
Prang!
Piring yang di pegang Elivia jatuh ke lantai dan membuat isinya berhamburan kemana-mana. Pandangannya terpaku ke layar tv yang sedang menampilkan foto dan namanya dengan keterangan sebagai orang ketiga atas hubungan Zaydan dan Sadila.
Lutut Elivia melemas seketika dan membuatnya terhuyung sampai jatuh terduduk di lantai.
Drrt, drrt, drrt...
Elivia terkejut saat ponselnya bergetar di atas meja. Ia segera meraih dan langsung mengangkatnya.
“Dan... Di tv...”Jawab Elivia dengan suara gemetar.
“Tidak apa-apa. Kau di rumah saja. Tidak usah keluar.” Ujar Zaydan berusaha menenangkan Elivia.
Sesal Zaydan karna tadi pagi ia harus pulang ke istana untuk mengganti pakaian. Kalau tau ini akan terjadi, ia akan tetap berada di rumah Elivia dan berada di sisi gadis itu.
“Apa yang terjadi? Bagaimana mereka bisa tau?” Tanya Elivia kemudian.
“Apalagi, ini pasti ulah Sadila. Jangan khawatirkan apapun dan tetap berada di dalam rumah, mengerti?”
“Baiklah. Aku mengerti.”
Elivia kembali meletakkan ponselnya ke atas meja. Namun ponsel itu kembali bergetar dan itu adalah telfon dari Kafa.
“El, kau tidak apa-apa? Kau dimana?” Tanya Kafa begitu Elivia mengangkat telfonnya.
“O, Kafa. Aku tidak apa-apa. Sekarang aku sedang di rumah.”
“Ah, syukurlah. Aku mengkhawatirkanmu setelah melihat berita di tv. Apa kau benar-benar kembali bersama dengan Dan?”
Elivia terdiam. Ia malu menjawabnya. Tapi Kafa mengerti arti dari diamnya Elivia itu.
“Dimana Dan?”
“Dia ada di istana.”
“El, dengarkan aku baik-baik, kau tidak usah ke luar rumah untuk sementara waktu ya, tetaplah di dalam dan tutup rapat pintu dan jendelamu.” Pesan Kafa. Ia tau kalau masalah seperti ini akan terasa berat bagi Elivia.
“Baiklah. Aku mengerti.”
Setelah menutup telfon dari Kafa, Elivia segera pergi untuk mengunci pintu dan jendela rapat-rapat. Ia mengintip dari balik tirai jendela kalau orang-orang mulai berkerumun di depan rumahnya. Sebagian dari mereka membawa kamera dan terus memanggil-manggil nama Elivia meminta gadis itu untuk keluar dari rumahnya.
Elivia berusaha untuk tidak mengindahkan mereka. Ia memilih untuk memindah saluran tv yang menayangkan film kesukaannya daripada harus melihat berita tentang dirinya. Dia berusaha untuk tidak panik dan mempercayakan masalah ini kepada Zaydan.
Tok, tok, tok.
Elivia terkejut saat mendengar sebuah ketukan di pintu rumahnya. Ia yang tadinya berbaring di sofa sambil menonton tv langsung bangun dan menatap ke arah pintu.
“Nona Elivia! Tolong buka pintunya!” Pekik suara seorang pria.
Dor, dor, dor!
Kali ini mereka bahkan sampai menggedor pintu Elivia. Entah bagaimana mereka bisa membuka pagar rumahnya dan merangsek masuk seperti itu.
Dor, dor, dor.
Dor, dor, dor.
Dor, dor, dor.
Semakin lama di biarkan, gedoran di pintu semakin keras dan mengganggu sehingga membuat Elivia kepalang emosi. Dia langsung bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke pintu.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” Tanya Elivia menatap tajam kepada satu persatu wartawan di sana.
Para wartawan itu nampaknya tidak peduli. Mereka terus berdesakan dan mengacungkan ponsel dan mic kepada Elivia sambil terus mengajukan pertanyaan.
“Tolong tanggapannya mengenai isu yang beredar, nona Elivia. Benarkah anda sudah merebut pangeran Zaydan dari nona Sadila? Apakah anda tidak merasa malu melakukan semua ini?”
Elivia menatap tajam kepada orang yang menanyakan hal itu padanya.
“Lantas, apa kalian tidak punya malu sudah menerobos kerumahku begitu saja? Aku bisa melaporkan kalian atas tindakan tidak menyenangkan dan pengrusakan.” Kali ini Elivia berkata dengan nada tegas. Membuat wartawan-wartawan itu langsung terdiam.
“Aku tidak tau siapa yang menyebarkan berita ini, tapi apakah sumber itu dari sumber yang terpercaya? Sampai-sampai membuat kalian berani menerobos masuk ke rumahku?” Imbuh Elivia lagi. Dia benar-benar berang.
“Lalu, apakah anda mengakuinya? Tolong katakan sedikit saja tentang hubungan anda dengan pangeran Zaydan.”
“Bukan kapasitas saya menjelaskan apapun. Jadi saya mohon kepada kalian semua untuk segera pergi dari sini.” Pinta Elivia.
Plak!
Sebuah tomat busuk yang entah berasal darimana tepat mengenai kening Elivia. Membuat gadis itu langsung membeku karna saking terkejutnya.
Sedangkan para wartawan langsung menoleh ke asal lemparan itu. Di pagar, tengah berdiri seorang wanita paruh baya dengan gaya yang nyentrik sedang menenteng sebuah tas bermerk dan juga sekantung buah tomat. Wanita itu menatap marah kepada Elivia.
“Siapa itu? Siapa itu?” Gumam para wartawan yang juga merasa heran.
“Apa yang baru saja anda lakukan nyonya?” Tanya Elivia dengan suara berat menahan emosi.
Wanita nyentrik itu berjalan mendekat ke arah Elivia dan langsung menunjuk tepat di depan wajah gadis itu.
“Kau! Berani-beraninya kau merusak hubungan putriku dengan pangeran Zaydan?!” Pekik wanita itu lagi.
Putri? Mungkinkah dia adalah ibu Sadila? Fikir Elivia.
Wanita itu bertambah marah saat Elivia bahkan tidak menundukkan pandangannya dan malah membalas memelototinya. Ia mengangkat tangannnya dan sudah bersiap untuk menampar wajah Elivia.
Buk!
Wanita itu terkejut karna tamparannya tidak mengenai wajah gadis itu namun malah mengenai punggung seorang pria yang tiba-tiba merangsek untuk melindungi Elivia.
Semua orang tercengang saat melihat Zaydan memasang punggungnya untuk melindungi Elivia. Pria itu bahkan memegang kedua pipi Elivia dan menatap khawatir.
“Kau tidak apa-apa?” Tanya Zaydan. Ia khawatir jika Elivia terluka.
“Aku baik-baik saja.” Elivia menjawabnya dengan lirih.
Setelah mendapatkan kepastian kalau Elivia benar-benar baik-baik saja, Zaydan segera tersenyum lega. Lalu hal yang tidak terdugapun terjadi. Pria itu langsung mengecup bibir Elivia lama. Membuat semua orang semakin tercengang saja. Bahkan Elivia juga terkejut di buatnya.
Para wartawan semakin sibuk mengambil gambar. Sementara ibu Sadila hanya bisa ternganga tanpa bisa melakukan apapun. Semakin marah, itu sudah pasti. Namun wanita itu hanya bisa diam mematung di tempatnya.
“Tolong jelaskan sesuatu, Yang Mulia.” Ujar salah seorang wartawan saat Zaydan sudah selesai mencium Elivia.
Dengan menghela nafas, Zaydan membalikkan badannya sambil menggenggam erat tangan Elivia.
“Bukankah apa yang baru saja kalian lihat sudah menjelaskan semuanya? Apalagi yang harus di jelaskan? Nanti malam akan ada rilis resmi dari sekretariat kerajaan. Jadi sekarang, aku minta kepada kalian semua untuk pergi dari sini.” Tegas Zaydan kemudian.
Memang, Zaydan datang kesana bukan tanpa rencana. Dan dia berani mencium Elivia bahkan saat ada banyak wartawan disana, itu juga bagian dari rencananya. Karna dia sudah berbicara kepada raja dan putra mahkota
tentang apa yang harus dia lakukan. Dan seluruh anggota keluarga mendukung hubungan Zaydan dan Elivia. Ini adalah rencananya untuk sekaligus memperkenalkan Elivia ke publik sebagai istrinya.