
Elivia sudah bersiap dengan dandanan sederhana seperti yang selalu ia pakai. Walaupun di lemari pakaian tersedia banyak sekali gaun-gaun indah yang khusus di persiapkan untuk dirinya. Tapi ia memilih berpenampilan sederhana saja. Ia tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Apalagi ia akan pergi bersama dengan Ibu Suri.
Dan ternyata Ibu Suri juga berpenamilan sederhana. Bahkan Elivia sampai hampir tidak mengenalinya.
“Kenapa? Apa penampilanku jelek?” Tanya Ibu Suri.
“Apa Nenek akan pergi dengan berpenampilan seperti itu?” Tanya Elivia heran.
“Memangnya kenapa? Ini terasa sangat nyaman.” Ibu Suri mengembangkan rok bermotif bunga yang ia kenakan.
Elivia hanya ternganga saja. Penampilan Ibu Suri kali ini lebih mirip dengan orang biasa.
“Kita akan bersenang-senang. Aku tidak ingin di ganggu oleh orang-orang. Bagaimana? Apa penampilanku cukup untuk membuatku tidak dikenali?”
“Bahkan aku saja hampir tidak mengenali Nenek.” Ujar Elivia kemudian.
“Baiklah, kita berangkat sekarang.” Ajak Ibu Suri.
Dan akhirnya mereka pergi dengan hanya di temani oleh Arya, pengawal pribadi Ibu Suri. Yang tentu saja juga sudah mengubah penampilannya menjadi ‘biasa’.
Ibu Suri benar-benar terlarut dalam kesenangannya. Ia senang sekali bisa leluasa melakukan banyak hal tanpa harus direpotkan oleh orang-orang saat mengenalinya.
Mereka sudahmembeli banyak sekali barang. Ibu Suri membelikan Elivia tas, sepatu, pakaian, hingga perhiasan yang nilainya tidak berani dibayangkan oleh Elivia.
Padahal ia sudah berusaha untuk menolak semua pemberian itu. Ia tidak terbiasa memakai barang-baang mewah. Apalagi perhiasan. Ia sama sekali tidak suka memakai perhiasan.
“Tidak apa-apa. Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri untuk mengenakan barang-barang seperti ini. Demi nama baik keluarga kerajaan.” Begitulah rayuan maut dari Ibu Suri. Mengatas namakan keluarga kerajaan.
Kali ini, mereka berkeliling untuk mencarikan hadiah untuk Arina. Elivia terpaku di depan sebuah toko sepatu dan menatapi sepasang sepatu yang menarik perhatiannya. Tanpa sadar, ia mengusap sepatu itu.
“Itu akan sangat cantik jika dikenakan oleh Arina.” Ujar Ibu Suri mengejutkannya.
“Tapi Arina belum bisa berjalan dengan sempurna, Nek.”
“Kau bisa memberikannya sebagai hadiah untuk kesembuhannya nanti. Permisi! Tolong bungkuskan yang ini.” Pinta Ibu Suri kemudian kepada penjaga toko.
Penjaga toko wanita itu langsung membungkus sepatu itu kemudian memberikannya kepada Elivia.
“Terimakasih, Nek. Aku akan membalas semua kebaikan Nenek.”
“Tidak perlu membalasnya, El. Cukup lahirkan saja seorang pangeran atau putri mungil untukku.”
Elivia mati kutu. Ia tidak bisa menjawab ucapan itu.
Seorang pangeran atau putri mungil? Sepertinya harapan Ibu Suri terlalu tinggi padanya.
Elivia hanya nyengir saja sambil menggigit bibirnya. Ia memaksa senyumnya.
Sudah hampir seharian mereka habiskan untuk berkeliling. Walaupun Ibu Suri sudah berusia senja, tapi wanita itu masih mempunyai tenaga yang cukup banyak. Sudah banyak sekali barang yang mereka beli. Pun mereka sudah mencicipi berbagai makanan dan camilan yang ada disana.
Saat mereka berada di lantai 4 mall itu, mata Elivia menangkap pemandangan yang membuat matanya berbinar.
Sebuah arena ice skating!
Ia bahkan sampai tersenyum saat melihat ada seorang anak laki-laki yang terjatuh. Perlahan ia berjalan mendekati wahana itu dan berdiri di pinggirnya. Ia sangat suka melihat orang-orang yang meliuk-liuk meluncur di atas hamparan es. Nampak indah sekali baginya.
Waktu kecil, Elivia memang bercita-cita ingin menjadi atlet ice skating. Tapi ia terpaksa mengubur impiannya itu sejak kedua orangtuanya meninggal dunia.
“Kau mau bermain?” Sebuah suara yang sangat tidak diharapkan oleh Elivia.
Zaydan sedang berdiri di belakang gadis itu dengan memasukkan sebelah tangannya di saku celana. Pria itu mengenakan masker dan kaca mata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Sekilas nampak keren.
“Dan? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Elivia yang terkejut. Ia membelalakkan matanya kepada pangeran itu.
“Iya, Nek.”
“Baguslah. Tolong kau temani Elivia dulu ya, aku ada urusan mendesak.” Ujar Ibu Suri tiba-tiba. Membuat Elivia kebingungan.
“Tapi, Nek...” Elivia tidak punya kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya. Karna Ibu Suri segera memotongnya.
“Kau puas-puaskan saja dulu disini. Maaf Nenek harus pergi karna ada urusan mendadak.”
Setelah berkata begitu, Ibu Suri langsung pergi dengan terburu-buru tanpa merasa bersalah. Membuat Elivia ternganga sambil menghela nafas. Ia baru sadar kalau tengah dikerjai oleh Ibu Suri.
Ibu Suri selalu mencari waktu dan alasan untuk mendekatkan Elivia dan Zaydan. Seperti saat ini. Kedatangan Zaydan juga merupakan rencana dari Ibu Suri.
“Kau tidak perlu menemaniku disini. Pegilah. Aku yakin kalau kau juga masih punya banyak pekerjaan.” Ujar Elivia berusaha mengabaikan kehadiran Zaydan.
“Apa kau gila? Kau fikir tidak ada yang mengawasi kita disini?” Ujar Zaydan pula.
Elivia yang mendengar itu langsung mengedarkan pandangannya
ke seluruh tempat yang bisa ia jangkau dengan penglihatannya. Tapi ia tidak menemukan orang yang terlihat mencurigakan disana.
“Benarkah ada yang mengawasi kita?”
Zaydan yang tidak menduga kalau Elivia akan percaya dengan ucapannya, hanya bisa menahan senyum sambil menganggukkan kepalanya.
Membuat Elivia semakin yakin dengan ucapan Zaydan. Pria itu nampak sedang menahan tawanya melihat kepolosan Elivia.
“Apa kau senang?” Tanya Elivia mencibir.
“Apa?”
“Kau fikir aku se lugu itu? Percaya bahwa kita sedang diawasi? Aku tahu kau sedang berbohong”
Zaydan mengernyitkan dahinya. Ternyata ia salah menduga jika Elivia mempercayai ucapannya.
“Terus, kau mau apa?”
“Pergilah. Tidak usah mempedulikanku. Aku akan bermain disini sebentar.”
“Benar tidak mau ditemani?”
“Pergilah.”
“Ya sudah. Aku pergi. Tapi janji jangan mengadu kepada Nenek.” Ancam Zaydan.
“Kau fikir aku mau
menggali kuburanku sendiri? Sudah, cepat pergi sana.” Usir Elivia lagi. Ia mendorong tubuh kekar Zaydan untuk menjauh darinya.
Zaydan hanya bisa menoleh saja sambil terus melangkahkan kakinya untuk menuruti Elivia.
Setelah memastikan kalau Zaydan sudah menghilang dari pandangannya, Elivia kembali mendekati arena ice skating. Ia kembali sibuk memperhatikan orang-orang yang sedang bermain.
Ia ingin mencobanya. Sangat ingin. Tapi ia bahkan tidak tau cara menggunakan sepatunya. Selama ini dia hanya melihatnya saja tanpa berani untuk turun langsung. Karna ia sama sekali belum pernah belajar.
Elivia memberanikan diri untuk berjalan mendekati petugas yang menyewakan peralatan ice skating. Ia bertanya kepada petugas itu tentang biaya sewa peralatannya.
Ia mengintip ke dalam dompetnya yang hanya berisi beberapa lembar uang. Uangnya memang cukup untuk menyewa peralatan itu. Tapi ia merasa kalau harganya terlalu mahal.
Jadilah dia mengurungkan niatnya. Merasa kecewa kepada dirinya sendiri. Bahkan untuk menyenangkan dirinya sendiripun, ia masih harus berfikir dua kali. Karna masih banyak hal yang jauh lebih penting dibandingkan sekedar bermain ice skating. Lebih baik ia menggunakan uangnya untuk keperluan yang lebih penting saja.