
Setelah mandi, Elivia terlelap di dekapan Zaydan. Ia sudah tidak peduli walaupun sekarang mereka sedang berada di hotel dan ia sedang bekerja. Ia hanya tidak ingin kehangatan yang ia dapatkan dari Zaydan berakhir dengan cepat.
Dengan satu tangannya, Zaydan menghubungi resepsionis hotel lewat telfon yang ada di atas nakas dan meminta di sambungkan kepada manajer hotel, yaitu Vanye. Kepada Vanye, Zaydan menjelaskan bahwa ia akan menyewa kamar suite itu untuk dirinya.
Vanye yang sudah tau kalau Zaydan pasti sedang berdua bersama dengan Elivia, hanya menyetujui saja permintaan Zaydan itu sambil tersenyum simpul. Sedikit banyak, Vanye tau kisah apa yang ada di antara Elivia dan pangeran itu. Tentu saja itu semua adalah perbuatan dari Widya yang sudah lancar menceritakan hubungan Zaydan dan Elivia.
Hari sudah menjelang malam, namun Elivia masih tidur dengan lelapnya di lengan Zaydan. Tentu saja Zaydan merasa sangat bahagia. Ia seperti sedang bermimpi dan terus menatapi wajah lelap Elivia dengan perasaan tidak percaya. Ia terus membelai dan menyingkirkan helaian rambut yang tergerai dan menutupi wajah gadis itu.
“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Sudah berkali-kali Zaydan membisikkan kata-kata itu di telinga Elivia. Namun rasanya ia belum puas dan ingin terus mengucapkan kalimat itu. Bahkan seribu kalipun ia mengucapkan kalimat itu, rasanya masih belum cukup untuk mewakili perasaan bahagianya saat ini.
Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam lewat tiga belas menit. Saat Elivia tiba-tiba saja terbangun dengan setengah kesadarannya, ia menoleh ke kanan dan ke kiri.
“Astaga! Aku harus kembali bekerja!” Pekiknya.
Zaydan yang memang belum tertidur karna asyik memandangi wajah Elivia hanya tertawa kecil melihatnya.
“Sayang, jam kerjamu sudah habis. Ini sudah malam. Aku sudah meminta ijin kepada manajermu. Tidurlah lagi.” Jelas Zaydan lagi.
Mendapat panggilan ‘sayang’ membuat wajah Elivia merona seketika. Untuk sesaat ia lupa kalau ia sedang bersama dengan Zaydan. Dan tentu saja ia baru teringat dengan apa yang sudah mereka lakukan tadi.
“Jam berapa ini?” Tanya Elivia lagi.
“Jam sembilan lewat.”
“Ya ampun. Aku harus turun dan mengganti pakaianku.” Ujar Elivia lagi yang mencoba turun dari ranjang. Namun ia berhenti karna merasakan perih yang luar biasa di daerah sensitifnya. Namun ia tetap berusaha untuk berjalan ke arah pintu.
Zaydan hanya melihatnya saja sambil terkekeh saat melihat cara jalan Elivia yang seperti pinguin.
“Kau akan turun ke bawah dengan gaya jalan pinguin begitu? Kalau menurutku, sih, tidak perlu terburu-buru memberitahu orang-orang kalau kita sudah melakukan...”
“Diam. Ulah siapa aku jadi seperti ini?” Dengus Elivia yang mencoba berjalan kembali ke ranjang.
“Itu adalah resiko kenikmatan sayang, di nikmati saja. Sini, aku obati.” Ujar Zaydan lagi dengan tatapan anehnya.
Elivia bergidik saat melihat Zaydan memainkan kedua alisnya. “Kau mau ku pukul?” Ancam Elivia pada akhirnya.
“Tidak masalah. Pukulanmu tidak mungkin membunuhku, kan?”
“Astaga. Kenapa aku tidak bisa menang melawanmu?” Elivia jadi sebal sendiri.
“Karna kau tidak di takdirkan untuk melawanku. Tapi di takdirkan untuk mencintaiku.”
Elivia sudah kehabisan kata-kata. Jadi yang bisa ia lakukan hanya mencibir kepada pria itu.
Krruuukkk.. Krruuukkk...
Suara perut Elivia nyaring sekali terdengar.
“Kau lapar?”
Elivia mengangguk sambil memanyunkan bibirnya. Sifat manjanya mulai tumbuh sepertinya.
“Sebentar ya, aku akan memesankan makanan untuk kita.” Ujar Zaydan lagi kemudian ia memesan makanan lewat telfon.
“Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dengan Kafa tadi?”
“Aku memintanya untuk mengajariku mengemudi. Tunggu, bagaimana kau bisa tau kalau aku pergi bersama Kafa?” Selidik Elivia yang menyadari keanehan dalam pertanyaan Zaydan.
“Ha? Oh, itu, aku melihatmu turun dari mobil Kafa tadi.” Zaydan mulai beralasan. “Kenapa kau ingin belajar mengemudi?” Zaydan mengalihkan topik pembicaraan.
“Apa kau lihat mobil yang terparkir di depan rumahku kemarin? Mobil itu adalah pemberian dari nenek. Aku tida kbisa mengemudikannya, jadi aku ingin belajar mengemudi agar bisa menggunakannya. Aku tidak ingin melihat nenek kecewa kara pemberiannya tidak di pakai.” Jelas Elivia.
“Pemberian dari nenek? Nenek membelikanmu mobil?” Tanya Zaydan yang memang tidak tau-menahu tentang hal ini.
“Kau tidak tau? Bahkan rumah yang ku tinggali itu juga nenek yang membelikan. Bukan cuma itu, nenek memberikan hotel ini padaku tanpa sepengetahuanku.”
“Jadi hotel ini milikmu?” Zaydan masih dengan keterkejutannya.
“Secara teknis, hotel ini milikku. Namun aku belum bisa mengelolanya jadi ku titipkan pada bu Vanye dan bu Sarah. Mereka manajer hotel ini.”
Zaydan masih ternganga. Ia tidak menyangka kalau neneknya akan berbuat sejauh itu untuk Elivia. Sepertinya mendiang ibu suri menggunakan dana pribadinya untuk membeli hotel ini dan di berikan kepada Elivia.
“Aku merindukan nenek.” Lirih Elivia kemudian, matanya mulai berembun. Ia meneggelamkan wajahnya di dada Zaydan dan berusaha untuk tidak menangis.
“Aku juga sangat merindukannya. Nanti kita ke sana dan memberitahu kalau kau dan aku sudah kembali bersama. Nenek pasti akan sangat senang mendengarnya.” Hibur Zaydan.
Elivia mengangguk dengan semangat. Ia tersenyum dan mendaratkan kecupan manis di pipi Zaydan.
Saat hendak membalas kecupan dari Elivia, bel kamar berbunyi. Zaydan segera membukakan pintu untuk pelayan hotel itu dan meminta troli berisi makanan. Awalnya pelayan itu menolak dan bersikeras ingin membawa troli itu sampai di dalam, namun Zaydan dengan tegas melarangnya dan merebut troli itu. Tidak lupa ia memberikan tip yang besar kepada pelayan itu.
“Ayo, makan dulu.” Ajak Zaydan yang sudah menghentikan troli makanan di samping ranjang.
Dengan susah payah Elivia berusah untuk mendudukkan dirinya, namun rasa perih itu semakin menjadi dan membuatnya memejamkan mata.
“Biar aku ambilkan.” Tawar Zaydan kemudian. Ia mengambilkan makanan untuk Elivia.
Elivia hanya tersenyum saja mendapat pelayanan dari Zaydan. Kapan lagi dia bisa di layani oleh pangeran kan?
“Lain kali, jangan minta Kafa mengajarimu. Aku yang akan mengajarimu sampai kau benar-benar mahir mengemudikan mobil.” Ucapan Zaydan di selipi dengan ancaman. Tapi Elivia malah tersenyum mendengarnya.
“Tentu saja. Mana mungkin aku meminta pria lain mengajariku sedangkan aku punya pria milikku sendiri.” Elivia sangat tau bagaimana meredakan kecemburuan Zaydan.
Dan benar saja, Zaydan jadi senyum-senyum sendiri sambil menyuapkan makanan kepada Elivia. Hatinya sedang berbunga-bunga. Tepat seperti yang pernah dia rasakan waktu itu.
Sekarang, Zaydan sedang memutar otak bagaimana ia akan memberitahu kepada Sadila kalau pertunangan mereka akan di batalkan. Saat kayakinannya sudah penuh begitu, ia akan melakukan apapun agar tujuannya bisa tercapai. Dan sekarang, Elivialah tujuannya.
###
gesss,, episode sebelum episode ini di tolak sama editor,, mengsedih akutuh...
padahal itu bagian yang kalian tunggu2..
🤣🤣🤣🤣🤣