan perasaanku terus tumbuh terhadapnya. Dan disinilah kami.” Elivia menceritakan semuanya kepada Kafa. Hatinya merasa sedikit ringan seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya.


Punya seseorang untuk bercerita dan berkeluh kesah, Elivia merasa sangat beruntung punya Kafa di sampingnya. Walaupun tetap ia merasa tidak enak hati terhadap pria itu karna sudah menyembunyikan statusnya dari Kafa.


Kafa merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kotak berisi cincin yang belum sempat ia berikan kepada Elivia. Ia membuka cincin itu dan memandanginya sesaat. Kemudian mengeluarkan cincin dari kotaknya dan memegangnya.


“Aku bahkan tidak punya kesempatan untuk memberikan ini padamu. Tapi kedepannya aku bahkan lebih tidak punya kesempatan.” Lirih Kafa lagi. Kemudian ia melemparkan cincin itu ke tengah kolam begitu saja.


“Kafa...”


“Maafkan aku, El. Karna aku sudah diam-diam menyukaimu tanpa tau kalau kau adalah istri orang. Jangan khawatir, aku akan tetap menjadi teman terbaikmu. Aku tidak akan membencimu apalagi sampai tidak mau bertemu denganmu. Kau bisa menghubungiku jika kau butuh sesuatu atau sekedar butuh teman cerita. Aku akan jadi pendengar yang baik.” Ujar Kafa kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Elivia sendirian.


Ucapan Kafa memperlihatkan kalau pria itu sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Tapi ia tetap mencoba baik baik saja. Ini belum sesakit saat ia di tinggalkan oleh tunangannya dulu. Jadi ia masih bisa mengatasinya.


Dua goresan luka kini tersemat di hati pria itu. Dua kali harus mengalami kegagalan percintaan. Entah, apa Kafa akan bisa bangkit dan melanjutkan hidupnya seperti sedia kala setelah ia mati-matian untuk bangkit dari kegagalan yang pertama. Wajah tampan dan kehidupan yang mapan serta status sosial yang tinggi, tidak menutupi kemungkinan kalau luka itu tidak akan datang dan membuatnya kecewa.