
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika hati seseorang yang kita cintai telah berpaling kepada hati yang lain. Itulah yang di sebut sakit tapi tidak berdarah.
Seperti yang sedang dirasakan oleh Sadila saat ini. Ia berusaha menekan rasa takut kehilangan saat melihat sikap Zaydan yang semakin hari semakin dingin padanya. Ia sepenuhnya tau kalau Elivia adalah alasan dibalik perubahan sikap Zaydan padanya.
Perlahan, perasaan benci kepada Elivia mulai menumpuk di dadanya.
Ia berusaha untuk tersenyum saat Zaydan masuk kedalam kamar. Ia merentangkan tangannya berharap mendapat pelukan dari pria itu seperti biasanya. Tapi alangkah terkejutnya dia saat Zaydan justru hanya melewatinya begitu saja. Pria itu bahkan acuh dan tidak melihat sedikitpun padanya.
“Duduklah. Aku ingin bicara.” Nada suara Zaydan terdengar tegas dan ngeri.
Sadila menurut. Ia duduk tepat di hadapan pria itu. “Ada apa, sayang? Kenapa wajahmu terlihat serius sekali begitu? Kau membuatku takut.”
Sadila bukan tidak tau. Ia bisa menebak apa hal yang ingin dibicarakan oleh Zaydan. Hanya saja ia tidak mau membenarkannya. Ia berusaha menepis kenyataan itu.
“Maafkan aku.” Sebuah kalimat pembuka yang terdengar menyayat hati Sadila. Nada suara Zaydan terdengar penuh penyesalan. Berbeda dengan tadi.
“Tidak. Jangan meminta maaf. Aku tidak mau mendengar kata itu darimu. Sayang, kau tidak berbuat salah. Jadi jangan minta maaf. Hubungan kita baik-baik saja.” Sadila mencoba mengusir rasa sedihnya. Ia sedang berusaha untuk mempertahankan miliknya. Mempertahankan harga dirinya.
“Kita akhiri hubungan kita sampai disini. Aku yang akan menjelaskannya pada Mama. Kau juga bisa tetap bekerja di perusahaan seperti biasa.”
“Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak bisa kehilanganmu, sayang. Tolong jangan begini. Apa kau lebih memilih gadis kampungan itu di bandingkan diriku yang sudah menemanimu selama bertahun-tahun?”
“Jaga ucapanmu. Dia itu istriku.” Tegas Zaydan. Ia tersinggung saat Sadila menyebut Elivia sebagai gadis kampungan.
Sadila terdiam. Ia tidak jadi meluapkan emosinya. Yang ada justru kemarahannya semakin bertumpuk di dadanya. Ia tidak menyangka kalau Zaydan kini terang-terangan membela Elivia. Di depan mukanya pula.
“Apa sekarang kau sudah berani menggertakku? Sayang, aku ini kekasihmu.” Sadila mulai tidak terima.
“Karna itu aku ingin mengakhiri semuanya sampai disini secara baik-baik. Aku seorang pria yang sudah beristri. Dan aku tidak mungkin punya kekasih sedangkan statusku adalah suami dari seorang wanita.”
“Jadi kau lebih memilihnya daripada aku? Bukankah pernikahan kalian hanya pura-pura? Kenapa sekarang jadi serius begini?”
“Ya, itu memang awal yang salah bagi kami.”
“Sesuatu yang di mulai dengan salah, tidak akan berakhir dengan baik. “ Sadila memperingatkan. “Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Aku akan berusaha untuk mempertahankanmu!”
“Aku menyayanginya.”
“Kau bahkan tidak pernah mengucapkan kata itu padaku!”
Sadila bangkit dan menghentakkan kakinya sebelum menyambar tasnya dari sofa. Ia bahkan membanting pintu kamar itu saat keluar dari sana. Dia pergi meninggalkan Zaydan dengan perasaan marah yang sudah memenuhi rongga dadanya. Rasa bencinya kepada Elivia sudah menumpuk menjadi satu dan siap untuk di muntahkan.
Malam itu juga, Sadila memilih untuk pulang dan mengadukan semuanya kepada Sophia. Ia tau kalau ibu dari Zaydan itu akan terus mendukungnya. Dan dia juga tau kalau kelemahan Zaydan adalah dia tidak bisa membantah perkataan ibunya.
Sepeninggalnya Sadila, Zaydan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tau kalau permasalahan ini sedang menuju ke keadaan yang jauh lebih sulit dari sebelumnya.
Setelah berhasil menenangkan diri, Zaydan kembali ke kamar Elivia dan mendapati kalau gadis itu sudah terlelap di sofa dengan mendekap majalah di dadanya. Ia segera menghampiri Elivia dan membopongnya ke ranjang.
“Kau sudah datang?” Lirih Elivia yang baru saja terbangun saat Zaydan mengusiknya.
Tapi Elivia hanya memandanginya saja. Gadis itu ingin bertanya tapi tidak berani mengungkapkannya. Jadilah Zaydan pindah dan naik ke atas ranjang kemudian merengkuh tubuh Elivia erat. Ia seperti sedang menumpahkan seluruh perasaannya disana.
“Aku sudah bilang kepada Sadila. Sekarang kau tidak perlu cemburu lagi, ya.” Lirih Zaydan. Ia menempelkan bibirnya di kening Elivia.
Elivia sudah menduganya. Tapi ia tidak merasa senang dengan hal itu. Ada sedikit rasa bersalah yang bercokol di dalam hatinya.
“Mamamu pasti tidak akan menyukai hal ini.”
“Aku yang akan menjelaskannya nanti. Kau tidak perlu khawatir.”
“Dia pasti akan semakin membenciku.”
“Tidak apa-apa. Karna aku akan semakin mencintaimu sampai mengalahkan kebencian Mama.”
Sejuk hati Elivia mendengar penuturan Zaydan itu. Walaupun ia menyesal dengan keadaan Sadila, tapi ia juga merasa lega. Kini statusnya mmenjadi sedikit lebih jelas.
“Kita jadi pulang besok?”
“Ehmmm,, tidak jadi. Aku akan mengajakmu berkeliling dulu.” Ujar Zaydan.
“Ya, ayo kita bersenang-senang sebelum bertemu dengan masalah yang baru. Hahahaha.” Seloroh Elivia.
“Aku mencintaimu, Elivia.” Sebuah lantunan merdu dari bibir Zaydan membuat hati Elivia kembali berdesir untuk kesekian kalinya. Ia mendongak dan menatap pria yang sedang memeluknya itu dalam.
Zaydan sudah tidak bisa menahan dirinya lagi saat melihat tatapan dari netra Elivia. Perasaan bergejolak memenuhi rongga dadanya. Ia meraba pipi Elivia yang lembut dan menghentikan jempol tangannya di bibir ranum gadis itu. Mengusap bibir itu perlahan dengan jempolnya.
Elivia membalasnya dengan mengecup jempol yang sedang bermain di bibirnya itu. Ia memejamkan mata demi bisa menyampaikan perasaannya.
Dalam hati Elivia masih khawatir. Seorang Zaydan yang bahkan tidak sepadan dengannya, dengan berani dia menyerahkan seluruh perasaannya kepada pria itu. Tiba-tiba rasa khawatir dan takut akan kehilangan Zaydan mulai muncul di dalam hatinya.
Elivia sadar jika akan banyak orang yang menentang hubungan mereka. Terlebih dari Sophia. Orang paling penting dalam hidup Zaydan. Tapi semakin ia memikirkan itu, perasaan cintanya semakin membesar dan sulit di kendalikan.
Semakin dalam mencintai, maka akan semakin takut kehilangan.
“Biarkan sekali ini aku egois karna ingin memilikimu seutuhnya, Dan. Aku akan mencoba bertahan dan tidak mempedulikan orang-orang yang tidak menyukaiku. Aku hanya butuh kau untuk berada di sisiku.”
Zaydan langsung melu mat bibir itu tanpa ampun. Bahkan tangannya kini semakin berani bergerak ke bagian sensitif Elivia. Memberikan kenikmatan luar biasa yang belum pernah di rasakan oleh Elivia sebelumnya.
Elivia sedang memuaskan dirinya menikmati setiap sentuhan dari Zaydan. Hati kecilnya sedang merencanakan sesuatu. Ia membiarkan tangan Zaydan terus menggerayangi tubuhnya dengan liar. Tapi hanya sebatas itu. Ia tetap masih belum ingin melepaskan masa depannya kepada pria itu. Setidaknya tidak sekarang. Mungkin nanti setelah keadaan mereka sudah jauh lebih baik.
Ia belum siap hamil dengan statusnya yang masih terombang ambing tanpa kejelasan. Dia tidak akan sanggup memikul beban berat jika permasalahan bertubi-tubi datang padanya dengan benih Zaydan di dalam perutnya.
*****
Hayoooooo.... kalian nungguin apa? adegan hot hot pop? oooohhhh,,, tidakkkkk.... belum. hahahahahahahahahahahhahahahahahahahaha.