
Pagi sekali Elivia sudah dijemput oleh Arya. Dia diantar kesalon untuk mempercantik diri karna ini adalah hari pernikahannya. Gadis itu terus meremas jemarinya sendiri saat berada didalam mobil. Berfikir ulang apakah keputusannya ini adalah yang terbaik yang bisa dilakukannya?
Tapi lagi-lagi, Arina memberikannya kekuatan.
Setelah dari salon, Arya terus mengemudikan mobilnya menuju ke Istana Kecil. Disana Elivia sudah ditunggu oleh semua anggota keluarga. Dia turun dari mobil sambil memegangi gaunnya yang agak panjang.
“Elivia.! Kamu sangat cantik.” Seru Ibu Suri.
“Trimakasih, Nek.” Elivia yang tersipu malu mendapatkan pujian itu. Ibu Suri membimbing Elivia untuk masuk kedalam ruangan yang sudah disiapkan untuk upacara pernikahan. Disana sudah berkumpul semua. Nenek mempersilahkan Elivia untuk duduk ditempatnya. Kali ini, Raja yang bertindak sebagai wali karna Elivia tidak memiliki satupun keluarga yang bisa menjadi walinya.
Zaydan turun dari kamarnya menggunakan lift, dan langsung pergi keruangan pernikahan. Matanya menangkap sosok Elivia yang terlihat sangat anggun dan elegan dibalut gaun berwarna putih gading. Gadis itu terlihat sangat cantik dengan make-up yang tidak terlalu tebal. Sekilas pandangan mereka bertemu. Tatapan dari mata Elivia yang jernih bak mata air sempat membuat Zaydan salah tingkah. Dia langsung mengalihkan pandangannya ketempat lain. Menggaruk alisnya yang tiidak gatal.
Upacara pernikahan tidak berlangsung lama. Begitu Zaydan tiba, acara langsung dilaksankan. Dan sekarang Elivia sudah resmi menjadi istri Zaydan.
Perasaan Elivia menjadi tidak menentu. Dia masih belum percaya kalau dirinya kini sudah menjadi istri orang. Lebih tepatnya istri seorang Pangeran. Kenyataannya sekarang adalah, dirinya sudah menjadi bagian dari Keluarga Kerajaan. Entah kenapa Elivia tidak merasa senang dengan hal itu.
Setelah upacara pernikahan selesai, semua orang kembali melakukan pekerjaannya masing-masing. Dirumah itu tinggal Ibu Suri, Zaydan dan Elivia. Bahkan Sophia pun sudah pergi entah kemana.
“Trimakasih sudah mau menjadi cucu menantuku, Elivia.” Kata Ibu Suri. Elivia hanya mengangguk sambil memaksakan senyumannya.
“Dan, bawa istrimu kekamarmu. Mulai hari ini dia akan tinggal disini bersama kita. Dan akan tidur dikamarmu.” Tegas Ibu Suri.
“Apa? Kenapa harus kekamarku Nek? Kan masih banyak kamar yang kosong. Suruh saja dia menempati kamar itu.!”
“Dan......” Kalau Ibu Suri sudah memanggilnya dengan nada begitu, Zaydan tidak bisa berkutik. Dia mendengus kesal tapi tetap meraih pergelangan tangan Elivia dan membawanya masuk kedalam kamarnya.
Elivia sempat tertegun saat memasuki kamar itu. Mewah dan megah sekali. Kamarnya sangat luas. Mungkin puluhan kali lebih luas jika dibandingkan dengan kamar kostnya. Zaydan masuk kekamar ganti dan mengganti pakaiannya. Setelah itu dia pergi dengan membanting pintu kamarnya, membuat Elivia terkejut. Jantungnya hampir saja copot.
Ih! Dasar kodok! Kasar sekali sikapnya. Dengus Elivia.
Elivia berjalan menuju ke meja rias yang ada diruangan disebelah ruang pakaian. Dia melepaskan satu persatu ornamen yang melekat dikepalanya. Sedikit kesulitan sih, tapi dia akhirnya bisa melepas semua ornamen itu.
Dimeja itu, sudah tersedia beragam jenis produk kecantikan yang memang disediakan untuk dirinya. Karna itu produk khusus untuk wanita, jadi tidak mungkin kan itu untuk Zaydan? Elivia membersihkan sisa makeup yang menempel diwajahnya. Untung tadi dia meminta pihak salon agar makeupnya tidak
terlalu tebal.
Setelah selesai membersihkan diri, Elivia berkeliling kamar itu dan memperhatikan satu-persatu benda yang ada disana. Termasuk ruang pakaian yang lebih mirip dengan sebuah toko daripada lemari pribadi.
Dirumahnya, boro-boro ditaruh dilemari. Pakaian Elivia hanya diletakkan begitu saja di sebuah keranjang mungil yang diletakkan dikolong tempat tidur setelah dilipat. Dia membalik-balik pakaian itu. Semuanya merek terkenal yang pasti harganya sangat mahal. Dibagian lain, semua terisi oleh pakaian wanita, mungkin itu untuk dirinya. Entah kapan Ibu Suri menyiapkan semua itu.
Elivia jadi semakin yakin kalau kehidupan mereka jelas berbeda sangat jauh. Dan dia tidak seharusnya berada disini.
Elivia melihat jam tangan murahnya. Sudah hampir waktunya untuk bekerja. Hari ini memang dia sengaja tidak mengambil libur. Dia sudah menduga kalau pernikahannya akan berjalan sangat singkat. Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang dia bawa, Elivia kemudian keluar dari kamar itu. Dia bingung, ternyata kamar itu ada dilantai tiga. Elivia berjalan menuju lift yang dinaikinya tadi kemudian turun kelantai satu.
“Mau kemana Elivia?” Tanya Ibu Suri yang sedang membaca majalah diruang tamu.
“Aku mau kerja, Nek.”
“Tidak, Nek. Kalau keseringan cuti nanti gajinya banyak terpotong.”
“Biar kusuruh Arya mengantarmu.”
“Tidak usah Nek, aku bisa naik angkot saja. Itu lebih nyaman.” Elivia menolak dengan halus. Tidak ada pilihan lain. Ibu Suri terpaksa menuruti kemauan Elivia.
Elivia berjalan keluar dari Istana Kecil kearah jalan raya, kemudian menghentikan sebuah angkot dan menaikinya. Setelah dua kali perbindah angkot, diapun sampai ditempatnya bekerja.
“El! Baru datang juga? Kukira kamu sudah datang.” Sapa Luna, temannya. Soalnya aku baru saja mampir ke kostmu ternyata kamu tidak ada. Dan Arin juga tidak ada. Kemana dia El?”
“Iya. Arin sudah dirawat dirumah sakit.”
“Benarkah?” Tanya Luna antusias. “Syukurlah..” Sebenarnya Luna penasaran darimana Elivia mendapatkan uang untuk biara rawat inap dirumah sakit. Tapi dia tidak ingin menanyakannya. Dia menghormati privasi Elivia.
**********
Disebuah apartemen...
“Bagaimana rasanya menikah sayang?” Tanya Sadila kepada
Zaydan.
“Apa-apaan sih kamu?”
“Aku kan cuma tanya. Apa istrimu tidak marah kalau kau berada disini bersamaku?” Ejek Sadila.
“Kau ini ya.. Jangan memancingku.”
Zaydan merengkuh tubuh kekasihnya itu kedalam pelukannya. Dia mulai ******* bibir mungil Sadila. Membagi setiap kehangatan yang dia punya.
Setelah selesai dan membersihkan tubuhnya, Zaydan meraih botol minuman dan menuangkannya kedalam gelas. Dia merasa aneh karna kini dia sudah menjadi suami seseorang. Walaupun hanya status didalam kertas, entah kenapa itu terasa berat didadanya. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.
“Sayang, apa Ibu Suri benar-benar akan memberikan perusahaaan itu padamu?”
“Tentu saja. Nenek tidak pernah melanggar janjinya. Dia sudah berjanji akan memberikan perusahaan itu untukku kalau aku mau menikahi gadis kampungan aneh itu.”
“Kenapa Ibu Suri memilihnya dan bukan memilihku? Padahal selama ini aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan perhatiannya. Aku sangat mencintaimu Dan. Aku tidak ingin kehilanganmu. Hanya kamulah satu-satunya orang yang kuinginkan untuk menjadi suamiku.” Kata Sadila mengeluarkan rayuan mautnya.
“Sabar ya sayang, aku akan segera menceraikannya dan menikahimu”
“Iya, sayang. Aku akan selalu mempercayaimu untuk membantuku menaikkan derajat sosial keluargaku. Sayang,, belikan aku ini dong..” Kata Sadila menunjukkan sebuah foto tas model terbaru dari merek ternama.
“Pesan saja. Aku yang akan membayarnya.” Kata Zaydan kemudian kembali mengecup kening Sadila. Dengan senang hati Sadila memesan tas itu.