
Zaydan menghentikan taksi saat sudah keluar dari club. Ia tidak berani mengemudikan mobilnya karna ia baru saja minum minuman beralkohol. Jadi ia hanya meninggalkan mobilnya begitu saja di parkiran club.
Taksi berhenti tepat di depan gerbang istana. Kemudian Zaydan turun dan langsung berlari masuk kedalam istana.
Setelah sampai di dalam istana, Zaydan langsung pergi ke kamar ibu suri. Disana sudah ada Sophia yang sedang menunggui ibu suri beserta dengan putra mahkota dan juga ratu.
“Nek?” Ujar Zaydan kemudian. “Apa yang terjadi? Kenapa Nenek bisa pingsan?” Tanya Zaydan yang kini sudah duduk di samping ranjang ibu suri dan menggenggam tangannya.
“Dan, tenanglah. Nenek tidak apa-apa. Mungkin dia hanya lelah saja.” Ujar Putra Mahkota berusaha menenangkan adiknya itu.
“Nenek sedang tidur, Dan.” Lirih Sophia. Ia megusap punggung putranya itu dengan lembut.
Semua orang tau betapa Zaydan sangat menyayangi Neneknya. Kasih sayangnya kepada ibu suri sama besarnya dengan kasih sayangnya kepada sang ibu. Sehingga Zaydan terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi sang Nenek.
Putra Mahkota mengajak Zaydan untuk mengobrol di ruang santai yang ada di depan kamar ibu suri.
“Dimana Yang Mulia Raja, kak?” Tanya Zaydan menanyakan tentang ayahnya.
“Beliau masih di luar negeri. Mungkin besok pagi baru bisa kembali.” Jelas Putra Mahkota.
“Kenapa tidak kita bawa saja Nenek ke rumah sakit, kak?”
“Nenek sudah tidak apa-apa. Dokter sendiri yang mengatakannya. Nenek hanya lemah karna beberapa hari ini tidak berselera makan.”
Ya, Zaydan sangat mengerti itu. Ia memang melihat kalau ibu suri sudah beberapa hari ini selalu melewatkan makanannya. Entah mengapa Zaydan merasa kalau hal itu di sebabkan oleh dirinya.
“Akan lebih baik kalau seandainya ada Elivia disini.” Lirih Putra Mahkota tiba-tiba.
Zaydan hanya menundukkan kepalanya saja sambil mere mas jemarinya dengan lengan yang bertumpu pada lututnya.
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa aku tiba-tiba mendengar kalau kau dan Elivia sudah berpisah?” Tanya Putra Mahkota.
“Entahlah kak, mungkin ini semua karna keegoisan kami sendiri.”
“Dan, dalam menjalin rumah tangga, selalu ada saja yang akan menggoyahkanmu. Bahkan dari hal sepele saja, itu bisa membuat sebuah hubungan benar-benar berakhir. Bahkan aku dan putri mahkota penah mengalaminya. Padahal kami menikah atas dasar saling mencintai, bukan sepertimu yang terpaksa menikah dengan Elivia. Wajar jika kalian bisa sampai berpisah seperti ini. Kalian masih tidak bisa mempercayai perasaan satu sama lain.”
Zaydan hanya bisa menghela nafas saja mendengar petuah dari kakaknya itu.
“Apa kalian sudah tidak saling mencintai lagi?” Tanya Putra Mahkota kemudian.
“Entahlah kak, aku tidak tau apa Elivia masih mencintaiku atau tidak.”
“Bukan dia yang kutanyakan, tapi kamu. Bagaimana perasaanmu setelah berpisah dengannya? Apa kau benar-benar akan kembali dengan Sadila? Berita pertunangan kalian bahkan sudah tersebar ke seantero negeri.”
“Perasaanku? Entahlah kak. Yang jelas aku terus merasakan sakit yang tidak berkesudahan. Hatiku masih sangat mengharapkan untuk kembali kepada Elivia. Padahal aku sudah akan bertunangan dengan Sadila. Kenapa susah sekali untuk membuang sifat breng**k di dalam diriku, kak?”
“Lelaki mana di dunia ini yang tidak pernah bersikap breng**k? Kau hanya belum menemukan orang yang tepat saja yang bisa mengubahmu untuk lebih baik. Menurutmu, siapa diantara Elivia dan Sadila yang mampu membuatmu menjadi lebih baik?”
“Siapapun yang membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik, maka perjuangkan. Dan yang berpengaruh buruk buatmu, tinggalkan dia. Itulah yang seharusnya kau lakukan karna itulah hal yang benar.”
Ucapan Putra Mahkota seakan menguatkan hati Zaydan untuk kembali condong kepada Elivia.
“Dan, Nenek sudah bangun.” Sophia muncul dari kamar ibu suri dan memberitahu Zaydan kalau ibu suri sudah bangun.
Zaydan dan Putra Mahkota langsung beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar ibu suri.
“Nek, Nenek sudah bangun?” Tanya Zaydan yang langsung menggenggam tangan renta sang Nenek.
“Apa Nenek merasa tidak nyaman?” Imbuh Putra Mahkota.
Ibu suri tersenyum memandangi kedua cucunya itu bergantian. Kemudian ia berusaha untuk duduk dengan di bantu oleh ratu.
“Aku sudah tidak apa-apa. Kalian semua pasti sangat mengkhawatirkanku.” Lirih ibu suri dengan suara beratnya.
“Nenek bisa bicara begitu?” Seloroh Zaydan.
“Hahahahaa. Maaf, maaf. Senang rasanya bisa melihat kalian berkumpul seperti ini. Hanya saja kurang satu orang.” Ujar ibu suri lagi.
Semua orang tau siapa yang di maksud oleh ibu suri.
“Jadi Dan, bagaimana persiapan pertunanganmu? Aku harap sakitku tidak mengganggumu.”
“Kenapa Nenek malah bicara begitu? Acara itu sama sekali tidak penting jika di bandingkan dengan kesehatan Nenek. Nenek harus banyak makan agar kembali sehat seperti semula.” Bujuk Zaydan.
“Benar nek, kami semua merindukan Nenek yang lincah seperti biasanya.” Timpal Putra Mahkota sambil tertawa.
“Ch. Kalian ini. Baiklah, aku mengerti. Bawakan aku makananku, akan kuhabiskan semua yang ada di hadapanku secepatnya.” Seloroh ibu suri.
Mereka semua tertawa senang melihat ibu suri yang sudah pulih seperti sedia kala.
“Putra Mahkota\, bimbinglah adik bod*hmu ini agar hidupnya tidak berantakan lagi. Anak nakal ini selalu membuat semua orang khawatir. Dia selalu membuatku sakit kepala karna memikirkan betapa bod*hnya dia.”
“Nek....” Zaydan merasa malu mendapat penghakiman itu dari Neneknya. Di depan semua anggota keluarga pula.
“Maafkan aku, Dan. Mulai sekarang kau bebas melakukan apapun semaumu. Tapi ingat, lakukan yang menurutmu baik untuk semua orang. Terlebih untukmu dan orang-orang yang kau sayangi. Aku merestuimu jika kau benar-benar ingin menikahi Sadila. Jika kau sudah memantapkan hatimu padanya, maka perlakukan dia dengan baik. Ya, walaupun aku masih tidak suka dengan sikap angkuhnya itu, hufh. Semoga dia tidak sering-sering membuatku jengkel saat tinggal disini. Hahahaha.”
Zaydan lega melihat Neneknya sudah terlihat jauh lebih baik karna sudah bisa tertawa terbahak-bahak.
Setelah menghabiskan makanan yang di bawakan oleh pelayan ke kamarnya ditambah dua buah apel, ibu suri menghabiskan sisa malam itu dengan tertidur pulas.
Zaydan dan Putra Mahkota memilih untuk menemani Nenek mereka itu dan tidur di kamarnya. Sementara Sophia dan ratu kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
Di malam yang hangat itu, ibu suri terlelap untuk selamanya tanpa ada satu keluarganyapun yang tau. Bahkan Zaydan dan Putra Mahkota yang tertidur di sofa sambil menunggui ibu suri, mereka tidak menyadarinya. Hanya senyuman samar yang menghiasi wajah ibu suri di saat-saat terakhirnya. Ia membawa semua rasa bersalahnya pada Elivia dalam tidur panjangnya. Ia membawa semua rindu itu bersamanya. Airmata terakhir yang mengalir dari matanya menandakan bahwa ia merasa menyesal karna harus meninggalkan semua kepedihan itu untuk Zaydan dan Elivia. Nenek suri sudah siap untuk menemui kedua orangtua Elivia dan meminta maaf pada mereka.