
Siang ini, Zaydan di panggil untuk menghadap ke istana besar oleh raja. Katanya ada sesuatu yang ingin di bahas bersama dengan Zaydan. Jadi walaupun pekerjaannya masih menumpuk, ia tetap memenuhi panggilan itu. Dengan di antar oleh Lucas, ia berangkat menuju ke istana besar.
Sesampainya disana, salah seorang pelayan memberitahu kalau raja sedang berada di dalam ruangan kerjanya. Jadi Zaydan langsung saja pergi kesana dan ternyata raja sedang bersama dengan putra mahkota.
“Oh, Dan. Kau sudah sampai.” Sambut putra mahkota dengan hangat.
Tidak lupa Zaydan memberikan penghormatan kepada raja seperti biasanya. Kemudian raja mempersilahkannya untuk duduk bersama dengan putra mahkota juga.
“Bagaimana kabar anda, Yang Mulia?” Tanya Zaydan kemudian memulai sapaannya.
“Dan, kita dirumah.” Nada suara raja memperingatkan.
“Hehehehe. Maaf, Ayah.” Kelakar Zaydan. “Kenapa Ayah memanggilku mkemari?”
“Karna sudah lama aku tidak melihat wajahmu. Bagaimana kabar mistrimu? Apa dia baik-baik saja?”
“Dia baik, Yah. Aku akan lebih sering mengajaknya kesini.”
“Dan, aku ingin bertanya hal-hal padamu.” Ujar raja kemudian. Kewibawaannya tidak kurang sekalipun ia sedang bersama dengan putra-putranya.
“Putra Mahkota pernah bilang, kalau dia sudah membicarakan perihal turun tahta padamu. Benarkah itu?”
Zaydan hanya mengalihkan pandangannya kepada sang kakak. Kemudian ia menganggukkan kepala pelan sambil menjawab “Iya, Ayah.”
“Jadi, bagaimana menurutmu?”
Pertanyaan dari raja itu sontak membuat Zaydan langsung terkejut dan menatap ayahnya. “Apa maksud Ayah?”
“Dan, aku sudah menceritakan rencanaku pada Ayah.” Aku putra mahkota.
Kini Zaydan mengerti arah pembicaraan mereka. Untuk sesaat ia terdiam dan berfikir dengan sungguh-sungguh sebelum menjawabnya.
“Ayah, aku tidak di lahirkan untuk menjadi sorang raja. Sedangkan kakak, dia di lahirkan dan di besarkan sebagai calon raja masa depan yang bisa menggantikan posisimu. Aku sama sekali tidak berminat untuk mengambil posisinya. Maaf kalau aku sudah nyaman dengan hidupku sekarang. Tapi aku tidak tertarik untuk mengurusi politik karna memang itu bukan keahlianku. Dan aku juga sudah mengatakannya pada kakak. Kak, aku minta maaf karna egois dan tidak mau berbagi beban denganmu.” Lirih Zaydan. Ia mengatakan apa yang memang dia rasakan.
Baik raja dan putra mahkota hanya bisa memandangi lantai. Mereka kompak menghela nafas pelan. Sebenarnya mereka tau kalau Zaydan akan menolak rencana itu. Tapi raja tetap melakukannya karna permintaan putra mahkota. Jadi ia ingin mencoba untuk meyakinkan Zaydan.
“Ini tidak seburuk yang kau kira, Dan. Akan banyak orang yang akan membantumu.”
“Di lihat dari segi manapun, aku sama sekali tidak pantas menduduki posisi itu, yah. Aku tidak ingin memberikan kehidupan yang membosankan pada istriku. Maaf aku harus mengatakan ini, kak.”
Raut kekecewaaan nampak jelas di wajah putra mahkota. Ia berharap kalau ayahnya membujuk Zaydan, adiknya itu akan mempertimbangkan permintaannya. Namun ternyata hasilnya tetap saja nihil. Zaydan benar, kehidupannya sebagai putra mahkota terasa sangat membosankan jika di bandingkan dengan Zaydan. Setidaknya, adiknya itu punya waktu luang untuk menyenangkan diri sendiri dan orang yang di cintainya. Sedangkan dirinya, harus fokus mengurusi politik kerajaan beserta dengan intriknya.
“Kak, seperti yang telah ku janjikan, aku akan tetap mendukung dan membantumu sebisaku. Tapi kalau untuk duduk di posisi itu, aku tidak akan sanggup. Kau tau seperti apa aku.” Zaydan berkata dengan nada penuh penyesalan.
Raja akhirnya tersenyum simpul melihat kedewasaan keduaputranya. Ia bangga kepada mereka. Terlebih kepada Zaydan. Ia senang Zaydan sudah banyak berubah menuju ke arah yang jauh lebih baik. Dari mulai sikap, nada bicara, dan sopan santun. Ternyata Elivia memberikan pengaruh positif kepada putra sulungnya itu. Zaydan sudah menemukan orang yang tepat untuk melabuhkan seluruh cinta dan waktunya.
Deringan ponsel Zaydan yang tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka membuat semua orang langsung terdiam dan menatap kepada Zaydan. Pria itu segera mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan langsung mengangkat telfon dari Lucas tersebut.
Zaydan mendengarkan dengan seksama apa yang di ucapkan oleh Lucas. Namun ia tiba-tiba ternganga dan langsung berdiri dari duduknya. Wajahnya menjadi pucat dan panik.
“Kita akan pergi sekarang.” Ujar Zaydan kemudian.
“Ada apa, Dan?” Tanya putra mahkota. Raja juga jadi menatapnya penasaran.
“Elivia terluka dan di bawa kerumah sakit kerajaan. Ayah, kak, aku harus pergi.” Jelas Zaydan kemudian sambil berlari keluar dari ruang kerja ayahnya. Ia bahkan tidak menunggu jawaban dari mereka.
Putra mahkota hanya bisa menatap kepergian Zaydan dari pintu ruangan itu dengan perasaan pias.
Zaydan segera berlari dengan sangat kencang menuju ke mobil yang sudah menunggunya di depan istana. Setelah dia masuk, Lucas segera tancap gas menuju ke rumah sakit kerajaan.
Sepanjang perjalanan perasaan Zaydan tidak menentu. Ia panik luar biasa. Takut jika terjadi sesuatu kepada istrinya itu. Ia bahkan beberapa kali memerintahkan Lucas untuk lebih cepat lagi melajukan mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit dan Lucas telah menghentikan mobil dengan sempurna, barulah Zaydan langsung berlari keluar dan langsung menuju ke bangsal VIP. Ia bahkan tidak menghiraukan beberapa orang yang akan menganggukkan kepala untuk menyapanya.
Namun saat ia teringat kalau ia tidak mengetahui di kamar mana Elivia berada, ia menghentikan seorang perawat yang ia lewati dan langsung mencengkeram lengan perawat itu begitu sja.
“Istriku, dimana istriku?” Tanya Zaydan dengan nafas yang ter engah-engah.
Namun perawat yang nampak terkejut dan ketakutan itu akhirnya menyadari siapa pria yang mencengkeram lengannya tersebut. Dan kemudian ia langsung memberitahu nomor kamar Elivia. Sekarang, tidak ada yang tidak tau siapa istri pangeran Zaydan.
Grekk!!!
Zaydan menggeser pintu dengan tergesa-gesa. Manik netranya mencari sosok Elivia. Setelah ia menemukan istrinya itu yang tengah berbaring di ranjang, dengan di temani oleh beberapa dokter dan Vanye, juga Arina, ia segera berlari mendekati ranjang itu. Ia menatap panik kepada Elivia.
“Sayang, aku tidak apa-apa?” Tanya Zaydan.
“Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit benjol. Hehehehehe.” Jawab Elivia.
“Tertawa? Kau masih bisa tertawa dalam kondisi seperti ini?!” Bentak Zaydan dengan pelan. Padahal dia sedang khawatir setengah mati.
“Sayang, aku tidak apa-apa. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku tidak akan mati. Kepalaku cukup keras kalau hanya untuk menahan lemparan gelas.” Elivia masih saja berseloroh.
Zaydan menatap dalam netra sang istri kemudian langsung menarik tubuh Elivia ke dalam pelukannya. Perbuatannya itu membuat orang lain yang ada di dalam ruangan itu langsung menundukkan wajah dan membuang pandangannya ke tempat lain.
Ia mengelus pelan kepala Elivia dan membenamkan wajahnya di dadanya. Hatinya sakit sekali melihat perban yang menempel di kepala bagian belakang istrinya itu. Ia berjanji dalam hati akan membalas siapapun yang telah melakukan itu pada istrinya.