DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Adik dan Kakak Sama Saja.



“Lucas. Apa jadwalku selanjutnya?” Tanya Zaydan saat sedang dikantor.


“Tidak ada, Yang Mulia.” Jawab Lucas. “Yang Mulia, apakah anda hendak pergi kerumah sakit?”


Zaydan memandang keluar jendela. Hujannya lumayan deras. Dia hendak mengurungkan niatnya, tapi dia tidak tau kapan lagi dia bisa menemui gadis itu.


“Kita kerumah sakit.” Jawab Zaydan. Lucas segera mengambil jas Zaydan dan memakaikannya. Merekapun pergi menuju kerumah sakit kerajaan.


Sesampainya dirumah sakit, Zaydan segera menuju kelantai VVIP. Kali ini tidak ada security yang menghentikannya karna dia tidak memakai masker. Semua orang mengenalnya dan menunduk hormat padanya.


“Hai,, selamat siang,,,” sapa Zaydan saat Lucas membukakan pintu kamar tempat Arina dirawat.


“Yang Mulia Pangeran Dan??!” Pekik Arina yang sedang membaca buku diranjangnya.


“Wah,, sepertinya kau mengenalku ya,,” Zaydan menghampiri ranjang Arina sambil tersenyum. Lucas meletakkan sekeranjang buah-buahan di atas meja.


“Tentu saja saya mengenal anda, Yang Mulia. Anda kan kakak ipar saya,,” celoteh Arina.


"Hahahahahaha...." Zaydan tertawa.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Sudah lebih baik, Yang Mulia.. Berkat perhatian Yang Mulia Ibu Suri..”


“Aku turut senang mendengarnya.”


“Kenapa anda kemari?” Tanya Arina to the point.


“Aku hanya ingin menjengukmu saja. Sekaligus memperkenalkan diri. Ternyata kamu sudah tau siapa aku,,”


“Selain itu?”


Wah,, sifat Arina hampir mirip dengan Elivia. Banyak pertanyaan.


“Apa kakakku tau kalau anda datang kemari?”


“Tidak, untuk apa aku memberitahunya?”


“Ooohhh,,,” Arina meraih ponselnya dan mengirim sebuah pesan singkat.


“Eemmmm,,, apa kakakmu akan kemari?”


“Entahlah. Kalau aku memberitahunya tentang kedatanganmu, aku yakin dia akan segera berlari kemari.”


“Hei,, jangan begitu,, kasihan dia.”


“Kasihan? Kenapa?”


“Dia pasti sudah lelah bekerja.”


“Ooooooo,,,, saya tidak tau kalau anda seperhatian itu dengan Kak El. Apa mungkin anda menyukainya?” Arina menatap tajam kepada Zaydan. Yang memuat pria itu jadi salah tingkah.


“Untuk apa aku menyukainya? Itu tidak mungkin.” Elak Zaydan.


“Kenapa?”


“Hei.. Banyak sekali pertanyaanmu. Cepat makan buahnya.” Perintah Zaydan. Lucas segera memberikan piring berisi irisan buah mangga yang dikupasnya kepada Arina.


“Trimakasih kakak tampan..” Kata Arina lagi. “Kak El,, dia baik-baik saja kan di istana?”


“Apa maksudmu?”


“Aku mengkhawatirkannya. Dia menikah dengan anda, orang yang sama sekali tidak dikenalnya.” Arina menatap nanar keluar jendela.


“Tolong jaga Kak El,walaupun anda tidak menyukainya, tolong jangan perlakukan dia dengan kasar. Dia satu-satunya keluarga yang kumiliki. Dia sudah cukup banyak berkorban untuku. Dia bahkan merelakan masa depannya dan menikah dengan anda.” Air mata Arina mulai tumpah.


“Jangan menangis. Aku tidak akan memperlakukannya dengan kasar. Aku janji.”


“Kalaupun kalian berpisah nanti, saya mohon berpisahlah dengan bik-baik.”


Zaydan mengerutkan alisnya. Sejauh mana gadis mungil dihadapannya itu tau tentang pernikahannya dengan Elivia? Apa Elivia menceritakan tentang yang buruk-buruk kepadanya? Dia nampak sangat mengkhawatirkan kakaknya.


Zaydan jadi tidak tega melihat Arina. Dia menatap Arina dengan dalam. Seperti meyakinkan Arina bahwa kakaknya akan baik-baik saja berada diistananya. Dia berjanji dia tidak akan menyentuh gadis itu. Karna apa? Tentu saja karna dia tidak menyukainya.


“Kamu tau alasan dibalik pernikahan kami. Percayalah, aku tidak akan menyentuhnya. Karna aku tidak menyukainya.”


Arina mengusap airmatanya. “Yakin anda tidak akan menyukainya???”


Zaydan tertegun dengan pertanyaan itu. Dia tidak tau harus menjawab apa. Bagaimana dia harus menjawabnya? Dia sendiri tidak yakin.


“Sudahlah. Jangan berfikir yang macam-macam. Aku harus segera pergi. Istirahatlah,,”


Zaydan melangkahkan kaki dari ruangan itu. Pertanyaan dari Arina terus terngiang ngiang di telinganya.


Benarkah dia tidak akan jatuh cinta pada Elivia?


Diluar masih hujan. Zaydan menunggu Lucas yang sedang mengambil mobil di tempat parkir. Dia melihat Elivia yang sedang berlari dengan menggunakan tas sebagai pelindung kepalanya. Gadis itu tidak melihat Zaydan yang sedang berdiri di depan pintu masuk lobi rumah sakit. Dia nampak sangat terburu-buru.


Zaydan sudah mengangkat tangannya bermaksud ingin menyapa Elivia. Tapi gadis itu langsung pergi tanpa melihat kearahnya. Pria itupun menurunkan tangannya kembali.


Mobilnya sudah sampai didepan rumah sakit. Lucas segera keluar dari mobil dan memayungi Zaydan untuk masuk kedalamnya. Zaydanpun masuk kedalam mobil. Lucas segera mengemudikan mobilnya.


“Tunggu dulu. Stop,, stop,, stop,,!!” Teriak Zaydan, membuat Lucas berhenti mendadak.


“Ada apa Yang Mulia? Kenapa?” Tanya Lucas panik.


“Tunggu dulu. Kita berhenti dulu disini sebentar.” Perintah Zaydan. Lucas hanya bisa menuruti tuannya itu. Dia menepikan mobilnya agar tidak menghalangi mobil lain.


Dengan sabar Lucas menemani Zaydan menunggu didepan rumah sakit. Dia tidak berani berkomentar. Bahkan sampai malam tiba. Hujanpun belum reda. Mata Zaydan berbinar saat melihat Elivia yang keluar dari rumah sakit.


“Ikuti dia.” Perintahnya kepada Lucas. Dengan segera Lucas mengikuti Elivia.


**********


Hari sudah malam, Elivia berjalan keluar dari rumah sakit, menembus hujan yang masih saja turun. Dia berjalan menuju ke halte bis yang berada tak jauh dari rumah sakit. Dia menunggu bis yang akan membawanya pulang ke istana.


Sebelum bis datang, Elivia menunggu sambil berdiri di pojok halte untuk menghindari air hujan. Tiba-tiba,,,


Byuuurrrrr...!!!!


Sebuah mobil lewat digenangan air yang ada di depan halte dan menyiram tubuh gadis itu. Sekujur tubuhnya jadi basah kuyup. Bahkan rambut-rambutnyapun jadi basah. Pakaian yang sudah hampir kering di badan kembali basah. Zaydan yang melihat itu dari kejauhan segera turun dan membawa payung. Dia hendak menghampiri Elivia.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya sebuah suara yang mengejutkan Elivia. Pria itu melepas jasnya dan menutupi tubuh Elivia yang kedinginan.


“Kafa??” Entah dari kapan Kafa ada disana.


“Ayo kuantar pulang,,” kata Kafa kemudian. Dia segera menuntun Elivia untuk masuk kedalam mobilnya.


Dikejauhan, Zaydan menghentikan langkahnya dan tidak jadi menghampiri Elivia. Dia melihat Kafa yang sudah berlari dengan sangat kencang menghampiri gadis itu, dan membantunya dengan melepaskan jasnya.


Kenapa Kafa selalu ada ditempat dan waktu yang tepat?


“Trimakasih..” Ucap Elivia saat mereka sudah ada di depan kost Elivia.


“Cepat ganti pakaianmu.” Elivia hanya terdiam dan menundukan kepalanya.


“Kenapa?” Tanya Kafa heran.


“Aku malu..” Kata Elivia kemudian.


“Malu??”


“Kau selalu melihatku dalam keadaan terburukku.” Elivia tetap merunduk sedih. Dia benar-benar malu kepada Kafa.


“Hei,,,” kata Kafa mendongakkan kepala Elivia.


“Lihat aku,,, aku tidak masalah dengan itu semua. Aku sudah senang bisa berada disisimu saat kau membutuhkan bantuan. Tidak apa-apa. Tidak perlu malu.” Kata Kafa. Uuuuhhhh meleleh, meleleh deh,,


Entah kenapa tatapan mata Kafa serasa menembus sampai ke hati Elivia. Tatapan mata Kafa terlihat tulus. Tapi gadis itu tidak merasakan debaran apapun.