DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Akibat Terlalu Dalam Melibatkan Perasaan.



Sinar matahari sudah mengintip dari balik tirai kamar Luna. Namun rasa kantuk Elivia masih belum datang. Dan sekarang ia semakin tidak mengantuk lagi.


“Apa kau tidak tidur semalaman, El?” Tanya Luna yang baru saja bangun dan melihat Elivia sedang duduk di tepian ranjang.


Elivia menoleh kepada Luna. “Hm.” Jawabnya sambil mengangguk.


“Apa kau sudah gila? Bagaimana kalau kau jadi sakit? Seberat apapun masalah, makan dan tidur, jangan sampai lupa dua hal itu. Maka kau akan bisa terus melanjutkan hidup.”


Elivia hanya bisa nyengir saja mendapat repetan dari temannya itu.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Elivia dan Luna turun ke bawah untuk sarapan. Kedua orang tua Luna dan kakak Luna nampak terkejut dengan keberadaan Elivia. Mereka sama sekali tidak tau kapan Elivia datang.


“El? Apa kau tidur di sini? Astaga, aku sampai tidak tau. Sini, duduk, duduk.” Ujar ibu Luna.


“Maaf, tante. Semalam aku datang sudah larut. Jadi aku tidak sempat menyapa om dan tante, juga kak Rina. Bagaimana kabar kalian?” Ujar Elivia.


“Tidak apa-apa. Tante senang kamu mampir. Kabar kami baik-baik saja, El. Seperti yang kamu lihat. Cuma memang agak sibuk menjelang pernikahan Rina.” Jawab ibu Luna.


“Oh, benarkah? Kak Rina akan menikah? Kapan?” Elivia jadi bersemangat.


“Sekitar 4 hari lagi, El. Datang ya.” Timpal Rina.


“Tentu saja, kak. Aku pasti akan datang.” Janji Elivia lagi.


Kemudian mereka menghabiskan sarapan dengan mengobrol ringan seputar pernikahan Rina. Sedangkan Elivia lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Fikirannya masih berkutat tentang Zaydan dan kesakitan hatinya.


Berada di tengah-tengah keluarga itu, membuat Elivia bisa merasakan kehangatan di hatinya. Ia merindukan saat-saat bersama dengan keluarganya. Tapi lagi-lagi ya, Elivia hanya bisa menghela nafas saja dengan rasa iri itu.


Setelah membantu Luna mencuci piring, Elivia berpamitan untuk pulang ke kosnya. Tapi tidak, ia bukan pulang kek kos melainkan langsung pergi ke rumah sakit. Keputusannya itu berubah di tengah jalan.


“Sedang apa melamun begitu?” Tanya Elivia sambi menutup pintu kamar Arina.


“Kak El? Hehehe. Apa itu?” Tanya Arina dengan melihat tas yang dibawa Elivia.


“Pakaianku.” Jawab Elivia singkat deegan meletakkan tas itu di sofa. Setelah itu ia berjalan dan duduk di dekat Arina yang juga sedang duduk di sofa.


“Kenapa kakak membawa pakaian? Mau pergi?” Arina masih penasaran.


“Aku sudah keluar, dari istana.” Jawab Elivia lirih.


“Apa? Apa maksudmu, kak?”


“Aku bilang aku sudah keluar dari istana. Aku dan Dan, sudah berakhir. Kami akan menjalani hidup masing-masing mulai sekarang.” Lirih Elivia.


“Kenapa, kak? Bukankah kemarin kakak sudah bisa menerima masa lalu kak Dan? Tapi kenapa kakak sekarang malah berpisah dengannya? Apa terajdi sesuatu?”


“Aku di usir. Oleh Dan.”


Arina ternganga dan masih berusaha untuk mencerna ucapan kakaknya. Di usir?


“Apa maksudnya kakak di usir oleh kak Dan?”


“Pokoknya begitu. Sulit sekali menjelaskannya padamu. Sudah


ya, jangan bertanya lagi.” Pinta Elivia dengan mimik wajah serius.


Tentu saja ia tidak ingin memberitahu tentang pertengkarannya dengan sophia.


Elivia mengangguk.


“Dan dia membuarkanmu pergi?”


Elivia kembali mengangguk.


“Tidak mungkin. Lantas, apa yang akan kakak lakukan sekarang?”


“Pertama, aku akan mencari pekerjaan yang baru. Karna apapun yang terjadi, pengobatanmu harus tetap berjalan. Setelah itu, akan ku fikirkan nanti saja.”


Arina menghela nafas pelan saat me ndengar ternyata Elivia tidak punya rencana. Lagi-lagi, ia merasa menjadi beban untuk Elivia.


“Kak, bagaimana kalau pengobatanku di hentikan sampai di sini saja? Aku bisa melanjutkan terapi sendiri di rumah. Lagipula, aku sudah mulai bisa berjalan walau pelan.”


“Enak saja. Tidak bisa. Kau harus tetap menadapat perawatan disini.” Tegas Elivia.


“Tapi darimana kita akan mendapatkan uang kak? Kakak tau kalau biaya pengobatan di sini sangat mahal.”


“Kau tidak perlu memikirkan itu. Aku akan mendapatkan uang bagaimanapun caranya. Jangan bebani aku dengan keras kepalamu.” Kali ini Elivia berkata dengan tatapan yang lebih tegas dari sebelumnya. Membuat Arina tidak bisa lagi membantah kata-katanya.


Arina mati kutu. Ia tidak berani lagi membantah kakaknya. Yang bisa ia lakukan hanya menghela nafas kecewa. Dia benar-benar tidak ingin membebani Elivia. Ia merasa sudah cukup mampu berdiri sendiri. Dan ia yakin walaupun pengobatannya di hentikan sekarang, ia masih bisa berlatih di rumah dan ia akan bisa berjalan lagi.


“Kak, ayo kita berhenti di sini saja. Aku selalu merasa bersalah padamu karna tidak pernah bisa membantumu dan terus menjadi bebanmu. Aku benar-benar tidak apa-apa. Sudah cukup kakak berkorban untukku. Sekarang fikirkan kebahagiaan kakak sendiri. Aku mohon.” Air mata Arina sudah tidak bisa di bendung lagi. Mengalir deras membasahi pipinya dan jatuh di pangkuannya.


Berat hatinya saat melihat Elivia yang bersikap seolah semua baik-baik saja dan sanggup menanggung semua beban seorang diri. Itu membuat dada Arina sesak dan dipenuhi rasa penyesalan dan rasa bersalah.


“Tidak. Kau harus sembuh. Aku tidak masalah jika harus membanting tulang seumur hidup demimu, Arin.”


“Sampai kapan?! Sampai kapan kakak terus memikirkanku dan tidak peduli dengan diri kakak sendiri?!” Pekik Arina. “Apa kakak tidak ingin bahagia? Apa kakak tidak punya impian yang ingin kakak raih? Apa kakak tidak punya keinginan untuk pergi ke suatu tempat? Sampai kapan kakak mau mengurusku?!! Apa kakak tau betapa berat dadaku saat memikirkan itu semua?”


“Arin?” Elivia tidak menyangka Arina berteriak begitu sambil menangis.


“Apa kakak tau aku putus asa? Aku bahkan berfikir mungkin akan lebih baik jika aku mati saja.”


“Kenapa kau berkata begitu?” Elivia jadi ikut menangis


“Apa kakak mau aku berkubang dengan rasa bersalahku seumur hidup? Kumohon, fikirkan dirimu sendiri dulu sebelum memikirkanku.”


Elivia bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Arina dengan erat. Ke duanya menumpahkan tangis di bahu masing-masing.


Kehidupan Elivia bertambah sulit saja saat ia melibatkan perasaannya. Dulu dia tenang-tenang saja bahkan saat ia hanya bisa makan satu kali sehari karna sibuk mencari uang untuk berobat Arina, ia merasa biasa saja dan tidak pernah sesakit ini.


Pertemuannya dengan Zaydan benar-benar mengubah perasaan dan hidupnya. Ia menyesal karna sudah melibatkan perasaan dan hatinya kepada pria itu sehingga semua menjadi kacau begini.


Kalau saja ia memantapkan hati untuk tidak terikat dengan perasaan Zaydan, kalau saja ia tetap teguh untuk membentengi perasaannya agar tidak jatuh cinta pada pria itu, apakah hidupnya masih akan sesulit ini?


Saat ia berusaha menyadarkan hatinya kalau pernikahan mereka adalah salah, kalau ia tidak seharusnya punya perasaan untuk pria itu, kenapa justru perasaannya terasa semakin dalam dan mengesampingkan rasa bersalahnya kepada orang tuanya.


Karna itukah ia sedang dihukum?


Dihukum karana sudah berani memiliki sesuatu yang tidak seharusnya.


*****


geeesss,,, mak mohon maaf banget karna cuma bsia up satu episode. lagi sibuk di kebun cinn.. belum sempet nulis banyak2. sabar yaa.. kalau mak udah selesai mandah di kebun, bakalan up seperti biasanya lagi kok..