DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Akting?



“Ayo,, kutunjukkan kamarku dulu,,” Zaydan menarik lengan Elivia menuju kesebuah ruangan yang ada dilantai dua.


Setelah sampai didepan pintu ruangan itu, dengan perlahan Zaydan membukanya. Dan membawa Elivia masuk kedalamnya.


Ruangan itu sangat lebar dengan desain khas pria yang kalem,, warna catnya didominasi oleh warna abu-abu dan putih. Beberapa ornamennya juga mempunyai kesan yang maskulin. Disudut ruangan ada sebuah lemari kaca yang penuh berisi miniatur mobil dan robot limited edition.


Tepat diatas tempat tidur, tergantung sebuah figura raja, ratu, putra mahkota dan Zaydan yang masih terlihat imut. Mungkin umurnya baru sekitar 10 tahunan.


“Ini kamarku dulu, sebelum aku pindah ke Istana Kecil.” Jelas Zaydan.


Elivia berkeliling ruangan. Dia memperhatikan satu-persatu benda yang ada disana. Kemudian dia duduk diatas ranjang yang sepertinya sudah lama tidak ditempati.


“Kenapa pindah ke Istana Kecil`?”


“Aku ingin menemani Mama, dulu Mama hanya tinggal bersama nenek saja di Istana Kecil`. Dia sering menangis karna merindukanku. Yang Mulia raja tidak tega, jadi mengijinkanku untuk tinggal bersama mereka.” Elivia mengangguk-anggukkan kepalanya.


Tiba-tiba ponsel Elivia berdering, telfon dari Kafa.


“Halo,, Kafa,,” sapa Elivia.


“El.! Kamu dimana? Ayo kita jalan-jalan,,” ajak Kafa.


“Ehmm,,,, aku sedang sibuk. Lain kali saja ya,,?”


“Sibuk apa El? Aku baru dari restoran dan temanmu bilang.kamu libur hari ini.”


“Ehmmm,,, Kafa, aku sedang ada urusan. Nanti kuhubungi lagi,, oke?” Elivia merasakan hawa dingin di kamar itu. Zaydan sedang menatapnya dengan tatapan aneh.


“Mmm,,, baiklah,,” kata Kafa, kemudian merekapun mengakhiri percakapan itu.


“Kelihatannya kalian sangat dekat.” Sindir Zaydan.


“Tidak juga. Hanya berteman biasa. Dia sudah banyak membantuku” jelas Elivia.


“Ayo, kita turun kebawah.”Ajak Zaydan kemudian. Suasana hatinya berubah seketika. Dia mempercepat langkahnya meninggalkan Elivia yang berjalan pelan karna sepatunya yang berhak tinggi.


Ahh,,, dasar kodok.! Meninggalkanku begitu saja.! dengus Elivia.


“Dan, malam ini menginaplah disini. Kamu kan sudah lama tidak menginap disini.” Kata Ibu Ratu.


“Kamu dan istrimu bisa tidur dikamar lamamu, atau mau dikamar lain?”


“Tidak usah Yang Mulia,” tolak Zaydan dengan halus.


“El,, malam ini maukah kalian menginap disini?” Tanya Ibu Ratu kepada Elivia.


“Ah,,, itu,,, emmm,,,” Elivia tidak tau harus menjawab apa. Dia menatap Ibu Ratu dan Zaydan secara bergantian.


“Menginap saja disini. Dan.!” Ibu Suri menimpali. Dia tau kalau Zaydan tidak akan pernah menolak permintaannya. Setelah berfikir sejenak,


“Baiklah, kami akan menginap disini.” Jawab Zaydan. Membuat Elivia membelalakkan matanya, tidak percaya kalau Zaydan benar-benar akan menyutujuinya.


Apa?!!! Dia benar-benar tidak bisa membantah kata-kata nenek? batin Elivia.


“Tapi saya tidak membawa pakaian ganti Yang Mulia.” Jawab Elivia. Tidak mungkin kan dia memakai gaun itu saat tidur?


“Tidak usah memikirkan itu, disini banyak tersedia baju.” Kata Putri Mahkota.


Ingin sekali Elivia menolak tawaran itu. Tapi dia tidak berani. Bagaimana dia bisa berani sedangkan Zaydan saja tidak berani.? Apalagi setelah melihat wajah-wajah keluarga itu yang nampak tulus mengharapkan mereka untuk menginap disana.


Zaydan dan Elivia kembali masuk kedalam kamar, beberapa pelayan mengantarkan baju ganti dan baju tidur untuk mereka. Setelah itu pelayan itupun mengundurkan diri. Elivia segera mengganti pakaiannya dikamar mandi, sekalian membersihkan sisa make up di wajahnya. Dia kesulitan melepaskan ornamen yang tersangkut di rambutnya sehingga membuatnya lama.


Berkali-kali Elivia mencoba melepaskan ornamen itu sendiri, tapi tetap tidak berhasil. Malah tambah nyangkut.


“Au..!!!” Tanpa sadar Elivia mengaduh, ornamen itu semakin terjerat di rambutnya.


Zaydan yang mendengar teriakan Elivia langsung berlari kekamar mandi, dia membuka pintu kamar mandi dengan tergesa-gesa.


“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Zaydan dengan wajah panik.


“Aku baik-baik saja,”


“Kenapa kamu berteriak?”


“Aku tidak bisa melepaskan ini dari rambutku,,” kata Elivia menunjukkan ornamen yang masih tersangkut dirambutnya. Terdengar Zaydan yang menghela nafas lega. Dia mendekat kearah Elivia dan mengangkat tangannya hendak membantu gadis itu. Tapi Elivia malah memundurkan langkahnya sampai tubuhnya terhalang washtafel.


“Anda mau apa Yang Mulia?”


“Aku ingin membantumu melepaskan itu.” Kata Zaydan menunjuk kerambut Elivia.


Elivia yang masih merasa risih kalau bersentuhan langsung dengan Zaydan hanya menatap pria itu. Dia seperti tidak percaya dengan niat Zaydan.


“Apa yang kamu fikirkan? Aku tidak akan memakanmu.!” Dengus Zaydan kesal. Dia meraih lengan Elivia dan menarik tubuhnya mendekat.


Dengan perlahan Zaydan berusaha melepaskan ornamen itu. Dengan sabar dia melepaskan satu-persatu rambut yang terlilit. Sesekali Elivia mengaduh karna rambutnya tertarik.


Lama kelamaan, Zaydan semakin mendekatkan tubuhnya kepada Elivia. Bahkan nafas Zaydan mulai terasa berhembus diwajah Elivia. Jantung Elivia berdetak lebih kencang. Wajahnya tersipu dan mulai memerah.


Setelah berkutat lama dengan rambut dan ornamen, akhirnya Zaydan berhasil melepaskan ornamen itu dari rambut Elivia


“Sudah, rapikan rambutmu.” Kata Zaydan kemudian dia pergi keluar dari kamar mandi.


Elivia menatap bayangannya dicermin dengan rambut yang super acak-acakan. Dia kembali memegangi dadanya yang masih berdetak kencang. Setelah dia merapikan rambutnya, diapun keluar dari kamar mandi.


Zaydan sedang bersandar di ranjang dan sedang memainkan ponselnya. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.


Elivia berjalan mondar mandir mencari sesuatu.


“Apa yang kamu cari?”


“Selimut.” Jawab Elivia.


“Tidak ada selimut lain disini. Hanya satu ini.” Kata Zaydan menunjuk selimut yang masih terlipat rapi di ranjang.


“Ahh,, padahal udaranya sangat dingin. Bagaimana aku akan tidur tanpa selimut?” Gumam Elivia.


“Tidurlah disini.” Kata Zaydan santai.


“Apa? Tidur disitu?”


“Jadi bagimana maumu? Disini hanya ada satu selimut.”


“Tidak usah.! Aku tidur disofa saja.” Kata Elivia kemudian dia berbaring disofa dan berusaha memejamkan matanya.


Awalnya Zaydan tidak perduli, sampai Elivia terlelap pun dia masih tidak mempedulikan gadis itu. Dia terus memainkan ponselnya. Tapi perlahan dia mendengar suara Elivia yang menggigil, gadis itu mulai memeluk tubuhnya sendiri.


Hufh,,,,


Jiwa gentle Zaydan muncul. Dia mengangkat tubuh Elivia dan memidahkannya ke ranjang, kemudian menyelimutinya. Zaydan meraih telfon yang ada di atas meja dan meminta seorang pelayan untuk mengantarkan satu selimut lagi kekamarnya.


Setelah selimut diantar, Zaydan segera mengambil bantal dan berniat tidur disofa.


“Kenapa anda memindahkan saya kemari Yang Mulia?” Tanya Elivia yang terbangun dari tidurnya dan terduduk.


“Lebih nyaman tidur di ranjang. Aku akan tidur disofa. Tidurlah.” Kata Zaydan hendak berjalan menuju sofa.


“Kenapa anda melakukan ini?”


“Apa maksudmu? Sudah malam, tidurlah, jangan bawel lagi”


“Tolong jangan seperti ini Yang Mulia. Anda membuat saya tidak bisa membedakan yang mana akting dan yang mana kesungguhan.”


Zaydan yang mendengar itu langsung meletakkan bantalnya di sofa dan berjalan kembali mendekati Elivia. Dia mendekatkan wajahnya kewajah gadis itu, menatap matanya dalam-dalam.


“Apa kamu fikir semua ini adalah akting?”