DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Debaran Rasa Sakit



Elivia menenteng tas berisi pakaiannya dan keluar dari kamar Zaydan dengan perasaan hancur yang luar biasa. Bentakan dan ekspresi Zaydan terus terngiang di benaknya. Membuat rasa sakit itu semakin bertambah.


Di lantai bawah, ia berpapasan dengan salah satu pelayan Ibu Suri dan langsung bertanya tentang keberadaan Ibu Suri. Pelayan itu memberitahu kalau Ibu Suri sedang berada di dalam kamarnya. Kemudian Elivia bergegas pergi untuk menemui Ibu Suri dengan di antarkan oleh pelayannya.


“El.” Lirih Ibu Suri yang nampak merasa tidak enak hati kepada Elivia. Ia berfikir Elivia pasti marah dan tidak ingin lagi menemuinya.


“Nek, aku mau bicara sesuatu.” Ujar Elivia memulai kalimatnya.


“Baiklah, duduk.” Ibu Suri mempersilahkan Elivia untuk duduk di sampingnya.


Elivia segera duduk di sofa di samping Ibu Suri.


“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Ibu Suri dengan lirih. Ia meletakkan majalah yang ia baca ke atas meja dan beralih menatap Elivia dengan tatapan serius. Ia bersiap dengan apapun yang akan di sampaikan oleh Elivia.


“Aku minta maaf karna aku mengatakan ini, Nek. Tapi, ijinkan aku berpisah dengan Dan.”


Walaupun Ibu Suri sudah menduganya, tapi ia tetap saja terkejut mendengarnya.


“Elivia...”


“Aku tidak bisa hidup seperti ini, nek. Aku terus merasa bersalah kepada kedua orang tuaku. Aku memang merasa sangat berterimakasih kepada nenek karna sudah membantuku merawat Arina, tapi aku tidak ingin hidup di dalam rasa bersalah. Ini sangat menyiksaku, nek. Tolong biarkan aku pergi.” Elivia berkata seperti itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia sedang menahan diri untuk tidak menangis.


“Aku tidak akan menghentikanmu lagi, Elivia. Maafkan nenek karna sudah memaksamu untuk menikah dengan Dan. Aku tidak tau kalau ini akan membuatmu tersiksa. Padahal aku hanya ingin membuatmu bahagia. Ini semua memang salahku.” Lirih Ibu Suri sambil menundukkan wajahnya. Ia benar-benar menyesal telah melibatkan Elivia. Ia sama sekali tidak berfikir untuk menyakiti gadis itu.


“Terimakasih karna nenek tidak menahanku. Aku tulus berterimakasih atas semua yang sudah nenek lakukan untukku dan adikku. Aku akan mendoakan kesehatan nenek. Semoga nenek sehat dan panjang umur.” Ujar Elivia kembali. Ia bangkit dan langsung beranjak dari duduknya. Ia membungkuk untuk memberikan pernghormatan yang terakhir kalinya kepada Ibu Suri.


Berat sekali rasanya melepas kepergian Elivia seperti itu. Tapi Ibu Suri benar-benar tidak ingin menahan gadis itu lagi. Ia sudah cukup membuat Elivia menderita karna keputusan egoisnya. Saat ini Ibu Suri belum tau tentang pertengkaran Elivia dan Sophia tadi. Dan nampaknya Elivia juga tidak ingin memberitahu tentang hal itu.


Setelah keluar dari kamar Ibu Suri, Elivia mengambil tasnya yang tadi sempat ia letakkan di sebelah pintu saat ia belum masuk ke kamar Ibu Suri. Lantas ia berjalan ke arah pintu keluar. Sekali lagi ia melihat ke arah tangga dan ke lantai tiga, setelah itu barulah ia keluar dari istana. Membawa kepingan-kepingan hati yang baru saja di hancurkan oleh Zaydan.


Kali ini, Elivia tidak pergi ke rumah sakit, melainkan ia pulang ke kosnya dengan menggunakan taksi.


Sesampainya di kos, Elivia mencari kunci kamarnya di dalam tas kecilnya. Tapi ia tidak menemukannya. Perasaan ia meletakkan kunci kamar itu disana dan tidak pernah mengeluarkannya sejak terakhir dia pulang. Namun kini kunci itu sudah tidak ada disana lagi.


Elivia melirik jam tangannya, sudah hampir larut malam. Dan tidak mungkin ia membangunkan pemilik kos karna pasti dia sudah tidur. Tidak enak rasanya harus membangunkan pemilik kos tengah malam begini.


Elivia duduk di bangku yang ada di depan kamarnya. Sekali lagi ia mencoba untuk mencari kuncinya dengan deraian airmata yang sudah tumpah ruah tak terkendali. Hari ini tidak ada yang berjalan sesuai rencananya. Hari ini di penuhi oleh kekecewaan dan rasa sakit.


Elivia mencoba untuk menghubungi Luna. Untung saja temannya itu masih belum tidur dan mempersilahkan Elivia untuk menginap di rumahnya.


Elivia kembali membawa tasnya dan berjalan menuju ke jalan raya untuk mencari taksi. Untunglah masih ada taksi yang lewat dan ia segera menghentikannya.


Sesampainya di rumah Luna, ternyata gadis itu sudah menunggu kedatangan Elivia di depan rumahnya. Ia nampak sumringah setelah melihat Elivia turun dari taksi dan langsung menghampirinya.


“El!” Pekiknya.


“Luna, maaf aku menganggumu malam-malam begini.” Ujar elviia yang meras tidak enak hati.


Luna memperhatikan wajah Elivia yang nampak sembab. Ia tau kalau temannya itu pastilah sedang ada masalah.


“Ayo, masuk.” Ajak Luna kemudian. Ia meraih tas yang di bawa oleh Elivia untuk ia bawa masuk kedalam.


Rumah Luna sudah dalam keadaan sepi. Seluruh penghuninya sudah tertidur. Dengan hati-hati Luna dan elviia melangkah menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua dimana kamar Luna berada.


Setelah mereka masuk, Luna meletakkan tas Elivia di lantai dan mengajak Elivia untuk duduk. Ia memperhatikan temannya itu dan bersiap mendengarkan apapun.


“Terimakasih, Luna.”


“Apa terjadi sesuatu?”


“Aku tidak tau harus menceritakannya dari mana.”


“Pelan-pelan saja. Tidak usah terlalu di fikirkan. Aku tidak tau seberat apa masalahmu, tapi lebih baik kita tidur sekarang.” Ajak Luna kemudian.


Elivia tersenyum pias kepada Luna kemudian menganggukkan kepala.


Ya, saran Luna terdengar lebih baik. Ia akan tidur dan melupakan semua rasa lelah dan sakitnya hari ini. Besok, ia akan pergi ke rumah sakit dan memberitahu adiknya tentang semua yang sudah terjadi hari ini. Ia akan memberitahu Arina kalau hubungannya dengan Zaydan sudah berakhir.


Setelah satu jam berbAring di dalam selimut, Elivia belum berhasil juga untuk menjemput kantuknya. Ia menoleh kepada Luna yang nampaknya sudah terlelap di samping karna nafas Luna sudah terdengar teratur.


Elivia meraih ponselnya yang ada di atas nakas, dan ia menghela nafas kecewa setelah melihat kalau tidak ada satupun pemberitahuan panggilan ataupun pesan yang masuk.


Sebenarnya apa yang ia harapkan?


Ya, Elivia berharap kalau Zaydan akan menghubunginya. Atau setidaknya mengirimkan pesan padanya. Dia merasa kalaud irinya snagatlah bodoh dengan berharap kalau pria itu akan nmenghubunginya. Bahkan setelah Zaydan mempora-porandakan hati dan perasaannya.


Zaydan memang tidak memukulnya. Tapi bentakan dari pria itu sudah mampu menghancurkan perasaannya. Rasanya bahkan jauh lebih sakit saat ia mendapatkan tamparan dari Sophia.


Elivia menggenggam tangannya dengan erat. Ia bisa merasakan kalau tangannya gemetar seiring debaran rasa sakit yang terus berdetak di hatinya. Perlahan, airmatanya kembali mengalir. Ia memegangi dadanya yang kini mulai terasa sesak dan membuatnya sulit bernafas. Ia menutupi mulutnya untuk menahan suaranya agar isakannya tidak mengganggu tidur Luna.