
Hari ini adalah jadwal bagi Dan dan Sadila untuk melakukan shooting sekaligus fotoshoot untuk iklan produk terbaru yang sudah dijanjikan tempo hari oleh Sadila.
Elivia masih setia mengikuti kemanapun Zaydan pergi. Bahkan setelah berkali-kali ia mendapatkan tatapan sinis dari Sadila, ia tetap tidak peduli.
Shooting di lakukan di sebuah studio milik sutradara terkenal. Yang tentu saja merupakan rekanan dari Sadila.
Elivia kembali terbakar cemburu saat melihat pose-pose yang nampak sangat intim antara Zaydan dan Sadila. Ia menatap mereka dengan alis yang berkerut. Ia sangat tidak ingin merasa seperti itu, namun ia tidak berdaya untuk mengendalikan perasaannya.
Dengan perasaan menahan kecewa, Elivia lebih banyak menundukkan wajahnya agar ia tidak terlalu memperhatikan. Tapi ternyata hal itu saja tidaklah cukup. Ia masih merasakan hawa kecemburuan di dadanya. Sampai akhirnya ia memilih untuk menyingkir dari sana.
“Lucas, aku akan pergi ke luar sebentar.” Bisik Elivia kepada Lucas yang berdiri di sebelahnya.
“Baik, Nona.”
Elivia berjalan keluar dari studio. Ia memilih untuk duduk-duduk di bangku yang ada di depan gedung studio.
Ditempat yang tidak jauh darinya, nampak juga sekumpulan model-model pria yang sedang mengobrol ringan. Melirik kepadanya dengan di selingi beberapa tawa. Membuat Elivia merasa kalau mereka sedang menertawakannya.
Elivia berusaha mencari apa kiranya yang membuat mereka tertawa. Tapi ia tidak menemukan sesuatu yang aneh pada dirinya. Sampai ia memutuskan untuk mengabaikan mereka saja.
Tiba-tiba, salah seorang dari mereka datang menghampiri Elivia. Pria itu tersenyum ramah kepada Elivia.
“Hai, boleh aku duduk disini?” Tanya pria itu.
“Tidak.” Jawab Elivia langsung.
Pria itu terbelalak. Ia terkejut karna tidak menduga akan mendapat penolakan langsung dari gadis itu. Ia menoleh kearah teman-temannya yang semakin tertawa cekikikan melihatnya.
Merasa sudah di permalukan, pria itu belum juga menyerah. Ia malah duduk tepat di sebelah Elivia.
“Sudah ku bilang tidak boleh, kenapa masih duduk disini?” Tanya Elivia heran. Hatinya sedang dikuaSadi oleh rasa cemburu, pun lelah karna
harus menunggu sesi pemotretan yang cukup lama. Pria itu malah datang mengganggunya.
“Jangan begitu. Aku hanya ingin berkenalan saja. Aku Sota.”
“Tidak ingin tau. Cepat katakan kau mau apa?” Elivia tetap
bersikap acuh kepada pria itu.
“Kau cantik, apa kau sudah punya kekasih?”
“Kenapa kau ingin tau?”
“Hahahahaha. Aku suka gadis yang keras sepertimu.
“Pergilah, amarahku sedang ada di puncaknya. Aku tidak ingin melampiaskannya kepada orang yang tidak ku kenal.” Elivia mulai memperingatkan.
Tapi pria itu tidak peduli. Ia tetap menatap Elivia dengan aneh. “Tapi aku mengenalmu, bukankah kau temannya Luna?”
Elivia sontak menatap pria itu. Tidak.menyangka kalau dia ternyata teman dari Luna.
“Kenapa? Apa sekarang kau tertarik untuk mendengarkanku?”
Elivia masih menggeleng. “Sebaiknya kau pergi saja sekarang.”.Peringatan kedua dari Elivia.
Namun pria itu nampaknya tidak mengindahkan peringatan Elivia. Hingga akhirnya Elivia yang memilih untuk bangun dan pergi dari sana.
“Tunggu. Jangan jual mahal begitu.” Pria itu menghentikan Elivia dengan mencengkeram kuat pergelangan tangan Elivia sampai gadis itu kesakitan.
“Kau fikir apa yang kau lakukan? Lepaskan!” Elivia mencoba untuk mengintimidasi dengan tatapan. Tapi tidak berpengaruh.
“Ayolah, kita mengobrol dulu.”
“Lepaskan!” Pekik Elivia lagi sambil berusaha menarik tangannya dari cengkeraman pria itu.
“au!!! Ah, ah, ah!” Tiba-tiba pria itu meng aduh kesakitan saat sebuah tangan kekar memaksanya untuk melepaskan cengkeramannya di pergelangan tangan Elivia.
“Apa kau tidak mendengar kalau dia meminta untuk melepaskan tanganmu?” Lucas memelintir pergelangan tangan Sota dengan kuatnya sampai pria itu meringis kesakitan.
“Baiklah, baiklah. Lepaskan aku dulu.” Ujar Sota. Kemudian dia pergi dengan menahan malu. Ia menatap marah kepada Elivia dan Lucas.
Lucas berbalik dan melihat ke pada Elivia yang sedang mengusap pergelangan tangannya.
“Anda tidak apa-apa, Nona?” Tanya Lucas dengan suara lirih.
Elivia mengangguk. “Aku tidak apa-apa. Terimakasih.”
“Yang Mulia Dan sedang menunggu anda di ruangan make up.” Lucas memberitahu.
Elivia berjalan mengikuti Lucas menuju keruangan make up dimana Zaydan sedang menunggunya. Ia masih mengusap pergelangan tangannya yang masih terasa sakit.
Sesampainya di depan ruangan, Lucas mengetuk pintu dan memberitahu kedatangan mereka. Kemudian ia membukakan pintu untuk Elivia.
Elivia masuk dan mendapati Zaydan yang sedang duduk manis di sofa sendirian, tanpa Sadila. Entah gadis itu pergi kemana.
“Dari mana saja kau?” Tanya Zaydan.
Elivia tidak menjawab. Ia hanya mengedarkan pandangannya mencari sosok Sadila.
“Dimana kekasihmu?” Tanya Elivia kemudian sambil mendudukkan diri di sofa. Ia bertanya dengan anda acuh sehingga membuat Zaydan tersinggung.
“Kau kenapa? Marah?”
Elivia menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran saja dimana Sadila.”
”Kenapa kau terus mencarinya?”
“Aku tidak sedang mencarinya. Aku hanya bertanya.” Nada bicara Elivia berubah sedikit ketus.
Zaydan mengerutkan keningnya. Berusaha memahami ada apa dengan gadis yang duduk di depannya itu.
“Apa, kau sedang cemburu karna melihatku berpose mesra dengan Sadila?” Tebak Zaydan.
Elivia menatap dalam mata Zaydan. Ia menghela nafas sebelum memulai kalimatnya.
“Kenapa? Tidak boleh?”
“Kau kan tau semua itu hanya pose saja.”
“Siapa yang bisa membantah kalau kalian adalah sepasang kekasih?”
Zaydan semakin di buat terkejut oleh sikap Elivia. Ia mendekatkan wajahnya dan menumpu tubuhnya di atas lutut. Menatap Elivia dalam mencoba mencari akar permasalahan yang sebenarnya.
“Sebenarnya kau ini kenapa?”
“Hanya, merasa kalau seharusnya aku tidak berada disini.”
“Apa maksudmu?”
“Dan, seharusnya kita tidak seperti ini, kan? Benar kan?”
Zaydan hanya menghela nafas saja. “Bicaralah yang jelas. Jangan bertele-tele.”
Elivia menundukkan wajahnya dalam. Ia sedang menyusun sebuah kalimat sempurna untuk mengakhiri kecemburuannya.
“Apa kau ingat, dengan ucapanmu saat kita menikah dulu? Kau bilang aku tidak boleh berharap kalau kau akan memperlakukanku sebagai istrimu. Tapi sepertinya aku tidak bisa untuk tidak berharap begitu. Karna kau memperlakukanku dengan sangat manis. Bagaimana bisa aku tidak berharap begitu?”
“Tapi kau adalah istriku. Dan hal yang wajar jika kau berharap begitu kepadaku.”
“Tapi Sadila juga kekasihmu. Apa kau lupa?”
Zaydan kembali terkejut. Seolah ia tertampar dengan kenyataan bahwa hubungan mereka sangat membingungkan.
Elivia tidak salah. Status Sadila masih merupakan kekasih dari Zaydan. Bahkan jauh sebelum mereka menikah.
“Aku meminta tolong padamu, Dan. Tolong jangan perlakukan aku seperti itu lagi.”
“Kenapa?!” Zaydan sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
“Karna kau terlalu tinggi untuk aku gapai! Karna aku tidak mau jika perasaanku terus tumbuh padamu. Itu menyakitkan. Apalagi saat aku melihat kalian bersama. Aku terluka, Dan. Dan aku tidak ingin merasa terluka terus menerus tanpa sebuah kejelasan.”
Zaydan tertegun dengan pengakuan Elivia. Ia bahkan tidak percaya jika kalimat itu meluncur dari bibir ranum yang pernah di kecupnya itu.
“Lantas apa maumu?! Aku tidak bisa mengakhiri hubunganku dengan Sadila begitu saja. Aku belum punya alasan untuk itu. Aku tidak ingin menyakitinya.”
“Perlakukan aku seperti dulu kau memperlakukanku. Agar perasaan ini berhenti tumbuh sampai di sini.” Nada Elivia berubah menjadi permohonan.
Dan entah kenapa hal itu justru membuat hati Zaydan terasa sangat sakit. Ia menatap kedua bola mata Elivia bergantian.
“Lucas!!” Panggil Zaydan.
Lucas yang mendengar panggilan itu bergegas masuk kedalam. “Iya, Yang Mulia?”
“Antarkan dia pulang.” Perintah Zaydan dengan tegas.
Elivia menatap nanar pria itu kemudian berdiri dan keluar dari sana. Di ikuti oleh Lucas di belakangnya. Membawa perasaan berat yang terus menghimpit dadanya.