
Elivia sedang menunggu Widya di depan loby hotel. Itu adalah hal yang selalu dia lakukan saat pulang bekerja. Elivia dan Widya akan pulang bersama dengan mobil milik Widya.
Ia meraih ponselnya dari dalam tasnya saat mendengar ponselnya berbunyi. Itu adalah telfon dari Kafa.
“Ya, Kafa?”
“El, apa kau sudah pulang bekerja?” Tanya Kafa dari seberang.
“Hem. Kenapa?”
“Sudah makan malam?”
“Belum. Aku sedang menunggu Widya.”
“Ayo makan malam denganku. Aku akan menjemputmu sekarang. Kebetulan aku sedang ada di dekat hotel.”
“Baiklah. Aku tunggu.” Ujar elviia kemudian mematikan ponselnya.
“Sedang menunggu siapa?” Sebuah suara yang muncul dari daria arah belakang membuat elviia langsung menoleh.
“Bu Vanye? Heehe, sedang menunggu Widya, bu.”
“Oow. Apa kalian tinggal berdekatan?” Tanya Vanye lagi.
“Tidak, kami tinggal di satu rumah.” Jelas Elivia. “Apa ibu sudah mau pulang?”
Vanye menganggukkan kepala. Ia sedang menunggu supirnya datang menjemputnya.
“Terimakasih atas bantuannya tadi, bu.” Ujar Elivia lirih.
“Tidak masalah. Aku hanya melakukan apa yang harus ku lakukan. Tapi kau keren sekali karna berani membalas wanita itu. Dari gayanya saja aku sudah tidak suka. Terlihat sombong sekali. Mentang-mentang dia akan menjadi istri dari pangeran Zaydan. Aku salut padamu, el.”
“Terimakasih banyak, bu”
Sebuah mobil sedan berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan Elivia dan Vanye. Elivia tau kalau itu adalah mobil milik Kafa.
Kafa keluar dari dalam mobil dan tersenyum kepada Elivia. “Maaf lama menunggu.” Ujar Kafa kemudian.
“Tidak apa-apa.” Jawab Elivia santai.
“Kafa?” Tanya Vanye kepada Kafa.
Kafa yang mendengar namanya di panggil, langsung menatap wanita yang berdiri di samping Elivia tersebut. Ia mengernyitkan keningnya dan kemudian tersenyum sumringah.
“Vanye? Kau Vanye kan?” Tanya Kafa yang langsung mengulurkan tangannya kepada Vanye.
Sedangkan Elivia nampak kebingungan. Ia tidak menyangka kalau Vanye dan Kafa ternyata saling mengenal.
Vanye segera menyambut uluran tangan Kafa dan ikut tersenyum. “Lama tidak bertemu, Kafa.”
“Ya, sudah lama sekali.” Imbuh Kafa kemudian.
“Kalian saling mengenal?” Tanya Elivia yang sudah sangat penasaran.
“Hemh, tentu saja. Dia ini adalah mantan kekasihku dulu. Mungkin pertama? Benar kan, Kafa?”
Kini wajah Kafa sudah bersemu merah. Ia malu saat Vanye memberitahu Elivia tentang hubungan masa lalu mereka.
“Benarkah itu? Wah, kebetulan sekali.” Kata Elivia.
“Kapan kau kembali? Ku dengar kau sudah tinggal di Paris.”
“Tadi pagi aku sampai. Sekarang aku bekerja sebagai manajer di hotel ini.” Jelas Vanye kemudian.
“Oh, begitu.”
“Tapi, apa kalian pacaran?” Tanya Vanye tiba-tiba. Menatap Kafa dan Elivia secara bergantian.
“Ahh? Tidak, tidak.” Elivia segera membantahnya.
“Memangnya bisa ya, pria dan wanita berteman?” Sebuah pertanyaan menjebak dari Vanye.
Pria dan wanita tidak akan pernah bisa berteman. Karna sudah bisa di pastikan kalau salah satu di antaranya akan memiliki perasaan yang lebih daripada sekedar teman. Dan Vanye yakin kalau antara Kafa dan elviia, salah satunya pastilah mempunyai perasaan lebih terhadap yang lainnya.
“Tentu saja tidak. Hahahahahahaha.” Jawab Kafa kemudian tertawa dengan keras.
Mobil yang menjemput Vanye sudah tiba. Jadi wanita itu pamit terlebih dulu untuk pulang ke rumahnya.
Begitu juga dengan Widya, ia menghentikan mobilnya di belakang mobil Kafa. Elivia yang mengetahui hal itu langsung pergi menghampiri Widya dan memberitahu kalau ia akan pergi bersama dengan Kafa.
Tentu saja Widya sumringah mendengarnya. Karna memang dia sangat mendukung hubungan Elivia dan Kafa.
Setelah mobil Kafa melaju, Elivia hanya terdiam saja, tidak seperti biasanya. Kafa yang sudah berkali-kali menoleh kepada Elivia nampak mencurigai sesuatu. Apalagi tadi ia sempat melihat kalau pipi kiri Elivia nampak memerah.
“Apa terjadi sesuatu?” Tanya Kafa kemudian.
“Hah? Tidak, tidak ada. Kenapa?”
“Malam ini kau terlihat lebih murung dari biasanya. Pasti sudah terjadi sesuatu, kan?” Tebak Kafa.
“Kafa, apakah memang aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu? Kau selalu tau apa yang terjadi kepadaku.” Lirih Elivia.
“Bukankah itu menandakan kalau aku adalah sahabat yang baik?”
“Hahahahaha. Ya, kau memang sahabat yang baik.”
“Jadi, mau makan apa malam ini?”
“Kau yang pilih. Aku akan memakan apapun yang kau pesankan.” Ujar Elivia karna ia sangat bingung menentukan pilihan menu apa yang ingin dia makan.
“Oke.”
Kafa mengarahkan mobilnya ke sebuah restoran bintang lima yang terkenal. Elivia sempat mengernyitkan keningnya saat mobil sudah memasuki halaman parkir. Ia seperti mengenal restoran ini. Dulu Zaydan pernah membawanya kemari.
Seketika seluruh kenangan akan Zaydan kembali merangsek ke ingatannya. Membuat dada Elivia berdesir hingga mmebuat sedikit genangan di sudut matanya.
Setelah mobil terparkir sempurna, Kafa segera mengajak Elivia untuk turun.
Walaupun dengan langkah yang sedikit gemetar, namun Elivia tetap mengikuti Kafa masuk kedalam restoran itu.
Seorang pelayan mengarahkan mereka ke sebuah meja yang masih kosong. Tepat di sebelah meja yang pernah ia duduki saat datang bersama dengan Zaydan.
Zaydan, Zaydan, Zaydan. Seolah semua kenangan Elivia adalah tentang Zaydan. Kemanapun Elivia pergi, kenangan atas pria itu selalu saja berseliweran di benaknya. Itu sangat merepotkan Elivia.
Bahkan saat mereka sudah duduk di kursinya, Elivia terus saja menatap kosong ke arah meja itu. Padahal di sana sudah ada pasangan yang sedang duduk dan menikmati makan malam mereka.
Pasangan itu menjadi risih karna Elivia terus melihat ke arah mereka. Mereka fikir ada yang aneh dengan diri mereka.
“El? Ada apa?” Tanya Kafa yang heran kenapa Elivia terus menatap kepada pasangan itu.
“Oh? Tidak. Tidak apa-apa.” Jawab Elivia yang berubah menjadi gugup.
“Kenapa? Apa kau sedang teringat dengan Dan?” Tebak Kafa.
Elivia yang tadinya menunduk, kini beralih menatap pias kepada Kafa. Dari tatapan itu Kafa bisa mendapat jawabannya.
“Apa kalian pernah datang ke sini?” Tanya Kafa kemudian.
Elivia menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya pelan.
“El, aku memang tidak mencintaimu, tapi aku menyayangimu sebagai seorang teman. Selama kau belum berdamai dengan masa lalumu, sampai kapanpun kau akan menyakiti siapapun yang mencintaimu. Jadi kumohon, kalau kau ingin melupakan Dan, berusahalah untuk melupakannya. Dan kalau kau tidak bisa melupakannya walaupun kau sudah berusaha dengan sangat keras, saranku, perjuangkan dia. Jangan menyakiti diri sendiri terus menerus.”
Elivia tidak mengerti kenapa Kafa mendukungnya untuk kembali kepada Zaydan. Padahal pria itu tau sekeras apa perjuangan Elivia untuk bisa melupakan Zaydan.
“Aku tau, kalau ini semua sangat berat buatmu, dan juga bagi Dan. Berhenti menyakiti dirimu sendiri, El. Aku merasa kalau cerita di antara kalian masih belum selesai. Selesaikanlah dulu, temui dia, dan bicarakan semuanya sampai tuntas. Baru setelah itu kau bisa keluar dari situasi ini.” Kafa memberikan sarannya dengan tulus. Dan Elivia hanya bisa mendengarkannya saja. Jauh dalam hati kecilnya ia mengakui kalau ia dan Zaydan memang belum benar-benar selesai.