
Zaydan sedang mendengus kesal kepada gadis yang sedang terlelap di sampingnya itu. Tanpa merasa bersalah Elivia tidur begitu saja dan tidak mempedulikan siksaan batin yang sedang dia alami. Perlahan Zaydan melirik
ke arah mr. P yang sedang tegak berdiri dan siap bertempur. Tapi sayangnya tidak ada medan perang yang tersedia saat ini.
Dengan mendengus berkali-kali, akhirnya kamar mandi menjadi pilihan terbaik Zaydan saat ini. Walaupun sebenarnya ia enggan melakukannya.
Ah, akan lebih baik jika ada Sadila di sana.
Zaydan langsung menepis fikiran jahat itu dari kepalanya. Keinginan mr. P yang tidak keturutan ternyata mampu membuat otaknya tidak bisa berfikir jernih. Sangat membahayakan.
Demi mendinginkan kepalanya yang terasa hampir terbakar, Zaydan mengguyur kepalanya di bawah shower. Berharap air itu akan melunturkan kekesalannya dan kemurkaan mr. P.
Zaydan hanya bisa tertidur selama tiga jam sebelum pagi datang. Sedangkan Elivia nyenyak sekali tidurnya di lengkapi dengan mimpi indah yang sempurna.
Hari ini Zaydan menepati janjinya dan mengajak Elivia berkeliling ke tempat-tempat yang pernah ia datangi. Salah satunya di sebuah gedung dimana sedang di selenggarakan acara pameran otomotif yang kebetulan sedang berlangsung.
Elivia tidak punya pilihan untuk melarikan diri dari Zaydan. Ia hanya bisa mengikuti Zaydan yang terus menerus berkeliling memperhatikan mobil-mobil mewah yang sedang di pamerkan. Sangat membosankan baginya yang sama sekali tidak tertarik dengan hal seperti itu.
Ia tidak tau kalau Zaydan sebenarnya sedang balas dendam karna ia harus bersusah payah untuk menenangkan kemurkaan mr. P semalam.
Setelah hari menjelang malam, Zaydan mengajak Elivia ke sebuah danau dan duduk di tepinya dengan beralaskan rumput seadanya. Seperti yang sedang dilakukan oleh orang-orang di sekitar mereka.
“Tempat apa ini?” Tanya Elivia penasaran.
“Tempat yang pas untuk bermesraan.” Jawab Zaydan sambil berbisik.
Ulah Zaydan itu mendapat senggolan dari Elivia.
“Hehehehe. Nanti kau akan tau. Aku pastikan kau tidak akan pernah melupakan saat-saat ini.”
“Ya, sepertinya aku benar-benar tidak akan melupakannya.” Lirih Elivia. Entah kenapa nada suaranya dipenuhi dengan kesedihan.
Tepat pukul delapan malam, sebuah pertunjukan kembang api spektakuler membuat Elivia terkejut sekaligus takjub. Matanya berbinar demi menyaksikan pemandangan itu. Ternyata inilah yang sudah di tunggu-tunggu oleh mereka.
“Waahh..” Ujar Elivia.
“Indah bukan?”
Elivia setuju. Ia mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari kembang api yang terus memukau matanya itu.
Bukan Elivia tidak pernah melihat kembang api, tapi ia tidak pernah melihat yang sebesar dan seindah itu secara langsung.
Zaydan menatap Elivia dengan mengembangkan senyumannya. Ia meraih tangan Elivia untuk ia genggam. Ia sangat mencintai gadis itu. Dia berjanji dalam hati kalau dia akan melindungi Elivia apapun yang terjadi. Semoga saja dia bisa melakukan itu.
“Terimakasih, dan. Ini sangat indah.” Lirih Elivia.
Zaydan senang mendengarnya. Ia senang melihat Elivia senang.
Pertunjukan kembang api itu berlangsung selama satu jam penuh di tambah dengan pertunjukan drone yang membentuk beberapa karakter di ,langit malam. Puas sekali Elivia melihatnya. Rasa kesalnya karna mengikuti
Zaydan seharian di pameran otomotif hilang seketika. Berganti dengan perasaan bahagia karna pria itu membawanya ke sini.
“Masih ada? Ajak aku kesana.” Elivia berkata setengah memaksa.
“Kau yakin?”
Dan kini Elivia mengangguk dengan sangat yakin.
“Ooo ke. Ayo kita kesana.”
Elivia nampak sangat antusias saat Zaydan mengemudikan mobilnya menuju ke tempat terakhir. Sepertinya tempat itu akan jauh lebih seru dari pertunjukan kembang api.
Zaydan mengemudikan mobil menyusuri jalanan kota yang ramai. Di kanan kiri mereka terbentang gedung-gedung tinggi pencakar langit yang menjulang. Elivia sudah tidak sabar ingin melihat tempat terakhir itu.
Mobil mulai melaju di sebuah gang yang hanya bisa di lewati satu mobil saja. Dan kemudian Zaydan menghentikan mobilnya di depan sebuah warung sederhana dan mengajak Elivia kelaur dari mobil.
Elivia menurut saja. Ia mengikuti pria itu masuk melewati pintu yang ada di samping warung itu. Disana ada dua orang security yang memeriksa identitas mereka sebelum mereka di perbolehkan untuk masuk.
Elivia sempat mengernyit dengan keadaan yang menurutnya aneh itu. Tempat apa sebenarnya itu sampai mereka harus menunjukkan identitas mereka?
Saat pintu terbuka, suara musik yang menggelegar mulai terdengar. Perasaan Elivia jadi tidak enak. T api ia tetap mengikuti Zaydan menuruni sebuah tangga sampai tiba di sebuah ruangan yang di penuhi oleh manusia yang sedang terlarut dalam dentuman musik.
Dan benar saja, itu adalah sebuah bar. Zaydan mengajak Elivia ke sebuah bar. Tidak bisa di percaya.
Elivia melotot demi menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya. Bedanya kali ini ia benar-benar terkejut, bukannya takjub.
Tanpa merasa bersalah, Zaydan mulai menggoyangkan kepalanya sambil terus menggenggam tangan Elivia melewati gerombolan muda mudi yang sedang bergoyang mengikuti alunan musik yang di mainkan oleh seorang disk joki.
Setelah sampai di meja bar, Zaydan berbicara kepada seorang pria yang langsung mengantarkan mereka ke lantai dua. Ternyata Zaydan meminta sebuah ruangan private untuk dirinya dan Elivia. Peia itu sama sekali tidak peduli denagn ekspresi Elivia yang nampak sangat kesal kepadanya.
“Kenapa wajahmu begitu? Kau nampak kesal.” Seloroh Zaydan dengan masih menggoyangkan kepalanya dengan menatap ke arah kaca yang menyajikan pemandangan di lantai bawah. Bahkan musik itu bisa terdengar sangat keras dari ruangan ini.
Elivia hanya mendengus saja sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
Sebenarnya Zaydan tau kalau Elivia sedang kesal padanya. Ia mendekati gadis itu kemudian duduk di sampingnya.
“Kau bilang ingin datang ketempat yang sering ku datangi. Jadi kenapa kau cemberut setelah sampai di sini?” Tanya Zaydan.
Elivia masih merengut kesal. Ekspektasinya terlalu tinggi berharap jika tujuan terakhir mereka adalah tempat yang menyenangkan.
“Kenapa aku tidak sadar jika kau tetaplah Zaydan? Seorang pangeran yang tentu saja mempunyai kehidupan glamor seperti ini.” Dengus Elivia.
“Hahahahaha. Jangan salah sangka dulu. Aku hanya ingin bertemu dengan temanku. Dia pemilik bar
ini. Maka dari itu aku sering datang kemari.” Jelas Zaydan kemudian. Ia menghadapkan tubuhnya kepada Elivia yang masih membuang pandangannya. Ia masih malas menatap Zaydan.
Penjelasan Zaydan belum mampu mengalihkan perhatian Elivia. Ia tetap sebal saat tau kalau ternyata Zaydan punya sisi seperti ini. Kehidupan glamor yang sangat tidak disukainya. Untuk sesaat ia lupa siapa Zaydan.
Zaydan tetaplah Zaydan. Pria yang mempunyai kehidupan berbeda dengan Elivia. Sebagai seorang pangeran, tentu saja kehidupan pria itu di penuhi oleh euforia kesenangan. Jadi tidak heran kalau dia punya teman di luar negeri yang bahkan mengelola sebuah bar. Tidak mengherankan. Hanya saja Elivia sempat lupa seperti apa sosok pria yang di cintainya itu.