DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Cinta Milik Elivia



Dua malam sejak kepergian Elivia, Zaydan benar-benar merasa kosong. Tapi rasa penyesalan karna telah mengusir Elivia belum juga muncul karna ia belum tau cerita yang sebenarnya.


Saat di kantor, ia berusaha keras untuk fokus pada pekerjaannya. Walaupun ia terus saja melirik ke arah meja kerja Elivia. Penasaran juga dia dimana Elivia sekarang.


Pagi ini, Zaydan, Sophia dan ibu suri sedang menyantap sarapan mereka di meja makan. Tidak ada yang bersuara. Mereka fokus kepada makanan mereka masing-masing.


Ibu suri selesai lebih dulu dan langsung mengelap mulutnya dengan serbet. Ia melirik marah kepada Sophia yang duduk di sebelah Zaydan. Semalam ia sudah mengetahui cerita kalau ternyata Elivia sudah betengkar degan Sophia.


“Sebenarnya kau ini mau apa?” Tanya ibu suri ke pada Sophia.


“Apa maksud anda, Yang Mulia?” Tanya Sophia yang belum menangkap arah pembicaraan ibu mertuanya itu.


“Aku mendengar kau telah bertengkar dengan Elivia.”


Bola mata Sophia langsung tidak fokus saat mendengar pertanyaan itu. Ia melihat kepada putranya yang nampak tidak peduli dan hanya fokus dengan sarapannya.


“Yang Mulia, itu...” Sophia sudah merasa terintimidasi. Apalagi kini ibu suri menatapnya dengan tatapan marah dan tajam. Ia tidak jadi melanjutkan sarapannya dan langsung meletakkan sendoknya ke atas piring.


“Apa kau tau apa yang sudah kau lakukan?”


Zaydan berusaha menghentikan percakapan itu dengan sengaja meletakkan sendoknya di atsa piring dengan kasar dan menimbulkan suara. Kemudian ia menghela nafas dan melihat ke pada ibu suri.


“Bisakah kita tidak membahas tentang hal itu lagi, Nek?”


“Kenapa? Kau ingin membela ibumu? Apa kau tau apa yang sudah dia lakukan kepada Elivia? Apa kau tidak penasaran tentang kebenarannya?” Pancing ibu suri.


“Nek...”


Sementara Sophia hanya menutup mulutnya rapat-rapat dan melirik putranya untuk meminta dukungan.


“Hutang kita bahkan belum terbayar kepada gadis itu.” Lirih ibu suri kemudian.


Sophia mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa mereka bisa punya hutang kepada Elivia.


“Apa maksudnya itu, Yang Mulia?” Sophia memberanikan diri untuk bertanya.


“Apa kau tau, betapa besarnya hutang kita kepada Elivia?”


“Nek, kumohon hentikan membahas ini.” Zaydan menatap ibu suri dengan tatapan memohon. Ia tidak ingin membuat ibunya mengetahui tentang orang tua Elivia.


“Hutang?” Tapi nampaknya Sophia sudah terlanjur penasaran.


“Apa kau tau siapa dia? Kita beruhutang nyawa padanya. Terutama putramu Zaydan. Apa kau tau kalau orangtua Elivialah yang sudah menolong Zaydan dari terseret arus sungai? Dia orang tua gadis yang baru saja pergi dari sini. Hutang ini tidak akan pernah bisa terbayar, bahkan dengan seluruh harta yang kita miliki. Putramu sudah merenggut kedua orangtuanya. Putramu sudah membuat hidup gadis itu dan adiknya menderita tanpa orang tua. Apa kau  bisa bayangkan itu? Dan tanpa mengetahui itu, kau sudah berani membuat masalah dengannya?”


Sophia hanya ternganga saja mendengar penjelasan itu. Ia tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh ibu suri.


“Apa yang anda katakan, Yang Mulia? Orang tua Elivia adalah orang yang sudah menolong dan? Benarkah itu, Dan?” Sophia beralih menatap Zaydan meminta penjelasan.


Tidak bisa lagi menghindar, Zaydan hanya bisa mengangguk untuk membenarkan ucapan ibu suri.


Seketika Sophia ternganga. Ia terkejut dengan kenyataan itu. Kembali terlintas di benaknya tentang semua perbuatan yang telah ia lakukan kepada gadis itu. Penyesalan yang kini menyeruak membuat tubuhnya lunglai.


“Sebenarnya apa yang kau katakan kepadanya sampai ia memutuskan untuk pergi dari sini?” Desak ibu suri.


“Bukan salah Mama, Nek. Akulah yang mengusirnya.”


“Apa?” Ibu suri nampak sangat terkejut dengan pengakuan Zaydan itu. “Bagaimana kau bisa......”


“Aku tidak mungkin membiarkannya menampar Mama kan Nek?” Zaydan masih berusaha membela ibunya.


“Tidak. Bukan dia yang ingin menampar Mama, Dan. Tapi Mama lah yang sudah memprofikasinya dan hendak menamparnya terlebih dahulu.”


“Apa?” Zaydan terkejut dan tidak percaya.


“Maafkan Mama, Dan. Sekarang kau pergilah dan bawa dia kembali.” Perintah Sophia kemudian.


Rasa penyesalan itu begitu kuat menggerogoti hati Sophia dan Zaydan. Ke salah fahaman yang masing-masing membuat Elivia tersakiti.


“Bagaimana bisa kau membela ibumu tanpa tau yang sebenarnya? Apa kau sudah buta?” Ibu suri semakin berang.


Zaydan dan Sophia hanya bisa terdiam saja mendengar penghakiman dari ibu suri. Mereka semakin menyesali perbuatannya yang salah kaprah akibat ke salah fahaman itu.


“Tapi ini bukan sepenuhnya salahku, Yang Mulia? Kenapa sejak awal anda tidak memberitahuku yang sebenarnya?” Kali ini Sophia memberanikan diri untuk melawan dan membela diri di tengah-tengah rasa penyesalannya.


“Apa?” Ibu suri terkejut mendapat keberanian dari Sophia itu.


“Kalau anda memberitahuku sejak awal, aku tidak mungkin melakukan semua ini kan?”


“Aku ingin kau menilai seseorang dari sikapnya. Bukan dari hutang budi yang kau miliki. Mau sampai kapan kau melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya saja tanpa tau apa yang ada di dalam diri orang itu? Aku ingin kalian menyadari betapa berharganya Elivia. Dan setelah aku bersusah payah untuk membuatnya tetap berada di samping Dan, kalian malah menyakitinya dan mengusirnya begitu saja? Sekarang aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untuk kalian agar bisa menyelesaikan masalah ini.”


Setelah mengatakan itu, ibu suri beranjak dari kursinya dan pergi entah kemana. Meninggalkan Zaydan dan ibunya yang sedang merasakan sakitnya penyesalan akan kebenaran yang baru saja mereka ketahui.


“Bagaimana ini, Dan?” Tanya Sophia lirih.


“Mama tenang saja. Jangan khawatir karna aku pasti akan membawanya pulang.” Janji Zaydan dengan optimis.


Setelah mendapatkan kepastian itu, Sophia kemudian pergi. Begitu juga dengan Zaydan yang langsung berangkat ke kantornya.


Di perjalanan Zaydan terus saja memikirkan bagaimana dia akan meminta maaf kepada Elivia tentang kesalahannya. Ia tau pasti kalau Elivia pastilah merasa sangat sakit saat ia membentak gadis itu dan


mengusirnya.


“Lucas, bisakah kau cari tau di mana Elivia sekarang?” Pintanya kepada Lucas.


“Baik, Yang Mulia.”


Setelah itu apa? Setelah ia tau keberadaan Elivia, lantas selanjutnya bagaimana? Bisakah ia yakin dengan cinta milik Elivia yang ada untuknya? Apa cinta itu bisa memastikan kalau gadis itu sudah pasti akan memaafkannya?


Zadyan bahkan tidak berani berfikir sampai sejauh itu. Yang bsia ia lakukan adalah meyakinkan diri kalau Elivia pasti akan memaafkan dirinya dan juga ibunya. Ia yakin akan kekuatan cinta Elivia untuknya. Karna itu Elivia pasti akan memberikan maafnya. Ia yakin itu.