
Hari sudah hampir petang saat Zaydan dan Elivia sampai di hotel. Petugas hotel langsung mengantarkan mereka ke sebuah kamar suite yang sudah dipesan oleh Lucas sebelumnya. Tidak lupa Zaydan memberikan tips kepada petugas hotel itu yang langsung menerimanya dengan sumringah.
Zaydan segera membersihkan tubuhnya, sementara Elivia memilih untuk berleha-leha di ranjang untuk melepas penat sambil menunggu Zaydan selesai mandi.
“Cepatlah mandi, aku akan mengajakmu makan malam di atap.” Ujar Zaydan saat ia sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi berwarna biru gelap.
“Apa ini semacam makan malam romantis?” Pancing Elivia.
Zaydan mengangguk tanpa ragu.
“Apa itu? Kenapa kau tidak membantahnya?”
“Kenapa aku harus membantahnya? Aku memang berencana untuk mengajakmu makan malam romantis. Hanya kita berdua.”
“Memangnya sejak kapan romantis itu lebih dari dua orang?”
“Ssspppp.. Kau ini selalu saja membantahku. Kau ingin aku menciummu lagi?” Dengus Zaydan.
Tapi Elivia malah menjulurkan lidahnya untuk mengejek pria itu. Kemudian ia berlari kecil menuju kamar mandi. Sontak Zaydan langsung merengkuh tubuh Elivia dan memeluknya dari belakang
“Kau ini benar-benar ya. Aku sudah memperingatkanmu agar jangan coba-coba memancingku.” Zaydan sedang menahan diri.
“Hahahaha. Baiklah, baiklah, aku menyerah.” Ujar Elivia.
Tapi sudah terlanjur. Kali ini Zaydan sudah menautkan bibirnya. Melu mat habis bibir ranum Elivia dengan lembut. Gairah sedang mangalir ke dalam tubuh keduanya. Untuk sesaat Zaydan menghentikan aksinya. Ia melepaskan tautannya dan menatap dua bola mata Elivia bergantian. Nafasnya yang memburu menandakan kalau gairahnya sedang membara.
Setelahnya, ia kembali melu mat bibir itu dengan ritme yang sedikit lebih kasar dari sebelumnya. Kali ini Elivia tidak menolaknya. Ia malah menikmati setiap permainan pria itu dan membalasnya.
Baru saat tangan Zaydan bergerak hendak membuka kancing bajunya, Elivia melepaskan diri dari pautan Zaydan. Ia menahan tangan Zaydan agar tidak melakukan hal itu lebih jauh lagi. Ia menunduk dengan nafas yang terengah-engah.
“Kurasa, kita harus menghentikannya sampai disini, Dan. Aku tidak mau melakukannya lebih jauh lagi.” Lirih Elivia.
“Kenapa?”
“Aku merasa seperti sedang berselingkuh denganmu. Dan hatiku sakit jika mengingatnya.”
Zaydan melepaskan pegangan tangannya di kedua lengan Elivia. Ia menghela nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.
“Baiklah. Tapi berjanjilah satu hal padaku. Bahwa kau tidak akan memikirkan hal seperti itu lagi. Setidaknya selama kita disini. Aku ingin menikmati waktu berdua denganmu terlepas dari hubungan seperti apa yang sedang kita jalani. Kau adalah istriku, jadi fikirkan saja statusmu itu dan kesampingkan perihal hubunganku dengan Sadila. Ikatan di antara kita jauh lebih kuat dibandingkan hubunganku dengannya. Ikatan kita adalah ikatan pernikahan. Sekarang, pergilah mandi. Aku akan menunggumu.”
Zaydan mendaratkan sebuah kecupan di kening Elivia sebelum dia beranjak menuju sofa. Elivia hanya mengikutinya saja dengan ekor matanya, kemudian ia segera masuk kedalam kamar mandi.
Sambil menunggu Elivia selesai mandi, setelah berpakaian Zaydan memilih untuk membaca majalah yang ada di atas meja. Saat ponselnya berbunyi dan nama Sadila muncul di layar ponsel, ia hanya meliriknya saja tanpa mengangkatnya. Ia enggan untuk mengangkatnya karna menghormati Elivia. Tadi ia sudah meminta kepada gadis itu untuk tidak mempedulikan apapun selain keberadaanya.
Tidak berapa lama kemudian, Elivia sudah selesai mandi. Ia keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Hanya rambutnya saja yang masih terlihat basah.
Setelah mengeringkan dan menyisir rambutnya rapi, Elivia sudah siap untuk makan malam bersama dengan Zaydan.
“Aku sudah siap.” Ujar Elivia memberitahu.
Zaydan mengalihkan pandangannya dari majalah kemudian tersenyum. Ia meletakkan majalah itu di atas meja kemudian menggandeng Elivia keluar dari kamar.
Keduanya naik keatap dengan menggunakan lift. Sesampainya disana, mereka langsung di sambut oleh seorang pelayan yang ternyata sudah menunggu mereka. Pelayan itu mengantarkan mereka ke sebuah meja yang ada di dekat pagar pembatas yang terbuat dari kaca.
Sesaat Elivia merinding setelah tau bahwa mereka berada di ketinggian. Tapi di saat yang bersamaan, ia merasa takjub dengan pemandangan yang terbentang di hadapannya. Pemandangan malam khas perkotaan dengan taburan berjuta-juta lampu yang nampak berkelap-kelip.
“Wah...” Ujar Elivia.
“Duduklah dulu.” Ucap Zaydan dengan menarikkan kursi untuk Elivia.
“Terimakasih.”
“Kau seperti sudah hafal dengan keadaan disini. Sudah pernah kemari?” Tanya Elivia.
Zaydan mengangguk. “Beberapa kali. Saat aku sedang banyak fikiran dan butuh menenangkan diri, aku akan pergi kesini dan berkeliling kota.”
“Sendiri?” Sebuah pertanyaan pancingan untuk Zaydan.
“Tentu saja. Kan untuk menenangkan diri, mana mungkin aku pergi dengan orang lain. Bahkan Lucas saja kularang ikut. Kau adalah orang pertama yang menemaniku disini.” Zaydan sangat tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan jebakan itu.
“Kalau ada waktu, ajaklah aku berkeliling. Ke semua tempat yang pernah kau datangi.” Pinta Elivia.
“Itu pasti.”
Tentu saja Elivia sumringah mendengar jawaban itu.
“El, maafkan aku.”
“Maaf untuk apa?”
“Maaf karna aku selalu berlaku kasar padamu. Aku hanya tidak menyangka seorang gadis yang sama sekali tidak kusukai, bahkan bisa di bilang yang kubenci, kini berhasil meraih hatiku sepenuhnya. Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik kedepannya.” Ucap Zaydan sambil meraih tangan Elivia yang ada di atas meja kemudian menggenggamnya.
Elivia kembali tersenyum. “Aku pernah dengar seseorang mengatakan, perasaan cinta yang tumbuh dari kebencian, akan lebih besar dari
kebencian itu sendiri.”
“Dan aku sedang mengalaminya saat ini. Haha.”
“Dan, bolehkah aku bertanya sesuatu? Tentang Sadila?”
Zaydan menghela nafas setelah mendengarnya. “El, sudah ku
katakan padamu, jangan membahasnya.”
“Aku hanya ingin bertanya satu pertanyaan saja.” Elivia memohon kepada Zaydan melalui tatapan.
“Katakan.”
“Apa kau mencintai Sadila?”
Hati Zaydan seakan di tusuk saat mendengar pertanyaan itu. Membuat ulu hatinya nyeri. Ia menarik nafas dalam seraya mempersiapkan sebuah jawaban yang mungkin saja tidak di sukai oleh Elivia.
“Iya. Dulu aku sempat menaruh perasaan padanya. Tapi...”
“Oke, cukup.” Elivia meminta Zaydan untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Pria itu mengerutkan keningnya menatap kepada Elivia.
“Kenapa?”
“Karna kau sudah menjawab semua pertanyaanku.”
“Benarkah?” Zaydan tidak yakin. Ucapan yang mana yang menjadi penjelasan bagi Elivia?
Zaydan masih mengerutkan kening saat pelayan datang dengan membawakan makanan mereka. Ia masih tidak faham dengan ucapan Elivia.
Dulu. Kata itulah yang menjadi acuan bagi Elivia. Satu kata yang langsung memperjelas segalanya. Bahwa kini pria itu sudah tidak punya perasaan lagi terhadap Sadila. Bahwa kini perasaan Zaydan tertuju kepadanya seutuhnya. Dan hal itu semakin mempertegas posisinya sebagai orang ketiga.
Elivia seperti sedang menggali rasa sakitnya sendiri. Ia ingin memperjelas posisinya dan meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa perasaan yang dia miliki adalah sebuah kesalahan. Sama seperti pernikahan mereka yang di awali dengan kesalahan.
Elivia terus tersenyum kepada Zaydan bahkan saat ia menyantap makanannya. Ia seperti ingin mematri wajah pria yang ada dihadapannya itu di dalam hatinya. Memenuhi kenangannya bersama dengan Zaydan.