
Elivia bergegas masuk kedalam istana kecil saat ia baru saja sampai. Dia ingin segera menemui Zaydan. Tadi dia sudah menelfon Zaydan dan pria itu bilang kalau dia sedang ada di istana kecil.
Saat ia melihat Zaydan yang sedang berdiri di sebelah ruang keluarga, Elivia langsung menghambur memeluk pria itu dari belakang. Zaydan yang sedikit terkejut hanya menoleh sedikit kemudian menggenggam tangan Elivia.
“Kenapa? Apa terjadi sesuatu?”
“Aku merindukanmu.” Lirih Elivia.
“Astaga, kufikir kenapa.” Ujar Zaydan kemudian.
“Apa yang sedang kau lakukan?!” Sebuah teriakan mengejutkan Zaydan dan Elivia.
Di belakang mereka, telah berdiri Sophia bersama dengan Sadila. Sophia yang baru saja kembali dari luar negeri atas perintah Ibu Suri, sangat terkejut mendapati putranya yang sedang di peluk oleh Elivia.
Sama halnya dengan Sadila. Ia yang diminta Sophia untuk menjemputnya di bandara, ikut mengantarkan Sophia ke istana kecil. Dan betapa terkejutnya saat ia melihat pemandangan itu. Seketika hatinya terbakar api
cemburu.
“Ma? Kapan Mama kembali? Kenapa Mama tidak menelfon? Aku bisa menyuruh Lucas untuk menjemput Mama.” Zaydan yang menyadari situasinya, segera mengalihkan pembicaraan.
“Dasar wanita *** ***. Berani sekali kau menyentuh putra berhargaku?!” Sophia tidak terpancing dengan pertanyaan Zaydan. Ia sudah kepalang emosi melihat Elivia.
Sophia merangsek mendekati Elivia. Untung saja Sadila menahannya sehingga Elivia tidak terkena tamparan dari Sophia.
“Tenang, Tante. Aku yang akan membicarakan ini dengan Elivia. Tolong ikut aku.” Sadila mengajak Elivia keluar ke taman samping.
Elivia hanya mengikutinya saja tanpa berkata apapun. Ia sepenuhnya menyadari kalau sekarang bukanlah waktu yang tepat untuknya melawan.
“Anda ingin bicara apa, Nona?” Tanya Elivia yang memulai pembicaraan terlebih dahulu setelah mereka sampai di taman.
Sadila yang sebelumnya hanya memunggungi Elivia kini berbalik menatap Elivia. “Katakan padaku kalau apa yang baru saja kulihat adalah kesalah pahaman.”
Elivia terdiam. Ia tidak berniat membantah.
“Elivia, aku yakin kalau kau adalah orang yang menepati.janji. Dan aku juga yakin kalau kau masih ingat dengan janji yang kau buat denganku.”
“Iya, aku masih ingat semua itu.”
“Jadi, apa aku harus khawatir?”
Elivia kembali terdiam. Ia menghela nafas dalam. “Tidak, Nona. Anda tidak perlu khawatir. Aku dan Dan, tidak punya hubungan apapun. Seperti yang anda tau.”
“Baguslah. Aku lega mendengarnya. Aku akan memaafkanmu kali ini karna kau bilang aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Sekarang pergilah.”
Elivia berjalan pergi meninggalkan Sadila dengan perasaan sakit di hatinya. Di lihat dari sisi manapun, seberapapun kuatnya dia membela diri, tidak akan ada gunanya mengingat posisinya yang hanya sebagai orang ketiga antara Zaydan dan Sadila. Karna itu ia tidak mau membantah apalagi membela diri. Sejak awal posisinya memang sudah salah.
Sementara di dalam, Zaydan sedang merayu ibunya demi menenangkan amarahnya. Dibantu oleh Sadila yang langsung mengeluarkan rayuan mautnya.
Elivia termenung di halte bis. Ada saatnya ia sangat ingin menyerah di dalam hubungan rumit ini. Tapi lagi-lagi kondisi Arina membuatnya terpaksa bertahan walaupun dengan hati yang setiap hari tergores. Bukan apa, itu semua adalah buah dari kesalahannya sendiri. Tidak seharusnya hatinya lemah dan membiarkan perasaannya terus tumbuh.
Elivia turun di halte yang tidak jauh dari kostnya. Ia berjalan menyusuri gang dengan pundak yang lunglai.
Setelah masuk kedalam kosnya. Ia merebahkan dirinya di atas ranjang. Fikirannya sedang menerawang jauh. Berandai-andai bagaimana jika ia berbicara kepada Ibu Suri tentang masalah ini. Apa ia sudah berani untuk meminta kepada Ibu Suri agar ia bisa segera memutuskan tali pernikahannya dengan Zaydan? Lantas bagaimana nasib Arina? Walaupun Ibu Suri pernah mengatakan kepadanya kalau pengobatan Arina akan terus berlanjut meskipun ia tidak menikah dengan Zaydan, tapi hal itulah yang memberatkan hati Elivia.
Saat ponsel Elivia berdering, ia merasa malas untuk mengambilnya dari dalam tas. Ia membiarkannya saja. Tapi saat ponsel itu berdering untuk yang ke dua kalinya, barulah ia mengangkatnya. Ia bahkan tidak melihat telfon dari siapa itu.
“Halo?” Sapa Elivia dengan suara serak.
“El? Kau tidak apa-apa? Kenapa suaramu terdengar aneh? Kau sakit?” Kafa yang mendengar suara serak Elivia terdengar khawatir.
“Kafa... Tidak. Aku baik-baik saja. Kenapa menelfon?”
“Kau dimana? Bisa kita bertemu? Sudah lama kita tidak bertemu.”
“Aku di kost.” Jawab Elivia. Ia diam sejenak untuk memikirkan tawaran Kafa. “Baiklah.”
“Oke. Aku akan menjemputmu sekarang.” Suara Kafa terdengar senang. Pria itu langsung menutup ponselnya.
Sementara Elivia hanya meletakkan ponselnya di samping saja. Dengan masih dalam posisi berbaring.
Hanya butuh waktu satu jam untuk Kafa datang ke kost Elivia. Ia segera mengetuk pintu kamar gadis itu.
“El, aku sudah datang. Bisa kita pergi sekarang?” Ujar Kafa.dari balik pintu.
“Baiklah. Aku datang.” Elivia menyeret tubuh lunglainya untuk keluar dari kamar.
Didepan kamar, Kafa sudah menunggu dengan senyuman paling manis yang ia punya. Ia meneliti setiap wajah Elivia yang tidak nampak ceria.seperti biasanya.
Bahkan saat didalam mobil, Elivia menjadi gadis yang tenang dan pendiam. Sama sekali tidak seperti biasanya.
“Apa terjadi sesuatu? Kenapa wajahmu seperti itu?” Kafa yang tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, akhirnya melontarkan pertanyaan itu.
Elivia menoleh kepada Kafa. “Tidak ada. Aku hanya sedikit lelah saja.” Jawab Elivia. Ia tetap bungkam dan tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya.
Kafa memahami hal itu. Jadi ia memilih diam dan tidak banyak bertanya lagi tentang sikap Elivia.
Kafa mengajak Elivia ke sebuah bukit dengan landscape perkotaan yang indah. Sebenarnya pemandangan itu lebih indah lagi saat malam. Kafa memang sengaja datang lebih awal agar bisa mengajak Elivia menyaksikan pemandangan matahari tenggelam. Mereka masih punya beberapa jam lagi sebelum matahari kembali ke peraduannya.
Di sana, terdapat sebuah cafe yang menyajikan berbagai macam makanan dan minuman. Sambil menunggu waktu, Kafa memesan minuman kopi dan makanan ringan sebagai teman minumnya.
Hari ini, Elivia benar-benar menjadi pendiam. Membuat Kafa jadi merasa tidak enak sekaligus penasaran.
“El, aku tidak tau masalah apa yang sedang kau hadapi. Tapi aku ada disini untuk menghiburmu. Setidaknya saat ini, saat sedang bersamaku, bisakah kau lupakan masalahmu dan menikmati waktu kita? Aku bingung melihatmu yang jadi pendiam seperti ini. Aku tidak memaksamu untuk bercerita kalau kau tidak mau menceritakannya. Tapi percayalah, aku akan membuatmu tertawa nanti. Lihat saja.” Ujar Kafa sambil menyeruput kopinya.
Elivia hanya tersneyum saja menanggapi ucapan Kafa. Sungguh, ia merasa sangat berterimakasih karna dia punya teman seperti Kafa. Dia pria yang baik. Orang tuanya telah mendidiknya dengan sangat baik sehingga Kafa menjadi pria yang baik dan sangat menghargai orang lain.