
Senyuman terus mengembang di kedua sudut bibir Zaydan. Ia berkali-kali melirik kepada Elivia saat ia beranjak pergi dari penginapan menuju ke toko pakaian.
Zaydan langsung menjadi pusat perhatian saat keluar dari mobil. Bukan apa, penampilannya memang lucu. Namun mampu di kalahkan oleh wajah ,tampannya yang membuatnya nampak pantas-pantas saja mengenakan pakaian bapak pemilik penginapan. Sebenarnya Zaydan merasa sedikit gugup dan malu. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
Hal pertama yang Zaydan lakukan adalah mencari pakaiannya. Walaupun toko itu termasuk kecil, tapi disana menjual pakaian-pakaian yang lengkap. Ia langsung memakai pakaian barunya saat sudah selesai memilih.
Kemudian ia membeli pakaian untuk Elivia dan menyimpannya di dalam mobil.
Zaydan langsung melesatkan mobilnya menuju ke peternakan. Sesampainya disana, ia langsung menemui pemilik peternakan.
Ia sempat melirik kepada sebuah mobil yang telah terparkir lebih dulu di halaman rumah.
“Hai.” Sapa Suna dengan ramah. “Mana Elivia?”
“Dia tidak ikut. Apa ayahmu ada?”
“Ada. Dia sedang berbincang bersama dengan tamu di kandang max. Aku sedang mau kesana, kau mau ikut?” Jelas Suna.
“Oke. Terimakasih.”
Zaydan langsung berjalan menuju ke kandang max bersama dengan Suna. Dari kejauhan dia bisa melihat kalau ayah Suna sedang bersama dengan seorang wanita.
“Ayah!” Panggil Suna yang berlari mendekat.
“Sadila?” Zaydan terbelalak saat tau kalau wanita yang sedang bersama dengan ayah Suna adalah Sadila.
“Hai.” Sapa Sadila dengan senyum lebarnya.
Zaydan lantas mendekati Sadila. “Bagaimana bisa kau ada disini?” Zaydan heran setengah mati.
“Tentu saja untuk membantumu.”
“Kapan kau sampai?”
“Aku baru saja sampai dengan kapal pertama yang berangkat dari kota.” Jelas Sadila. Ia senang bukan main saat melihat kalau Elivia tidak bersama dengan Zaydan.
“Apa kalian berteman?” Tanay ayah Suna.
“Dia calon suamiku, Paman.” Jelas Sadila yang terdengar sangat akrab dengan ayah Suna.
“Waaah. Sangat kebetulan. Andai aku tau sejak awal. Selamat ya, tuan. Calon istrimu berhasil meyakinkanku. Jadi aku akan menjual peternakan ini padamu.” Jelas ayah Suna kemudian.
Sedangkan Suna mencuri-curi dengar sambil mengelus-elus max. Ia bingung dengan gadis yang mengaku sebagai calon istri dari Zaydan. Nampak anggun tapi sombong. Tipe-tipe pemeran antagonis di dalam novel yang sering dia baca. Dia meliriknya tidak suka. Dia lebih suka dengan Elivia. Gadis sederhana tapi menebarkan kehangatan.
Antara senang dan bingung, Zaydan tetap mengucapkan terimakasih kepada ayah Suna. Dan berjanji akan mengurus semua keperluannya secepatnya.
“Aku akan senang jika nona Sadila yang membantu mengurus semuanya.” Ujar ayah Suna kemudian.
“Baiklah, tentu saja, Tuan.” Jawab Zaydan dengan segera sambil melirik kepada Sadila.
Gadis itu sedang berbangga hati. Ia menyembahkan senyuman manis kepada Zaydan. Kini ia merasa selangkah lebih dekat untuk mengambil hati ibu suri.
Selesai mengurus semua keperluan pembelian, Zaydan mengajak Sadila untuk duduk mengobrol di sebuah bangku yang ada di halaman rumah Suna. Ia menumpu kedua lengannya di lutut sambil mere mas jemarinya. Sedangkan Sadila, seperti biasa dia selalu bergelayut di lengan pria itu.
“Bagaimana bisa dia menerima penawaran darimu? Sedangkan kemarin aku sudah merayunya dengan segala cara. Apa yang kau tawarkan padanya?”
“Aku tidak menawarkan apa-apa. Aku hanya berkata bahwa aku akan memastikan peternakan ini baik-baik saja kedepannya. Bahwa aku akan tetap mempertahankan para pekerja dan mengurus kuda-kuda itu dengan baik. Sebelumnya aku sudah menyelidiki apa yang sebenarnya pemilik peternakan inginkan dari pembeli. Sebagian besar dari calon pembeli hanya peduli dengan perlombaan. Dan itu sama sekali tidak menyentuh hatinya. Saat itu aku yakin kalau dia menyayangi peternakan ini lebih dari apapun. Jadi aku hanya meyakinkan saja kalau kita sama sekali tidak peduli dengan perlombaan atau apapun itu. Kami hanya suka kuda, dan karna itu kami ingin membelinya dengan harga berapapun ,yang dia inginkan. Di luar dugaan, dia mengajukan harga yang jauh lebih murah dari pasaran.” Jelas Sadila berapi-api.
Zaydan memang merasa terbantu dengan kedatangan Sadila. Gadis itu memang cerdas. Kenapa dia tidak berfikir sejauh itu?
“Terimakasih, Dila. Berikan dia harga di atas pasaran. Kita harus menghargainya. Tapi bukankah seharusnya kau mengabariku dulu tentang kedatanganmu?”
“Aku ingin memberimu kejutan. Kenapa? Kau seperti tidak suka dengan kedatanganku.”
“Bukan begitu. Kau tau sendiri aku sedang bersama dengan Elivia.”
“Aku tidak pduli. Sekarang kau sudah percaya diri kalau nenek akan menyukaiku. Aku sudah membantu akuisisi peternakan yang sangat dia inginkan, kan?”
Entahlah. Yang jelas Zaydan semakin merasa khawatir dengan Elivia. Ia tau keberadaan Sadila akan menyakiti gadis itu. Ah, Zaydan merasa seperti peselingkuh saja. Kepalanya pusing dan terasa ingin meledak.
“Ngomong-ngomong, dimana gadis itu?”
“Di penginapan. Apa kau akan kembali ke kota?”
Sadila langsung menggeleng. “Aku akan kembali bersama denganmu. Mumpung kita ada disini, ayo kita berkeliling.” Ajak Sadila kemudian.
“Sebaiknya kita kembali ke bawah.” Ujar Zaydan. Ia memaksa Sadila untuk melepaskan gandengannya dengan langsung beranjak dari duduknya.
Sadila hanya memperhatikan kekasihnya itu berjalan menuju ke mobilnya. Ia tahu kalau posisinya di hati pria itu sedang terancam. Ia bisa merasakan kalau perlahan perasaan Zaydan beralih kepada Elivia. Maka dari itu
ia tidak ingin membuang-buang waktu dan memberikan kesempatan kepada keduanya untuk lebih dekat lagi. Ia harus membuat mereka berpisah secepatnya.
Sadila mengikuti Zaydan dan masuk kedalam mobilnya sendiri. Kemudian melajukan mobilnya mengikuti mobil Zaydan yang melaju menuju ke tempat Elivia berada.
Semakin dekat dengan penginapan, perasaan Zaydan semakin tidak enak. Ia tidak tau bagaimana harus menjelaskan kondisi ini kepada Elivia. Membayangkan raut wajah Elivia yang sudah pasti akan sedih jika melihat Sadila, membuat hati Zaydan terasa seperti di iris. Perih sekali.
Elivia adalah prioritasnya saat ini. Dia sudah berjanji akan menikmati waktu berdua bersama dengan Elivia selama mereka berada di negara ini. Tapi siapa yang menyangka kalau Sadila akan menyusulnya seperti ini? Ia tau kalau ibunyalah yang ada dibalik kedatangan Sadila. Membuat posisinya semakin sulit. Berada di antara dua wanita membuatnya tidak bisa berfikir jernih lagi. Tapi yang jelas, perasaannya lebih condong kepada Elivia. Gadis itu adalah pemilik hatinya sekarang.
Zaydan menepikan mobilnya di tepi pantai yang tadi sempat di beritahu oleh Elivia kalau dia akan berada disana. Setelah mobil terparkir sempurna, ia segera keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya untuk mencari Elivia.
Di kejauhan, ia bisa melihat Elivia yang sedang melambai-lambaikan tangannya dengan tubuh yang penuh lumpur. Gadis itu tersenyum lebar saat melihat kedatangannya.
Tapi Zaydan tidak mampu membalas senyuman manis itu. Karna saat Sadila muncul dari belakangnya, senyum Elivia langsung hilang seketika.
Dan saat itu Zaydan tau kalau ia akan berada di posisi dan pilihan yang sulit.