DAN, Love Me Or Hate Me

DAN, Love Me Or Hate Me
Aku Tidak Butuh Pengakuan Dari Seluruh Dunia.



Pagi-pagi sekali Kafa sudah mengetuk-ngetuk pintu kamar Zaydan dan Elivia. Walaupun dengan mata yang setengah terbuka, Zaydan tetap membukakan pintu untuknya. Namun saat Kafa hendak masuk, dia menghalangi Kafa. Bahkan ia tidak memperbolehkan Kafa untuk sekedar melongok ke dalam kamar.


“Kau ini kenapa? Biarkan aku masuk.” Pinta Kafa sambil terus melongokkan kepalanya ke dalam kamar. Namun tentu saja Zaydan masih menghalangi pandangannya.


“Tidak boleh. Enak saja.” Dengus Zaydan.


“Kenapa sih?” Kafa tetap penasaran.


“Hei! Ini kamar pasangan pengantin baru.” Hardik Zaydan.


“Pengantin baru apa?”


“Baiklah kalau kau memaksa. Kami baru saja akan melakukan itu... Ahh,, kalau saja kau tidak datang sepagi ini. Apa kau masih tetap ingin masuk? Mau kuajari untuk calon istrimu nanti?” Tawar Zaydan dengan kerlingan aneh di matanya. Ia senagaja mengatakan itu untuk mengusir Kafa tentu saja.


“Apa? Kau gila?! Kenapa aku harus melihat kalian begitu?!” Hardik Kafa tidak terima. “Dasar gila!” Kafa masih mengomel walaupun ia sudah berbalik dan meninggalkan Zaydan.


Sementara Zaydan hanya bisa terkekeh saja sambil kembali menutup pintu. Puas ia mengerjai Kafa. Padahal ia tau Kafa datang sepagi itu juga sengaja untuk mengganggunya.


“Siapa, sayang?” Tanya Elivia yang merasa terganggu karna mendengar teriakan dari Kafa.


“Kafa.”


“Kafa? Kenapa pagi-pagi sekali dia kemari?”


“Tentu saja untuk mengganggu kita. Apa lagi.” Jawab Zaydan masih dengan terkekeh kecil membayangkan raut wajah kesal milik Kafa.


“Ya ampun. Aku fikir ada apa.”


“Bangunlah dan segera mandi. Hari ini kita akan mulai bersenang-senang.” Kata Zaydan sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya.


Tentu saja Elivia langsung menurut. Ia segera membalas kecupan Zaydan dan langsung turun dari ranjang untuk mandi.


Satu jam kemudian, keduanya telah siap untuk memulai petualangan mereka. Keduanya turun dengan di kawal oleh Lucas dan Widya. Sedangkan Kafa dan Vanye entah pergi kemana karna Zaydan sengaja untuk tidak mengajak mereka berdua.


“Lucas, berikan kunci mobilnya.” Pinta Zaydan kemudian.


Lucas heran dan tidak segera memberikan kunci mobilnya.


“Hei, kau tidak mendengarku?”


“Tapi Yang Mulia, kami harus tetap berada bersama dengan anda. Bagaimana kalau ada hal-hal yang terjadi yang...” Lucas masih mengkhawatirkan pangerannya.


“Ya ampun. Apa kalian ingin mengganggu acara bulan madu kami?” Ujar Zaydan kemudian.


Elivia hanya mengerlingkan sebelah alisnya mendengar Zaydan menyebutkan kata ‘bulan madu’.


Dan ternyata Zaydan berhasil. Tatapan Lucas memberitahu kalau ia tentu saja tidak ingin mengganggu momen kebersamaan Zaydan dan Elivia, namun ia harus menjalankan tugasnya untuk mengawal mereka.


“Tidak apa-apa. Aku tidak akan mengadukanmu kepada Yang Mulia Raja. Sekarang berikan kuncinya. Kalian juga bisa pergi kemanapun kalian suka.”


“Tapi Yang Mulia....”


“Lucas. Berikan kuncinya.” Paksa Zaydan.


Lucas tidak punya pilihan lain. Ia tidak berani membantah perintah Zaydan. Tapi dia juga tidak berani mengabaikan perintah raja untuk tetap berada di sisi Zaydan demi keamanan pria itu. Lucas diambang kebimbangan.


Lucas dan Widya hanya bisa ternganga saja melihat mobil itu pergi dengan membawa Zaydan dan Elivia. Dua orang yang seharusnya tetap mereka kawal kemanapun mereka pergi.


“Memangnya kita mau kemana?” Tanya Elivia saat mobil sudah melaju di jalan raya.


“Ada, sebuah tempat yang sangat ingin kau datangi.” Ujar Zaydan memberi bocoran rencananya.


“Hei, kau membuatku penasaran.”


“Hehehehehe.”


Tidak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah gedung yangs angat ramai. Nampak tumpukan kendaraan di lahan parkir yang luas di samping gedung itu.


Di depan gedung itu terpampang sebuah spanduk super besar dengan gambar seorang wanita yang sedang bermain ice skating. Tentu saja itu membuat mata Elivia langsung berbinar.


“Apa itu, sayang?” Tanya Elivia saat mereka sudah turun dari mobil. Pandangan Elivia tidak teralihkan dari menatap spanduk itu.


“Disini sedang ada olimpiade ice skating.” Jelas Zaydan sambil menutup pintu mobilnya.


Mendengar penjelasan itu, membuat mata Elivia semakin berbinar. Hal yang selalu ia tunggu-tunggu untuk bisa melihat kompetisi seluncur indah itu dengan mata kepalanya langsung.


“Benarkah?”


“Ayo, masuk.” Zaydan mengulurkan tangannay dan segera di sambut oleh Elivia.


Elivia langsung ternganga saat mereka sudah masuk kedalam stadion. Disana sudah ramai pegunjung yang memang sedang menunggu jalannya pertandingan. Ia tidak menyangka kalau Zaydan bahkan sudah menyiapkan hal istimewa seperti ini. Pria itu sangat tau bagaimana untuk menyenangkan Elivia. Sesuai janjinya. Dia akan melakukan apapun untuk membuat Elivia bahagia.


Saat berjalan mencari bangku yang kosong, Zaydan bahkan tidak melepaskan genggaman tangannya. Hal kecil itu saja membuat hati Elivia terus berdebar tak henti-hentinya. Sepertinya pilihannya untuk kembali pada pria itu adalah sebuah keputusan yang tepat.


“Duduklah.” Pinta Zaydan menyuruh Elivia untuk duduk terlebih dahulu. Setelah itu, barulah iapun ikut duduk di samping Elivia.


“Terimakasih banyak, sayang. Aku tidak tau bagaimana caranya mengungkapkan kebahagiaan yang sedang kurasakan. Aku benar-benar sangat berterimakasih padamu. Berkatmu aku bisa berada di tempat yang sangat kuinginkan ini.”


“Iya, kan? Aku senang kalau kau senang. Dan aku akan lebih membuatmu bahagia lagi. Aku akan membuat wanita-wanita di seluruh dunia iri denganmu.”


“Tidak perlu begitu. Aku hanya butuh pengakuanmu saja. Aku tidak butuh pengakuan dari siapapun. Kau sudah lebih dari cukup. Aku akan memberimu dua ronde nanti malam.” Bisik Elivia dengan wajah yang sudah bersemu merah.


Sungguh memalukan ia harus membahas perihal ranjang dengan Zaydan. Walaupun pria itu adalah suaminya, namun tetap saja ia masih merasa malu.


Zaydan yang seperti tidak menyangka akan mendapatkan tawaran dari Elivia langsung terbelalak dengan kerlingan aneh di matanya.


“Habis kau nanti malam. Hahahahaha.” Ancam Zaydan dengan gurauan.


Wajah Elivia semakin merona mendapat godaan itu dari suaminya. Bahkan bayangan akan apa yang terjadi nanti malam sudah berseliweran di kepalanya.


Saat terdengar sebuah pemberitahuan kalau pertandingan akan segera dimulai, Elivia langsung membenahi posisi duduknya. Ia langsung bersemangat dan tidak sabar menyaksikan hal sangat dia inginkan itu.


Dan saat sepasang atlet mulai memasuki area pertandingan, Elivia ikut bertepuk tangan bersama dengan penonton yang lainnya.


Dan selebihnya, Elivia terpaku menatap para peserta yang meluncur indah di atas es itu dengan tatapan  takjub. Ada sedikit keinginannya untuk berada di atas es itu. Dan ia mulai membayangkan kalau yang sedang bertanding itu adalah dirinya yang sedang meliuk-liuk di atas hamparan es dengan ribuan pasang mata yang melihat ke arahnya.


Bahkan sudah berkali-kali Elivia berdecak kagum tanpa mengalihkan pandangannya sampai pertandingan berakhir. Sebagai ucapan terimakasihnya kepada Zaydan, ia segera memeluk erat suaminya itu dan mendaratkan sebuah kecupan di pipi pria itu dengan girang.