DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Cinta Itu Masih Terjaga.



Selama tiga hari ini, berita tentang pertunangan pangeran Zaydan dan kekasihnya sudah tersebar di jagat media maya. Orang-orang berlomba-lomba memberikan selamat kepada mereka lewat media sosial. Menggantikan kabar yang beredar tentang Kafa dan Elivia.


Elivia berusaha untuk tidak mempedulikan berita itu. Walupun semua orang yang dia temui pasti sedang membicarakan tentang hal itu, namun ia berusaha untuk tidak memasukkannya kedalam hati.


Hari ini, Elivia mendapat tugas untuk menjemput manajer baru hotel JE yang baru datang dari paris. Ia di antarkan oleh supir hotel untuk pergi ke bandara menggantikan Sarah, sang pemilik hotel.


Sesampainya di bandara, Elivia segera menunggu di terminal kedatangan luar negeri dengan memegang kertas bertuliskan ‘Vanye’.


Dari arah dalam gedung bandara, nampak kerumunan orang-orang keluar dengan mendorong koper dan troly masing-masing. Elivia meneliti setiap wajah yang ia anggap sebagai Vanye. Namun ternyata orang-orang yang ia kira Vanye itu terus berjalan melewatinya.


“Kau dari hotel JE?” Tanya seorang wanita anggun berambut sebahu dan mengenakan kacamata. Tangannya memegangi pegangan kopernya.


“Nona Vanye?” Tanya Elivia kemudian sambil memperhatikan wajah manis itu dengan seksama.


Vanye mengangguk sambil tersenyum ramah. Lesung pipinya membuat wajahnya bertambah manis saja.


“Saya Elivia, nona. Selamat datang. Mari.” Elivia berusaha bersikap ramah juga. Ia mengajak Vanye pergi ke mobil yang sudah menunggu mereka.


Sopir hotel membantu memasukkan koper Vanye ke dalam bagasi mobil. Kemudian setelah mereka semua masuk kedalam mobil, mobil segera meluncur menuju ke hotel.


Suasana di dalam mobil terasa sedikit canggung. Apalagi saat  Vanye memejamkan mata. Nampaknya wanita itu lelah dan ingin istirahat. Sebisa mungkin Elivia bersikap tenang agar tidak mengganggu Vanye.


Satu jam kemudian, mereka sudah tiba di hotel je. Dengan hati-hati ia membangunkan Vanye yang nampak lelap dalam tidurnya.


“Nona, kita sudah sampai.” Ujar Elivia.


Untungnya Vanye segera bangun sehingga tidak membuat Elivia membangunkannya untuk ke dua kali.


Setelah mengantarkan Vanye ke ruangan Sarah, Elivia kembali ke pekerjaannya semula. Ia membereskan salah satu kamar suite bersama dengan Widya.


Widya yang agak heran dengan sikap pendiam Elivia, nampak berfikir kira-kira apa penyebabnya? Dan kemudian dia baru teringat soal kabar jika Zaydan akan bertunangan dengan Sadila.


“Kau baik-baik saja?”  Tanya Widya sambil terus mengganti seprei.


“Apanya?”


“Kau pasti juga kefikiran tentang masalah pertunangan itu, kan? Kenapa kau diam saja? Jangan di pendam semuanya sendiri, El.”


“Aku tidak memendam apapun. Itu sudah bukan urusanku lagi.” Jawab Elivia berusaha menyembunyikan kegugupannya.


“Aku tau, kalau kau sebenarnya masih punya perasaan kepada pangeran Dan.”


“Jangan sok tau.” Hardik Elivia.


Widya memilih untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Padahal ia sudah membuka mulut dan bersiap dengan pembelaannya. Namun ia bisa merasakan kalau suasana berubah menjadi aneh dan dingin.


Selesai membereskan kamar, Elivia dan Widya turun ke loby sambil membawa sprei kotor untuk di bawa ke ruang cuci.


Apa yang dikatakan oleh Widya memang benar adanya. Pada kenyataannya, hatinya memang sakit saat mendengar kalau Zaydan akan bertunangan dengan Sadila. Ia tidak menyangka kalau Zaydan memilih untuk kembali bersama dengan Sadila.


Tapi lagi, itu semua sudah bukan urusannya. Bukankah ia sudah memilih untuk membenci Zaydan dan fokus pada hidupnya sendiri? Lantas kenapa dia masih bisa sakit mendengar kabar itu?


Padahal Elivia sepenuhnya menyadari kalau perasaannya kepada Zaydan masih tersimpan rapi di hatinya. Jujur, harapan itu masih ada. Cinta itu juga masih terjaga dengan baik. Dia hanya berpura-pura kuat saja untuk melatih dirinya sendiri.


Brukkkk.


Seprei yang di bawa oleh Elivia terjatuh di lantai begitu saja. Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah ballroom. Tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku dan tidak bisa bergerak. Ia merasakan lututnya sudah lemas dan ia hampir saja jatuh lunglai di lantai.


“El?” Ujar Widya yang berjalan di belakang Elivia. Ia menghampiri gadis itu dan membantunya memungut seprei yang terjatuh. Ia mengikuti arah pandang Elivia dan ikut terkejut dengan orang yang sedang berdiri di depan mereka.


Tak jauh di depannya, langkah Zaydan juga terhenti. Ia menatap pias kepada Elivia. Sekilas pandangan mereka bertemu. Memantik debaran yang muncul di hati keduanya.


Elivia berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan dirinya. Setelah ia berhasil menguasai diri, ia dan Widya segera membungkuk untuk menghormati pangeran Zaydan dan juga Sarah yang sedang bersama Zaydan dan Sadila.


Kemudian walaupun dengan lutut yang gemetar, Elivia berjalan melewati Zaydan dengan di ikuti oleh Widya.


“Mari, silahkan ikut saya, Yang Mulia.”


Elivia masih bisa mendengar Sarah mengucapkan kalimat itu seiring langkahnya yang semakin menjauh.


Sesampainya di ruang cuci, Elivia segera memasukkan seprei kotor itu ke dalam keranjang cuci. Karna sudah tidak sanggup menopang tubuhnya dengan lutut yang gemetar, akhirnya Elivia ambruk di lantai begitu saja.


“El!” Pekik Widya yang langsung menghampiri Elivia dan membantunya berdiri. “Kau tidak apa-apa?”


Elivia tidak menjawab. Yang jelas wajahnya terlihat sangat pucat.


Widya menuntun Elivia untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana dengan di bantu oleh karyawan bagian loundry. Salah satunya dengan sigap mengambilkan minuman dan di berikan kepada Elivia.


“Minum dulu.” Ujar Widya.


Dengan tangan yang gemetar, Elivia menyambut gelas yang di berikan padanya dengan di bantu oleh Widya.


Elivia berusaha untuk menguatkan dirinya. Ia berusaha untuk menenangkan dirinya sebisa mungkin dengan terus menarik safas dalam dan membuangnya perlahan. Dan ternyata itu sangat membantunya untuk menenangkan jantungnya yang serasa berhenti berdetak.


“Aku sudah tidak apa-apa.” Lirih Elivia kemudian. “Ayo kembali bekerja.”


“Kau masih terihat pucat. Lebih baik kau istirahat saja.” Widya menyarankan.


“Tidak apa-apa, Wid. Aku sudah lebih baik.” Elivia bersikeras.


Widya tidak bisa mencegah kemauan Elivia. Lantas ia membiarkan Elivia untuk berdiri sendiri dan hendak berjalan keluar dari ruang cuci.


Namun lagi-lagi langkah Elivia terpaksa berhenti saat ada seseorang yang muncul dari balik pintu.


“El, kau di panggil oleh bu Sarah untuk ke ballroom sekarang.” Ujar rekan Elivia yang baru saja masuk.


“Untuk apa bu Sarah memanggilku?” Tanya Elivia penasaran. Begitu juga halnya dengan Widya.


“Entahlah, aku juga tidak tau.” Jawab rekannya itu.


Elivia dan Widya hanya bisa saling pandang dengan tatapan penuh tanya.


“Biar aku saja El. Aku akan bilang kepada bu Sarah kalau kau sedang tidak enak badan.” Usul Widya.


“Tidak. Aku tidak apa-apa. Bu Sarah memanggilku, jadi aku yang harus datang.” Elivia bersikeras.


Entah kenapa perasaan Widya menjadi tidak enak saat melihat Elivia berjalan keluar dari ruang cuci dan menghilang di balik pintu.


*****


hayoooo,,, siapa yang pernah tremor pas ketemu mantan?


🤣🤣🤣🤣🤣


selamat berakhir pekas semuanya,,,


love, love, love,, sekebon kopi.


😘😘😘😘😘